
“Jangan ngusir-ngusir ... toh ujung-ujungnya, kamu juga, yang kangen?”
Bab 58 : Bertemu Rafaro
Sepulang sekolah, Elia yang sudah merasa lebih baik, ditugasi oleh Kainya untuk membeli sayuran di sebuah toserba. Toserba cukup besar setelah mereka mengantar Elena les piano.
“Pak, ikut, yuk? Nanti kalau aku salah ambil sayuran sama barang-barang yang harus dibeli, bagaimana?” tawar Elia yang memang tidak begitu paham dengan jenis-jenis sayuran. Justru, Dean yang hobi masaklah yang jauh lebih paham perihal sayuran berikut keperluan dapur, kendati Dean seorang pria.
“Masa Non enggak tahu sayuran?” balas sang sopir yang sampai menertawakan Elia.
“Serius, Pak. Makanya, ayo sama Bapak, biar cepat beres soalnya sudah sore juga ini ...!” rengek Elia yang masih bertahan di tempat duduk penumpang tepat di belakang sang sopir.
“Ya sudah, Non ... ayo kita turun!” sergah sang sopir yang kemudian turun dan sampai membukakan pintu untuk Elia.
“Makasih, Pak! Ayo, cayo! Biar aku bisa cepat nonton Boruto!” Elia sangat bersemangat dan sampai menggandeng sebelah tangan sang sopir.
Bersama sang sopir, Elia langsung menuju tempat yang memajang aneka sayuran berikut keperluan dapur. Elia menugasi sopirnya untuk menunjuk setiap sayuran yang tertulis di data yang Kainya berikan. Tentu, meski tidak tahu-menahu, Elia memilih sayuran yang dirasanya jauh lebih segar sekaligus bagus, termasuk dari sisi kualitas sayuran sendiri.
Ketika Elia memilih susu berikut yogurt, Elia justru mencium aroma parfum Rafaro ada di sebelahnya. Kenyataan yang juga sampai membuat Elia terdiam tak percaya. Benarkah itu Rafaro? Atau, ... seseorang yang kebetulan memiliki parfum yang sama?
Ketika Elia memastikannya, ternyata itu memang Rafaro. Rafaro memang berdiri di sebelah Elia, padahal seharusnya, pemuda itu masih di kantor, mengingat sekarang masih jam kerja. Bukankah sekarang baru pukul tiga sore? Kenapa Rafaro justru sudah ada di toserba?
“Ih ...?” tegur Elia sambil menatap Rafaro dengan tatapan curiga. Elia sampai menyikut siku Rafaro dua kali.
Rafaro yang awalnya sedang fokus memilih susu rendah kalori, berangsur menoleh ke sampingnya. Dirasanya, ia baru saja mendengar suara Elia kendati hanya sebatas teguran singkat. Dan ketika ia memastikannya, benar saja, gadis itu sedang menatap ke arahnya. Jarak mereka tak kurang dari tiga jengkal.
“Wah, kamu makan yogurt itu juga? Aku juga mau beli!” sergah Elia setelah mendapati di tangan kiri Rafaro ada dua cup yogurt yang juga menjadi yogurt favoritnya.
“Mau berapa?” tanya Rafaro yang kemudian langsung mengambilkan yogurt yang sama dengan yang ada di tangannya, mengingat aneka yogurt memang ada di hadapannya.
Dengan hati yang detik itu juga menjadi berbunga-bunga, Elia langsung menyodorkan secarik kertas berisi daftar belanjaan yang langsung ditulis oleh Kainya, kepada Rafaro. Sungguh, Elia merasa jika kini, ia dan Rafaro sedang berkencan tanpa direncanakan.
“Enggak apa-apalah dibilang halu. Yang penting aku seneng!” batin Elia.
“Waw ... kamu belanja banyak banget?” ucap Rafaro yang sampai dibuat tak percaya perihal banyaknya barang belanjaan yang harus Elia beli.
“Tuh ... sudah segunung, kan? Nah ... itu belum semuanya,” balas Elia dengan santainya.
Elia tetap merasa nyaman-nyaman saja berada di sisi Rafaro, kendati ia sadar, pemuda itu mengetahui jika ia menyukainya.
“Sebanyak ini, kamu belanja sendiri?” lanjut Rafaro.
“Dibantu pak sopir. Sekarang pak sopir sedang ambil beberapa barang di lantai atas. Dan sekarang, kamu juga ikut bantu kami!” balas Elia masih cerita.
Rafaro membalasnya dengan tatapan yang jauh lebih hangat, lantaran kali ini, ia sampai mengulas senyum. Sebuah kenyataan yang semakin membuat Elia betah memandangi wajah tampan Rafaro, kendati jelas, wajah pemuda di hadapannya sangat mirip dengan Mofaro.
“Buat stok?” tebak Rafaro lagi sembari mengisi ranjang belanjaan Elia dengan yogurt sesuai yang tertera di catatan. Dan sambil melakukannya, ia juga kerap menatap Elia.
