
“Aku tidak suka kamu bergantung pada orang lain bahkan pada saudaraku sendiri. Jadi, jangan pernah bergantung pada orang lain. Dan mulai sekarang, bergantunglah kepadaku. Kamu cukup bergantung kepadaku ....”
Bab 71 : Duri dalam Hubungan
Akhir-akhir ini, Kishi selalu melihat bayang-bayang Feaya di sekolah. Di setiap Kishi memandang ketika di sekolah, sosok gadis gendut berkacamata yang begitu hobi makan itu pasti ada. Ya, sosok yang juga menjadi satu-satunya sosok yang berani menegur Kishi, agar Kishi menjaga jarak bahkan menjauhi Dean.
Awalnya, Kishi berpikir jika dirinya hanya berdelusi. Belum lagi, Feaya sudah meninggal dan Kishi juga melihat sendiri bagaimana prosesnya. Akan tetapi, lantaran bayang-bayang Feaya selalu Kishi lihat di setiap Kishi ada di sekolah, Kishi pun yakin, ada maksud lain dari kenyataan tersebut.
“Padahal aku sudah tidak memikirkan Feaya?” pikir Kishi.
Atau mungkin, karena Kishi masih merasa sangat bersalah, terlebih biar bagaimanapun, Kishi menjadi alasan kuat seorang Feaya bunuh diri? Dan bukankah, alasan Dean menolak Feaya bahkan untuk sekadar membujuk gadis itu, karena Dean ingin selalu menjaga hati Kishi?
Layaknya kini, Kishi sengaja memelankan langkahnya lantaran ia terus saja melihat bayang-bayang Feaya. Wajah Feaya yang kali ini ada di hadapannya, terlihat sangat pucat, terlepas dari Feaya sendiri yang sama sekali tidak berekspresi. Feaya menatap lurus ke arah Kishi, dan dari pengamatan Kishi, Feaya sampai tidak berkedip.
Benar-benar tidak ada tanda Feaya bernapas meski hanya bernapas sangat pelan sekalipun. Bahkan karenanya, Kishi sampai menjadi merinding, apalagi kini, Kishi yang berangkat lebih awal, tidak disertai murid lain. Di lorong seberang kelasnya benar-benar sepi dan hanya dihuni Kishi berikut bayang-bayang Feaya.
“Apakah kamu arwah?” tanya Kishi yang sudah telanjur penasaran. “Pergilah. Ini sudah bukan tematmu lagi,” lanjut Kishi.
Bayang-bayang Feaya hanya diam sembari masih menatap lurus kedua manik mata Kishi.
“Aku tidak takut hantu apalagi arwah gentayangan, karena aku sebagai manusia, jauh memiliki posisi yang lebih mulia,” tambah Kishi lagi sembari menatap bayang-bayang Feaya.
Kishi memang tidak takut, sebab seperti anggapannya, posisinya sebagai manusia jauh lebih mulia dari hantu apalagi arwah penasaran. Pun meski pada kenyataannya, Kishi tak hentinya merinding. Dan terlepas dari itu, tubuh Kishi juga sampai meremang panas-dingin.
Ketika Kishi nyaris berlalu mengabaikan bayang-bayang Feaya, yang ada sosok tersebut justru berderai air mata dan menatap Kishi dengan sangat memohon. Kenyataan tersebut pula yang membuat Kishi menjadi iba. Kishi merasa turut bersedih dan sebisa mungkin ingin membantu Feaya.
“Pasti sangat sulit, ya? Kamu pergi di saat yang belum, atau malah tidak kamu harapkan?” ujar Kishi sampai berkaca-kaca, seiring rasa panas yang menyerang matanya. “Tapi mungkin memang jalanmu harus begitu. Kamu harus ikhlas,” lanjut Kishi yang kali ini sudah sampai berlinang air mata.
“Apakah arwah Feaya belum bisa tenang?” pikir Kishi lagi. Namun jika Kishi melihat latar belakang Feaya, Kishi jadi curiga, mungkin Feaya tidak mendapat perlakuan baik di keluarganya, termasuk perihal doa?
“Aku akan membantumu. Sebisaku.” Kishi mencoba meyakinkan Feaya.
Dan meski masih saja menangis, tetapi lama-lama bayangan Feaya berangsur menghilang.
