Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Selepas Perceraian Season 2 Bab 7 : Hadiah Untuk Pernikahan Rara


__ADS_3

“Aku tidak mungkin menjadi aku, ketika aku tidak memilikimu.”


Bab 7 : Hadiah Untuk Pernikahan Rara


Rara begitu sibuk di dapur. Semuanya dilakukan wanita itu dengan buru-buru. Kimo yang mengamatinya dari pintu yang sedikit ia buka, jadi pusing sendiri.


Wanita memang selalu membuat semuanya menjadi rumit. Kimo menelan ludah, mendapati Rara mulai menaruh nasi di atas hamparan nori. Wanitanya itu sepertinya akan membuat sushi setelah sempat berguru pada Yuan.


“Bisa sekalian buatkan sup, nggak? Sup rumput laut saja. Kasih daging cincang, terus terakhir dikasih telur.” Kemudian Kimo berdeham, mencoba menyingkirkan dahak di tenggorokannya yang membuat lehernya seperti dicekik. Itu kenapa, mengonsumsi sup ia yakini bisa membuat tenggorokannya terasa lebih baik.


Setelah menyimak permintaan Kimo, Rara yang refleks menghentikan kesibukannya menggulung nori berikut isi menjadi sushi, segera mengangguk. “Oke. Tapi telurnya dikocok apa nggak usah?” Ia menatap Kimo yang masih berdiri di balik pintu sambil menatapnya.


“Kocok, dimasukkannya terakhir bareng potongan daun bawang. Jangan lupa kasih bawang putih cincang goreng dan gorengnya pakai minyak wijen,” balas Kimo.


Rara kembali mengangguk di antara senyumnya. “Oke ... sana kamu mandi dulu.”


Kimo menghela napas. “Katakan dulu, kalau kamu mencintaiku. Setelah itu, aku baru akan pergi.” Ia sengaja memasang wajah angkuh.


Rara mendesis kemudian menertawakan Kimo.


“Kalau kamu nggak mau, besok uang bulananmu aku langsingin, loh!” ancamnya.


Rara menahan tawanya. Antara geli juga bahagia. Kemudian ia mengangguk-angguk. “Kemarilah ....”


Dengan gaya enggan, Kimo mendekat. Ia sengaja berdiri di sebelah Rara tanpa menatap yang bersangkutan. Kemudian kecupan kilat ia dapati mendarat di sebelah wajahnya.


“Aku mencintaimu! Sana mandi dulu!” bisik Rara.


Senyum lepas menghiasi wajah Kimo. Seperti bunga-bunga yang bermekaran di musim semi, begitulah perasaannya saat ini. “Selamanya, kita akan seperti ini, ya?” pintanya tulus sembari membelai kepala Rara.


“Tak peduli apa pun yang terjadi, tak peduli seberapa banyak yang lebih baik. Tak peduli berapa banyak luka yang harus kita hadapi. Selamanya, aku hanya membutuhkanmu. Aku tidak mungkin menjadi aku, ketika aku tidak memilikimu.” Kimo menatap Rara dengan berkaca-kaca.


Rara menitikkan air mata di antara senyumnya. Kemudian ia mengangguk dengan perasaan terharu yang membuncah. “Terima kasih sudah mau menerima kekuranganku,” ucapnya tulus.


Kimo membentangkan tangannya kemudian Rara segera masuk ke dalamnya. Dengan perasaan penuh kebahagiaan itu, keduanya berjanji dalam hati akan menghadapi semua luka berikut konsekuensi hubungan mereka. Di mana tak lama setelah itu, sebuah buku tabungan Kimo keluarkan dari saku dalam jasnya dan ia berikan kepada Rara.


“Apa?” tanya Rara bingung sembari menyeka air matanya menggunakan kedua punggung tangannya.


“Buku tabunganku.”


Rara mengernyit bingung. “Bukannya kamu sudah lepas semuanya dan nggak punya apa-apa?”


“Kamu pikir, aku sebodoh itu?”


Rara makin bingung.


“Nggak ada salahnya, kan, aku buka tabungan atas namamu tanpa sepengetahuan orang tuaku? Itu murni jeri payahku, kok. Ya sekalian jatah uang bulanan buat kamu.”


“Dengan kata lain, kamu sudah tahu ini akan terjadi?” tuding Rara.


