
“Hiduplah dengan orang yang mencintaimu. Karena mengejar orang yang kamu cintai lebih banyak sakitnya, ketimbang bahagianya.”
Bab 52 : Cinta, Obsesi dan Luka
****
“Menikah?” Angela mengulang ucapan Yuan. Ia menatap sang anak penuh kepastian dan langsung dibalas oleh Yuan.
Yuan mengangguk santai. Kemudian Angela melirik sang suami yang duduk di ujung kursi makan meja oval besar yang tengah mereka gunakan untuk menyantap sarapan.
Kim Yeon Seok mengedipkan sendu matanya di antara senyum lepas yang ia berikan sebagai balasan. Yang membuat Yuan heran, kenapa pandangan Angela padanya terkesan tidak yakin? Kenapa Angela terkesan meragukannya padahal sebelumnya wanita itu begitu berharap pada hubungannya dan Keinya? Adakah masalah yang Angela sembunyikan dan luput dari pengetahuan Yuan?
“Mami, kenapa? Mami bilang ingin secepatnya menambah cucu?” tanya Yuan memastikan. Ia masih membiarkan tumpukan sandwich yang Angela siapkan sebagai menu sarapan mereka, di piring sajinya.
Kim Yeon Seok mengangguk mantap. “Mm! Lebih cepat, lebih baik!”
Yuan menanggapi tanggapan hangat sang ayah dengan anggukan sekaligus senyum sarat terima kasih. Namun yang ia bingungkan, kenapa sang ibu masih terlihat ragu?
“Keinya sudah isi?” bisik Angela tiba-tiba sambil mencondongkan tatapan berikut tubuhnya pada Yuan yang duduk di hadapannya.
Yuan terkesiap dan bahkan menggeragap. Kenapa Angela sampai berpikir seperti itu?
Lain halnya dengan Kim Yeon Seok yang justru berteriak. “Good job! Daebak! Keren ... keren!”
Angela menggeleng tak habis pikir menanggapi respons suaminya yang justru begitu antusias.
“Papi. Papi sudah melakukan pemborosan kata. Good job, daebak, dan keren itu artinya sama,” tegur Yura sambil menikmati sandwich-nya dengan tidak bersemangat.
Yuan melirik Yura yang ada di sebelahnya. Mata adiknya itu terlihat sangat bengkak walau disembunyikan di balik kacamata minus berbingkai merah hati. Bahkan karenanya, ia menaruh kecemasan khusus terhadap keadaan tersebut.
“Mi?” panggil Yuan berusaha memastikan, kenapa Angela tetap ragu bahkan cemas atas niat baiknya menikahi Keinya?
“Mami setuju-setuju saja.”
“Tenang saja, Mi. Keinya belum hamil, kok. Jangankan sampai ke hubungan itu, melakukan yang sedikit berlebihan saja, dia langsung jadi kejam melebihi preman!” Yuan berusaha meyakinkan.
Angela dan Kim Yeon Seok mesem. Apalagi Kim Yeon Seok yang terus menikmati sarapannya dengan lahap terlihat begitu bahagia, sangat mengharapkan pernikahan anaknya segera terjadi. Kontras dari Yura yang masih terlihat tidak bersemangat.
“Mungkin Mami memikirkan keluarga Kak Kei, Oppa. Biar bagaimanapun, keluarga Kak Kei juga keluarga Kainya. Dan Oppa tahu, kan, mereka sangat membenci Oppa setelah pembatalan pernikahan yang Oppa lakukan ke Kainya? Belum lagi, Kainya pasti kasih bumbu-bumbu kebencian ke orang tuanya.” Yura mengatakannya dengan malas, terlepas dari rasa sebal yang seketika meluap di setiap ia mengingat sosok Kainya yang begitu kontras dari Keinya. “Tahu, kan, seberapa gilanya Kainya? Dia bahkan enggak segan mengorbankan nyawa!”
