Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 50 : Menginap di Kediaman Pelangi


__ADS_3

"Cie ... cie ... kalian sudah menikah!"


Bab 50 : Menginap di Kediaman Pelangi


Kim Jinnan mengantongi ponselnya dan kemudian bersikap sesantai mungkin. Ia siap menghadapi Rafaro tanpa ingin melukai pemuda itu. Terlebih Kim Jinnan sadar, cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan. Seperti apa yang Rafaro rasakan kepada Pelangi. Juga Pelangi yang Kim Jinnan yakini ada rasa kepada Rafaro meski hanya sedikit. Terlebih, menurut informasi yang Kim Jinnan dapat, sebelum ia ada dalam hidup Pelangi, awalnya Pelangi sangat dekat dengan Rafaro. Dan bagi Kim Jinnan, cukup cinta bertepuk sebelah tangan saja yang menyakiti Rafaro, tidak dengan sikap yang akan Kim Jinnan berikan.


Kim Jinnan memimpin perjalanan yang sempat terhenti, tanpa terkecuali ketiga pria yang mengekor di belakangnya. Ia menuntun Pelangi sambil menatap Rafaro dengan seulas senyum yang turut ia suguhkan. "Hai ...?" sapanya berusaha sesopan sekaligus sesantai mungkin.


Rafaro yang cukup terkejut dengan sikap santai Kim Jinnan, hanya mengangguk sambil bersikap setenang mungkin. Tentunya, ia harus mengakhiri tatapannya terhadap Pelangi agar perasaan berikut hatinya tidak sekacau bahkan sesakit sekarang. Karena meski Pelangi sudah ada di hadapannya, tetapi status Pelangi tak lagi sama. Pelangi sudah menikah dan menjadi istri laki-laki lain. Dan yang harus ia lakukan adalah melepas bahkan merelakannya.


"Kalaupun kamu belum siap bahkan belum bisa mengakhiri cintamu, tak seharusnya kamu menjadi luka dalam hubungan mereka!" batin Rafaro mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Rafaro mengangguk kaku. Ia mengulas senyum tanpa benar-benar bisa menyembunyikan perasaannya yang kembali terluka, hanya karena melihat Kim Jinnan ada bersama Pelangi. Sebuah kenyataan yang sebenarnya menjadi hal wajar, lantaran keduanya sudah menikah. "Hai ... kalian ke sini? Sori, ya, kemarin aku ada jadwal ke luar kota, ... jadi enggak bisa datang ke pernikahan kalian."


Padahal, yang terjadi sebenarnya justru Rafaro yang nyaris menangis seharian, andai saja Mofaro tidak sibuk mengganggunya. Namun karena kenyataan tersebut juga, hubungannya dengan Mofaro menjadi semakin membaik. Boleh dibilang, pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan, telah meruntuhkan ego Mofaro yang akhirnya mau melepas Pelangi. Juga, Mofaro yang tak lagi memusuhi Rafaro perihal Pelangi dalam hubungan mereka. Ya, selalu ada hikmah di setiap kisah, kendati hanya dalam sepenggal kisah. Dan Rafaro meyakini hal tersebut.


"Oh, iya ... enggak apa-apa. Kamu kan emmang sibuk," balas Kim Jinnan. "Oh, iya ... ayo masuk. Kita ngobrol-ngobrol sebentar."


Kim Jinnan sengaja basa-basi agar bisa lebih akrab dengan Rafaro kendati kenyataan tersebut terbilang cukup aneh. "Dekat dengan pemuda yang mencintai istrimu, ini konyol ...," batin Kim Jinnan yang menjadi menertawakan dirinya sendiri di dalam hati.


"Meski belum begitu sore, masih sekitar pukul lima sore, tetapi bersama apalagi sampai akrab dengan laki-laki yang menjadi suami dari gadis yang aku cintai juga terkesan horor," pikir Rafaro.


Tak beda dengan Kim Jinnan, jauh di lubuk hatinya, Rafaro juga menertawakan dirinya sendiri yang harus berada dalam keadaan sulit. "Andai, tadi akutidak mengantar Zean pulang, pasti enggak bakalan begini sampai bertemu Ngi-ngie sama Jinan!" umpat Rafaro yang lagi-lagi hanya bisa tersenyum masam sambil menggaruk pelipis kanannya yang mendadak menjadi gatal, menggunakan telunjuk tangan kanan.


