
“Meski otak kamu rusak, tapi aku yakin, hati dan cinta kamu selalu sempurna buat aku. Percayalah, ini hanya ujian untuk rumah tangga kita!”
Bab 31 : Skenario Palsu
Setelah mengantar Kimi untuk dirawat, jemari Keinya tidak bisa ditahan untuk tidak menghubungi Yuan. Bahkan meski sadar waktu yang berjalan masih jam kerja, masih pukul dua siang, Keinya nekat menelepon kontak Yuan di ponselnya.
Mengenai Kimo yang kemungkinan besar amnesia, berikut Kiara yang masih saja keras kepala. Keinya tidak bisa mengatasinya seorang diri, apalagi keadaan Rara juga masih memprihatinkan.
Di sambungan kedua teleponnya, akhirnya Keinya mendapati suara Yuan dari seberang.
“Iya, Sayang, ada apa?”
“Y-yu ... Kimo sudah sadar!” Keinya merasa sedikit gugup atas ketakutan mengenai kemungkinan buruk yang akan menimpa Rara.
“Oh, bagus, dong? Terus bagaimana? Dokter bilang apa? Semuanya baik-baik saja, kan?”
Dari seberang, Yuan terlihat begitu lega mendengar kabar mengenai Kimo yang sudah sadar.
“Masalahnya, Kimo enggak ingat Rara! Yang dia ingat justru Steffy, Yu!”
Yuan tak langsung mengomentari. “Ini maksudnya, Kimo pura-pura enggak ingat Rara, buat kasih kejutan, apa bagaimana?”
Keinya menggeleng cepat, menyanggah anggapan suaminya. “Enggak, Yu! Kimo benar-benar lupa Rara! Dia amnesia! Pokoknya aku enggak mau tahu, kamu harus cepat ke sini!” Kali ini Keinya sampai menangis, saking takutnya. “Cepat ke sini, Yu! Aku enggak bisa mengurus ini, apalagi Tante Kiara masih saja keras kepala! Aku takut, Tante Kiara sampai memanfaatkan situasi ini buat memisahkan Rara dan Kimo, apalagi selain Tante Kiara yang bentar-bentar memaksa Rara buat cerai, juga masih berhubungan baik dengan Steffy.” Keinya sampai menggunakan punggung tangan yang tidak mengendalikan ponsel, untuk mengelap air matanya.
“S-sayang, Sayang, kamu tenang. Iya, aku langsung ke sana. Kamu jangan panik. Nanti Rara bisa tambah tertekan.”
Dari seberang, Yuan terdengar buru-buru.
***
“Kita lihat, apa yang akan terjadi nanti. Karena biar bagaimanapun, aku masih istri sah Kimo.” Setelah berkata seperti itu, Rara memilih diam. Hanya saja, keluarnya dokter berikut perawat dari ruang rawat Kimo, membuatnya dililit ketegangan. Jika Kimo benar-benar amnesia, dengan kata lain, harapannya mempertahankan hubungan rumah tangganya dengan pria itu juga makin sulit.
Kiara langsung maju, membelakangi Rara yang masih duduk di kursi roda.
“Bagaimana, Dok? Putra saya baik-baik saja, kan? Tidak perlu ada yang dikhawatirkan, kan, Dok?” sergah Kiara. Kedua tangannya saling bercengkerama di depan perut. Ia menatap kedua dokter pria paruh baya di hadapannya, sarat kecemasan.
Pria paruh baya yang memiliki kulit lebih gelap, berkata, “anak ibu kehilangan ingatannya selama dua tahun terakhir, karena yang anak ibu ingat adalah awal tahun dua ribu dua belas.”
Meski awalnya terlihat terkejut sarat kesedihan, tetapi tiba-tiba saja, Kiara justru tersenyum. “Dengan kata lain, Kimo juga melupakan Rara?!” pikirnya yang menjadi begitu begitu bahagia. ”Oh, begitu, Dok? Kalau begitu, saya boleh melihat anak saya, sekarang juga?” sergahnya kemudian tidak sabar. Bagaimana tidak? Lupanya Kimo pada Rara tentu menjadi senjata paling ampuh untuk memisahkan keduanya. Terlebih, mumpung tidak ada yang bisa menghalangi usahanya karena pihak yang membela Rara sama sekali tidak ada termasuk Keinya apalagi Yuan.
“Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai keadaan anak ibu, untuk memastikan semuanya, termasuk melakukan pemeriksaan melalui CT-Scan,” balas sang dokter.