Angela mengangguk pelan menanggapi komentar Yura. “Yang sabar, Yu. Lagi pula, Keinya juga masih masa idah, kan?” Ia menghela napas. “Alasan Mami meminta kepastian, tentu karena masa idah Keinya masih ada 2 bulan lagi. Kalau Mami sih setuju-setuju saja. Mami suka wanita seperti Keinya. Sederhana, cerdas, enggak neko-neko.”
“Sangat cantik, Mi!” Kim Yeon Seok menambahi. “Sempurna karena Keinya juga pandai masak!”
__ADS_1
Yuan menghela napas pelan sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi tempatnya duduk. Tatapannya kosong, menerobos tepi meja di hadapannya. Pria itu terlihat sangat tidak bersemangat, kontras dari awal membicarakan pernikahan.
Yuan berpikir, jangankan dua bulan, hitungan detik saja bisa dimanfaatkan Kainya untuk merusak hubungan Yuan dan Keinya. Yuan sungguh mengutuk ulah Kainya yang Yuan yakini sengaja membuat keadaan agar pernikahan Yuan dan Keinya, tidak pernah terjadi. Tak hanya mengenai kebohongan yang selama ini Kainya lakukan, melainkan keputusan wanita itu menabrak Yuan. Kainya sungguh menyusun semuanya dengan matang.
“Meski Kak Kei tipikal setia bahkan langka, latar belakang kak Kei bikin hubungan ini jadi sulit.” Yura menghela napas dalam atas rasa kesal yang juga membuatnya merasa lelah.
Yura sampai menjadi semakin tidak bersemangat dan membiarkan sandwich yang ia pegang menggunakan kedua tangan, tanpa kembali mengunyahnya, meski hanya gigitan kecil layaknya sebelumnya.
Kim Yeon Seok juga menjadi kehilangan selera makan ketika ia mendapati kedua anak kesayangannya menjadi tidak bersemangat.
Dari awal, Kainya memang selalu mempersulit hidup Yuan. Sedangkan Yura yang telanjur kesal kepada kembaran Keinya yang begitu terobsesi kepada Yuan, Kim Yeon Seok ketahu selalu akan melangkah lebih depan untuk menangkis kehadiran wanita itu.
“Dari laporan yang kudapatkan, Kainya dan orang tuanya pergi ke Korea untuk berobat. Selebihnya, dia pasti akan secepatnya kembali.” Yuan mengatakannya masih dengan tidak bersemangat. “Tapi jangan khawatir. Aku akan melakukan semuanya, demi pernikahan impianku dan Keinya. Aku akan mengakhiri semua kebohongan Kainya, dan membuat Keinya bertemu dengan maminya.”
Yura, Angela, berikut Kim Yeon Seok, menatap dan menyimak Yuan dengan saksama. Mereka merasa sangat bangga dengan cara pikir sekaligus tujuan Yuan. Biar bagaimanapun, Kainya memang harus dihentikan bahkan bila perlu secepatnya.
“Tapi obsesi Kainya ke Oppa bikin dia punya banyak nyawa,” cibir Yura.
Yuan langsung menoleh dan menatap Yura. Wanita berambut keemasan itu masih terlihat sangat jengkel. “Kamu juga jangan sampai begitu, ya,” pintanya mencoba memberi pengertian.
Yura langsung diam. Pun dengan Angela berikut Kim Yeon Seok yang mengalami hal serupa, tatkala Yuan memastikannya.
“Mami Papi juga enggak boleh ikut campur mengenai perasaan Kimo ke Yura. Aku tahu Yura sangat mencintai Kimo, masalahnya Kimo masih belum bisa. Kimo hanya menganggap Yura sebagai adik, tidak lebih. Kamu, cari pria lain saja.”
“Hiduplah dengan orang yang mencintaimu. Karena mengejar orang yang kamu cintai lebih banyak sakitnya, ketimbang bahagianya.” Yuan menatap Yura sarat perhatian sekaligus pengertian.
Tangis Yura pecah. Ia terus menggeleng sambil menatap Yuan dengan memohon. “Aku enggak bisa. Aku sangat mencintai Kimo, Oppa! Stop bahas ini. Ini menyakitkan!”