Elia mengangguk-angguk. “Kan kemarin kami sekeluarga menginap di rumah nenek. Jadi ya belum sempat belanja keperluan dapur,” balasnya.
“Oh, iya ... oke ... oke.” Rafaro mengangguk-angguk.
__ADS_1
“Kamu sendiri, kok sudah di sini? Bukannya seharusnya masih jam kerja?” balas Elia.
Seperti biasa, Rafaro tak langsung menjawab. Pemuda yang selalu menanggapi segala sesuatunya dengan tenang itu terdiam untuk beberapa saat sebelum berkata, “khusus hari ini aku kerja di lapanagan. Kunjungan ke sana-sini, sudah beres, ya pulang.”
Bersama Rafaro, Elia seperti sedang bersama Steven papanya. Rafaro begitu mirip dengan Steven dalam bersikap, termasuk Rafaro yang selalu santun pada semua orang.
“Terus, kapan kamu balik ke luar negeri, lanjut kuliahmu?” lanjut Elia.
“Ini maksudnya ngusir, atau bagaimana? Aku kan belum lama liburan di Indo, El!” Rafaro menertawakan dirinya sendiri dan diikuti juga oleh Elia yang sudah terkenal ceria.
Berbeda dari yang lainnya, khusus Rafaro, pemuda itu memanggil Elia dengan panggilan “El”, ketika yang lain akan memanggil Elia dengan “Lia” atau “Lili”
“Terima kasih banyak, Tuhan ... setelah paginya aku nyaris vertigo gara-gara mendadak darah tinggi menghadapi ulah Mo, sekarang aku mendadak diabetes gara-gara dapat tawa Rafa yang manisnya berlebihan!” batin Elia.
“Aku kan cuma tanya ... belum ngusir beneran!” kilah Elia yang masih meredam tawanya.
“Jangan ngusir-ngusir ... toh ujung-ujungnya, kamu juga, yang kangen?” ucap Rafaro sembari meleng geli.
Apa yang baru saja Rafaro ucapkan sukses membuat Elia tersipu seiring rasa gugup yang sampai membuat gadis itu tidak baik-baik saja. Bahkan, Elia sampai salah tingkah dan tidak berani menatap Rafaro lagi.
“Makasih, lho, Raf ... kamu enggak sampai menghindari apalagi benci aku, padahal karena kamu tahu aku suka kamu. Begini saja lebih baik biar kita tetap bersahabat seperti orang tua kita!” ucap Elia jujur.
“Tapi kamu belum pernah ngomong langsung ke aku, kalau kamu suka sama aku, kan?” balas Rafaro yang justru sengaja menggoda Elia.
“Astaga!” pekik Elia yang kemudian tertawa layaknya apa yang sudah menimpa Mofaro.
“Belajar dulu yang benar. Banggakan orang tua, baru ...,” ucap Rafaro sambil menatap serius Elia.
“Baru apa?!” sergah Elia penasaran sekaligus tidak sabar.
Kembali, Elia dan Rafaro tertawa.
Rafaro sadar, Elia tipikal gadis ceria yang cerdas sekaligus jujur. Kenyataan yang terbilang langka lantaran biasanya, kebanyakan wanita akan cenderung lebih memilih menyimpan semua perasaannya rapat-rapat. Seperti halnya Pelangi yang bahkan belum bisa memahami perasaan sekaligus kemauan hatinya sendiri, bahkan ketika Pelangi sudah akan menikah. Entah untuk sekarang, karena Rafaro sedang belajar melepas Pelangi tanpa mencari tahu semua tentang wanita itu lagi.
“Ehm!”
Dehaman barusan bukan dari Rafaro yang masih meredam tawa layaknya Elia. Sebab dehaman barusan berasal dari belakang Elia, tepatnya di seberang Rafaro, hingga Elia ada di tengah-tengah keduanya. Namun meski belum memastikan, Elia yang sampai hafal aroma parfum yang bersangkutan, juga sudah menduga siapa pelakunya.
“Aku Elia, bukan Elena!” keluhnya Elia sambil menoleh ke sumber suara.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap, ada di sana. Dan Rafaro melihat banyak kemarahan dari cara pria itu menatap Elia. Sayangnya, Rafaro tidak mengenali pria yang kiranya berusia sekitar dua puluh enam tahun itu. Pria yang sampai Elia semprot dengan penegasan, jika gadis itu bukan Elena.
Tentu, gadis yang di sebelah Rafaro memang bukan Elena, meski Elena dan Elia nyaris kembar identik. Hanya hidung keduanya saja yang berbeda, sebab hidung Elia terbilang pesek sedangkan hidung Elena terbilang mancung, terlepas dari sifat keduanya sendiri yang terbilang sangat bertolak belakang.
Elia segera mendesak Rafaro untuk melipir dan meninggalkan pria tersebut.
“Siapa sih, El? Kalian kenal, kan?” bisik Rafaro.
“Pacarnya Lena! Aneh tuh orang. Sudah tiga bulan pacaran sama Lena, masih saja belum bisa bedain aku sama Lena!” balas Elia dengan berbisik juga, sambil terus berjalan menggiring Rafaro.
