
Epilog : Awal Dari Kehidupan Baru
Tiara masih termenung di antara ketakutan yang mengungkungnya dalam kesedihan tak berujung, ketika petugas kepolisian kembali mendatanginya, dan mengatakan bila seseorang ingin menemuinya. Tamu ke dua di hari ini, setelah Athan yang menjadi satu-satunya tempatnya berharap, justru memilih meninggalkannya. Tentu kenyataan tersebut membuat Tiara kebingungan.
Tiara yang hanya mengandalkan tikar lusuh sebagai satu-satunya benda berharga untuk menepis dinginnya keadaan di sana, tak mampu melakukan hal lain kecuali mengikuti petugas kepolisian khusus wanita tempatnya ditahan. Tentunya, ia mengemasi air matanya agar tampilannya tidak terlihat semakin menyedihkan.
Bertahan dengan keputusannya yang menolak makanan rutan tempatnya ditahan lantaran baginya jauh dari kata layak, memang membuat tubuh Tiara tak hanya semakin tak berdaya. Sebab semakin ke sini, Tiara justru semakin merasa sakit dan kerap demam tinggi. Ia merasa mengidap penyakit yang serius. Namun ketika ia membicarakannya dengan petugas kepolisian, mereka abai dan justru meminta Tiara agar tidak terus berulah.
Ketika baru menginjakkan kaki di ambang pintu ruang besuk, Tiara dikejutkan oleh sesosok wanita yang selama ini menjadi salah satu lawannya. Wanita yang selalu mengibarkan kebencian terhadap orang yang suka mengganggu hidup sekaligus hubungan orang lain. Juga, wanita yang merupakan teman baik Keinya, yang juga menjadi alasan Athan memintanya menjalani hidup menjadi pribadi yang lebih baik. Rara. Wanita berparas manis sekaligus awet muda itu datang bersama seorang pria bertubuh tegap. Meski si pria berwajah oriental itu tampak garang, pria itu terus menggenggam tangan Rara erat. Tunggu, Tiara ingat bila pria itu juga yang menangis ketakutan ketika Rara tak sadarkan diri setelah ia menembak Rara.
Kendati petugas yang mengantar sudah meninggalkan mereka, tetapi Tiara tak kunjung duduk. Tiara menatap sinis Rara berikut si pria yang tidak lain Kimo. Tiara yakin, Rara hanya akan balas dendam sekaligus menekannya seperti apa yang Keinya lakukan.
“Duduklah. Sebentar saja. Aku tidak akan menyita waktumu,” ucap Rara yang baru melihat keadaan Tiara saja sudah tidak tega. Tubuh kurus sekaligus kering Tiara membuatnya berpikir, wanita itu mengidap anoreksia.
Tiara berangsur duduk tanpa menatap apalagi membalas Rara.
Ketika Rara akan duduk, Kimo menahannya. Rara yang langsung menoleh dan menatap Kimo sadar, calon suaminya itu masih trauma, bila harus membiarkan Rara berhadapan dengan Tiara.
Rara menatap Kimo penuh keyakinan kemudian mengangguk, menuntun Kimo agar ikut duduk.
Setelah senyap menyelimuti kebersamaan, Rara yang menghela napas pelan pun berkata, “aku menitipkan beberapa keperluan termasuk vitamin untukmu. Tolong diminum. Kamu harus tetap hidup dan sehat, karena hanya dengan begitulah kamu bisa menebus semua kesalahanmu di masa lalu.”
Ucapan Rara membuat Tiara melirik curiga kepada Rara.
“Mati bukan cara mengatasi masalah. Karena masalah tidak akan selesai apalagi hilang meski ditinggal mati. Masalah ada untuk dihadapi, diselesaikan. Apalagi sampai kapan pun, masalah akan tetap ada. Jangankan yang masih hidup, yang sudah mati saja masih sering dipermasalahkan, kan?” lanjut Rara penuh pengertian. Tatapan teduh sekaligus prihatinnya membuat hati Tiara seperti dicabik-cabik.
Hati Tiara terenyuh seiring sesak yang tiba-tiba menyumbat dadanya. Ia ingin menangis, tetapi ia malu lantaran orang yang membuatnya sangat tersentuh bahkan sampai ingin menangis justru orang yang telah ia jahati.
“Mengenai Keinya, tolong maafkan dan lepaskan dia. Cobalah jadikan dirimu sebagai cermin sebelum kamu menilai bahkan menghakimi orang lain. Keinya sudah sangat terluka olehmu, pantas dia ingin melihatmu diadili seadil-adilnya,” tambah Rara.
