Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 26 : Penyap (Revisi)


__ADS_3

“Luka dan bahagia memiliki porsi yang sama. Mereka tidak bisa dipisahkan bak kutub dalam sebuah magnet.”


Bab 26 : Penyap


***


Hal yang membuat Yuan tak percaya adalah ketika ia mendapati Keinya ada di balik pintu apartemennya, ketika ia membuka pintu. Bahkan dengan sendirinya, senyum tulus menghiasi wajah Yuan bersama rona panas yang seketika menyerang pipinya. Pria itu yakin, pipinya sampai merah merona, akibat rasa bahagia yang tengah membersamai.


Keinya yang gugup segera berkata, “aku kehilangan kunci rumahku dan sepertinya tertinggal di kamarmu.”


Yuan yang masih tersenyum, menatap Keinya penuh cinta. “Semoga kunci rumahmu enggak pernah ketemu.”


Balasan Yuan membuat Keinya terkejut. Namun ia segera menerobos pria tersebut sambil berkata, “aku akan mencarinya.” Keinya berangsur mengerling sembari membusungkan dada tanpa bisa menyembunyikan rasa gugup bahkan tegang yang seketika menguasainya.


Ketegangan Keinya semakin bertambah, ketika ia mendengar langkah cepat Yuan menyusulnya, tak lama setelah pria itu menutup pintu apartemen. Keinya sengaja mempercepat langkahnya kendati Yuan memintanya untuk memberikan Pelangi kepada pria itu.


“Berikan dia kepadaku. Kasihan kalau harus digendong terus.”


“Enggak apa-apa. Bereskan saja pekerjaanmu karena aku akan menidurkan Pelangi, kalau memang mencari kuncinya membutuhkan waktu.”


Yuan sampai berlari dan menghalang-halangi Keinya masuk ke kamarnya, dengan berdiri di depan pintu. “Pertama, jangan mencari kunci rumahmu. Anggap saja kunci rumahmu memang hilang, dan kamu tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di sini.”


“Kamu cukup selalu bersamaku dan mengatakan apa yang kamu inginkan. Aku akan memberikan semuanya kepadamu.”


Tatapan Yuan benar-benar dipenuhi ketulusan. Hal tersebut pula yang membuat Keinya menepisnya. Akan tetapi, pria itu justru mengambil alih Pelangi dari gendongan Keinya.


“Dan kedua ... selain selalu merindukan mamamu, aku juga selalu merindukan Pelangi.”


Yuan tampak gemas pada Pelangi, kemudian menimang-nimang bocah itu. “Sayang, bagaimana kalau kita main? Kita ke balkon buat lihat pemandangan, atau mau nonton kartun?”


Keinya menggeragap. Sebelum Yuan semakin jauh melangkah meninggalkannya, ia segera berkata, “Yu ....”

__ADS_1


Yuan menghentikan langkahnya kemudian balik badan. Ia menatap Keinya yang telah balik badan dan bahkan sampai menatapnya. Apa yang terjadi kini diyakini Yuan cukup serius. Cukup aneh wanita itu mau menatapnya kecuali karena terpaksa untuk tujuan yang sangat mendesak dan biasanya, untuk menolak sekaligus memarahinya.


“Sebenarnya kunci rumahku enggak hilang.” Keinya menunduk kebingungan.


Yuan menatap Keinya dengan dahi yang dihiasi kerut samar.


“Aku sengaja kembali ke sini untuk memanfaatkanmu. Maaf ....”


Pengakuan Keinya cukup mengejutkan Yuan. Bagaimana mungkin ada orang jahat yang mengakui kejahatannya? Apa maksud Keinya berterus-terang kepadanya? Kenapa wanita itu begitu polos?


“Aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas rasa sakitku kepada mantan suamiku dan selingkuhannya.” Keinya segera menggeleng cepat sambil menghela napas. Melalui langkah cepat, ia menghampiri Yuan dan berusaha mengambil alih Pelangi dari pria itu. Baginya, caranya balas dendam kepada Athan berikut Tiara dengan memanfaatkan Yuan, salah. Bagaimana mungkin ia memanfaatkan pria yang selalu berusaha meyakinkan jika pria itu mencintainya, sementara Keinya memiliki Pelangi yang bisa saja menjadi korban? Anak selalu menjadi korban perceraian orang tua terlebih anak perempuan sangat rawan merasakan dampaknya, kan? Tak semata mengenai perpisahan orang tuanya, melainkan ancaman luar seperti penyimpangan sosial khususnya pelecehan seksual!