Mendapati itu, Angela dan Kim Yeon Seok benar-benar terluka. Karena meski Yura bukan terlahir dari benih cinta mereka, mereka membesarkan Yura dengan penuh cinta. Yura tak beda dengan Yuan, meski dalam tubuh mereka tidak mengalir darah yang sama. Juga, mereka yang tetap ibarat kulit ari Yura, yang akan merasa lebih terluka jika anak gadis mereka terluka.
Yura menjatuhkan sisa sandwich-nya begitu saja. “Seharusnya Oppa membantuku apalagi Oppa juga dekat dengan Kimo.”
Yuan menahan sebelah wajah Yura, mengelap setiap linangan air mata yang mengalir di sana. “Karena Oppa sayang kamu, Oppa enggak mau kamu berharap pada Kimo. Oppa enggak mau kamu terus-menerus terluka, sedangkan kamu sangat berhak untuk bahagia. Cari pria lain saja.”
Yura menepis tangan Yuan dan bergegas meninggalkan kebersamaan. Ia masuk dan mengunci diri di kamar, meluapkan kesedihannya di sana, lantaran Yuan yang ia harapkan bisa membantunya bersatu dengan Kimo justru mematahkan bahkan menghancurkan harapannya.
Angela menghela napas pelan di antara linangan air mata yang mewakili isi hatinya. Sakit. Ia sangat terluka atas kesedihan yang Yura rasakan.
“Mi, Pi ... Yura hanya butuh waktu,” lirih Yuan meyakinkan. “Ini jauh lebih baik daripada dia hidup dengan pria yang tidak mencintainya. Bahkan kalau tetap dipaksakan, Kimo bisa membenci Yura seperti apa yang selama ini aku rasakan kepada Kainya.”
Kim Yeon Seok berdeham. Ia berangsur beranjak meninggalkan tempat duduknya dan merangkul Angela sambil mengelus pundak sang istri. Angela terisak-isak. Merasa sangat sakit lantaran ia tidak bisa membantu Yura.
“Semoga Yura bisa secepatnya menemukan pria yang benar-benar mencintainya.” Kim Yeon Seok sangat berharap, apa yang baru saja panjatkan katakan benar-benar terjadi bahkan bila bisa secepatnya. Kim Yein Seok takut, jika Yura terus mengharapkan Kimo, anak gadisnya itu justru menjadi seperti Kainya. Terobsesi dan hanya menghabiskan waktunya untuk mengejar Kimo tanpa peduli pada hal lain, termasuk diri sendiri. Kim Yeon Seok tidak mau nasib anak perempuannya berakhir tragis seperti Kainya.
__ADS_1
***
“Yuan mengajak kamu menikah?” Rara menatap Keinya penuh kepastian.
Keinya mengangguk ceria.
“Bagus, dong!”
“Tapi aku jadi kepikiran Kainya.” Keinya merasa serba salah. Sambil memangku Pelangi, ia mengharapkan solusi terbaik dari Rara.
Rara terdiam dan merasa bingung. Perihal Kainya yang menabrak Yuan, ia memang masih merahasiakannya. Selain itu, ia juga yakin Yuan tidak menceritakan hal tersebut pada Keinya.
“Salah, enggak, sih, kalau aku jujur? Takutnya, Yuan juga sudah punya rencana buat kasih tahu mengenai ini ke Keinya. Tapi lebih baik aku bilang dulu ke Yuan. Takut salah,” pikir Rara.
Rara mengulas senyum sambil kembali fokus menatap Keinya. “Jangan ragu kalau kamu mau, apalagi Yuan dan keluarganya juga mendukung, Kei. Kamu dan Yuan bukan pasangan kemarin. Apalagi kata kamu, kalian juga sempat bertemu saat kalian masih kecil? Kamu bukan hanya cinta pertama Yuan, melainkan masa depan yang selama ini Yuan perjuangkan. Semua yang Yuan punya, semua yang Yuan perjuangkan, semua itu karena kamu!”
Keinya menitikkan air mata dikarenakan kata-kata Rara tak beda dengan suara hati seorang ibu yang begitu mendambakan kebahagiaan anak-anaknya.
