Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 59 : Hubungan Saudara


__ADS_3

“Ini baru pacaran. Belum kalau sampai ke jenjang yang lebih! Apakah di matamu, Atala lebih dari segalanya bahkan dari hubungan kita?!”


Bab 59 : Hubungan Saudara


Dengan rambut yang masih setengah basah dan masih awut-awutan, Mofaro yang sudah mengenakan celana panjang berikut kaus oblong tak berlengan, memasuki dapur. Selain di sana tampak Rafaro yang sedang memasak ramen, si kecil Aurora juga berlari dari belakang mendahului Mofaro.


“Rora ... sini, Kakak bilangin,” ujar Mofaro. Sebelah tangannya masih mengacak-acak susunan rambutnya dan memang begitu caranya dalam mengeringkan rambut. Sedangkan sebelah tangannya lagi, terulur pada Aurora yang langsung berhenti dan menunggunya.


“Ada apa, Kak Mo?” tanya Aurora yang sampai terbengong menatap Mofaro saking penasarannya.


“Tapi bentar. Tenggorokan Kakak kering begini. Kakak minum dulu.” Mofaro segera membuka lemari yang ada di sebelah kepalanya dan merupakan tempat keberadaan aneka gelas.


Mofaro mengambil satu gelas berukuran besar dari sana, kemudian membuka lemari di bawah keberadaan gelas selaku lemari keberadaan dispenser. Ia mengisi gelasnya di sana nyaris penuh dan kemudian meminumnya.


“Rora Kak Rafa masak ramen. Rora mau?” tanya Rafaro yang sempat menoleh ke belakang dan mendapati Aurora masih terjaga menunggu Mofaro.


Ketika Aurora langsung berseru menuangkan keinginannya, Mofaro juga tak mau kalah. Karena meski masih minum, pemuda itu bergumam sembari mengangkat sebelah tangannya sangat tinggi, tak ubahnya bocah yang sedang berebut perhatian untuk mendapat giliran.


“Oke ... oh, iya, Rora, ... di kulkas ada yogurt sama jelly dari kak El, ya?” sambung Rafaro.


Kali ini, ketika Aurora langsung kegirangan dan berlari ke seberang Rafaro selaku keberadaan kulkas, yang terjadi pada Mofaro justru langsung tersedak.


“El?” ulang Mofaro dalam hati. Mofaro sampai terbatuk-batuk. “Elia?” ulangnya memastikan sambil menatap tak percaya Rafaro.


Rafaro yang menatap bingung sang kakak sambil kemudian mematikan kompornya, berangsur mengangguk. Ia siap menuangkan ramen di pancinya ke dalam mangkuk yang juga baru saja ia siapkan di meja tengah dapur. Ada tiga mangkuk di sana karena selain Aurora, Mofaro juga minta jatah.


“Serius si Elia ke sini?” lanjut Mofaro dengan suara yang semakin tinggi. “Gila tuh cewek! Beneran nekat ke sini buat ngadu ke mom?” pikirnya yang kemudian meletakkan gelas minumnya yang isinya sudah tandas.


“Enggak ... tadi kebetulan kami bertemu,” ucap Rafaro sembari mengisi setiap mangkuk dengan ramen menggunakan sumpit.


“Kalian pacaran?!” pekik Mofaro makin uring-uringan.


Rafaro yang awalnya menunduk menatap kinerjanya mengisi ramen ke setiap mangkuk, menjadi mengernyitkan dahi. “Kata siapa?” ujarnya yang justru balik bertanya. Di mana sesekali, ia juga menatap Mofaro.


Mofaro segera melangkah cepat menghampiri Rafaro. Dan ketika ia sudah sampai di sebelah Rafaro, sebelah tangannya langsung meraba kening berikut leher Rafaro.


“Hei ... hei ... apa-apaan, ini?” protes Rafaro yang kemudian menepikan panci ramen yang telah kosong, ke dalam wastafel, hingga ia menjadi meninggalkan Mofaro.


“Kalau kalian sampai pacaran, aku bakalan ngadain doa bersama biar kamu dapat hidayah!” celetuk Mofaro yang kemudian mengambil semangkuk ramen dari meja lengkap dengan supit yang segera ia ambil dari laci di seberang.


Rafaro menertawakan ucapan Mofaro. “Serius?” ucapnya memastikan dan kemudian menarik laci di bawah kompor, selaku keberadaan sumpit berikut sendok.