"Serius, sori banget. Sebenarnya aku pengin banget ngobrol, tapi masalahnya, tadi aku sudah ada janji sama mom, buat antar mom ke rumah Kishi." Rafaro berkilah dan kembali menciptakan kebohongan hanya untuk menghindari Pelangi dan Kim Jinnan. "Bohong saja terus!" batinnya yang mendadak memiliki keahlian baru yaitu berbohong, hanya karena mencoba menghindari pasangan pengantin baru di hadapannya.


Pelangi yang sedari awal hanya diam karena bingung sekaligus serba salah, pun berkata, "tapi, kamu ke sini naik apa? Aku enggak lihat mobil kamu?"


Karena tadi di luar sana, tidak ada mobil Rafaro. Itu juga yang membuat Pelangi melangkah dengan leluasa, sebelum akhirnya mendadak panik dan kembali menghampiri Kim Jinnan, ketika menyadari Rafaro keluar dari pintu masuk utama di rumah orang tuanya.


Rafaro mengembuskan napas cukup cukup berat dari mulut. Tak kalah berat dari kenyataannya yang mendadak sulit perpikir hanya karena dihadapkan pada Pelangi dan Kim Jinnan. "Tadi aku antar Zean, tapi Zeannya minnta jalan kaki. Ya sudah, kami jalan kaki."


Sebagai laki-laki, Kim Jinnan bisa merasakan kegugupan sekaligus kekacauan yang tengah menyiksa Rafaro. Jadi, demi membuat pemuda itu tidak semakin tertekan, ia pun mengakhiri kebersamaan dan mengucapkan salam perpisahan pada Rafaro.


"Hati-hati, ya!" Gaya Kim Jinnan seolah-olah dirinya sangat akrab dengan Rafaro yang detik itu juga langsung buru-buru kabur meninggalkan kebersamaan.


Sungguh, sebelumnya Pelangi belum pernah melihat Rafaro seburu-buru sekarang. Pelangi yang melihat kepergian Rafaro sampai merasa bersalah sekaligus kasihan. Namun yang membuat Pelangi tak kalah merasa bersalah, tak lain mengenai pak Jo dan kedua ajudan mereka.


"Jinnan, ... kita enggak ke mana-mana lagi, kan? Biarkan Pak Jo dan ajudanmu istirahat atau pulang saja? Toh, besok kita juga sama-sama libur?" usul Pelangi.


Setelah sempat terdiam beberapa detik mencerna usul Pelangi, Kim Jinnan segera mengangguk. Apa yang Pelangi usulkan pun langsung Kim Jinnan titahkan. Dan untuk pertama kalinya, pak Jo berikut kedua ajudan Kim Jinnan, mendapat jatah libur selain libur hari raya dan izin khusus.


Rona kebahagiaan terpancar nyata di wajah ketiga pekerja Kim Jinnan. Dan baik Pelangi maupun Kim Jinnan sama-sama menikmatinya. Di mana, tanpa direncanakan, keduanya refleks bertatapan di tengah kenyataan mereka yang sama-sama tersenyum. Akan tetapi, kenyataan tersebut membuat Pelangi langsung gugup. Itu juga yang membuat Pelangi buru-buru menepis tatapan Kim Jinnan dan sukses membuat Kim Jinnan tersenyum geli. Kim Jinnan merasa semakin gemas pada Pelangi yang masih saja malu-malu kepadanya.


***

__ADS_1


Kehidupan di keluarga Pelangi begitu hangat. Pulang ke rumah akan langsung mendapat sambutan orang rumah khususnya keluarga bahkan mama. Sebuah kenyataan yang belum pernah Kim Jinnan dapatkan sebelumnya. Sampai-sampai, rasa lelah berikut pegal di kedua pundak Kim Jinnan langsung enyah entah ke mana?


Keinya menyambut kehadiran Kim Jinnan dan Pelangi dengan senyum lepas. Keinya yang awalnya duduk di sofa bersebelahan dengan Mentari, langsung beranjak bangun, menghampiri Pelangi dan Kim Jinnan.


Pertama-tama, Keinya memeluk Pelangi lebih dulu yang awalnya berseru dan langsung menghampirinya yang sedang duduk sambil menonton televisi dengan Mentari. Dan setelah itu, Keinya juga memeluk Jinnan.