Kimo mengangguk. “Buat jaga-jaga. Itu cukup buat biaya cicil rumah. Kurang seru kalau kita tinggal di sini terus.”


Rara tersenyum lepas. “Kayaknya aku perlu banyak belajar dari kamu dalam menyiasati keadaan, deh!” pujinya.

__ADS_1


Kimo melirik Rara sarat menggoda. “Pasti kamu tambah cinta, ya?”


Rara yang sempat mati-matian menahan tawanya, hilang kendali dan akhirnya tergelak. Ia kembali mendekap Kimo tanpa membuat kedua tangannya yang mengenakan sapu tangan menyentuh pria itu.


Masih nggak percaya, besok kita akan menikah. Rara menengadah, merasakan getaran demi getaran kebahagiaan yang kali ini tengah membuatnya menjadi manusia paling bahagia. Tak lupa, ia juga bersyukur atas kenyataan itu. Dengan harapan, selamanya Tuhan akan tetap memberinya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.


***


Kainya menghela napas dalam. Merasa sangat sebal pada kenyataan yang harus ia hadapi. Bagaimana tidak? Ben dengan begitu gesit, tanpa tahu malu terus mengikutinya. Bahkan meski kali ini ia sengaja memasuki tempat yang memajang pakaian dalam wanita. Kainya pikir, Ben akan berhenti mengikutinya. Tetapi pria itu tetap menjelma menjadi satelitnya. Terus mengikuti bahkan sekalipun beberapa mata yang mendapati, langsung menjadikannya fokus perhatian. Ada yang geli, tetapi tak jarang decak kagum juga terdengar dari mereka.


“Jadi, hadiah apa yang akan kamu pilih untuk mereka? Kamu sudah berjam-jam jalan?” tanya Ben.


Seperti yang dikatakan pria berberewok tipis itu, setelah pulang dari rapat dan mengabari Khatrin mengenai hadiah yang harus dipilih untuk Rara dan Kimo, Kainya memang sengaja berjalan mengelilingi mal. Mengunjungi setiap toko dari lantai atas hingga bawah. Dari keperluan rumah tangga, juga semua pernak-pernik wanita dan terakhir kini di area pakaian dalam wanita.


Kainya balik badan menatap Ben. “Ben, terbiasa berpura-pura bisa membuat kita benar-benar bisa tanpa berpura-pura.”


Ben menyeringai menatap Kainya. “Apa maksudmu? Siapa yang berpura-pura?”


Kainya menggeleng kesal. Jelas-jelas yang ia maksud itu Ben. Ben yang Kainya ketahui sengaja mendekatinya demi bisa bekerja sama dengan Fahreza Grup. Pria licik itu memang sengaja melakukan semua cara demi kelancaran bisnisnya, termasuk mempermainkan hati Kainya. Beruntung, meski sudah lima bulan berlalu, ia sama sekali tidak tergoda pada Ben. Yang ada, kebenciannya bertambah pada pria itu seiring usaha yang Ben lakukan untuk mendekatinya.


Karena Kainya justru mendiamkannya, Ben yang tersenyum sarkastis pun berdeham. “Baiklah.”


Lantaran Kainya juga tak kunjung merespons bahkan justru meninggalkannya, Ben pun segera menahan sebelah lengan wanita itu.


“Apa lagi?!” tanya Kainya geram.


“Kalau aku bisa membantumu memberikan hadiah pernikahan sangat berkesan untuk Rara, kamu harus mengikuti permainanku!” Ben tersenyum sarkastis.


Meski sempat terkejut dengan balasan Ben, tetapi Kainya juga menjadi ikut tersenyum sarkastis. “Akhirnya kamu membuka topengmu juga!”


“Kamu beruntung, hari ini aku nggak pakai heels!” tegas Kainya.


Ben yang menyeringai kesakitan, mengangkat kaki kanannya yang diinjak Kainya. Kemudian ia menatap kaki jenjang Kainya yang kali ini mengenakan sepatu flat. Benar kata wanita itu, andai hari ini Kainya juga mengenakan heels layaknya biasa, bisa berakibat fatal pada kakinya lantaran tadi, Kainya menginjaknya dengan tenaga penuh.


“Tunggu dan jangan pergi dulu!”


