
“Kalau kamu mencintai apa yang kamu jalani, semuanya akan terasa lebih mudah bahkan menyenangkan. Enggak bakalan merasa bosan apalagi tertekan!”
Bab 78 : Cerita Kita
***
“K-kimo, aku melupakan satu hal!” seru Rara tiba-tiba.
Kimo yang baru saja akan memasuki kamar mandi dan posisinya tak jauh dari Rara, segera balik badan. “Apa?” sergahnya penasaran.
“Ponsel! Ponselku mana?” Rara tak sabar dan terlihat panik bahkan cemas.
“Buat apa? Ini sudah hampir jam dua belas malam!” omel Kimo merasa tak habis pikir.
Rara yang sekadar mengangkat kepalanya saja masih susah, segera menggeleng. “Aku ada deadline menulis. Dua hari lagi harus aku kumpulkan dan masih kurang lima belas ribu kata. Ayo cepetan tolong ambilkan ponselku!” rajuknya.
Kimo menghela napas sambil berkecak pinggang. “Ini kamu masih sakit, ya, Ra,” tegasnya lirih dan mulai kesal lantaran ia sungguh berharap Rara fokus istirahat agar wanita itu lekas sehat.
“Tapi deadline enggak kenal sakit atau alasan apa pun, Kimo!”
Rara belum selesai menjelaskan, tetapi Kimo langsung berkata, “kalau memang belum kenal, ya suruh kenalan! Siapa tahu cocok atau malah jodoh! Kamu berharap aku ngomong begitu, kan?”
Kimo berangsur menggeleng tak habis pikir. Menyadari itu, Rara sengaja memasang wajah memelas sekaligus manja. Rara ingat, Kimo pernah berkata akan mengabulkan semua keinginan Rara, asal Rara merengek atau setidaknya memasang ekspresi manja kepada Kimo. Namun sepertinya itu ada pengecualiannya. Sebab, meski Rara sudah merengek bahkan memasang ekspresi manja, balasan Kimo tak beda dengan ekspresi dokter dalam video lagu anak berjudul “Five Little Mongkeys” yang sering Rara putarkan untuk Pelangi. Galak dan menyebalkan, benar-benar tidak ada ekspresi lain!
“Ya sudah, kalau begitu, biar aku saja yang mengerjakannya. Kamu yang ngomong, aku yang ngetik?” tawar Kimo dengan wajah judes khasnya.
“Bukannya aku meragukan kemamampuanmu, tapi menulis enggak teliti, salah tik atau salah tanda baca saja, bisa disemprot sama editor, tahu!” keluh Rara.
“Kamu ini menghina banget. Begini-begini, aku lulusan terbaik di universitas Australia, tahu! Kamu tahu universitas,”
Rara menahan balasan Kimo. “Sudah ... sudah, enggak usah membahas pendidikan. Meski aku hanya lulusan universitas lokal, tapi banyak lulusan luar negeri yang pesan naskah ke aku! Maaf, ya, aku enggak bermaksud sombong.” Padahal Rara sengaja pamer membalas Kimo yang mengaku lulusan luar negeri dan jelas akan kembali menganggap remeh Rara.
Kimo menghela napas pelan sambil terpejam. “Sudah mau menikah, kita masih sering cekcok. Baiklah, aku yang ngetik, kamu yang ngomong, sambil ngoreksi ketikanku.” Setelah mengatakan itu, ia menatap Rara penuh kepastian.
Rara tersenyum lepas merayakan kemenangannya. “Terima kasih, Sayang!”
Kimo mendengkus. “Kalau ada maunya ya begitu! Sayangnya sampai keluar!” cibirnya sinis sekaligus pasrah.
__ADS_1
***
Awalnya, Kimo duduk sambil mencondongkan tubuh ke hadapan Rara agar wanitanya itu bisa membaca apa yang ia tulis melalui ponsel Rara, melanjutkan cerita yang sudah ada. Namun, karena mengetik membutuhkan waktu lama, Kimo yang sering mendapat koreski dari Rara akhirnya kewalahan dan bahkan menyerah.
