
“Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendiri.”
Bab 39 : Tumbang
Sebelah tangan Kainya menahan sebelah tangan Steffy, ketika wanita itu nyaris melewatinya dan bahkan berlalu. Namun siapa sangka, pisau berukuran kecil yang terbilang tajam, justru Steffy keluarkan dari saku kulot putih yang dikenakan.
Steffy melakukan semua itu dengan begitu gesit, sampai-sampai, Kainya tidak mengetahui ketika tangan kanan Steffy yang bebas tidak ia tahan, justru merogoh saku celana dan mengeluarkan pisau yang tanpa pikir panjang langsung Steffy tancapkan pada perut Kainya.
Meski ketika menusuk tidak sampai melihat wajah Kainya, tetapi beberapa detik berikutnya, Steffy berangsur menengadah dan menatap korbannya dengan tatapan tidak percaya.
Sembari menahan sakit bersamaan dengan darah yang seketika rebas dari sekitar tusukan pisau dan bahkan masih tertancap, Kainya tidak menyerah begitu saja. Ia mengeratkan tahanannya terhadap tangan Steffy, kemudian menggunakan sebelah tangannya yang masih bebas, untuk menahan tangan kanan Steffy yang masih menahan pisau.
Selain karena darah segar dari sekitar tusukan, apa yang Kainya lakukan juga membuat Steffy yang gemetaran menjadi semakin ketakutan. Steffy menatap wajah Kainya yang telah menatapnya tajam, kendati rona sakit jelas menyelimuti ekspresi wajah wanita yang masih ia kira sebagai Keinya sahabat Rara.
Sedangkan yang terjadi dengan Kainya, selain menahan sakit akibat tusukan Steffy, di ingatannya kini juga dihiasi kejadian ketika Steffy tiba-tiba menamparnya saat ia sedang bersama Gio, di toko buku, dan itu merupakan pertemuan tak terduga.
“Aku melihatmu. Dan aku akan terus mencarimu!” tegas Kainya lirih di tengah giginya yang bertautan akibat kemarahan yang sedang ia tahan dan berbaur dengan rasa sakitnya. “Bukan papamu, melainkan kamu yang sengaja mencelakai Kimo dan Rara!” lanjutnya sembari mengguncang kedua tangan Steffy yang ia tahan.
Ketakutan berikut kecemasan Steffy membuat wanita itu hilang arah. Steffy kalang kabut dengan cara tegas Kainya yang terlihat jelas tidak takut padanya. Belum lagi, meski situasi kini masih terbilang sepi, di dalam sana ada polisi yang Steffy yakini siap meringkusnya. Karena hal tersebut pula, Steffy yang semakin terjepit, mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan, mendorong Kainya sekuat tenaga. Beruntung, tiba-tiba saja tubuh lawannya itu justru gemetaran bahkan tak lama kemudian, Kainya juga menjadi kehilangan keseimbangan tubuh. Kainya tumbang, meringkuk dengan pisau yang masih menancap di perut.
Steffy yang sempat kebingungan, memastikan suasana yang kebetulan masih sepi. Ia memilih melarikan diri tanpa mengambil pisaunya dari perut Kainya terlebih dahulu.
“Kenapa begini? Kenapa perasaanku justru semakin kacau bahkan takut?” batin Steffy.
Kainya melepas Steffy yang berlari tunggang-langgang, di tengah rasa sakit berikut takut yang tiba-tiba menumbangkan tubuhnya.
“Kenapa ...? Kenapa di saat seperti ini, aku tetap tidak bisa mengendalikan rasa takutku? Apakah penyakitku benar-benar parah?” batin Kainya masih berusaha keras mengendalikan diri, melawan ketakutannya. Sungguh, ketidakberdayaannya kali ini bukan karena pisau yang ditusukkan Steffy di perutnya, melainkan ketakutan berikut tubuhnya yang tiba-tiba saja menjadi gemetaran hebat.
__ADS_1
Ketika Kainya semakin tidak berdaya, dering ponsel di saku jins biru tua yang dikenakan, berhasil mengusiknya. “Ayo, Kai. Lawan ... itu darahmu. Bukan darah orang lain, dan semuanya baik-baik saja. Jangan takut karena memang tidak ada yang perlu ditakutkan.” Kainya menyemangati dirinya sendiri.
Kainya memang berusaha melawan ketakutannya, tetapi fisik sekaligus psikisnya terlampau lemah. Jadi, meski ia sudah berhasil meraih ponselnya, hanya sebatas itu karena setelahnya, ia justru pingsan.
***
Di apartemen Steven, Daniel yang baru saja keluar dari toilet, langsung mencari-cari keberadaan Kainya yang tidak ia dapati menunggu di ruang keluarga, selaku tempat ia meninggalkan wanita itu.
“Kak Kai, di mana? Jangan-jangan, lagi dimodusin sama si Steven?!” batinnya langsung berburuk sangka kepada dokter yang mendadak menjadi dokter pribadi Kainya. Juga, dokter yang bahkan menjadi sangat dekat dengan keluarga angkatnya.
Tak mau kecolongan, Daniel segera mencari dan memastikan. Tentunya, ia sangat berharap pemikirannya mengenai Kainya bersama Steven tidak benar. Tujuan utama Daniel langsung menuju dapur selaku keberadaan Steven yang tadi pamit untuk memasak pasta. Benar saja, pria itu baru saja memasukkan pasta ke dalam panci kaca berisi air mendidih di atas kompor menyala.