Rara yang turut terenyuh atas kesedihan Keinya, merapatkan jarak duduk mereka. Rara menyeka air mata Keinya kemudian memeluknya. “Jangan menangis. Jangan bersedih lagi. Percaya sama Yuan. Dia pria baik-baik. Dari keluarga baik-baik juga.”
Keinya mengangguk-angguk. “Mm!” Kemudian ia buru-buru mengakhiri pelukan mereka, menatap lekat-lekat Rara yang ada di hadapannya. “Tapi tiba-tiba aku jadi berharap, jangan-jangan, sebenarnya orang tuaku masih hidup? Mereka memiliki alasan kenapa mereka menitipkanku dan Kainya, di panti asuhan? Iya, kan, Ra? Bisa jadi kemungkinannya memang begitu, kan? Aku dan Yuan saja ternyata pernah bertemu ketika kami masih kecil.”
Kenyataan Keinya yang terlihat begitu mengharapkan kebenaran dan baru saja Keinya utarakan, membuat Rara tersudut. Rara tidak tahu harus mengatakan apa, sedangkan apa yang Keinya harapkan Rara ketahui benar. Namun, jika ia jujur, Rara juga takut salah langkah.
“Coba kamu bahas ini dengan Yuan. Datangi panti asuhanmu dulu.” Rara yakin, apa yang baru saja ia katakan merupakan balasan terbaik yang harus ia katakan. Toh, Yuan pasti akan melakukan yang terbaik untuk Keinya.
Namun, jika melihat keadaan, pernikahan Yuan dan Keinya akan cukup sulit terjadi. Bayangkan saja, orang tua mana yang akan melepaskan anaknya pada pria yang pernah melukai anaknya juga? Kecuali jika Kainya mau mengakui semua kebohongannya. Namun tentu saja, membuat Kainya mengakui semua kesalahannya juga bagian dari kemustahilan. Kainya itu sudah terobsesi pada Yuan. Karena jangankan kepada orang lain, pada dirinya bahkan Yuan saja, Kainya tega.
“Ah, iya. Kenapa aku enggak minta bantuan Yuan, ya?” Keinya tersenyum lega sambil menyeka air matanya. “Ya ampun, aku kayak anak kecil banget, ya, Ra?”
Keinya menertawakan dirinya sendiri yang dirasanya menjadi sangat manja tanpa sadar situasi bahkan keadaannya yang sudah memiliki Pelangi.
“Ya begitulah. Semenjak lepas dari Athan, kamu memang sudah jadi Ratu-nya Yuan!”
“Ih, apaan, sih? Masa lepas? Kesannya aku ini ternak!” Keinya merasa sangat bahagia dengan apa yang didapatnya dari Yuan. Namun, apakah sahabatnya juga merasakan hal serupa? Lihatlah, mata Rara begitu sembam. Dan bagaimana persiapan pembatalan pernikahan Rara dengan Gio? Mengenai semua yang harus dibayar?
“Salah enggak, sih, kalau aku minta pertanggung jawaban Gio? Aku enggak rela, masa dia sama sekali enggak mengurus persiapan pernikahan kami? Seharusnya dia ikut menanggung ganti rugi. Enggak tanggung jawab banget!” ujar Rara meledak-ledak ketika Keinya menanyakan perkembangan hubungannya dan Gio.
“Lakukan apa pun yang bikin sakit kamu berkurang, Ra! Aku pasti dukung kamu!” Keinya mengelus sebelah lengan Rara. Mencoba menyalurkan keyakinannya dan ia harapkan bisa menjadi kekuatan untuk Rara.
Rara mengangguk-angguk dan berlinang air mata. “Kalau dia enggak mau, aku akan membawa semua keperluan pernikahan kami ke pernikahannya! Aku akan mempermalukannya di depan semua tamunya! Kalau perlu, aku akan mem-viralkannya!” isaknya pura-pura tegar. Ia kembali tersenyum dan lagi-lagi bersandiwara demi menyembunyikan kerapuhan sekaligis kehancurannya.
******
__ADS_1