Kainya tak mengindahkan peringatan Ben. Ia terus berjalan meninggalkan keramaian mal, bahkan meski apa yang ia cari belum ia dapatkan. Mengenai hadiah untuk pernikahan Rara, apa yang seharusnya ia berikan? Perabotan rumah tangga, pakaian, atau paket bulan madu? Kainya masih bingung mengenai semua itu. Sialnya, Ben yang sudah jelas-jelas kesakitan justru sudah ada di hadapannya kendati pria itu melangkah tertatih dengan napas terengah-engah.


“Kamu akan membayar semua ini. Kupastikan kamu akan menyesal!” tegas Ben penuh peringatan.


Ben ngos-ngosan dan terlihat masih menahan sakit kaki kanannya. Kendati demikian, Kainya tak gentar dan justru menatap pria itu dengan dagu yang sengaja diangkat sambil bersedekap.


“Ikut aku!” tegas Ben dengan tatapan penuh peringatan.


“Jangan membuang-buang waktuku!” balas Kainya malas dan memang tidak tertarik pada ajakan Ben.


Tatapan Ben makin tajam. “Aku bisa melakukan hal nekat kepadamu dan membuatmu menyesal seumur hidup!” tegasnya lirih sesaat berhasil mencengkeram sebelah tangan Kainya dan ia paksa ikut bersamanya.


“B-ben, lepas! Kenapa, sih, kamu selalu memaksakan kehendakmu?!” keluh Kainya yang kewalahan.


Ben benar-benar nekat, jalan saja masih terlihat dipaksakan, masih saja berusaha balas dendam.


Ben terus menuntun paksa Kainya untuk tetap mengikutinya. Setelah meninggalkan keramaian mal, pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Kita harus bertemu. Aku tidak mau mendengar penolakan. Sekarang, di kafe ....”


“Benar-benar pria egois!” umpat Kainya dalam hati. Namun, siapa yang Ben hubungi dan bahkan akan mereka temui?


Ben mengajak Kainya mengunjungi kafe tempat pria itu membuat janji.


Setelah duduk di salah satu kursi pelanggan yang keberadaannya di pinggir ruangan, Ben segera mengeluarkan kaki kanannya dari sepatu. Ia juga melepas kaus kakinya di mana Kainya yang berangsur duduk juga diam-diam mengamati.


Lebam menghiasi punggung kaki kanan Ben. Benar-benar berwarna biru gelap nyaris ungu. Kainya saja menatap kenyataan tersebut tidak percaya. Kemudian tatapannya bertemu dengan tatapan Ben yang menyeringai padanya.


“Dengan tubuhmu yang segitu, kenapa tenagamu seperti badak?” keluh Ben yang kemudian menyelonjorkan kedua kakinya pada kursi di sebelahnya.


Ben benar-benar sudah terbiasa menahan sakit hanya untuk berpura-pura peduli kepadaku. Jadi merasa bersalah begini? Kainya memutuskan meninggalkan Ben yang awalnya baru mengeluarkan ponsel dari saku samping celana panjang warna hitam yang dikenakan.


“Kainya, kamu mau ke mana?!” tahan Ben dengan suara lantang. Namun seperti biasa, wanita angkuh itu tak mengindahkannya. Hanya saja, kenapa Kainya justru pergi ke area dalam kafe kunjungan mereka?


“Apa yang akan Kainya lakukan? Apakah dia akan mengambilkanku minuman yang dibubuhi racun?” pikir Ben mengingat selama ini, ia sudah mengganggu dan pura-pura mencintai Kainya demi bisa mendapatkan jalan bekerja sama dengan Fahreza Grup.


Namun dugaan buruk Ben ternyata tidak benar. Karena Kainya kembali dengan sebuah baskom berisi es batu dan handuk.


Kecanggungan menyekap keduanya. Di kafe yang tidak begitu ramai pengunjung keberadaan mereka, Kainya meletakan baskom berisi perlengkapan kompresnya di meja kemudian menarik kursi dan sengaja ia dekatkan pada kuri keberadaan kaki kanan Ben.


Kainya membentangkan handuk kecil kemudian mengisinya dengan pecahan-pecahan es batu. Meski terlihat sungkan, Kainya berangsur duduk kemudian meletakan handuk berisi pecahan es batunya di atas punggung kaki kanan Ben dengan spontan.


“Stt! Pelan-pelan!” keluh Ben menyeringai kesakitan.


“Sakitmu adalah bahagiaku. Sudah untung aku mau mengobatimu!” kecam Kainya.


