Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Selepas Perceraian Season 3!


__ADS_3

--Selepas Perceraian Season 3--


Sinopsis :


Hidup Pelangi menjadi tidak baik-baik saja, setelah ia mendapatkan kata putus dari pemuda yang bahkan tidak Pelangi kenal. Anehnya, meski Pelangi memang tidak mengenal pemuda itu, tetapi pemuda itu memiliki bukti interaksi dengan Pelangi. Dari chating WA, juga foto bahkan video yang dikirimkan dari WA pribadi Pelangi.


Pemuda itu bernama Kim Jinnan dan usianya hanya terpaut tiga tahun lebih tua dari Pelangi. Sialnya, sekalipun sudah meminta putus dan menyudutkan Pelangi dengan banyak fakta tak terelakkan, Kim Jinnan justru memaksa Pelangi untuk segera menikah dan menjadi istrinya.


Kim Jinnan merupakan ahli waris dari perusahaan konstruksi ternama di Indonesia yang terkenal play boy. Jadi, demi masa depan Kim Jinnan, Kim Jungsu selaku sang kakek, memaksa Jinnan untuk segera menikah.


Kakek Jungsu berharap, pernikahan yang mengikat Jinnan, akan membuat cucunya itu berhenti menjadi play boy, dan setelah itu, Jinnan juga bisa fokus mengurus perusahaan. Dan demi menjalankan misinya, kakek Jungsu sengaja pura-pura sakit parah, agar Jinnan percaya dan masuk ke dalam perangkapnya. Terlepas dari itu, kakek Jungsu juga telah memilih Pelangi sebagai satu-satunya wanita yang bisa ia percaya untuk mengubah Jinnan.


Di lain sisi, paksaan sulit dari Jinnan juga dibarengi dengan hubungan rumit Pelangi dengan si kembar Mofaro dan Rafaro. Mofaro dan Rafaro sama-sama menaruh perhatian kepada Pelangi, bahkan sekalipun Pelangi lebih tua dari keduanya.


Lantas, keputusan apa yang akan Pelangi ambil? Terus terjebak di antara cinta si kembar yang bahkan lebih muda darinya, atau menjalani pernikahan yang tidak Pelangi harapkan, sedangkan Pelangi ingin fokus dengan pendidikan?


***


Feaya Raina adalah cinderella bertubuh gendut. Sebelumnya, tidak ada yang lebih penting dari deretan makanan yang selalu membuat mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah. Namun, semenjak kejadian Dean si Tuan Muda Tampan, sampai peduli bahkan menolong Feaya, menjadi cantik sekaligus langsing menjadi satu-satunya tujuan hidup Feaya. 


Feaya berjuang mati-matian untuk bisa langsing sekaligus cantik. Hanya saja, di balik perjuangannya, Feaya justru patah hati lantaran Dean sudah memiliki gadis idaman. Gadis itu begitu cantik dan bahkan membuat Feaya semakin patah hati. Lantas, apakah Feaya bisa mendapatkan cinta Dean sekaligus menjadi satu-satunya gadis untuk pemuda itu? 


***


“Aku Kim Jinnan, pacar kakakmu. Aku pacar Pelangi.”


Episode 1 : Pacar Pelangi


Pelangi dan Dean nyaris melewati gerbang sekolah, ketika Dean justru bergumam, ada barang milik pemuda itu yang tertinggal di loket. Barang penting yang harus Dean bawa pulang hari ini juga.


“Tunggu di sini, ya, Ngi ... sebentar, kok,” pamit Dean buru-buru.


Dean sampai setengah berlari dengan sebelah tangan mengampit kaitan tas gendongnya yang menghiasi punggung pemuda itu.


“Memangnya barang apa yang ketinggalan?” seru Pelangi sambil melepas kepergian sang adik dengan pandangan khawatir. 


Tak biasanya seorang Dean yang memiliki kedisiplinan sangat tinggi, sampai lupa dengan suatu hal bahkan barang yang dikata pemuda itu sangat penting. Dan biasanya, jika barang yang dimaksud Dean penting, pasti selalu berurusan dengan masa depan perusahaan. Karena meski baru memasuki usia tujuh belas tahun, Dean memang begitu bersemangat mengikuti jejak Yuan Fahreza—papa mereka. 