“Demi Tuhan ... apa yang baru saja aku lakukan? Aku bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan arwah?” pikir Kishi.
Tak lama setelah itu, beberapa murid silih berganti lalu-lalang, seolah-olah, pertemuan Kishi dan Feaya memang sudah ditakdirkan, dan sengaja dibuat hanya untuk keduanya. Pun dengan Dean yang tiba-tiba merangkul punggung Kishi dari belakang. Dean terlihat jelas sengaja membuat kejutan, apalagi pemuda itu juga sampai melongok wajah Kishi sambil memberikan senyum termanisnya.
“Lho, kok nangis?” ujar Dean kemudian lantaran kedua mata Kishi yang ia dapati berdiri di tengah-tengah lorong, justru basah sekaligus merah.
Kishi segera menyeka air matanya. “Enggak apa-apa.”
Namun Dean tidak percaya dengan tanggapan Kishi yang bahkan sampai menghindari tatapannya.
__ADS_1
“Cerita saja. Aku selalu dukung kamu, kok,” ujar Dean dengan suara yang menjadi lirih.
“He’um!” Kishi yang mesih menunduk sembari menyeka tuntas air matanya, berangsur mengangguk-angguk.
Karena bagi Kishi, meski ia dan Dean masih sangat muda untuk memahami cinta, tetapi meraka sama-sama belajar melengkapi satu sama lain. Mereka selalu mendukung dan terus menjaga kepercayaan yang menjadi sumber pokok dalam sebuah hubungan.
“De, kalau aku bilang, aku kembali melihat Feaya, bahkan kali ini dia sampai menangis dan seperti minta tolong kepadaku, apakah kamu akan percaya, atau justru menganggapku gila?” ucap Kishi yang sampai menengadah demi menatap Dean.
“Kurang logis, sih. Tapi kalau kamu sampai nangis dan sesedih ini, aku percaya-percaya saja. Tapi, kenapa Feaya justru menemuimu?” balas Dean yang menanggapinya dengan tenang, di mana, mereka kompak menghentikan langkah di tengah koridor seberang koridor keberadaan kelas mereka.
“Jadi, kamu lebih berharap, Feaya menemuimu, ketimbang dia yang menemuiku?” balas Kishi yang kali ini memang melayangkan protes. Sembari menyeka air matanya yang masih saja mengalir, Kishi kerap memanyunkan bibirnya.
“Dikejar hantu jauh lebih membuatku menjadi mulia, ketimbang melihatmu dikejar-kejar Frendy. Tuh cowok enggak punya urat malu, soalnya!” balas Dean yang memang menjadi sangat kesal pada Frendy.
Akhir-akhir ini, Frendy selaku pemuda yang sempat berusaha merundung Kishi lantaran mengira Kishi sebagai adik Kim Jinnan, memang menjadi gencar mengejar Kishi. Tak peduli meski Dean selalu ada di sisi Kishi bahkan Frendy juga sudah mengetahui hubungan Kishi dan Dean. Sampai-sampai, Dean juga kerap terlibat cekcok dengan Frendy. Bahkan, Dean selalu mengusir Frendy jika pemuda itu datang ke kelas mereka.
Layaknya kini, contohnya. Di meja milik Kishi sudah dihiasi setangkai mawar merah yang begitu segar terbungkus plastik bening dilrngkapi pita merah berikut kartu ucapan. Dan meski tahu itu untuk dirinya, Kishi memilih abai dan justru memberikannya kepada Dean.
“Dia benar-benar mau jadi duri dalam hubungan kita?” rutuk Dean yang kemudian mengeluh dan menyeringai, lantaran duri di tangkai mawar yang dipegang, sampai melukai jari telunjuknya.
“Dean ... harusnya tadi langsung dibuang saja,” sesal Kishi yang baru mengeluarkan sekotak tisu basah dan siap mengelap meja berikut kursinya, layaknya biasa sebelum ia menempatinya.
Kishi langsung mengambil sehelai tisu basahnya dan kemudian mengelap darah di ujung telunjuk kanan Dean, dengan tisu tersebut.
“Sakit di jariku, enggak ada apa-apanya dari sakit di hatiku, kalau lihat kamu didekati cowok lain, lho, Kii!” keluh Dean. “Apalagi kalau yang dekatin kamu sekelas Frendy yang enggak punya urat malu,” tambahnya.