Kimo berdeham sambil mengangkat dagunya. Rara sadar, Kimo memintanya untuk segera pergi.
Setelah menoleh dan menatap Kimo, Rara kembali fokus pada Tiara yang masih menunduk. Hanya saja, wajah Tiara menjadi terlihat memerah seperti akan menangis. “Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu. Dan tolong, tetap hidup agar kamu bisa menjalani hukuman yang harus kamu jalani.”
Setelah Rara dan Kimo pergi, tangis Tiara pecah. Apalagi ketika ia telah kembali ke sel tahanan, hadiah pemberian Rara sangat banyak. Bukan hanya keperluan tidur seperti selimut hangat berikut bantal, karena selain vitamin yang sempat Rara utarakan, seperangkat alat salat lengkap dengan alqur’an dan beberapa makanan termasuk buku-buku motivasi, kembali membuat tangis Tiara pecah.
Kenapa Rara begitu peduli dan mengharapkannya untuk berubah, setelah apa yang Tiara lakukan kepada wanita itu berikut Keinya yang sangat Rara sayangi?
[Tiara, ini bukan akhir untukmu. Karena ini awal dari kehidupan barumu. Jadi, ketika di lembar masa lalumu telah kamu biarkan memiliki banyak noda yang tidak seharusnya ada, biarkanlah lembar selanjutnya terisi dengan kisah yang lebih baik bahkan bermanfaat. Ingat, kamu tidak sendiri. Kamu memiliki Tuhan yang selalu menemanimu dan senantiasa mengharapkanmu menjalani hidup yang lebih baik.]
[Rara]
Setelah membaca itu, Tiara jadi ingat hinaan yang sering ia lontarkan kepada Rara. [“Bantat! Makin hari pipimu makin bulat saja kayak bungkusan kentut!”]
__ADS_1
[“Aku punya mulut kan memang buat makan, bukan menghina apalagi sibuk nyinyirin kehidupan orang. Pantaslah kalau pipiku makin bulat!” balas Rara dengan santainya.]
Kini di alam sadarnya, tangis Tiara kian pecah seiring ia yang mendekap seperangkat alat salat pemberian Rara.
***
Dalam balutan pakaian pernikahan bergaya internasional warna pastel, Keinya dan Yuan melangkah melewati karpet putih menuju altar pernikahan, dengan taburan kelopak mawar merah yang mengguyur di sepanjang perjalanan mereka.
Tamu undangan yang jumlahnya tak lebih dari lima puluh orang dan kompak mengenakan setelan warna abu-abu dalam konsep pernikahan out door pesta kebun, tak hentinya bertepuk tangan menuangkan kebahagiaan mereka atas resminya pasutri baru di hadapan mereka, yang beberapa jam lalu resmi mengikat janji suci pernikahan. Kini, selain Keinya yang menenteng buket mawar berwarna senada dengan gaun yang dikenakan, Yuan yang Keinya dekap mesra juga tak membiarkan tangannya kosong lantaran pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu menggendong Pelangi—selaku harta paling berharga dalam hubungan mereka.
Senyum lepas dan semua kebahagiaan membuncah mewarnai kebahagiaan di sana. Pun meski linangan air mata kerap membuat orang tua ke dua mempelai berikut Rara, sibuk menyeka air mata mereka yang terus berlinang.
Terakhir, saat yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang menginginkan untuk segera melangsungkan pernikahan. Karena percaya atau tidak, tetapi konon, setiap mereka yang mendapatkan lemparan buket pengantin akan menjadi pengantin dalam waktu dekat. Itu kenapa, Kimo menahan Rara agar tidak ikut serta berkumpul memperebutkan buket yang siap Keinya dan Yuan lemparkan, dan tentunya masih mengikutsertakan Pelangi sebagai bintang utama di acara mereka. Karena bagi Kimo, tanpa mendapatkan buket tersebut, mereka akan tetap segera menikah.
Di antara keluarga berikut kolega penting keluarga Yuan maupun Keinya yang hadir, tampak Yura berikut Kainya dan Gio yang sempat Rara dorong agar ikut bergabung memperebutkan buket pengantin. Ke tiganya terlihat begitu terbebani bahkan enggan karena malu. Namun karena semuanya mendukung, Yura, Gio, bahkan Kainya terpaksa tetap di sana.
Satu, dua, tiga ....