Dean yang digadang-gadang akan menjadi pewaris sukses usaha keluarga mereka memang selalu ingin memberikan yang terbaik, agar tidak dipandang sebelah mata, hanya karena terlahir menjadi anak Yuan Fahreza. Bahkan meski Dean terkenal pendiam tanpa sekali pun mengeluh, Pelangi dan semua anggota keluarga mereka yakin, Dean akan berusaha lebih keras, tanpa embel-embel nama besar keluarganya yang menguasai bisnis apartemen khususnya di Indonesia.


“Hard disk!” seru Dean yang sampai balik badan hanya untuk menatap Pelangi, kendati ia juga terus berlari.


Pelangi menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir. “Hati-hati!” serunya. Sebab baginya, hati-hati jauh lebih tepat untuk melepas sang adik, daripada memaksa adiknya itu untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat. Asal Dean kembali dengan aman dalam artian baik-baik saja, itu jauh lebih baik daripada pemuda itu kembali tetapi masih ada yang kurang. Entah karena Dean sampai terluka, atau sekadar ada barang sang adik yang masih tertinggal.


Sambil menunggu Dean, Pelangi memutuskan untuk duduk di bangku yang keberadaannya persis ada di sebelahnya. Karena meski sudah ada di dekat gerbang, di sana juga merupakan taman yang turut disertai beberapa bangku. Biasanya, penghuni sekolah kerap menghabiskan waktu di taman tersebut untuk belajar, bersantai, atau menunggu layaknya apa yang akan Pelangi lakukan. 


Pelangi hanya terjaga sendiri. Sebab beberapa murid yang lalu-lalang di hadapannya juga bersiap meninggalkan sekolah untuk pulang. 


Mugkin sekitar lima menit kemudian, di tengah suasana yang semakin sepi dan sudah tidak dihiasi lalu-lalang murid lagi, Pelangi yang sedang membaca buku sastra Indonesia, mendengar deruan suara mobil yang berangsur berhenti tak jauh dari depan gerbang. 


Tak lama setelah itu, seruan pintu mobil terbuka juga turut terdengar, disusul langkah lari terbilang pendek yang berlangsung singkat. Dan selepas semua suara itu, ... suasana kembali menjadi hening. 


Pelangi yang awalnya melongok ke sumber kepergian Dean, tetapi tidak mendapatkan tanda-tanda sang adik telah kembali, tidak sengaja menoleh ke arah gerbang. Dan seperti yang sempat Pelangi dengar, tak jauh dari gerbang, tepat di tepi jalan di depan gerbang, ada sebuah mobil keluaran merek ternama berwarna hitam yang warnanya begitu mengkilap. Itu bukan mobil sembarangan dan hanya orang kaya saja yang memilikinya. Merek yang juga menjadi salah satu koleksi mobil favorit seorang Yuan Fahreza, yang akhir-akhir ini begitu hobi mengoleksi mobil. Bahkan, imbas dari hobi mengoleksi mobil juga, Yuan sampai sudah membelikan masing-masing dua mobil untuk anak-anaknya, tanpa terkecuali Mentari yang masih bayi.


Yang membuat Pelangi bingung, di sebelah mobil bagian penumpang tersebut, ada sesosok pria yang mengenakan setelan jas hitam, lengkap dengan dasi berwarna merah tua yang menghiasi kerah leher si pria. Anehnya, pria yang sampai mengenakan kacamata tebal besar berwarna hitam tak ubahnya petugas intel tersebut, juga sampai menatap Pelangi dengan sangat berlebihan. Pelangi bisa memastikannya, lantaran pria bertubuh tinggi tersebut, sampai mengernyitkan dahi, hingga alis tebal si pria nyaris tersambung tak ubahnya jembatan gantung.


Pelangi jadi bingung sendiri. Ia yang masih diam menjadi mengernyit, mencoba mengamati si pria tanpa berlebihan. Pelangi mengamati pria tersebut melalui lirikan, dan membiarkan buku sastra Indonesia yang masih ada di pangkuannya, tetap dalam posisi terbuka.


Pelangi yakin, pria tersebut juga bukan pria biasa. Aroma parfum yang digunakannya saja tercium sangat wangi sekaligus glamor. Terlepas dari itu, ada dua pria bertubuh sangar tak ubahnya body guard yang sampai terjaga di kedua sisi si pria. 


Pertanyaannya, untuk apa pria seperti itu justru datang ke sekolahan Pelangi, dan bahkan bertepatan di jam pulang sekolah?


“Pelangi ...? Bahkan kau masih saja mengabaikanku?”


“Sebenarnya, apa salahku?”

__ADS_1


“Benar-benar sulit dipercaya!”