__ADS_1


“Jawabanmu, seolah-olah kamu itu membenarkan anggapanku, lho, Raf!” cibir Mofaro yang kemudian menyeruput ramennya dengan cepat.


Rafaro masih menertawakan kembarannya tanpa pembalasan berarti. Membuat yang bersangkutan semakin kesal lantaran sangat penasaran. Terlebih, Rafaro yang Mofaro tunggu untuk segera memberi penjelasan justru sengaja mendekati Aurora dan membantu bocah itu memakan ramen, sambil sesekali memakan ramennya sendiri.


“Ditiup dulu. Pelan-pelan, yogurt sama jellynya simpen dulu. Makannya kalau beres makan ramen.” Rafaro benar-benar memantau Aurora dalam makan tak ubahnya seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya.


Dan Mofaro hanya tersungut-sungut menatap Rafaro sambil menghabiskan ramennya. “Kebiasaan! Ngeselin! Selalu saja bikin penasaran padahal kamu tahu kalau aku orangnya gampang penasaran!” cibirnya.


Apa yang Mofaro keluhkan justru membuat Rafaro tertawa girang diikuti juga oleh Aurora.


“Kalian beneran sengaja bikin tambah kesal, ya?!" omel Mofaro.


Lantaran Rafaro dan Aurora tetap saja tertawa, Mofaro pun mengakhiri keluhannya. “Sebenarnya, seperti apa sih, perasaan Rafaro ke Elia? Aneh saja, tahu Elia cinta berat, si Rafa justru biasa-biasa saja bahkan terkesan mau kasih harapan palsu?” pikir Mofaro.


***


Sebelum menemui orang tuanya dan membahas perihal Atala pada orang tuanya, Elia berniat menanyakannya lebih dulu kepada Elena. Elia ingin tahu, sejauh mana hubungan adik kembarnya itu dengan Atala? Juga, apakah ada kemungkinan Elena melepas pria itu yang bahkan lebih pantas menjadi paman mereka?


Kini, Elia yang sudah mengintip situasi kamar Elena dari balik pintu kamar Elena yang sedikit ia buka, berangsur mengetuk pintunya dengan ragu. “Lena?” panggilnya lirih.


Namun, lantaran kedua telinga Elena tersumpal headset, sedangkan gadis itu tampak sedang menulis di meja belajar, Elia pun segera masuk dan menghampiri.


Ketika mendapati Elia berdiri di sebelah meja belajarnya, Elena segera melepas headset kemudian menyisihkannya berikut ponsel selaku sumber musiknya ke meja.


“Masih sibuk?” tanya Elia memastikan.


Elena yang awalnya langsung terdiam bingung, segera menggeleng. “Tinggal dikit lagi, kok. Memangnya ada apa?” tanyanya.


“Duduk, yuk?” ajak Elia yang kemudian melakukan gerakan wajah dan menuntun Elena untuk menatap ke arah keberadaan tempat tidur Elena. Di mana tak lama setelah itu, ia berangsur melangkah dan kemudian duduk di sana.


Elena yang terlihat menjadi kebingungan, berangsur menyusul. “Kok kamu serius banget? Memangnya ada apa?” tanyanya yang kemudian duduk di sebelah Elia.


“Lena ... kalau boleh tahu, sejauh apa hubunganmu dengan Atala?” tanya Elia hati-hati.


Elena langsung memberikan ekspresi tidak nyaman bahkan tidak suka. “Hubungan kami baik-baik saja. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan, kok.”


“Maksudku bukan begitu,” balas Elia mencoba menjelaskan.


Elena segera menggeleng cepat. “Meski kita kembar bahkan sekalipun kamu kakakku, bukan berarti kamu bisa seenaknya mengaturku ini itu, ya, Li. Lagi pula, selama ini aku juga enggak pernah ikut campur urusanmu apalagi urusan pribadimu.”


Balasan Elena sukses membuat Elia nelangsa. Seperti ada sembilu yang mendadak sibuk menyayat hatinya hingga hatinya terasa sangat sakit. “Kok kamu ngomong begitu, sih?” Elia benar-benar bingung. Apa yang sebenarnya Elena pikirkan tentang maksudnya yang sungguh hanya ingin tahu? Ingin memastikan Elena baik-baik saja apalagi sejauh ini, mengenai Atala, di mata Elia pria itu terbilang kasar. Dan tentu, sebagai kembaran sekaligus kakak Elena, Elia tidak mungkin baik-baik saja jika Elena bersama dengan pria seperti Atala.