“Lima menit masih begini, aku beneran bisa encok, Ra!” keluh Kimo yang kemudian melakukan peregangan. “Sudah dapat berapa sih, ngetiknya? Tadi kan sudah empat puluh empat ribu, lah ... kok baru dapat empat puluh lima ribu? Aku sudah ngetik dua jam lebih hanya dapat seribu kata?”
Menyadari Kimo tersulut emosi, Rara segera berkata. “Jangan banting ponselku!” Rara yakin, kenyataan tersebut akan terjadi lantaran Kimo tipikal yang jauh dari penyabar.
“Menguras emosi!” cibir Kimo sambil melirik sinis Rara.
“Kalau kamu mencintai apa yang kamu jalani, semuanya akan terasa lebih mudah bahkan menyenangkan. Enggak bakalan merasa bosan apalagi tertekan!” ucap Rara mencoba memberi pengertian.
“Tahu-tahu kesehatanmu langsung ambruk. Pantes saja kamu langganan tifus, ternyata proses nulis seribet ini!” cibir Kimo lagi yang berangsur meraih sebotol air mineral dari nakas di sebelahnya kemudian menenggaknya.
“Wah …!” Kimo tersenyum lepas dan tampak tak percaya ketika Rara memintanya untuk tidur di sebelahnya. “Kalau begini aku semangat!” sambutnya menggebu-gebu.
Rara sengaja melakukannya untuk mempermudah kinerja Kimo. “Di sebelah kanan. Jangan di Kiri. Di kiri kan ada selang infus,” tegur Rara masih sabar.
“Iya. Ini hanya membenarkan infusmu. Enggak jalan tuh, enggak menetes,” ujar Kimo yang membenarkan selang infus Rara.
“Spasi ... spasi. Bukan tulisan spasi, tetapi, nah iya, maksudku pencet spasi.” Rara menatap takjub Kimo. Pria yang sangat tidak sabaran dan emosional itu mau-maunya saja menghadapinya dan semakin sering mengalah. Di mana, semakin ke sini, Kimo juga semakin penyayang sekaligus dewasa.
“Kelak, akan kuceritakan cerita kita pada dunia. Bahwa di antara banyaknya kisah yang ada, cerita kita merupakan satu di antara kisah yang teramat mengesankan!” batin Rara.
Rara mengusap kepala Kimo yang tertidur dan ia yakini karena kelelahan di sebelahnya. Tadi, Kimo sempat mengeluh jika ke dua tangannya sampai terasa sangat pegal hanya mengetik berapa ribu kata. Bahkan karenanya, Kimo meminta Rara tidak terlalu memforsir waktu untuk menulis.
***
“Bagaimana, apakah sudah selesai?” ujar Yuan sambil menyingsingkan lengan kemejanya.
Keinya yang sedang mengaduk sup di panci, refleks menoleh kemudian mengulas senyum. “Tinggal dimasukan rantang.”
Yuan segera mencuci tangannya di wastafel sebelah Keinya. “Bagaimana dengan Pelangi? Sudah bangun, sudah siap, kan?”
“Kan sama Mami. Mereka sedang main di kamar,” jelas Keinya mengingatkan sambil menyiapkan rantang yang sudah ada di meja dan posisinya memang ada di tengah-tengah dapur.
Karena kecelakaan yang menimpa Rara, Keinya berikut Khatrin memang bermalam di apartemen. Di mana, Khatrin sedang getol-getolnya mendekati Pelangi apalagi Pelangi juga mulai dekat dengan Khatrin. Namun ketika Pelangi melihat Keinya dan Yuan, Pelangi langsung tidak mau lagi dengan Khatrin. Jadi, ketika Pelangi tidak harus meminum ASI Keinya, Khatrin yang ingin lebih lama bersama Pelangi, sengaja menjauhkannya dari Keinya dan Yuan.