“Stev, Kak Kai, mana?” tanya Daniel dengan perasaan dongkol. Takut jika Steven benar-benar menginginkan Kainya, dan otomatis akan menjadi rivalnya.
Steven yang terbilang kalem, langsung menoleh dan menatap Daniel sambil mengernyit. Tanggapan Steven kali ini terlihat jelas jika pria itu tidak tahu-menahu.
“Lho, Kak Kai enggak ada di ruang keluarga? Aku baru dari toilet, sedangkan pas aku balik, Kak Kai sudah enggak ada ...?” balas Daniel tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya lantaran keadaan Kainya memang masih jauh dari baik-baik saja.
Tak banyak bicara, Steven langsung mematikan kompornya, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana hitam yang dikenakan. Fitur kontak di ponsel ia pilih dan kontak bernama Kainya menjadi tujuannya melakukan panggilan telepon.
“Daniel, tolong sambil cek ke semua ruangan,” pinta Steven sembari berjalan tergesa.
Mendapati Steven yang menjadi harapannya menemukan Kainya justru terlihat jauh lebih khawatir, Daniel pun segera bergerak cepat. Ia mengecek semua ruangan di apartemen Steven yang dibilang Steven hanya ditempati sendiri. Dengan kata lain, kedatangan Steven ke Indonesia tak semata kembali pada keluarganya, melainkan untuk tujuan lain. Faktanya, Steven justru memilih tinggal terpisah.
“Steven orang baik, kan? Dia bukan psikopat yang justru bersembunyi di wajah bayinya, kan?” Sembari mencari-cari Kainya yang tak kunjung ia temukan, pikiran Daniel juga dipenuhi prasangka buruk terhadap Steven yang tumbuh begitu liar. “Enggak selamanya manusia berwajah bayi juga bersikap bayi!” rutuk Daniel semakin kesal dan telanjur kecewa pada Steven.
Di semua ruangan apartemen Steven bahkan sudut-sudut ruang yang Daniel curigai bisa menyimpan tubuh Kainya, seperti lemari dan bahkan bak air di kamar mandi, sudah Daniel cari hingga keadaan apartemen Steven menjadi sangat berantakan dikarenakan semua lemari berikut laci yang ia buka, ia biarkan begitu saja.
__ADS_1
Berbeda dengan Daniel, Steven yang masih diam dan menyikapinya dengan jauh lebih tenang, justru memilih mencari keluar dari apartemen. Kendati demikian, Seteven terlihat sangat berjaga sekaligus cekatan. Steven memastikan setiap lorong menuju pintu keluar. Pria itu sengaja menggunakan tangga darurat dengan terus berlari sambil terus mencoba menelepon Kainya.
Ketika Steven nyaris sampai pintu masuk utama gedung apartemen, di sana, wanita yang sedang ia cari tengah dikerumuni beberapa orang dalam keadaan tengah dibopong oleh seorang satpam.
Steven yang sempat berhenti melangkah saking terpukulnya melihat Kainya dalam keadaan seperti itu, segera mengakhiri panggilannya. Kebetulan, panggilan yang Steven lakukan akan dijawab oleh seorang wanita petugas resepsionis dan kebetulan ada di sebelah satpam yang membopong Kainya.
Yang membuat Steven semakin tidak baik-baik saja, tak lain karena keberadaan pisau yang menancap di perut Kainya, sedangkan darah segar sudah mengubah warna kemeja panjang warna putih yang wanita itu kenakan.
“Kai ...?” sergah Steven dengan suara parau sesaat setelah menyimpan ponselnya secara asal pada saku sisi celananya.
“Maaf, dia pasien saya. Apakah kalian sudah memanggil ambulans?” Steven segera mengambil alih Kainya dan membiarkan kemeja lengan panjangnya yang juga berwarna putih, ternoda darah Kainya.
Rasa bersalah terpancar jelas dari raut Steven di antara kecemasannya. “Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendiri.” Steven tak hentinya menyalahkan dirinya dalam hati, sambil terus membopong Kainya dan membawanya ke jalanan.
Steven menyetop sebuah taksi yang kebetulan melintas. “Langsung ke rumah sakit terdekat, Pak!” pintanya sesaat setelah masuki taksi dengan cepat, di mana satpam yang sempat membopong Kainya juga ikut mengiringi. Bahkan, pria bertubuh tinggi tersebut juga sampai membantu membuka sekaligus menutup pintu taksi penumpang untuk Steven.
Dalam diamnya sambil terus menatap cemas Kainya, selain sibuk menyalahkan dirinya sendiri, Steven juga tak hentinya berdoa untuk kesembuhan Kainya.
“Semuanya baik-baik saja, dan akan tetap baik-baik saja. Tetapi, siapa yang melakukan ini kepada Kainya?” batin Steven yang kemudian segera menghubungi Daniel. Meski akan rumit, tetapi ia harus memastikan kejadian yang menimpa Kainya melalui kamera pengawas untuk segera menemukan pelakunya. Dan kepada Daniel, ia berharap pria muda yang ia ketahui merupakan adik Kainya, segera menguruskan untuknya.
Bersambung ....
Hallo, hari ini Author akan update 2 bab. Selamat menunggu bab selanjutnya dan terus ikuti sekaligus dukung cerita ini, yaa ^^
Tentunya, selamat menjalankan aktivitas dan semoga hari-hari kalian semakin menyenangkan ^^
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.