__ADS_1


Elena menelan ludah cepat dan semakin tidak bisa mengendalikan ketidaknyamanannya. “Aku tahu selama ini kamu selalu lebih baik daripada aku!”


“Aku enggak pernah bilang begitu dan enggak pernah meminta siapa pun apalagi kamu, untuk mengakuiku seperti itu! Tolong, Lena ... jangan begini! Di dunia ini enggak ada yang lebih berhaga dari hubungan saudara!” tegas Elia yang langsung berdiri dan memotong penjelasan Elena.


Elena langsung terdiam kendati wajah tenang yang selalu dihiasi senyum tipis, menjadi merengut kesal. Kenyataan yang membuat Elia yakin, Elena sedang sangat marah.


“Ini baru pacaran. Belum kalau sampai ke jenjang yang lebih! Apakah di matamu, Atala lebih dari segalanya bahkan dari hubungan kita?!” lanjut Elia dengan mata yang sampai berkaca-kaca.


Sambil menepis tatapan Elia, Elena berkata, “ya!”


Balasan Elena sukses membuat jantung Elia berhenti berdetak untuk beberapa saat, setelah seperti ada benda keras yang menghantam dadanya. Dan tak lama setelah itu, air mata Elia menjadi rebas. Elia benar-benar tidak bisa mengontrol apalagi menahan air matanya untuk tidak mengalir.


“Ya ... Atala lebih dari segala-galanya. Atala sangat berharga melebihi apa pun!” tegas Elena lagi tanpa menatap Elia yang masih berdiri di hadapannya.


“Lena ...?” isak Elia sambil terus menatap Elena di tengah pandangannya yang menjadi buram lantaran air matanya terus saja mengalir.


“Itu, kan, yang kamu mau? Ya sudah ... memang kenyataannya begitu!” tegas Elena yang kali ini sampai menatap Elia. Tentu, bukan tatapan hangat layaknya biasa. Sebab yang ia berikan kali ini bahkan mungkin ke depannya, merupakan tatapan kecewa yang juga dipenuhi banyak kekesalan.


“Lena ...,” rintih Elia benar-benar memohon.


Elena menghela napas cepat. “Sederhananya begini, Li! Apa yang aku rasakan sekarang, sama halnya ketika ada yang nanya-nanya hubunganmu dan Rafa, dengan nada sarkas! Kamu sangat mencintai Rafa, kan? Dan begitulah aku pada Atala!” tegasnya.


Elia menggeleng-geleng. “Secinta-cintanya aku sama Rafa, aku masih pakai logika bahkan otak, Lena!” balas Elia yang sampai terisak-isak.


“Ya anggap saja kalau aku enggak punya logika sama otak, kayak yang kamu pikirkan!” tegas Elena cepat.


“Seorang Elena yang dikenal sangat santun bahkan anggun, sampai bertutur kasar tanpa aturan, hanya karena cintanya pada seorang Atala?” batin Elia yang telanjur kecewa.


“Ya sudah ... semoga kamu bahagia dengan keputusanmu,” ucap Elia sambil menyeka asal air matanya.


“Ya, tentu. Akan lebih bahagia lagi kalau kamu juga urus hidupmu tanpa sibuk mengurus hidup orang lain termasuk hidupku!”


Antara sedih dan sakit, itulah yang Elia rasakan saat ini. Sungguh, bagi Elia tak ada luka yang lebih menyakitkan dari diburuk sangka oleh saudara bahkan kembaran sendiri.


Elia tak kuasa menjawab terlebih gadis itu sadar, dirinya tipikal cengeng yang terlalu mudah terbawa perasaan. Elena benar-benar takut jika apa yang ia lakukan justru semakin membuat Elena membencinya. Apalagi dilihat dari cara Elena menyikapinya, sepertinya adiknya itu justru menyimpan rasa lain terhadapnya.


Bersambung ....


Perdebatan semacam ini pernah Author alami. Author jadi Elia dan sumpah, rasanya enggak enak banget.


Masih semangat mengikuti kisah mereka?

__ADS_1


BTW, sebenarnya bagaimana sih, perasaan Rafa ke Elia? Juga, perasaan Mo ke Elia? 😂😂😂😂


Maaf ya, kalau upnya malam terus. Bayangkan, Author garap 4 naskah sekaligus 🤣🤣🤣🤣. Bahkan penjualan buku versi cetak Author tahan dulu 😂😂😂


__ADS_2