Pernyataan tersebut Pelangi dengar tepat ketika gadis itu baru saja menatap kembali buku bacaannya. Sontak, kebingungan Pelangi semakin bertambah. Pria itu sampai mengenal namanya? Atau, ada orang lain yang kebetulan juga bernama Pelangi layaknya dirinya?


Setelah sempat terdiam sambil mengerutkan dahi, Pelangi yang telanjur semakin penasaran pun menoleh, menatap pria tersebut untuk memastikan. Sungguh, pria itu masih menatapnya dan bahkan berangsur melepas kacamata hitam tebal yang dikenakan.


Pria yang memang sangat asing bagi Pelangi tersebut, menatap Pelangi dengan sangat serius. Bahkan, ... ada kemarahan yang tampak sedang pria itu tahan. Jadilah, demi meluruskan keadaan tanpa membuat dirinya semakin penasaran, Pelangi yang berdeham pun siap melayangkan pertanyaan.


“Baiklah, kita putus! Kita sudahi saja semuanya!”


“Begitu ...? Begitu, yang kau mau, kan?!”


“Kau ini ...? Apa kurangku? Bahkan aku selalu menyempatkan waktu untukmu, sedangkan kamu tahu betul, aku sangat sibuk dengan segudang pekerjaanku!”


Pria itu tak hanya sibuk berucap dangan pernyataan yang semakin membuat Pelangi bingung. Karena pria itu juga sampai melangkah tegas menuangkan kekesalannya, dan bahkan benar-benar menghampiri Pelangi. Jarak mereka tak kurang dari satu jengkal, sampai-sampai, Pelangi yang sudah berhasil berdiri, berusaha melipir demi menghindari si pria. 


Namun sialnya, si pria justru menahan kedua bahu Pelangi dan memaksa gadis itu untuk tetap berdiri di hadapannya.


Selain sampai membungkuk demi menyelaraskan tingginya dengan Pelangi, tatapan pria itu juga begitu dalam. Membuat Pelangi mulai merasa ketakutan.


“Hai ...? kita enggak saling kenal, kan? Mungkin kamu salah orang?” ujar Pelangi sambil tersenyum masam. 


Pelangi yang sampai tidak berani menatap si pria, berusaha menyingkirkan tahanan kedua tangan pria tersebut. Namun sekali lagi, bukannya melepaskan Pelangi, tahanan yang mengunci bahu gadis itu justru semakin kuat. Bahkan kali ini tubuh Pelangi sampai dipaksa untuk geser, agar lurus dengan si pria.


“Hei!” Pelangi mulai terbawa emosi. Rasa takut yang sempat menyerang gadis itu berubah menjadi rasa kesal dan ingin sesegera mungkin Pelangi tuangkan.


“Pertama, ... kita enggak saling kenal, karena aku memang enggak kenal kamu, jadi kamu jangan asal berbicara, bahkan sampai menyentuhku sembarangan!” tegas Pelangi sambil menatap sinis si pria. 


Pelangi sampai memelotot dan membuat wajah cantiknya menjadi terlihat cukup bengis.


Selain menyingkirkan tahanan tangan si pria dengan lebih kasar, kaki kanan Pelangi juga sampai menginjak keras kaki kiri si pria.


“Aww! Pelangi, sebenarnya apa maumu?!” raung si pria sambil menyeringai kesakitan. Ia mundur sambil mengangkat kaki kirinya yang bekas diinjak Pelangi.


Kedua pria yang awalnya berjaga di dekat mobil, segera memastikan keadaan pria yang meminta putus pada Pelangi.


Pelangi yang baru saja mundur tak lebih dari enam langkah, menjadi kalang kabut.


“A-apa-apaan, kalian?” sergah Pelangi sambil mundur dengan cepat. 


Di tengah keterjagaannya, Pelangi berangsur mengamati sekitar meski hanya sekilas. Selain suasana di sana yang memang sudah sepi, kedua pria bertubuh sangar di hadapannya juga terus berjalan mendekati.


“Hei! Jangan bermain curang! Bukan begini caranya memanipulasi keadaan! Kalau pun kamu ingin menculikku, setidaknya satu lawan satu!!” protes Pelangi sambil menunjuk-nunjuk ketiga wajah pria di hadapannya.


Kedua pria yang awalnya melangkah mendekati Pelangi, berangsur memelankan langkah mereka. Mereka menoleh dan menatap ragu pria yang tiba-tiba memutuskan Pelangi.