“Kamu ini benar-benar!” gerutu Ben yang kemudian menatap cemas apa yang akan Kainya lakukan.


Kainya masih menekankan bungkusan es batunya kuat-kuat.


“Demi Tuhan, Kai, pelan-pelan, itu sangat sakit!” cibir Ben yang menghindar pun tidak bisa lantaran Kainya menahannya. Melihat dari ekspresi wanita itu yang terlihat geram, Kainya jelas sedang balas dendam.


“Kamu pikir selama ini aku nggak sakit? Dengan caramu terus berpura-pura peduli dan mencintaiku, kamu juga sudah menyiksaku karena caramu itu menghambat jodohku!” gerutu Kainya terus menghantamkan bungkusan es batunya pada punggung kaki Ben yang menjadi menjerit kesakitan.


Ketika Ben dan Kainya sibuk dengan kebersamaan mereka—Kainya yang sengaja mengerjai Ben, juga Ben yang mulai balas dengan mengambil kaus kaki kanannya yang ia balurkan ke wajah Kainya, kemudian sepatu kanannya dan terakhir mengguyurkan sisa isi baskom kompres hingga terjadi keributan yang membuat keduanya terlihat dekat, di waktu yang sama, sosok Gio datang dengan seorang wanita yang juga Kainya kenali. Karena Kainya yang kebetulan balik badan setelah menghindari guyuran air es oleh Ben, menjadi berhadapan dengan keduanya.


Gio datang dengan Steffy yang Kainya ketahui mantan tunangan Gio. Jadi, tanpa basa-basi, pun sekadar menyapa, Kainya yang sempat salah tingkah sambil menahan luka, memilih berlalu dan kembali pada meja pelanggannya dan masih dihuni Ben.


“Tuhan nggak buta dan dia melihat kejahatanmu kepadaku, makanya Tuhan balas kamu lewat Gio yang justru lebih memilih wanita lain!” bisik Ben sambil tersenyum sarkastis, kendati ia sengaja merangkul mesra Kainya dan memamerkannya pada Gio.


Mendapati itu, Gio justru berlalu dari kafe bahkan sampai meninggalkan Steffy. Steffy yang kebingungan dengan perubahan Gio segera menyusul, meski wanita itu sempat memperhatikan kebersamaan Kainya dan Ben yang ia yakini sempat diperhatikan Gio, membuat pria itu tiba-tiba pergi.


Hukuman. Aku tahu kalau aku sedang menjalani hukuman, setelah apa yang aku lakukan pada Keinya dan Yuan di masa lalu. Kainya merasakan sesak yang luar biasa di dalam dadanya. Namun tak lama setelah seorang pelayan yang Ben panggil untuk membereskan meja mereka berikut sekitarnya beres bekerja, seorang wanita paruh baya dan terlihat begitu menjaga penampilannya, menghampiri mereka.


Kainya menatap bingung wanita yang sampai dikawal ajudan itu, kemudian berganti menatap Ben. Wanita ini gayanya masih kayak gadis. Terus, apa hubungannya sama aku? Ini tante-tante yang Ben kencani, atau ... sejenis muncikari dan Ben berniat menjebakku?!


“Selamat malam, Nyonya Piera. Silakan duduk.” Setelah berucap begitu, Ben mendekat dan berbisik di sebelah telinga Kainya. “Dia, ibu kandung Rara. Dan akan kupastikan, dia menjadi hadiah pernikahan terindah untuk Rara.”


Mendengar itu, selain jantungnya yang seolah langsung melesak, Kainya juga menjadi bergidik ngeri. Yang benar saja wanita cantik bergaya glamor di hadapannya adalah ibu kandung Rara, sedangkan Rara selalu bergaya sederhana, bahkan selama ini Kainya ketahui sebatang kara?


Kainya masih belum bisa menerima kenyataan. Mengenai Piera dan Rara. Ketika Piera melepas kacamata hitam tebal yang dikenakan, wajah keduanya memang memiliki banyak kesamaan. Namun, kenapa ketika sekadar duduk pun sampai disiapkan oleh ajudannya berikut kemewahan yang menyelimuti, hidup Rara sang anak justru jauh dari kemewahan?

__ADS_1


Dan yang membuat Kainya mulai curiga, kenapa Ben bisa berhubungan baik dengan Piera? Juga, kenapa Piera menepis tatapannya dan bahkan sengaja membuang pandangan darinya?


__ADS_2