Keinya mengutuk kecerobohannya yang begitu haus balas dendam kepada Athan dan Tiara tanpa memikirkan dampaknya terhadap Pelangi. Paling tidak, harusnya Keinya mencari orang yang mau menerima Pelangi dalam hidupnya, tanpa pamrih. Sementara Yuan? Kendati pria itu selalu berusaha meyakinkan Keinya berikut bukti yang menyertai, tapi Keinya baru beberapa hari mengenal pria itu, terlepas dari latar belakang Yuan ada dalam kehidupan Keinya. Athan saja begitu mudahnya membohongi bahkan mencampakkan Keinya, apalagi Yuan yang memiliki segalanya dan baru Keinya kenal dalam hitungan hari?


Keinya mengambil Pelangi sambil berderai air mata tanpa menatap Yuan. Yuan sendiri terus menatap Keinya dan membiarkan wanita itu mengambil Pelangi darinya, kendati tak lama kemudian, hal yang sama juga ia lakukan. Ia mengambil Pelangi dari Keinya yang kali ini terlihat sangat hancur. Baginya, Keinya sedang berada di titik di mana wanita itu sedang merasa sangat terpuruk dan rawan melakukan tindakan di luar nalar.


“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Biar Pelangi bersamaku dulu. Aku enggak yakin dia akan baik-baik saja kalau sewaktu-waktu, kamu lupa, kamu sangat menyayanginya.” Yuan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Selain suaranya yang menjadi sengau, matanya yang menjadi terasa panas juga sudah basah.


“Sebenarnya apa salahku ...?” Keinya terus menjerit dalam hatinya. “Kenapa Athan begitu tega kepadaku! Kenapa Athan sama sekali tidak peduli kepada Pelangi!”


Kepala Keinya terasa panas bahkan pusing. Kebas pun melumpuhkan kehidupannya perlahan-lahan, seiring pandangannya yang menjadi gelap. Tak lama berselang, panggilan penuh kecemasan Yuan mengakhiri hal terakhir yang bisa Keinya dengar, sebelum semuanya menjadi penyap.


“Kei ....”


Keinya pingsan. Yuan segera menidurkan Pelangi di ranjang bayi, kemudian kembali untuk memboyong tubuh Keinya ke tempat tidurnya.


***


Ketika Keinya tersadar, ia mendapati dirinya dalam balutan selimut di tempat tidur Yuan, sementara di tengah remang suasana kamar yang minim penerangan, tidak seorang pun ia dapati termasuk Pelangi yang tidak ada di ranjang bayi. Kenyataan tersebut membuat Keinya ketar-ketir kebingungan. Wanita berambut sepunggung itu segera menyingkirkan selimut tebal dari tubuhnya, kemudian beranjak ke luar dengan tergesa.


Keinya mencari ke semua ruang apartemen Yuan. Dari ruang tamu, ruang bersantai, ruang olahraga bahkan dapur, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. “Aku harus menelepon Yuan!” ujarnya sembari setengah berlari menuju kamar Yuan untuk mengambil ponselnya. Namun, ketika ia melewati kamar sebelah kamar Yuan yang pintunya tidak tertutup sempurna, kamar yang kemarin sempat ditempati Rara, Keinya mendapati punggung berkemeja lengan panjang warna biru telur asin, meringkuk di atas ranjang sana.

__ADS_1


Hati Keinya berdesir dan terasa sedikit ngilu. Ia mengenali punggung tersebut sebagai Yuan, sebab terakhir kali ia ingat, pria itu memang mengenakan kemeja serupa. Hanya saja, kini tampilan kemeja itu terbilang lusuh, sedangkan bagian tangan dilipat asal hingga atas siku.


Keinya memastikan dengan hati-hati dari balik pintu kamar bekas Rara menginap. Dugaannya memang benar, itu punggung Yuan. Pria itu tertidur meringkuk bersanding dengan Pelangi. Yang membuat Keinya semakin tidak percaya, bukan tampang Yuan yang jelas terlihat kelelahan. Karena keberadaan kantong popok yang bersanding dengan tiga botol susu dan dua di antaranya bekas dipakai, menandakan pria tersebut mengurus Pelangi. Termasuk pakaian Pelangi yang sudah ganti. Pelangi tak lagi mengenakan gaun selutut warna kuning berikut ikat kepala berwarna senada. Karena kini bayi menggemaskan yang mewarisi kecantikan Keinya, telah mengenakan lengan panjang berikut celana panjang berwarna senada dengan kemeja yang Yuan kenakan.


Keinya memang menitikkan air mata. Namun air matanya kali ini, merupakan air mata bahagia yang dibarengi senyum tulus. Pemandangan kini sungguh membuat Keinya merasa sangat terharu. “Sekarang aku sadar, luka dan bahagia memiliki porsi yang sama. Mereka tidak bisa dipisahkan bak kutub dalam sebuah magnet.”


