
“Meski aku tulus, tapi aku juga berharap bisa mendapatkan balasan dari kamu. Munafik kalau aku bilang aku tulus dan rela lihat kamu bahagia sama pria lain, sedangkan aku sangat menginginkanmu.”
Bab 23 :Tulus
***
“Cukup, Na ... jangan dilanjutkan lagi!”
Yuan terlihat sangat marah, sedih, bahkan terluka. Namun semua rasa yang melebur jadi satu itu tak lantas membuat Ryunana merasa lebih baik. Bahkan kata “menang” seolah menjauh darinya dikarenakan bukannya meninggalkan atau setidaknya berkata kasar pada Keinya, Yuan justru merangkul dan menggiring wanita itu meninggalkan Ryunana.
Ryunana kebingungan. “Y-yu?” Bukankah seharusnya Yuan memihaknya? Seharusnya Yuan juga marah pada Keinya? Namun, … kenapa semua itu tidak terjadi?
Yuan berhenti melangkah. Begitu pula dengan Keinya yang masih bungkam, mengikuti setiap tuntunan yang Yuan lalukan.
Tanpa menatap atau sekadar melirik Ryunana, Yuan berkata, “kamu tahu jalan keluar dari apartemen ini, kan?”
Ryunana makin kebingungan. Namun wanita itu cenderung merasa kecewa lantaran Yuan seolah sengaja mengusirnya dengan halus.
Dalam diamnya yang jelas menunggu reaksi Ryunana, Yuan terlihat sangat tidak nyaman. “Satu lagi, sampai kapan pun, aku enggak butuh kebenaran tentang wanitaku dari siapa pun, bahkan itu dari kamu.”
Ada satu kekuatan yang tiba-tiba saja mengetuk hati beserta benak Keinya ketika kata “wanitaku” terucap dari bibir Yuan. Ada rasa aneh yang membuat Keinya tak mengerti. Keinya sendiri tak tahu, apakah ia marah, keberatan dengan sebutan dari Yuan, atau justru sebaliknya? Kenapa sebutan tersebut membuat hati Keinya menjadi berdesir? Seolah ada yang hidup di sana setelah sederet luka telah menghancurkannya menjadi kepingan yang begitu halus.
“Wanitaku?” gumam Ryunana terus mengulang kata tersebut. Kata yang menjadi panggilan Yuan kepada Keinya. Juga, kata yang terasa begitu menyakitkan untuknya. Sebab hanya karena kata tersebut juga, kekalahan benar-benar membenamkannya.
“Bahkan meski Keinya membuangku, aku enggak peduli. Jadi kamu sudah tahu, kan, betapa berharganya Keinya buat aku?” lanjut Yuan yang merasa putus asa sebab wanita yang ia cintai juga tak kunjung menyadari ketulusannya.
Keinya yang menjadi bahan pembicaraan tetap bergeming. Hanya kerutan-kerutan di wajahnya saja yang bertambah seiring keseriusannya menyimak obrolan Yuan dan Ryunana.
“Satu lagi. Mengenai urusan kalian, … pengacaraku akan menyelesaikannya. Jadi jangan mengganggu apalagi menyusahkan Keinya lagi. Karena jika itu sampai terjadi, kamu akan berurusan denganku!”
Lambat lama, Ryunana justru menggeragap dan terlihat menahan malu yang untuk sekadar mengangkat wajah saja tak punya nyali. Benar, Yuan justru marah padanya, bukan Keinya. Pria itu begitu tulus mencintai Keinya bahkan terlihat sangat mencolok dari setiap cara sekaligus usaha Yuan.
Setelah suasana kebersamaan menjadi hening, Yuan memfokuskan tatapannya kepada Keinya. “Lebih baik kamu istirahat bareng Pelangi,” bisiknya tepat di sebelah telinga Keinya.
__ADS_1
Suara Yuan terdengar jauh lebih tenang, kontras ketika pria itu berbicara dengan Ryunana. Karena ketika berbicara dengan Ryunana, Yuan terdengar emosional, terlepas dari kemarahan bahkan kebencian yang sebisa mungkin pria itu tahan.
Dengan hati yang dipenuhi sesal, Yuan kembali berbisik, “maaf. Enggak seharusnya aku bawa dia ke kamu.”
Keinya belum pernah mendapatkan perlakuan istimewa sejenis pembelaan seperti apa yang Yuan lakukan. Pun dengan kata maaf yang baru saja Yuan bisikkan padahal pria itu sama sekali tidak bersalah. Sebab tanpa atau dengan bantuan Yuan, pertemuan dengan Ryunana memang sudah menjadi tujuan Keinya untuk menyelesaikan masalah mereka. Dan ketika Keinya bercermin pada apa yang ia dapatkan dari Athan, yang ada hatinya menjadi terbesit. Keinya ragu dan memang menjadi tidak percaya pada ketulusan sekaligus cinta dari siapa pun terlebih seorang pria tanpa terkecuali Yuan. Benarkah … benarkan Yuan tulus?
Perlahan, dengan hati yang terluka selain rasa panas yang sampai membuat matanya basah, Keinya menggunakan sebelah tangannya yang tidak ditahan Yuan, untuk melepas tahanan pria itu. Namun sekali lagi, Yuan tetap tidak mau melepaskannya.
“Pergilah. Jangan menggangguku lagi.” Yuan kembali melangkah mengikut sertakan Keinya bersamanya. Dan lagi-lagi, ia mencoba mengusir Ryunana.
