
“Pria itu mantan suami Keinya, kenapa kamu masih meladeninya?!”
Bab 49 : Rara, Kimo, dan Yura
****
“Apakah aku harus kembali ke Jakarta? Bandung jauh lebih membuatku nyaman. Di sini enggak ada yang harus aku pikirkan kecuali pekerjaan.”
Rara baru saja keluar dari sebuah hotel setelah menjalani pelatihan menulis bacaan khusus anak. Ia berjalan malas meninggalkan pelataran hotel. Beberapa orang yang merupakan peserta pelatihan bersamanya, menyapanya dengan senyuman sambil mengangguk.
Senyum yang mereka lemparkan terlihat begitu akrab. Tak lain karena Rara juga tipikal ceria yang gampang akrab dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan di dua pertemuan pelatihan dan menjadikannya sebagai pemenang, dua wanita yang kali ini menyapa sambil melambaikan tangan, sempat menumpang tinggal di hotel tempat Rara tinggal.
Setelah satu minggu Rara lalui di Bandung untuk mengikuti acara pelatihan menulis berikut menginap di hotel bekas Keinya menginap, Rara yang telanjur betah di Bandung menjadi ragu kembali ke Jakarta. Apalagi, di Bandung dengan udaranya yang jauh lebih sejuk sekaligus bersahabat untuknya juga membuatnya lebih nyaman mengerjakan tumpukan pesanan tulisan. Rara jadi lebih cepat membereskan pesanan tulisan hingga ia juga mendapatkan pundi-pundi penghasilan berkali lipat.
“Ya ampun! Berapa uang yang sudah aku kumpulkan di sini? Juara satu penulisan bacaan untuk anak dapat 15 juta. Satu minggu membereskan 3 judul buku, tembus 60 juta. Tapi sebentar. Kepalaku pusing banget.”
Rara memilih menepi dan beristirahat di salah satu bangku tak jauh darinya, di tepi jalan. Bangku yang juga kerap digunakan oleh pengunjung untuk beristirahat. Entah mereka yang datang ke hotel, atau sekadar kebetulan lewat layaknya pengunjung kebanyakan. Kini, Rara berada di sekitar jalan Asia Afrika Bandung, lebih tepatnya tak jauh dari Museum Konferensi Asia Afrika yang juga sangat dekat dengan Braga Bandung sekaligus Alun-Alun Bandung, selaku salah satu pusat keramaian di kota Kembang.
Selain Rara, di sekitarnya juga banyak orang yang sengaja bersantai. Tak semata karena wilayah di sana ramah pejalan kaki dengan beberapa bangku berikut beton besar yang menghiasi sekitar jalan. Sebab wilayah yang mengusung konsep one stop holiday dan merupakan pusat keramaian sekaligus pusat bisnis di Kota Bandung itu juga dikelilingi bangunan bersejarah berarsitektur khas Eropa.
Contohnya Bank Indonesia yang dulunya bernama ‘De Javasche Bank’, dan kini menjadi bank tertua sekaligus terbesar Indonesia. Rara masih bisa melihat gedung megah bernuansa putih itu dengan jelas, meski jarak mereka cukup jauh.
Belum lama mengamati suasana sekitar, dering tanda pesan masuk membuat Rara terjaga. Ketika Rara memastikannya, ternyata ada dua pesan dari orang yang berbeda. Itu pesan dari Keinya, dan juga Athan.
Keinya : Hari ini kamu pulang, kan? Pulang ya. Aku kangen banget. Seperti melepas anak perempuan sangat lama, sedangkan kita sampai jarang bertukar kabar gara-gara kamu kerja rodi buat beresin naskah.
Pesan WhatApps dari Keinya membuat Rara tersenyum geli. Memang tak ada alasan untuknya mencemaskan Keinya karena kini sahabatnya itu sudah sangat bahagia, terlebih keluarga Yuan juga begitu hangat dan memanjakan Keinya berikut Pelangi. Namun jika Rara langsung memutus hubungan dengan Keinya hanya karena Rara merasa berkecil hati, Rara tidak membenarkannya. Paling tidak meski tidak sering, mereka harus tetap bertemu, terlepas dari barang-barang Rara yang masih banyak yang di apartemen Keinya.
Athan : Kamu di mana? Ayo kita bertemu. Aku ingin berbicara penting.