“Jika memang mereka penculik, untuk apa juga sampai menggunakan mobil keren?” pikir Pelangi. “Jika memang kalian laki-laki, hadapi aku satu lawan satu!” teriaknya kemudian.


Kedua pria tadi refleks menoleh pada Pelangi, sebelum akhirnya kembali menatap bos mereka, penuh kepastian.


“Pelangi ... kau ini benar-benar lupa kepadaku? Aku ini Kim Jinnan, kekasihmu!” tegas si pria, berusaha meyakinkan.


“Kim, ... Jinnan?” gumam Pelangi.


Pelangi mengernyit tak mengerti. Benar-benar merasa asing, bahkan meski ia sudah memaksakan diri untuk mengenali nama yang pria itu ucapkan.  


“Meski awalnya hanya kekasih virtual, tetapi kamu enggak seharusnya mencampakkanku dengan begini, terlebih keluarga besarku sudah mengetahui hubungan kita!” tambah si pria yang mengaku sebagai Kim Jinnan, dengan kenyataan emosinya yang berangsur reda.


Kim Jinnan melangkah pelan menghampiri Pelangi dengan kaki kiri yang sampai diseret. Sedangkan kedua pria bertubuh sangar yang awalnya mengejar Pelangi, berangsur minggir memberinya jalan.


“Jangan mendekat!” tahan Pelangi. “Buktikan dulu, kalau kamu memang mengenaliku, kita saling kenal, terlebih sejauh ini, aku enggak pernah amnesia!” tambah Pelangi sambil menunjuk-nunjukkan buku sastra Bahasa Indonesianya kepada Kim Jinnan.


Kim Jinan menghela napas dalam. Dengan raut lelah yang menghiasi wajah tampannya, pria berkulit bersih itu mengeluarkan ponsel dari saku bagian dalam jas hitam yang dikenakan.


“Tapi tunggu. Kekasih virtual maksudnya bagaimana, sedangkan selama ini, aku enggak pernah main media sosial kecuali aplikasi WA, pun itu hanya untuk keluarga dan teman dekat saja?”

__ADS_1


Kim Jinan menggeleng tak habis pikir. “Sudah jangan bawel! Lihat saja buktinya!” ucapnya yang kemudian menyodorkan fitur galeri di ponselnya dan hanya berisi foto berikut video Pelangi.


“Jika kita tidak ada, mana mungkin aku memiliki semua ini? Mana mungkin aku mengetahui data dirimu termasuk alamatmu? Bshksn aku hafal seluk-beluk keluargamu!” jelas Kim Jinnan yang menatap Pelangi penuh kepastian.


Pelangi dibuat tak percaya dengan semua bukti foto berikut video yang memenuhi ponsel Kim Jinnan. Sungguh, pria itu tidak berbohong. Sebab selain semua foto berikut video tersebut, kontak Kim Jinnan juga sampai melakukan obrolan terbilang dekat secara langsung dengan WA Pelangi. 


Akan tetapi, hingga detik ini Pelangi tidak pernah merasa menjalani hubungan dengan Kim Jinnan, tanpa terkecuali semua obrolan Wa selaku bukti dari pria itu!


“Tapi aku enggak pernah kenal kamu!” elak Pelangi masih berusaha meyakinkan.


“Ini bukti, Pelangi. Kamu enggak bisa mengelak! Gadis sekelasmu yang berasal keluarga terhormat, enggak mungkin mangkir dari kenyataan, kan?” tampik Kim Jinnan masih menatap Pelangi dengan banyak ketulusan.


Balasan Kim Jinnan sukses membuat Pelangi menghela napas dalam sambil menunduk lemas. “Kok bisa begini, sih? Aneh banget ...? Masa iya, aku chating buta sama orang yang bahkan enggak aku kenal meski sekadar nama?” gumam Pelangi sambil menggaruk sekitar lehernya yang tiba-tiba saja menjadi terasa gatal.


Kim Jinnan berangsur mengantongi ponselnya. “Andai saja kakekku enggak sedang sakit dan dia enggak terus-menerus meminta bertemu kamu, aku juga enggak bakal datang bahkan sampai mohon-mohon begini!” tambah Kim Jinnan yang kali ini justru cenderung mencibir. 


Balasan Kim Jinnan sukses menyulut emosi Pelangi. Gadis itu langsung cemberut dan menatap sebal pria bermata cukup sipit di hadapannya. 


“Ngi ...?” seru Dean dari belakang.