Tak ada penjelasan lain dari Yuan walaupun wanita yang diusir menunjukkan rasa keberatan dan sampai terdiam cukup lama sambil menatapnya dengan memelas. Karenanya, Ryunana terpaksa angkat kaki dengan rasa malu yang membebani setiap langkah bahkan kehidupannya, lantaran Yuan benar-benar tidak peduli kepadanya.
***
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, tolong, jangan menyentuhku apalagi sampai memaksaku untuk selalu menerima keputusanmu.”
Suara Keinya terdengar mengambang, dan ia mengucapkannya tanpa menatap Yuan. “Kamu tahu apa yang terjadi kepadaku bahkan sepertinya lebih dari yang kutahu.” Keinya yakin, Yuan sudah mengetahui semuanya. Tak hanya mengenai masalah rumah tangga Keinya, melainkan pekerjaan berikut kerja samanya dengan Ryunana.
Yuan kian merapatkan jaraknya dari Keinya sambil membungkuk, mencoba menatap wajah terlebih mata wanita itu lebih dalam lagi. Jauh di lubuk hatinya, ia berharap Keinya mau membalas tatapannya sekalipun hanya untuk beberapa detik saja.
“Dua tahun lebih menunggumu, kamu masih belum bisa percaya keseriusanku?” lirih Yuan terdengar sengau sekaligus berat.
Keinya bergeming dan tetap dengan posisinya tanpa sedikit pun melirik Yuan.
“Dua tahun lebih bukan waktu yang sebentar, Kei—”
“Kalau kamu mencintaiku, seharusnya kamu tulus melakukannya.” Keinya memotong penjelasan Yuan tanpa menatap pria tersebut.
“Semudah itu?” saut Yuan kecewa.
Yuan menatap Keinya dengan mata bergetar. “Kalau kamu jadi aku, apa kamu tetap begini, memperlakukanku seperti ini?” Yuan menatap Keinya penuh kepastian.
“Sayangnya aku bukan kamu.” Keinya tetap tak acuh dan memilih egois agar Yuan marah bahkan membencinya.
__ADS_1
“Meski aku tulus, tapi aku juga berharap bisa mendapatkan balasan dari kamu. Munafik kalau aku bilang aku tulus dan rela lihat kamu bahagia sama pria lain, sedangkan aku sangat menginginkanmu.”
Keinya mengenyahkan tangan Yuan, tetapi pria itu masih tidak mau melepaskannya.
“Dan sekarang, kamu memintaku membiarkanmu melangkah sendiri, sementara kamu punya Pelangi yang harus kamu perhatikan lebih?” ucap Yuan cepat meski nada suaranya masih lirih.
Yuan menatap Keinya penuh kepastian. Setelah terdiam menunggu balasan dari wanita itu yang tetap saja bungkam, ia menggeleng dan merasa tak habis pikir. Yuan mulai frustrasi. “Kalau kamu memang sudah ke psikiater, kamu enggak akan terus begini. Kamu pasti—”
Ucapan Yuan terhenti lantaran Keinya tiba-tiba balik badan kemudian menatapnya.
“Jangan mencampuri urusanku lagi!” Keinya mulai merasa risi pada Yuan yang tak kunjung menyerah.
Yuan menatap lekat-lekat mata Keinya sambil menggeleng. “Aku enggak bisa apalagi semua yang berhubungan denganmu berdampak ke Pelangi. Semua yang berhubungan dengan kalian tanggung jawabku, Kei!”
“Kalau kamu berpikir semua pria yang mendekatimu brengsek dan memiliki tujuan busuk hanya karena masa lalumu, kamu salah besar. Setiap orang bahkan mereka yang kembar identik, memiliki sifat dan kesukaan yang berbeda. Berhentilah berpikir kalau aku bahkan orang lain, sama dengan masa lalumu!”
“Kamu wanita cerdas, Kei. Dan sekalipun kamu sedang sangat hancur bahkan trauma, tolong, … tolong kasih aku kesempatan!”
Keinya menelan salivanya, kemudian menatap pria di hadapannya dengan tatapan heran. Keinya tidak mengerti, kenapa Yuan memasuki kehidupannya begitu jauh?
“Kamu harus hidup bahagia, selebihnya aku yang akan mengurus semuanya untukmu.” Setelah mengatakan itu, Yuan berangsur balik badan sambil menghela napas dalam.
Yuan seolah tengah menghalau sesak yang memenuhi dadanya lantaran Keinya masih saja mengabaikannya.
“Pegang kata-katamu!” ucap Keinya tanpa menatap atau sekadar melirik Yuan.
Balasan Keinya membuat Yuan girang. “Mulai detik ini kupastikan tidak ada wanita lain yang menyentuhku kecuali kamu. Kamu juga harus melakukannya untukku, ya?”
Dikarenakan Yuan nyaris akan kembali menahan bahunya, Keinya buru-buru mundur meninggalkan pria itu dengan langkah tergesa. Mendapati hal tersebut Yuan tersenyum geli dan melepas Keinya penuh rasa bahagia. Baginya, apa yang terjadi pada Keinya kali ini sudah menunjukkan perubahan yang jauh lebih baik daripada wanita tersebut hanya bersikap datar, bahkan untuk sekadar jalan saja sampai tidak menimbulkan suara.
Reaksi Keinya sampai membuat Yuan berbunga-bunga. Pria itu menjadi tak kuasa menyudahi senyumnya di tengah napasnya yang sampai memburu. Namun sering kali, bahagia memang lahir dari hal-hal sederhana. Yuan sampai berpikir, apa yang terjadi kini merupakan hasil dari ketulusannya mencintai Keinya yang sampai membuat Yuan banyak bicara bahkan menjadi pria berisik.
*****
__ADS_1