“Oh ....” Kiara menggeleng pasrah, tetapi jauh di lubuk hatinya ia sangat berharap, Kimo benar-benar amnesia bahkan bila bisa sampai permanen agar anaknya tidak lagi ingat sekaligus mengenal Rara!
Diamnya Rara karena wanita itu gamang. Dan meski pasrah, tetapi ia tidak akan menerima begitu saja jika Kiara sampai menciptakan skenario palsu untuk Kimo, hanya untuk memisahkan mereka.
Tak lama setelah itu, Kimo diboyong oleh kedua perawat yang tadi sempat mengusir Rara dan Keinya. Ranjang pesakitan pria itu didorong keluar. Dan bersamaan dengan itu, Keinya yang baru datang segera berlari menghampiri Rara.
“Tunggu ... saya istrinya. Saya ingin berbicara dengan suami saya sebentar,” pinta Rara.
Kiara mendengkus sebal apalagi perawat yang awalnya memboyong Kimo melalui ranjang rawat Kimo, juga berhenti dan memberi Rara kesempatan untuk berbicara dengan Kimo.
Menyadari jarak Rara dan Kimo kurang dekat, sekitar setengah meter, Keinya segera mendorong kursi roda Rara, dengan hati-hati. “Kalian saling mencintai! Bahkan kalian baru pulang berbulan madu! Hanya saja, mamamu memang menentang hubungan kalian! Demi Tuhan, inilah kebenaran yang kamu lupakan. Tapi tunggu, Yuan dan Papamu akan segera datang!” bisik Keinya tepat di sebelah telinga Kimo, sebelum menjauhi pria itu.
__ADS_1
Bila dilihat dari segi luka, tubuh Kimo memang terlihat masih segar. Hanya ada beberapa luka baret saja yang menghiasi wajah berikut punggung tangannya, selain perban tipis yang membungkus kepala. Selebihnya, tidak ada patah tulang baik di tangan dan kaki, apalagi tubuh.
Kimo yang kebingungan, menatap wajah Keinya dan Kiara silih berganti, hingga akhirnya pria itu refleks menatap Rara, lantaran wanita itu sampai meraih dan menggenggam lembut sebelah tangan Kimo. Kebingungan Kimo semakin bertambah, lantaran selain sampai berlinang air mata, wanita yang mengaku sebagai istrinya dan sempat memarahinya itu juga menempelkan tangan Kimo ke wajah, sambil terpejam dan terlihat begitu menjiwai. Sesekali, si wanita yang juga mengenakan seragam pasien layaknya dirinya juga mencium tangannya.
“Apakah dia benar-benar istriku?” pikir Kimo mulai resah.
“Meski otak kamu rusak, tapi aku yakin, hati dan cinta kamu selalu sempurna buat aku. Percayalah, ini hanya ujian untuk rumah tangga kita!” ucap Rara di tengah tangisnya.
Ucapan Rara membuat Kimo bengong. Dan ketika ia menoleh pada Kiara, mamanya itu langsung meletakan telunjuk tangan kanan di kening, tetapi dimiringkan, kemudian menunjuk Rara melalui gerakan wajah.
“Maksud Mama, wanita yang mengaku-ngaku istriku ini, tidak waras?” pikir Kimo menjadi ngeri sendiri.
Meski Kimo tidak meragukan informasi dari Kiara, tetapi melihat ketulusan Rara berikut Keinya yang selalu meyakinkannya, membuat pria itu menjadi ragu. Kiara, atau Rara dan Keinya yang harus ia percaya? Namun melihat Rara yang menangisi dan begitu bersedih melepasnya, Kimo tidak menemukan kebohongan apalagi tanda-tanda wanita itu gila.
Ketika kepergian Kimo benar-benar sudah tidak terlihat, Rara berkata, “tolong jangan membuat keadaan semakin memburuk dengan skenario palsu yang Mama buat, Ma. Tolong, Mama pikirkan perasaanku, apalagi Mama juga wanita yang masih bersuami!”
“Jika memang Mama tetap menciptakan skenario palsu untuk menghancurkan hubunganku dan Kimo, aku juga tidak bisa hanya diam, dan jangan salahkan aku jika apa yang Mama lakukan juga aku doakan kepada Tuhan!” Rara mengatakan itu tanpa menatap Kiara.
Kiara tak acuh dan bergegas meninggalkan kebersamaan. Wanita itu melangkah cepat ke arah kepergian Kimo.
“Apakah menurutmu, apa yang kulakukan pada mama mertuaku, sudah sangat keterlaluan, Kei?” tanya Rara dengan suara datar. Pandangannya masih menatap ke arah kepergian Kiara.