__ADS_1
“Ya ampun, bahkan aku lupa mami ada di sini,” keluh Yuan sambil menertawakan dirinya sendiri.
Keinya ikut menertawakan Yuan meski tawanya tidak sampai bersuara. Pria itu bergegas menuju kulkas yang ada di sudut depan mereka.
“Aku mau bikin smoothie. Kamu mau sarapan apa?” tanya Yuan sambil melongok persediaan buah berikut sayur dan juga yoghurt di dalam kulkas.
“Smoothie dan roti gandum cukup,” balas Keinya yang menyusun bekal khususnya untuk Rara.
“Lima menit kemudian langsung makan satu baskom, ya?” goda Yuan mengingat nafsu makan Keinya memang menjadi berkali-lipat, semenjak kembali memberi Pelangi ASI.
Keinya yang tersipu menahan tawanya. Bersama Yuan, semuanya benar-benar menjadi lebih mudah. Yuan bukan tipikal manusia egois semacam Athan yang hanya ingin dimengerti, karena Yuan juga selalu memperhatikannya. Bahkan terkadang, Keinya merasa Yuan jauh lebih peka dari siapa pun tanpa terkecuali dari Khatrin selaku wanita yang telah melahirkan Keinya.
“Meski kita belum lama menghabiskan waktu bersama, meski kamu bukan pria pertama yang membuatku jatuh cinta, di waktu yang singkat ini, kamu sudah mengukir banyak warna kebahagiaan untukku. Ibarat pelangi, warna-warna itu tersusun dalam kesatuan menyertai setiap langkahku yang menjadi kian berarti. Aku yakin, kelak, cerita kita yang berwarna ini akan mewarnai dan menjadi satu di antara warna terindah yang menghiasi kehidupan,” batin Keinya tak hentinya bersyukur.
Rencananya, setelah sarapan, mereka akan menjenguk Rara sebelum Yuan berangkat kerja, sedangkan Keinya akan menjaga Rara menggantikan Kimo.
“Sayang, kamu sudah ada bayangan, gaun seperti apa yang akan kamu pakai di pernikahan nanti?” tanya Yuan sambil mencuci buah berikut sayuran pilihannya.
Yuan dan Keinya saling memang tengah memunggungi, tetapi ada kalanya mereka menoleh dan saling tatap dalam menanggapi setiap pertanyaan yang mereka layangkan.
****
Awalnya, suasana ruang rawat Rara yang begitu sepi membuat Yuan dan Keinya yang baru datang, menjadi sedikit khawatir. Namun ketika keduanya mendapati ransel Kimo berikut pria itu yang tertidur meringkuk di sebelah Rara, kekhawatiran mereka pun sirna.
“Lihatlah. Bukankah ini cerita kita? Tetapi mereka sudah terlalu banyak mengambil jatah cerita kita!” protes Yuan.
Keinya terkikik dan menekapkan sebelah tangannya pada mulut. “Aku takjub, Kimo benar-benar potong rambut!”
“Sepertinya dugaanmu memang benar, mereka akan lebih dulu menikah mendahului kita.” Yuan masih mengeluh.
“Siapa pun dari kita yang lebih dulu menikah, bukan masalah. Asalkan sudah benar-benar siap dan mantap, menikah ya sah-sah saja. Terlebih, menikah bukan ajang perlombaan cepat atau lambat. Menikah ya tergantung yang menjalani,” ujar Keinya. “Kita yang menentukan karena kita yang akan menejalani!”
Yuan merangkul mesra pinggang Keinya. “Ayo mulai ikut bimbingan pernikahan biar cepat dapat sertifikat layak menikah!” ajaknya.
Obrolan Yuan dan Keinya terhenti lantaran sebuah bantal guling menyambar mereka. Ketika mereka memastikan, itu guling yang sempat didekap Kimo. Keinya terkikik dan segera menaruh rantang bekalnya di meja dekat wastafel, sedangkan Yuan yang menggeleng tak habis pikir, memungut bantal gulingnya kemudian membangunkan Kimo.
*****
__ADS_1