Pesan dari Athan cukup mengganggu Rara. Yang Rara tahu, Athan sudah melepas Keinya bahkan mereka sudah resmi bercerai. Namun, kenapa Athan meminta bertemu dan ingin berbicara penting? Pria itu tidak berubah pikiran bahkan kembali jahat, kan? Tapi tunggu dulu ... karena tiba-tiba saja, Rara juga ingat suatu hal. Rara belum minta maaf pada Athan mengenai sepatunya yang sempat melayang ke kepala pria itu. Pemikiran itu juga yang membuat Rara membalas pesan dari Athan.
[Than, mengenai itu, aku melemparmu menggunakan sepatu dan mengenai kepalamu, aku benar-benar menyesal, aku meminta maaf. Dan berhubung aku sedang di Bandung, aku tidak bisa minta maaf secara langsung.]
Rara tidak menyangka bila pesan yang baru ia kirimkan itu langsung mendapat balasan.
Athan : Kapan kamu pulang?
“Ajaib si Athan. Serius banget nih orang?” Rara sampai merinding karena kenyataan tersebut. Namun, Rara juga menjadi semakin tak habis pikir, ketika suara motor yang begitu ia kenal, berhenti di sampingnya. Kimo! Untuk apa pria itu datang padahal selama Rara di Bandung, mereka tidak pernah berkomunikasi? Kimo tidak pernah memberikan kabar, Rara juga tidak berharap mendapatkannya. Jangankan kabar, mengenal pun Rara sudah tidak mau.
Kimo menatap Rara dengan ekspresi kurang nyaman. Pria itu menghela napas sambil menepis tatapan Rara. Ia mendekap helm tak lama setelah melepasnya.
Meski Kimo berhenti di sebelahnya, Rara tetap abai dan sengaja tidak menyapa lebih dulu. Takut jika itu sampai terjadi, Kimo justru semakin memandang rendah Rara. Yang ada, Rara justru membalas pesan Athan.
[Belum pasti. Memangnya kenapa?]
Athan : Kita harus bertemu karena aku ingin bicara penting.
Sepenting apa, sih, yang ingin Athan katakan, sampai-sampai mereka harus bertemu? Rara jadi penasaran. Apakah pertemuan yang Athan maksud masih ada kaitannya dengan Keinya dan Pelangi?
__ADS_1
“Ayo pulang. Memangnya kamu enggak malu ngelihatin orang pacaran?” keluh Kimo tiba-tiba dan langsung mengusik Rara.
Rara memastikan sekitar dan memang telah dipenuhi muda mudi sedang memadu kasih di setiap bangku bahkan trotoar jalan. Kenyataan tersebut membuat Rara bingung, dan lebih bingung lagi ketika tatapannya justru berhenti kepada Kimo.
“Ya, kamu. Aku berbicara denganmu. Siapa lagi? Memangnya ada orang lain selain kamu di sebelahku?” omel Kimo dan langsung membuat Rara kesal.
Rara menarik napas dalam dan nyaris membalas sekaligus memarahi kimo, andai saja ponselnya tidak berdering dan itu telepon masuk dari Athan.
Kimo melihat nama kontak itu; Athan. Ia merapal nama tersebut dalam hati kemudian menepis Rara dengan tatapan sinis.
Rara membelakangi Kimo kemudian menjawab telepon dari Athan. “Iya, Than?”
“Aku juga di Bandung. Kamu di Bandung mana?” ucap Athan serius dari seberang sana.
Tak lama berselang, Rara yang akan menjawab dibuat jengkel lantaran Kimo berdeham sangat keras dan terkesan sengaja.
“Memangnya ada apa?” tukas Rara disusul deham lebih keras dari Kimo. Kenyataan yang langsung membuat Rara balik badan dan menatap sinis Kimo yang juga menepisnya dengan tatapan tak kalah sinis.
“Kamu sedang bersama seseorang?” tanya Athan dari seberang.
“Sudah, ayo kita pulang,” sela Kimo semakin rese.
Rara menghela napas. Sudah benar-benar kesal pada pria gondrong di hadapannya.
“Aku mendengar kabar kurang baik tentang kamu. Jadi aku pikir, kita memang harus bertemu.” Suara Athan dari seberang begitu dipenuhi kepedulian. Kenyataan yang langsung membuat Rara tak percaya.
Kimo yang bisa mendengarnya dikarenakan volume suara ponsel Rara terbilang nyaring, buru-buru merebut dan mematikan sambungan telepon di ponsel Rara.