“Kamu tahu, Kei? Tadi Mama Kiara bilang, dia mau bawa Kimo dan keluarganya pindah ke Australia ... aku nyaris mencekik Mama Kiara saat itu juga, andai saja aku enggak ingat dia siapa.”
Keinya menggeleng sambil menghela napas pelan, kemudian mendekap Rara dari belakang. “Makasih, Ra! Makasih karena kamu sudah menjadi Rara yang semakin kuat!” isaknya. “Maaf, karena justru aku yang jadi cengeng!”
“Kalau aku enggak kuat, mana mungkin Tuhan memberiku cobaan sebanyak ini dengan jarak yang sangat dekat, kan?” Linangan air mata mengalir dari kedua mata Rara yang masih menatap ke arah kepergian Kimo.
Keinya makin terisak-isak.
Nada suara Rara benar-benar sarat kesedihan. Membuat Keinya makin tidak berdaya.
“Sabar, Ra ....”
“Sudah, Kei. Tapi kayaknya kurang ikhlas, karena rasanya sakit banget.”
“Maaf karena aku enggak bisa banyak bantu!” sesal Keinya makin mengeratkan dekapannya.
“Aku harus banyak makan biar aku cepat sehat, Kei. Aku harus semakin kuat. Tolong bantu aku, ya?”
Keinya mengangguk cepat. “Aku akan menyiapkan banyak makanan sekaligus vitamin buat kamu!”
“Tapi kayaknya enggak ada obat atau vitamin yang lebih ampuh dari Kimo, Kei ...,” lanjut Rara yang menjadi terisak-isak. “Aku hanya butuh Kimo, Kei ....”
“Kok kamu jadi bucin begini, sih, Ra?!” keluh Keinya yang sampai menoyor kepala Rara.
“Enggak apa-apa dibilang bucin, Kei. Lebih baik aku sakit tanpa minum obat atau vitamin, asal otak Kimo nggak rusak.”
Meski keluhan Rara menjadi cukup menggelitik dan membuat Keinya geli, tetapi sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
***
Steffy masih mengurung diri di dalam kamar yang sengaja dibiarkan remang-remang. Hanya satu lampu meja saja yang menyala sedangkan semua jendela sengaja ia biarkan tertutup gorden tebal. Benar-benar tidak ada cahaya lain yang menerangi kamarnya.
__ADS_1
Meski wanita muda itu tak lagi gemetaran, tetapi sisa rasa sakit sekaligus panas yang menempel di telinga berikut hatinya, membuatnya tidak baik-baik saja. Bahkan meski hanya diam, tetapi kali ini, Steffy sedang kembali dikuasai dendam. Karena dua jam lalu, papanya kembali lebih menyayangi mobil-mobilnya, ketimbang Steffy yang anaknya sendiri. Pria paruh baya itu memaki Steffy habis-habisan, meminta Steffy belajar betapa sulitnya mendapatkan penghasilan, agar Steffy lebih menghargai barang orang lain dan tidak sembarang merusaknya. Padahal yang Steffy harapkan, papanya juga menanyakan keadaannya walau hanya basa-basi. Namun bukannya perhatian seperti yang Steffy harapkan walau hanya sedikit, papanya justru menegaskan akan menyita semua kartu kredit milik Steffy. Termasuk mengenai jatah uang bulanan, Steffy juga tidak mendapatkannya lagi. Steffy benar-benar tidak akan mendapatkan fasilitas mewah, kecuali jika Steffy mau bekerja atau setidaknya ikut membantu mengurus perusahaan.
Andai Steffy tidak ingat mengenai balas dendam kepada Kimo dan Rara yang belum mendapatkan kabar lebih lanjut, apakah keduanya mati atau setidaknya cacat, tentu Steffy sudah melenyapkan papanya dengan cara yang tak kalah tragis. Steffy akan melakukannya dengan kejam, melebihi kekejaman papanya ketika memarahi orang rumah termasuk kepada Steffy hanya karena masalah sepele bahkan itu mobil.
“Omong-omong, kenapa aku enggak cari tahu perkembangan kecelakaan Kimo dan Rara?” pikir Steffy tiba-tiba. Ia yang duduk di tengah bagian tepi kasur paling depan segera bangkit dari duduknya. Steffy mencari-cari ponselnya. Ia memastikan kedua nakas yang ada di sisi ranjang tidurnya yang ternyata tidak ia dapati keberadaan ponselnya. Dan lantaran tak kunjung menemukan, Steffy pun memakai telepon rumah di kamarnya untuk menghubungi ponselnya. Tak lama, dering ponselnya pun terdengar dan ia dapati ada di balik salah satu bantal di kasurnya.