Sadar Elia keberatan membawa ranjang berisi yogurt berikut susu yang baru saja gadis itu ambil, Rafaro pun mengambil alih ranjang belanjaan tersebut dari tangan Elia, hingga kedua tangannya menenteng ranjang belanjaan.
__ADS_1
“Kan ... Rafaro memang beda. Enggak salah aku, suka sama dia! Rafa beneran mirip papa!” batin Elia yang semakin mantap dengan pilihannya.
“Kok bisa, sih, Lena kenal sama dia? Maaf, ya, El ... bahkan dia kelihatan jauh lebih tua dari Jinnan,” ujar Rafaro masih bertutur lirih.
Rafaro dan Elia mendadak menggosipkan si pacar Elena yang baru saja mereka tinggalkan.
“Emang. Usianya juga sudah dua puluh enam tahun!” balas Elia mantap.
“Dan kelihatannya kelewat tegas ... galak, ya?” lanjut Rafaro.
“Nah! Kamu saja bisa langsung nebak, kan?” balas Elia semakin menggebu.
“Kok mereka bisa kenal bahkan pacaran?” lanjut Rafaro.
“Dia tuh, anaknya guru lea piano Elena. Makanya aku kesel!” balas Elia.
“Wah ... semoga cepat dikasih pencerahan,” ujar Rafaro.
“Aku selalu berdoa, siapa pun yang jahat, semoga cepat diterima di sisi Tuhan!” balas Elia dan sukses membuat tawa kembali pecah dalam kebersamaan mereka.
“Ternyata si Elia asyik banget, ya, diajak bercanda?!” batin Rafaro yang sampai sakit perut karena terlalu banyak tertawa.
Ketika semua belanjaan Elia terkumpul dan mereka bersiap melakukan pembayaran, Elia baru sadar kedatangannya ke toserba hanya bermodal kertas belanjaan. Tanpa dompet, termasuk ponsel apalagi uang dan alat pembayaran!
“Gila, Raf ... demi apa! Belanja sebanyak ini! Dua ranjang troli dan satu ranjang tenteng ... aku enggak bawa uang. Lupa, soalnya tadi aku buru-buru!” keluh Elia, sedangkan mereka sudah akan mendapat giliran transaksi.
Rafaro menatap datar Elia, meski akhirnya, ia justru menertawakan gadis itu.
“Raf ... Pak Sopir juga, kok enggak ingatkan aku, kalau aku enggak bawa tas, cuma bawa secarik daftar belanjaan?” Elia uring-uringan. Bahkan ia yang merasa sangat malu juga nyaris menangis.
“Sudah ... sudah ... pakai uangku dulu.” Namun bagi Rafaro, apa yang terjadi pada Elia benar-benar lucu. Ia bahkan harus menekap mulutnya demi meredam tawa. Terlebih, tak mungkin juga ia terus tertawa sedangkan yang bersangkutan sudah sampai menangis karena malu bahkan takut.
“Serius? Memang kamu ada uang?” balas Elia sembari menyeka air matanya.
“Kamu pikir, ATM-ku enggak ada isinya?” keluh Rafaro yang kali ini kebablasan tertawa.
“Ya ampun ... kenapa kamu jadi sibuk ngtawain aku?” keluh Elia masih sibuk menyeka air matanya.
Rafaro benar-benar berusaha keras meredam tawanya. Ia segera memberikan ranjang belanjaannya pada kasir dan siap membayar belanjaan Elia sekaligus.
“Biar aku saja yang bayar!” tegas suara seorang pria yang bahkan langsung menyodorkan sebuah ATM pada Elia. “Pakai ini,” lanjutnya.
Atana, ... pria itu dan merupakan kekasih Elena ... menatap Elia dengan sangat intens. Bahkan Elia yakin, Atana sampai tidak berkedip dalam menatapnya.
“Orang kayak gini kok bisa, sih, dipilih Elena? Serius, aku wajib bahas ini ke papa mama!” batin Elia.
“Makasih, tapi enggak usah. Sudah sama Rafa.” Elia sengaja menyempil pada pundak Rafaro demi menghindari tatapam Atana yang begitu berlebihan.
Dan bagi Rafaro yang sampai menatap saksama wajah Atana, pria itu memiliki maksud lain kepada Elia. Terlebih baginya, tak seharusnya Atana menatap Elia seintens tadi, sedangkan status Atana merupakan kekasih Elena.
Atana menatap tidak suka Rafaro berikut kebersamaan pemuda itu dengan Elia. Ia menelan ludahnya cepat, seiring rahang tegasnya yang sampai menjadi mengeras. Terlebih kebersamaan Elia dengan Rafaro teramat membuatnya risih.
__ADS_1
Bersambung ....
Author mau tanya. Ceritanya, ada bagusnya dituntasin Ngi-ngie sama Jinnan, apa campur-campur? Soalnya, Ngi-ngie sama Jinnan juga bakalan berakhir konfliknya. Mereka tinggal menjadi pasangan yang bahagia 😂😂😂