“Kamu yang apa-apaan. Pria itu mantan suami Keinya, kenapa kamu masih meladeninya?!”
Rahang Rara mengeras sementara kedua tangannya mengepal kencang. Ia menghela napas sangat dalam. “Kenapa kamu selalu menganggap rendah diriku? Memangnya apa salahku ke kamu? Kita enggak ada masalah. Bahkan kita juga enggak saling kenal!” umpatnya sambil berlinang air mata. Hatinya terasa begitu sakit lantaran lagi-lagi Kimo merendahkannya, menganggapnya tak punya harga diri. Padahal, Rara sudah abai, tapi tetap saja Kimo mencari gara-gara padanya.
Sadar apa yang terjadi padanya membuat orang-orang di sana memperhatikannya, Rara buru-buru merebut ponselnya dari Kimo. Sial, Kimo menolak dan justru mengantongi ponsel Rara ke saku celana jin biru telur bebek yang dikenakan.
“Kim-mo!” desis Rara makin kesal.
“Cepat naik. Semuanya sudah menunggu.”
Rara tak mengindahkan ucapan Kimo. Ia bergegas mengemasi tote bag besar berikut sertifikat kejuaraan bertuliskan nominal 15 juta dari tempatnya duduk.
Kimo menahan sebelah pergelangan tangan Rara. “Aku mohon. Sudah. Iya, aku minta maaf. Cukup, kan?”
Meski nada suara Kimo dipenuhi keseriusan sekaligus sesal, Rara telanjur marah bahkan benci pada pria itu.
“Ayo kita pulang. Aku sudah bilang ke Keinya kalau aku akan menjemputmu dan mengantarmu pulang.”
Kimo terus membujuk. Sedangkan Rara terus menepis sambil sesekali mengipratkan tahanan Kimo yang terlampau kencang.
***
__ADS_1
Di dapur apartemen, Keinya tengah menyiapkan banyak masakan dibantu Yura.
“Kak, Kei? Rara itu siapanya Kimo, sih? Kok Kimo kelihatan bersemangat banget kalau bahas dia? Bahkan Kimo sampai ke Bandung buat jemput dia langsung, padahal Kimo baru pulang dari Singapura?” tanya Yura sambil memotong wortel menyerupai batang korek api.
Keinya yang awalnya menyambut pertanyaan Yura dengan senyum, menjadi bingung lantaran pertanyaan tersebut justru mengenai Rara dan Kimo. Air di pancinya sampai tumpah-tumpah lantaran pikirannya jadi melantur. Yura calon adik iparnya begitu mencintai Kimo, sedangkan Rara sahabatnya begitu diinginkan Kimo untuk dijadikan istri.
“Kak Kei, airnya penuh,” tegur Yura mengingatkan.
“Ah ...?” Keinya langsung panik dan buru-buru mematikan keran airnya. Ia menuang sebagian airnya dari panci ke wastafel hingga tersisa setengah, dengan buru-buru.
“Yura menatap curiga Keinya. Setiap aku tanya tentang Kimo dan Rara, Kak Kei selalu kebingungan. Kak Kei seolaj menyembunyikan sesuatu dariku, dan sepertinya mengenai Kimo maupun Rara? Jangan-jangan, dugaanku kalau Kimo ada hubungan dengan Rara, benar?” pikir Yura.
“Kak, Kei?” panggil Yura terdengar frustrasi.
Keinya yang baru meletakan panci berisi air di atas salah satu sumbu kompor, segara menoleh ke Yura. “Mengenai itu, coba kamu tanyakan langsung ke Kimo. Lagi pula, Kakak kurang akrab sama Kimo. Kakak juga enggak terlalu kenal. Apa lagi, Kimo juga tipikal cuek dan jarang ngomong.” Setelah sampai mengulas senyum dan berharap Yura bisa menerima alasannya, Keinya segera menyalakan kompor gasnya.
Yura menghentikan kedua tangannya dalam memotong wortel. Ia menghela napas dalam dan berakhir dengan mendesah keras, karena lelah. “Pria itu sungguh sulit dimengerti, Kak Kei!” keluhnya.