Steffy kembali meletakkan telepon rumahnya dan bergegas mengambil ponselnya dengan buru-buru dikarenakan ketegangan berikut rasa takut kembali menyerangnya hanya karena ia memikirkan kecelakaan Kimo dan Rara yang tak lain karenanya. Anehnya, belum sempat ia mengambil ponselnya dan baru menyingkirkan bantal yang menutupi, ponselnya kembali berdering dan nama ‘ Tante Kiara’ menjadi kontak penelepon sekaligus penyebab ponselnya berdering.
“Sial! Kenapa Tante Kiara telepon aku?!” batin Steffy makin ketakutan. “Semuanya baik-baik saja, kan? Nggak akan ada yang tahu kalau aku pelakunya, kan?!”
Steffy kembali gemetaran dan benar-benar tidak bisa tenang berikut kedua mata tajamnya yang tak hentinya bergerak liar.
“Steffy, tenang!” ucap Steffy sesaat setelah menelan ludah. “Tenang ... semuanya akan baik-baik saja!” Ia mencoba menenangkan diri sekaligus memastikan dirinya tidak melakukan hal mencurigakan apalagi yang bisa membuat orang mengetahui, dirinya pelaku dari kecelakaan Rara dan Kimo.
Lantaran telepon masuk dari Kiara sampai ia berakhir, sesaat setelah mengatur napas pelan beberapa saat, Steffy pun menelepon balik wanita itu. Di sambungan kedua panggilannya berhasil, Kiara menjawab dari seberang.
“Nak Steffy?” sergah Kiara dari seberang.
Steffy tak langsung menjawab lantaran ia mencoba menyimpulkan keadaan Kiara saat ini. “Sepertinya Tante Kiara cukup bahagia?” pikirnya yang kemudian menjawab, “i-iya, Tan? Apa kabar, Tan? Lama enggak ngobrol, ya? Kangen ....” Steffy sengaja basa-basi dan bersikap semanis mungkin.
“Iya! Kabar Tante baik-baik saja. Kamu juga baik-baik saja, kan? Tante juga kangen lho, sama kamu ....”
“Wah ... serius, Tante Kiara malah kedengarannya sedang sangat bahagia!” batin Steffy.
“Fy ... sebenarnya Kimo mengalami kecelakaan dan dia amnesia. Kamu bisa tolong ke sini, enggak? Soalnya yang Kimo ingat cuma kamu!”
Lanjutan Kiara dari seberang terdengar memohon. Dan demi Tuhan, Steffy langsung lompat-lompat sambil tersenyum girang saking bahagianya.
“Kimo amnesia dan yang dia ingat cuma aku?! Yes! Tapi Rara, bagaimana dengan dia?” batinnya yang menjadi bertanya-tanya namun sangat berharap wanita itu tidak baik-baik saja. Kalau tidak meninggal apalagi cacat, setidaknya Rara sakit parah. “Tapi ya enggak apa-apa, sih. Toh yang Kimo ingat justru aku!” pikir Steffy kemudian yang kembali jingkrak-jingkrak.
“Fy ... Nak Steffy bisa datang ke rumah sakit, kan?” pinta Kiara kemudian dan terdengar sangat berharap.
“B-bisa, Tan. Justru aku senang banget akhirnya Tuhan buka pintu hati Kimo, meski dengan cara yang bikin Kimo sakit. Bentar lagi aku langsung ke sana, Tan. Tante WA saja alamat rumah sakitnya. Soalnya aku mau lanjutin masak ini, tanggung banget, tapi lima menit lagi beres kok.”
“Wah ... sekarang kamu sudah pintar masak, Fy?”
Obrolan penuh skenario palsu, kembali Steffy lanjutkan dan terus disambut pujian oleh Kiara, dari seberang. Steffy yakin, keadaan Kimo sekarang bisa dengan mudah ia dapatkan apalagi dukungan Kiara kepadanya juga semakin besar.
Bersambung ....
Selamat datang di bulan Februari~
Ada yang tahu gimana caranya balikin ingatan Kimo? Masa iya, kepala Kimo harus dijedekkin ke tembok, biar ingatannya balik lagi?
Eh, omong-oming, si Rara jadi bucin. Jangan salahkan Author. Karena nanti, Author kasih tahu di bab selanjutnya, kenapa Rara sampai bucin ~
Kita ketemu di bab selanjutnya, ya. Besok.
Oh, iya. Cerita Author yang judulnya Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) Season 1-nya akan segera ending, lho. Kalian sudah baca? Ramaikan, yuk ✓
Sudah segitu aja Author cuap-cuapnya. Takut ditimpuk kalian~``~
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.