Semuanya berseru memberikan aba-aba kepada Yuan dan Keinya yang berdiri di altar mempelai membelakangi kebersamaan, untuk melemparkan buket pengantin. Sayangnya, semua perebut dibuat bengong terheran-heran lantaran buket pengantin justru menghantam dada Rara dan Kimo, setelah buket tersebut melambung tinggi melampaui kerumunan perebut.
Kimo dan Rara yang awalnya sedang mengobrol sambil saling tatap menikmati minuman mereka, dibuat tak percaya atas kenyataan tersebut. Namun tak berselang lama setelah itu, sorak-sorai berikut tepuk tangan langsung tertuju kepada mereka yang seketika itu tertawa tak percaya sambil meraih buket tersebut.
Rara dan Kimo berangsur beranjak dari duduk mereka sambil memamerkan buket pengantin yang dengan suka rela menghampiri mereka.
“Awas, ada bomnya!” canda Yuan krpada Kimo dari altar sana.
Hanya sepasang paruh baya di sebelah Kim Yeon Seok dan Angela saja yang menatap tidak suka kebersamaan Kimo dan Rara. Bahkan Rara yang tak sengaja menoleh ke arah sepasang paruh baya tersebut yang tak lain merupakan orang tua Kimo, menjadi kehilangan senyum berikut kebahagiaannya.
“Selamat tinggal masa lalu. Biarkan aku bahagia dengan apa yang kupilih untuk menata dan menggenggam masa depan,” gumam Keinya yang kemudian mencium sebelah pipi Pelangi diikuti Yuan yang melakukan hal serupa.
Dari semuanya, Pelangi memang satu-satunya yang mengenakan nuansa pastel selain Keinya dan Yuan. Bahkan mahkota bunga yang menghiasi kepala Pelangi juga senada dengan yang menghiasi kepala Keinya. Rambut panjang Keinya disanggul modern dibubuhi mahkota bunga hingga membuatnya seperti ratu di sebuah kerajaan besar. Sedangkan mengenai Yuan, jangan tanya betapa tampannya pria yang begitu tulus mencintai Keinya itu.
Dan untuk ke dua keluarga mempelai, kompak mengenakan nuansa warna putih tanpa terkecuali Kainya dan Yura.
“Kenapa wajahmu sangat pucat?” ucap Kainya sambil menahan sebelah lengan Gio.
Gio yang seketika itu bergeming, menatap tak percaya tahanan tangan Kainya. Menyadari hal tersebut, Kainya yang menjadi tak enak hati segera mengakhiri tahanannya.
“Maaf ...,” lirih Kainya salah tingkah tanpa menatap Gio. Lantaran Gio tak kunjung merespons, ia pun berlalu menuju orang tuanya. Renjana yang begitu kuat pada pria itu membuatnya tak berdaya jika harus terus berdekatan, sedangkan yang bersangkutan begitu dingin kepadanya. Kainya takut, apa yang ia lakukan pada Yuan kembali terulang pada Gio. Jadi, mulai detik ini juga, Kainya sengaja menutup hatinya rapat-rapat untuk rasa yang dinamakan cinta. Kainya tak mau menjadi manusia yang diperbudak cinta, dan biasanya akan membuatnya rela melakukan semuanya bahkan hal-hal yang tak seharusnya Kainya lakukan.
“Mi, kalau Yuan sama Keinya honey moon, Pelangi sama kita, kan?” tanya Kainya sambil mengamati kebahagiaan keluarga kecil Keinya di altar pelaminan.
Khatrin mendekap sebelah lengan Kainya kemudian mengelusnya, tanpa mengalihkan perhatiannya dari keluarga kecil Keinya. Tampak Yuan yang begitu menyayangi Keinya maupun Pelangi. Yuan yang kerap menimang Pelangi sambil berbincang dengan Keinya. Di mana sering kali, Yuan akan mengendus kepala Keinya berikut Pelangi. Kebahagiaan benar-benar menyelimuti dan membuat kebersamaan mereka tampak begitu sempurna.
__ADS_1
“Mereka bilang, mereka akan tetap membawa Pelangi.”
Balasan Khatrin membuat Kainya terkesiap. “Mereka mau keliling Eropa, kan?” ucap Kainya memastikan.
Philips yang menertawakan keterkejutan Kainya, segera mencubit hidung mancung putri sambungnya itu.