Keinya tersenyum sambil memasang wajah prihatin. “Sabar, ya.” Ia menghampiri Yura kemudian menepuk pelan punggung calon iparnya itu sebanyak tiga kali. “Kalau kalian memang jodoh, kalian pasti bersatu. Saran Kakak, cari pria yang menghargai kamu dan mau menerima kekuranganmu. Lihat Yuan Oppa, seperti itu. Cari pria seperti itu.” Ia menatap Yura penuh kehangatan. Wanita dalam rangkulannya sedang patah hati dan membutuhkan banyak dukungan. Keinya merasa harus lebih menjaga perasaan Yura apalagi selain ia mengetahui Kimo mengejar Rara, Yura merupakan calon adik iparnya.
Keinya merasa berada di posisi sulit atas cinta Yura kepada Kimo. Sebab, Rara juga menjadi wanita lain di hubungan tersebut. Dan jika diharuskan memilih, Keinya tidak bisa melakukannya. Lebih baik Kimo saja yang pergi dari Yura maupun Rara.
Dengan mata berkaca-kaca dan terlihat nyaris menangis, Yura berkata, “Oppa itu limited edition, Kak Kei. Kalau ada yang kayak dia lagi sih, aku mau-mau saja. Aku juga pernah berpikir kenapa Kak Yuan enggak nikah sama aku saja, dan justru Kak Kei? Secara, awal aku masuk keluarga Oppa, aku pikir untuk itu. Tapi nyatanya, alasan Oppa membawaku dari panti asuhan, karena Oppa benar-benar ingin punya adik perempuan.”
Keinya menanggapi cerita Yura dengan santai. Karena mengenai Yura ada dalam keluarga Yuan, Yuan sudah menceritakannya kepada Keinya. Dan seperti yang Yura katakan barusan, Yura hanya anak perempuan yang beruntung karena bisa menjadi bagian dari keluarga Yuan, setelah Yuan memilihnya untuk diadopsi. Di mana, meski Yura juga sempat begitu mencintai Yuan dan tidak bisa menerima kenyataannya sebatas adik perempuan Yuan. Sedangkan mengenai cinta Yura pada Kimo, itu terjadi lantaran di saat Yura terpuruk atas cintanya pada Yuan, Kimo ada dan beberapa kali menghibur Yura.
“Tapi omong-omong, Kak Kei sudah tahu belum?” ucap Yura tiba-tiba.
Keinya menjadi penasaran. Apalagi Yura sampai melongok ke arah pintu dapur yang kebetulan sepi.
“Tahu apa?” balas Keinya dengan berbisik juga.
“Di dompet Oppa ada foto cinta pertamanya!” Yura antusias.
Jantung Keinya seolah disayat sembilu. “B-benarkah?” Keinya langsung terbakar api cemburu terlebih ketika Yura justru langsung mengangguk mantap.
“S-seperti, apa, ... dia?” Keinya menelan salivanya beberapa kali sambil pura-pura tenang. Emosi rasanya mendengar cinta pertama Yuan, dan parahnya, fotonya sampai disimpan di dompet Yuan. Keinya sampai ingin mengamuk.
“Tentu dia seorang gadis yang begitu manis. Senyumnya sangat manis! Aku pikir Oppa akan menemukan gadis itu untuk dinikahi.” Tiba-tiba saja Yura menyadari, apa yang ia ceritakan membuat perubahan ekspresi drastis pada diri seorang Keinya.
“Sangat manis, ya?” ulang Keinya mengangguk-angguk geregetan sambil menunduk. “Sangat manis? Seperti apa gadis itu? Tidak-tidak, aku tidak cemburu!” jerit Keinya dalam hatinya dan sudah sangat ingin menangis.
“Duh, kayaknya aku salah ngomong, deh!” batin Yura.
Yura jadi ketakutan sendiri. Apalagi tak lama setelah itu, Yuan datang. Dengan langkahnya yang masih harus dibantu tripod, Yuan melangkah semringah mendekati Keinya. Benar saja, Keinya hanya menatap Yuan sekilas, dan justru langsung meninggalkannya.
Yuan menatap bingung perubahan Keinya yang menjadi bersikap dingin kepadanya. Namun, ketika Yuan menatap Yura, gerak-gerik adiknya itu begitu mencurigakan. Yura buru-buru menggeleng—menegaskan tak tahu-menahu kemudian menyibukkan diri dengan memotong wortel.
“Ada apa, ini?” batin Yuan merasa terabaikan. Yuan merasa menjadi korban salah sasaran.
__ADS_1
*****