Pemandangan Yuan yang begitu peduli kepada Pelangi membuat Keinya terisak-isak. Apa yang terjadi kini sudah cukup membuatnya percaya jika Yuan tulus kepadanya maupun Pelangi. Akan tetapi, Keinya sangat berharap jika posisi Yuan sekarang ditempati Athan tanpa ada wanita lain dalam hubungan mereka. Keinya rela melepas kehidupannya untuk tulisan yang sudah menjadi mata pencahariannya asal hubungannya dengan Athan baik-baik saja, demi masa depan Pelangi. Bahkan Keinya juga tidak mempermasalahkan sikap dingin Athan yang tak pernah romantis kepadanya, asal pria itu mau memberikan kepedulian kepada Pelangi. Sesederhana itu, meski pada kenyataannya, kemustahilanlah yang menjadi hasilnya.


Keinya membungkam mulutnya menggunakan kedua tangan, demi meredam tangisnya. Dengan tergesa ia meninggalkan kamar keberadaan Yuan dan Pelangi. Jadi, apa yang harus ia lakukan? Yuan benar-benar memberikan ketulusan di tengah kenyataan Keinya yang berada dalam posisi sulit.


“Mau sampai kapan? Apakah menangisi dan merindukan pria sepertinya, akan membuat hidupmu dan Pelangi lebih baik?”


Dari belakang, suara Yuan terdengar berat khas baru bangun tidur. Keinya yang terlanjur terkejut, refleks balik badan dan membuatnya mendapati wajah lelah Yuan tengah menatapnya. Pria itu berdiri loyo di balik pintu kamar yang lupa Keinya tutup.


“Aku enggak minta kamu langsung membalasku. Tapi tolong, jangan meninggalkanku apalagi membiarkan pria lain bersamamu.”


Tatapan mata Yuan begitu sendu. “Kamu hanya milikku!”


Apa yang dikatakan Yuan barusan tentu bukan sekadar penegasan biasa. Pria itu serius. Bahkan sangat serius. Dengan langkah sempoyongan, Yuan bahkan berangsur mendekati Keinya yang duduk di tepi kasur dekat nakas.


Keinya menepis Yuan, lantaran tidak berani menatap mata pria itu. Yuan menyodorkan kotak tisu dari nakas sebelah Keinya. Setelah Keinya menarik beberapa helai tisu, Yuan meletakkan kotak tisunya ke tempat semula. Pria itu berangsur jongkok dan mendekap tubuh Keinya dengan sangat hati-hati sekaligus hangat. Sebelah tangannya menahan punggung, sementara sebelah tangannya lagi menahan punggung kepala Keinya.


“Walau aku enggak boleh nyentuh kamu, tapi kamu harus tetap ngizinin aku buat meluk kamu, apalagi ketika suasana hatimu sedang enggak baik. Setidaknya pelukan bisa bikin suasana hatimu menjadi jauh lebih baik,” lirih Yuan.


Terkadang, kedekatan dalam hubungan memang tak memerlukan alasan. Tak peduli apakah orang itu memiliki ikatan darah dengan kita. Memiliki status sosial berikut kekayaan. Memiliki wajah rupawan termasuk lama waktu orang itu ada dalam hidup kita. Asal merasa nyaman, semuanya pasti akan berjalan menempati posisi sesuai porsi.


Keinya sudah bersama Athan selama kurang lebih enam tahun. Empat tahun setelah pacaran, mereka memutuskan untuk menikah. Tak lama setelah menikah, Keinya hamil dan hingga akhirnya semuanya mulai berbeda. Sedangkan Kainya, sekalipun mereka kembar dan tetap berkomunikasi kendati jarak dan waktu selalu menjadi jurang pemisah, tapi Kainya selalu berusaha melarang Keinya melakukan segalanya, dan meminta Keinya untuk selalu bergantung kepada Kainya. Keinya paham jika kembarannya itu ingin melindungi sekaligus memberikan yang terbaik untuknya, akan tetapi, keadaan tersebut justru membuat Keinya tertekan selain merasa tidak berguna. 


Lain halnya dengan Athan maupun Kainya, bersama Yuan, Keinya menemukan rasa nyaman. Bahkan bersama Yuan juga, semua kebencian berikut luka yang Athan dan Tiara torehkan seolah penyap. Jadi, diam-diam Keinya mengiyakan bisikan hatinya untuk memberikan kesempatan pada Yuan. Keinya akan belajar percaya kepada Yuan meski mungkin kenyataan tersebut juga membutuhkan waktu.


*****

__ADS_1


__ADS_2