Tak hanya Pelangi yang memperhatikan kedatangan Dean yang kali ini juga sampai berlari jauh lebih cepat dari sebelumnya. Sebab Kim Jinnan juga sampai melakukan hal yang sama.


Kim Jinnan mengamati Dean sambil bersedakap bersamaan dengan dagu tegasnya yang berangsur terangkat. “Dean tumbuh dengan sangat cepat. Dia terlihat sangat tampan seperti ayahnya.”


Penuturan yang terdengar dari belakangnya, membuat Pelangi bergidik ngeri. “Bahkan dia sampai mengenal Dean? Serius ... pasti memang ada yang salah. Namun atas dasar apa? Selama ini aku baik-baik saja dan enggak pernah amnesia. Sungguh! Namun, kenapa dia tiba-tiba muncul dan bahkan meminta putus lengkap dengan semua bukti hubungan kami?” batin Pelangi semakin ketar-ketir.


Dean yang sampai ngos-ngosan, menatap Pelangi berikut ketiga pria di depannya dengan tatapan cemas. Dean merasa ada yang tidak beres dengan kebersamaan Pelangi berikut ketiga pria yang baginya sangat asing. Sebelumnya, Dean belum pernah melihat ketiga pria tersebut. Bahkan Dean yakin, ketiganya memang orang asing yang baru ia temui. Lantas, apa maksud ketiganya ada dan bahkan sampai bersama Pelangi, sedangkan wajah Pelangi menyiratkan banyak kecemasan?


“Ngi, tadi kamu teriak?” bisik Dean sesaat setelah merepatkan tubuhnya pada Pelangi yang masih menghadap padanya.


Pelangi langsung menengadah. Ia menatap sang adik tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas yang juga membuatnya cukup ketakutan. Karena biar bagaimana pun, keberadaan Kim Jinnan yang tiba-tiba ada dalam hidupnya tidak bisa dipandang remeh. Terlebih, Kim Jinnan terlihat jelas bukan orang sembarangan.


“Kalian mengganggu kakakku?” semprot Dean sambil menatap kesal Kim Jinnan dan kedua pengawal pria itu.


Pelangi yang masih berdiri di sebelah Dean, berangsur balik badan dan membuatnya kembali menghadap Kim Jinnan.


Kim Jinnan mengangsurkan tangan kanannya pada Dean untuk berjabat tangan. “Aku Kim Jinnan, pacar kakakmu. Aku pacar Pelangi.”


Pengakuan Kim Jinnan sukses membuat Pelangi dan Dean terkesiap. Keduanya yang sempat menatap Kim Jinnan dengan tatapan tak percaya, juga berangsur bertatapan. Namun tak lama setelah itu, Pelangi menjadi sibuk menggeleng, menepis jauh-jauh pengakuan pria bernama Kim Jinan itu.


“Apakah kamu juga tidak mengenalku? Aku pikir, ... aku sudah cukup terkenal?” ujar Kim Jinnan sesaat setelah sampai menghela napas kesal. Ia benar-benar merasa tak habis pikir lantaran tanggapan Dean begitu diselimuti kecurigaan. “Baiklah, kita fokus pada urusan kita. Aku, ... pacar Pelangi.”


Dean menjadi menatap tajam Kim Jinnan. Dan bersamaan dengan itu, kehidupan seolah hanya berporos padanya dan pria di hadapannya. “Untuk pertama dan terakhir kalinya aku tegaskan, jangan pernah menganggu Pelangi. Karena sampai kapan pun, sipa pun yang mencari masalah apalagi sampai menyakiti Pelangi, orang itu akan otomatis berurusan denganku! Camkan itu!”


Tanpa keraguan, Dean menggandeng Pelangi dan membawa gadis itu berlalu dari hadapan Kim Jinnan berikut kedua pria bertubuh sangar yang ada di belakang Kim Jinnan.


Bersambung ....


Siapa yang kangen Author? 😂😂😂😂


Kangen Selepas Perceraian?


Bakalan Author kebut ceritanya, buat mengobati rasa kangen kalian 🤣🤣🤣


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya.


Play boy Kim Jinnan harua dijinakkan 🤣🤣🤣


BTW, sesuai janji Author, paket novel hadiah pembaca paling aktif di komen dan vote untuk cerita Selepas Perceraian itu : Kak Nyunyun. Kakak berhak mendapatkan hadiah 2 novel cetak karya Author. Judulnya :


Pelangi di Langit Mendung


As One


Selamat. Nanti chat pribadi buat alamat pengirimannya, yaa.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi


__ADS_2