"Ya sudah ... kalian cuci tangan terus makan. Itu Zean juga lagi makan." Keinya menuntun Kim Jinnan melalui rangkulan punggung yang ia lakukan.


Sedangkan Pelangi yang melihat Mentari kebingungan, segera menyisihkan tas dari pundaknya dan kemudian menggendong bocah itu.


"Riri kangen, enggak, sama Ngi-ngie?" tanya Pelangi sambil menahan gemas pada Mentari yang memiliki pipi sangat tembem.


"Tahu, enggak, Ngie ... semenjak kamu enggak di rumah, selama satu minggu terakhir, si Zean jadi enggak betah di rumah," cerita Keinya antusias.


Keinya sungguh tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sebab, satu minggu tidak serumah dengan Pelangi meski mereka rutin berkomunikasi, membuat Keinya menahan banyak rasa rindu untuk putri pertamanya itu.


"Lho, kalau Zean enggak betah di rumah, dia ke mana, Mah?" tanya Kim Jinnan sambil menatap penasaran mama mertuanya.


"Ya main ke rumah Rora. Biasa," balas Keinya sembari menuntun Pelangi dan Kim Jinnan menuju dapur.


"Lha ... Mama kayak enggak tahu Zean saja. Kecil-kecil begitu, dia kan genit, Ma!" cibir Pelangi dan sukses membuat Kim Jinnan maupun Keinya menjadi tertawa.


"Jinnan, kamu enggak usah ikut-ikutan ketawa, deh ... si Zean kan mirip banget sama kamu. Generasi buaya itu!" lanjut Pelangi lagi dan sukses membuat Kim Jinnan menjadi tersipu malu.


Zean yang awalnya sedang makan, langsung terlonjak girang ketika menoleh dan mendapati Kim Jinnan ada dalam kebersamaan.


Pelangi dan Keinya berikut Kim Jinnan yang sudah dipeluk Zean, sampai menyeringai menahan pengang.


"Jinnan, kamu nginep di sini, kan?" tanya Zean lagi yang sampai menengadah demi menatap Kim Jinnan yang jelas lebih tinggi darinya.


Kim Jinnan segera mengangguk-angguk menatap Zean sambil tersenyum.


"Cie ... cie ... kalian sudah menikah!" goda Zean dan sukses membuat Kim Jinnan dan Pelangi menjadi salah tingkah seiring pipi keduanya yang sampai menjadi merona.


"Zean, lanjutkan makanmu!" Keinya mendelik dan menatap Zean penuh peringatan.


"Hahaha ...!" Zean tertawa lepas dan terlihat sangat girang.


Zean segera mengakhiri dekapannya dan kembali melanjutkan makannya. "Jinnan, ... cuci tangan dan duduk di sini. Sini makan bareng aku biar lebih seru!" lanjut Zean yang kali ini sampai menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.


Keinya menggelang tak habis pikir, terlepas ia yang memang sudah psrah dengan tingkah Zean yang tak mau diatur. Sambil mengelus-elus punggung Kim Jinnan, ia pun berkata, "Jinnan, ucapan Zean, tolong jangan diambil hati, ya?"


Kim Jinnan membalas kecemasan Keinya dengan senyum hangat. Senyum yang sebelumnya belum pernah ia berikan kepada siapa pun. Juga, senyum tulus yang sengaja ia berikan pada Keinya yang sudah Kim Jinnan anggap sebagai mamanya sendiri. "Enggak apa-apa, Ma! Aku malah seneng kalau rame begini."


Meski Keinya sampai tersipu, tetapi rasa sungkan terhadap Kim Jinnan tetap ada. Terlebih, sikap Zean yang sulit dikendalikan semakin menjadi-jadi, ketika bocah itu berulah pada Kim Jinnan.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalian cuci tangan dulu. Mama ambilin nasinya, ya. Hari ini Mama masak rendang. Zean saja sudah makan enam kali." Keinya bergegas mencuci tangannya sebelum meraih piring di rak.


"Baru lima, Ma ... kan ini belum habis, jadi jangan dihitung dulu!" keluh Zean yang begitu lahap menghabiskan isi piringnya dan sukses membuat Kim Jinnan menahan tawa.


