Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 51 : Beli ‘Sesuatu’


__ADS_3

“Bedebah banget si Jinnan! Awas saja kalau nanti sudah sampai rumah! Demi Tuhan! Tahu gini, aku enggak ikut!”


Bab 51 : Beli ‘Sesuatu’


Pelangi baru saja keluar dari kamar Dean sembari menenteng laptopnya, bersamaan dengan Kim Jinnan yang detik itu juga keluar dari kamar Zean, dengan hati-hati.


Sudah pukul setengah sepuluh malam, dan Pelangi juga sudah mulai mengantuk. Bahkan karena alasan itu juga, Pelangi pamit pada Dean. Sedangkan alasan Kim Jinnan keluar dari kamar Zean, karena tadi, bocah itu meminta ditemani tidur setelah keduanya kembali menghabiskan waktu untuk bermain PS.


“Sudah beres bahasnya sama Dean?” tanya Kim Jinnan sambil menatap Pelangi.


Pelangi segera mengangguk. “Zean sudah tidur?” tanya Pelangi yang sampai balik badan demi memastikan sekaligus menatap Kim Jinnan.


Kim Jinnan segera mengangguk sambil mengacak asal, puncak kepala Pelangi kemudian mengambil alih laptop yang sedang Pelangi bawa. Dan tanpa banyak tanya, Pelangi segera mengikuti Kim Jinnan yang masuk ke kamarnya. Pelangi memasuki kamarnya dengan rasa kantuk yang semakin sulit ia halau.


“Ngie, aku mau keluar sebentar, ya,” ucap Kim Jinnan sembari meletakkan laptopnya ke meja belajar Pelangi dan kemudian meraih dompetnya dari sana.


Pelangi yang awalnya sudah membantingkan tubuhnya ke tengah-tengaj kasur dalam keadaan tiarap, mendadak tersentak dan menatap curiga Kim Jinnan.


“Kamu mau ke mana?” tanya Pelangi.


Kim Jinnan terdi bingung menatap Pelangi. Semenjak mereka menikah, Pelangi memang menjadi gampang curiga dan boleh dibilang sangat protektif. Pelangi juga membatasi gerak Jinnan di luar pekerjaan. Jika tidak ada urusan ya harus pulang--begitulah yang Pelangi tetapkan kepada Kim Jinnan. Tidak ada waktu yang boleh disia-siakan apalagi untuk urusan tidak jelas sejenia nongkrong.


Sedangkan bagi Pelangi, semenjak mereka menikah, sejak itu juga Kim Jinnan menjadi miliknya. Dengan latar belakang sekaligus masa lalu pria itu, tentu bukan hal mustahil Kim Jinnan akan kembali menjadi play boy, atau malah menghabiskan waktu untuk menongkrong tak jelas bersama teman-teman yang hanya akan memberi pengaruh buruk. Jadi, jika keputusan harus selalu dipertanggung jawabkan, Pelangi juga merasa bertanggung jawab mengarahkan Kim Jinnan menjadi Kim Jinnan yang ia inginkan. Kim Jinnan yang lebih baik dan patut dibanggakan.


“Mau ke market bentar,” balas Kim Jinnan yang selalu langsung takut kalau Pelangi sudah menatap curiga lengkap dengan wajah gadis itu yang akan terlihat sangat garang. Preman-preman di luar sana saja kalah, jika dibandingkan dengan tatapan Pelangi yang seperti sekarang.


Pelangi yang sampai bangun pun berkata, “ini malam minggu, lho ... kamu mau macam-macam, ya?”

__ADS_1


“M-macam-macam apa? Aku hanya mau ke market. Ada yang harus aku beli. Cuma bentar kok. Enggak ada setengah jam. Lima belas menit!” balas Kim Jinnan yang bahkan harus melakukan tawar-menawar di setiap izinnya kepada Pelangi.


Lantaran Pelangi masih diam, Kim Jinnan pun melanjutkan, “jangan mikir macem-macem, Ngie ....”


“Ya sudah aku iku!” balas Pelangi masih judes.


Kim Jinnan refleka menelan ludah seiring raut wajahnya yang menjadi terlihat sangat tegang.


“Kenapa kamu jadi setegang itu?” tanya Pelangi makin curiga.


“Kan kamu sudah ngantuk. Kamu tidur dulu saja,” kilah Kim Jinnan.


“Memangnya orang ngantuk enggak boleh ke market? Ada peraturan terulis atau malah diumumkan begitu?” omel Pelangi.


“Ya elah ... ya sudah.” Kim Jinnan benar-benar pasrah. Ia sengaja menunggu Pelangi yang berjalan tergesa, menghampirinya. Tentu, jangan tanyakan bagaimana gadis itu melangkah. Cukup bayangkan suasana seorang wanita yang sedang bawel marah-marah, dengan rasa curiga yang begitu besar. Begitulah keadaan Pelangi sekarang.