“Kak Kainya juga harus menikah dengan pria keren seperti Kak Yuan!” celetuk Daniel. Remaja bertubuh tinggi dan memiliki mata biru layaknya Philips itu tak segan mendekap erat tubuh Kainya dari belakang.
“Daniel, lebih dari lima menit kamu peluk Kakak seperti ini, Kakak bisa kehabisan napas!” keluh Kainya yang terlihat sangat tersiksa.
Daniel tak mengindahkan peringatan Kainya. Yang ada, Daniel sampai memutar tubuh Kainya hingga tubuh Kainya melayang di udara dan sialnya, kaki Daniel menyandung salah satu kursi di sebelah mereka, hingga keseimbangan remaja tampan itu menjadi tidak stabil.
Yang membuat keadaan mendadak mencekam, tak lain karena meski Philips langsung cekatan menarik kemeja bagian punggung Daniel, tubuh Kainya telanjur terlempar dan beruntung menghantam punggung seseorang. Punggung yang juga refleks Kainya dekap erat dan sialnya punggung tersebut merupakan punggung Gio!
“Daniel, kamu ini kebiasaan! Jail terus ke kakakmu!” omel Khatrin geregetan dan sampai memoles kepala berambut keemasan milik Daniel.
Di sudut lain, Rara yang sedang duduk sendiri lantaran Kimo izin ke toilet dan belum lama meninggalkannya, menjadi terjaga lantaran orang tua Kimo menghampirinya. Bukan tanpa alasan kenapa Rara merasa begitu tegang. Karena dari cara sepasang paruh baya di hadapannya memandang, kenyataan buruklah yang akan ia dapatkan. Kendati demikian, Rara segera menyambut ke duanya dengan senyum lepas di mana Rara juga sengaja beranjak dari duduknya. Apalagi, ketika awal kedatangan ke pesta, Kimo sempat mengenalkan Rara pada Franki dan Kiara, selaku orang tua Kimo.
“Apa yang bisa kamu berikan kepada Kimo untuk masa depannya?” tanya Kiara terdengar sinis.
“Dia memiliki wajah dan senyum yang sangat manis seperti ibunya.” Franki berkomentar.
Kiara tersenyum geli. “Kalau tidak memiliki rupa manis, mana mungkin Piera bisa mendapatkan Roy!” tegasnya.
Sontak, kebahagiaan Rara langsung surut meninggalkan keseriusan yang menjadi satu-satunya teman. “Jika Om dan Tante menginginkan menantu sempurna bahkan suci, itu tidak akan pernah terjadi. Namun jika Om dan Tante menginginkan menantu yang bisa membahagiakan Kimo, jawabannya adalah saya!”
Rara menatap Franki dan Kiara penuh kepastian sekaligus senyum yang begitu manis. Franki mengangguk setuju sambil mengulas senyum, sedangkan Kiara langsung memalingkan wajah bahkan meninggalkan Rara.
“Saya tidak akan pernah mengizinkanmu ada dalam kehidupan kami! Jangan mimpi!” tegas Kiara yang kemudian berhenti melangkah. Ia menoleh dan menatap Rara penuh peringatan. Tatapan yang teramat bengis dan langsung membuat Rara ketakutan.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Apakah Rara mampu meyakinkan Kiara yang bahkan sudah mengetahui perihal Piera? Lantas, bagaimana nasib percintaan Kainya berikut pemain lainnya? Semuanya akan terjawab di season 2 yang akan semakin mengharu biru!
******
--Selesai—
Sinopsis Season 2 :
Meski Rara dan Kimo saling mencintai bahkan mereka nekat menikah, restu Kiara selalu mempersulit hubungan ke duanya. Mengenai status Rara yang merupakan anak korban perceraian bahkan Piera mamanya merupakan simpanan sekaligus pelakor. Hal tersebut membuat Kiara tidak rela jika Kimo bersanding dengan Rara.
Ketika Rara dan Kimo terus berjuang, kecelakaan yang menimpa mereka membuat Kimo kehilangan sebagian ingatannya bahkan semua tentang Rara. Kenyataan tersebut digunakan Kiara untuk memisahkan ke duanya. Dan di tengah keadaan yang semakin sulit apalagi yang Kimo ingat justru hubungan pria itu dengan Steffy, Rara juga mendapati dirinya justru sedang hamil!
__ADS_1
Mampukah Rara mempertahankan keutuhan rumah tangganya sedangkan perceraian semakin dekat bahkan selalu menghantui kehidupannya?
#Ayooo vote dan komennya untuk Season 2 ^∆^