Lain halnya dengan Keinya yang menjadi mesem sambil menatap tak habis pikir Zean. "Benar kata Ngi-ngie, ... Zean sama Jinnan memang mirip?" pikirnya yang menjadi diam-diam mengamati Kim Jinnan dan menyamakannya dengan Zean. Akan tetapi, ketika ia mengingat ucapan Pelangi yang mengatakan Zean sebagai "generasi buaya," sungguh, ia menjadi sulit untuk tidak tersenyum.


"Rasanya sebahagia ini. Punya keluarga, dan ada yang bisa diajak komunikasi bahkan debat!" batin Kim Jinnan.


Pelangi yang sudah terbiasa menghadapi ulah konyol Zean, segera menarik kursi kosong di sebelah bocah itu. Ia mendudukkan Mentari di sana, sebelum meninggalkannya untuk cuci tangan layaknya apa yang akan Kim Jinnan lakukan. Pria itu sudah menyingsing lengan kemeja hitam yang dikenakan kemudian mencuci tangan di wastafel sebelah Keinya. Keinya yang sedang mengambilkan nasi dan mewadahkannya di piring untuk mereka makan.


"Makasih, ya?" bisik Kim Jinnan ketika Pelangi nyempil ikut mencuci tangan di sebelahnya.


Pelangi tak langsung menjawab dan memilih merenungi apa yang Kim Jinnan maksud. Namun, ketika ia menengadah, pria itu langsung menyambutnya dengan senyum tulus yang akhir-akhir ini selalu menyertai kebersamaan mereka.


"Buat semuanya!" lanjut Kim Jinnan dan hanya bisa didengar oleh Pelangi lantaran ia memang sengaja berucap dengan suara yang sangat lirih. Hanya mengandalkan gerak bibir untuk mempertegas maksudnya.


Dan Pelangi yang juga menjadi merasa bahagia, berangsur membalasnya dengan senyum bahkanmengangguk. Pelangi meraih sabun cuci tangan dan mulai menggosok jemarinya. Namun Kim Jinnan yang sudah selesai justru membasuhkan kedua tangannya padacwajah Pelangi, sesaat sebelum pria itu berlalu sambil mengelap sisa air di tangannya menggunakan lap. Kim Jinnan benar-benar berlalu begitu saja. Tanpa dosa, meski tadi, Pelangi mendapati pria itu menjadi tersenyum jail.


"Kim Jinnan sengaja ngajak perang! Dikasih senyum, malah ...!" rutuk Pelangi dalam hatinya seiring ia yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Zean ... Dean, ke mana?" tanya Kim Jinnan yang kemudian duduk di sebelah Zean. Ia menatap serius Zean yang makannya sangat lahap, sampai-sampai, ia menelan ludah beberapa kali lantaran tergoda dengan makanan Zean yang terlihat sangat nikmat.


"Paling lagi pacaran sama Kishi!" balas Zean tanpa pikir panjang. Ia menatap Kim Jinnan sambil tersenyum tulus.


Senyum tulus Zean yang bagi Keinya terbilang sangat langka. Keinya yang sampai menyimak sekaligus melihatnya hanya menggeleng geli tak ubahnya apa yang Kim Jinnan lakukan.


Di piring Zean, rendang dagingnya sudah disuir-suir dan diaduk dengan nasi putih yang sampai berwarna bumbu. Kim Jinnan yakin jika cara menikmati rendang seperti itu akan jauh lebih nikmat daripada menikmatinya dengan cara biasa. Tak lupa, sayur capcai berikut semangkuk sup juga turut terhidang. Dan Kim Jinnan, benar-benar ingin itu. Jadi, ketika Pelangi yang jelas terlihat masih marah kepadanya, duduk di sebelahnya, ia pun mengutarakan keinginannya.


"Aku mau makan yang kayak Zean, dong ... kayaknya enak banget!" bisiknya.


Pelangi yang cemberut berangsur melirik tajam Kim Jinnan, dan dibalas senyum tak berdosa oleh Kim Jinnan yang masih menatapnya.


"Dasar suami durhaka. Maunya yang enak-enak saja!" cibir Pelangi lirih, tetapi Kim Jinnan tidak peduli. Bahkan bagi Pelangi, Kim Jinnan mendadak berkelakuan seperti bayi.


 


*Bersambung ....


Bakalan ada kejadian lucu. Serius, di episode selanjutnya >__< . Kira-kira apa, ya? Tunggu saja! Wkwkwk ... jangan lupa, tiga tahun. Jinnan harus nunggu tiga tahun >,<


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2