Tak beda dengan Kim Jinnan yang memakai kaus lengan pendek berwarna hitam dan celana piama panjang, Pelangi juga mengenakan piama lengan pendek kendati untuk celananya juga panjang. Namun ketika Pelangi akan kembali dan itu menuju sweater yang tergantung di kaitan pintu lemari sebelah tempat tidur, tiba-tiba Kim Jinnan berseru.


“Enggak usah pakai jaket juga enggak apa-apa. Nanti kalau kamu kedinginan, biar aku peluk!” Kim Jinnan sengaja menggoda Pelangi. Dan seperti biasa, Pelangi langsung mendengus sambil meliriknya dengan sangat tajam. Kenyataan yang justru semakin membuat Kim Jinnan senang menggoda istrinya.


Jadilah, mereka benar-benar pergi pamit pada Keinya dan Yuan yang masih menonton televisi tanpa mentari. Hal yang membuat Kim Jinnan ingin melakukan hal serupa; tetap romantis meski sudah tua. Bahkan meski hanya menghabiskan waktu di rumah saja.


Kim Jinnan menyetir sendiri membawa mobil Pelangi. Sebuah sedan putih keluaran terbaru yang Kim Jinnan kendarai dengan hati-hati.


“Takut banget aku digondol orang, ya?” goda Kim Jinnan dengan sebelah tangannya yang membelai punggung kepala Pelangi.


“Ya memang begitu. Daripada kamu digondol orang, mendingan kamu digondl siluman sekalian. Biar urusannya enggak ribet!” balas Pelangi mencibir.

__ADS_1


“Astaga istriku ....” Kim Jinnan menertawqkan balasan Pelangi. Dan semua itu terus berlanjut hingga mereka sampai di market terdekat.


Tak kurang dari sepuluh menit, mereka memang sudah sampai mini market. Hanya saja, karena market yang mereka kunjungi tidak buka selama dua puluh empat jam, mereka harus buru-buru, mengingat waktu sudah hampir pukul sepuluh malam, yang berarti market akan tutup sebentar lagi.


“Jinnan, ... kamu mau beli apa, sih? Kelihatannya wajib begitu?” tanya Pelangi yang segera meninggalkan mobilnya, layaknya apa yang Kim Jinnan lakukan.


Kim Jinnan mengulurkan sebelah tangannya, dan Pelangi sadar jika pria itu berusaha menggandengnya. Sebuah kenyataan yang membuat Pelangi menduga-duga, jika tujuan Kim Jinnan ke market bukan untuk menemui apalagi menggoda wanita. Melainkan hal lain yang bisa dilakukan bersamanya!


“Ada ... kamu mau beli apa?” balas Kim Jinnan yang sudah menggandeng Pelangi. Mereka telah memasuki mini market.


“Beli apa? Semuanya sudah ada?” balas Pelangi yang memang merasa tidak ada yang perlu dibeli lagi.


“Oh, iya ... besok kan Minggu. Tugasku banyak. Bikin laporan ini itu. Kalau begitu, aku mau beli chiki ... eh tapi enggak boleh makan chiki. Ya sudahlah, kamu mau beli apa, aku enggak beli apa-apa,” lirih Pelangi yang jadi uring-uringan sendiri.


Yang membuat Pelangi heran, kenapa Kim Jinnan yang mengaku akan membeli sesuatu, justru membawanya ke kasir? Apakah pria itu hanya ada keperluan transaksi pembayaran online? Namun, bukankah Kim Jinnan mengakatakan akan membeli sesuatu? Dengan kata lain, harusnya ada yang dibeli, kan?


Deg


Jantung Pelangi mendadak berhenti berdetak. Bukan karena kasir wanita yang melayani tansaksi pada Kim Jinnan, mendadak senyum-senyum, ... melainkan karena barang yang dibeli oleh Kim Jinnan.


“Gila si Jinnan! Malu-maluin! Kenapa dia beli barang lucnut bahkan sampai borong sebanyak itu! Gila ini wajahku harus ditaruh di mana, apalagi market ini sudah jadi langganan keluarga!” batin Pelangi yang tak berani mengangkat wajahnya lagi.


Pelangi terus menunduk dengan sebelah tangan yang mencengkeram ujung kaus Kim Jinnan. “Bedebah banget si Jinnan! Awas saja kalau nanti sudah sampai rumah! Demi Tuhan! Tahu gini, aku enggak ikut!” rutuk Pelangi lagi, masih mengomel di dalam hati. Pelangi benar-benar murka.


****


Tebak, apa sih, yang dibeli Kim Jinnan, sampai-sampai, Ngi-ngie semurka itu? 🤣🤣🤣🤣. Barang lucnut 🤣🤣🤣🤣. Bakalan ada perang dunia ke lima ini 🤣🤣🤣🤣.

__ADS_1


__ADS_2