Kishi masih serius menekan-nekan telunjuk kanan Dean, hingga tisu basah yang ia gunakan, berubah menjadi merah.
“Oh, gitu?” ujar Dean terdengar terkejut sekaligus tak percaya.
“Jangan pura-pura enggak tahu,” cibir Kishi dan langsung membuat Dean tersipu.
Kishi berangsur menatap Dean, “mulai sekarang, kita sama-sama tahu. Jadi, kita enggak usah saling cemburu asal kita juga bisa jaga hati sekaligus kepercayaan hubungan kita. Asal yang mendekatiku bukan wanita dan yang mendekatimu bukan pria apalagi waria, ... aku rasa, semuanya masih aman?” ucapnya.
Kishi mengakhiri ucapannya dengan senyum yang begitu manis dan membuatnya terlihat sangat imut.
“Waria?” ujar Dran yang sampai terkikik dan kemudian menahan senyum geli.
Hal yang sama juga menimpa kishi, di mana ia juga membiarkan Dean mengelus kepalanya. Tak peduli meski semua murid langsung memandang bahkan bersorak iri pada kebersamaan mereka.
“Kalian harus terbiasa melihat kami kompak!” ujar Dean memberi teman sekelasnya pengertian.
“Enggak cuma terbiasa, karena kami sudah sampai karatan, gara-gara lihat kaian selalu pamer kemesraan!” balas salah satu dari mudir yang ada di sana dan langsung membuat kebersamaan menjadi riuh.
__ADS_1
Dean tergelak mendengar balasan tersebut. Namun kemudian, ia memberikan setangkai mawar merah dari Frendy, cuma-cuma pada yang mau. Sedangkan Kishi memilih mengelap meja dan kursinya menggunakan tisu basahnya tanpa mengikuti keramaian yang masih menyertai. Sebab, fokus Kishi kini dikuasai dengan janjinya kepada Feaya. Kishi akan membantu Feaya, bagaimanapun caranya.
“Aku akan mrmakai uang sakuku untuk membeli sembako dan menyumbangkannya atas nama Feaya. Ya, aku akan ke panti asuhan dan meminta anak-anak panti untuk membantu Feaya melalui doa!” pikir Kishi.
Karena bagi Kishi, satu-satunya hal yang tetap bisa menolong seseorang bahkan bagi mereka yang sudah meninggal, hanyalah doa. Dan Kishi percaya, seorang Feaya juga sangat membutuhkan banyak kiriman doa, untuk gadis itu melanjutkan ke kehidupan selanjutnya.
***
Tepat ketika Elia akan turun dari mobil Rafaro, Elia akhirnya bersuara setelah kebersamaan mereka hanya dihiasi sunyi.
“Makasih, ya!” ucap Elia.
Padahal, alasan Elia mau menerima bantuan Rafaro yang memaksa ingin mengantarnya, juga karena terpaksa. Sebab awalnya, Elia juga sudah diantar sopir pribadi Khatrin. Namun, Rafaro yang tak biasanya sampai memaksa bahkan bersikap dingin, membuat Elia tak kuasa menolak.
Yang membuat Elia bingung, bukan semata Rafaro yang hanya diam dan terkesan mendiamkannya. Melainkan karena pemuda itu juga tak kunjung membuka kunci mobilnya, kendati mesin mobil sudah dimatiian. Mereka sudah menepi di pinggir jalan dekat pintu masuk gerbang sekolah.
Elia yang menjadi merasa tidak nyaman, mengamati suasana luar sebelum akhirnya kembali menatap Rafaro yang masih saja diam.
“Aku salah, ya?” tanya Elia yang memang penasaran.
Rafaro yang masih menunduk, berangsur mengangguk.
“Eh, beneran, aku salah?” pikir Elia tak percaya. “Jadi alasanmu diam galak begitu, karena aku salah?” lanjut Elia yang benar-benar bingung.
Kali ini, Rafaro akhirnya menatap Elia. “Jadi, ... aku harus galak dulu kayak Mo, biar kamu juga perhatian ke aku?”
Pertanyaan Rafaro sukses membuat Elia tak bisa berkata-kata, terlepas dari Elia yang sampai tidak berani menatap kedua mata Rafaro yang menatapnya dengan sangat serius berhias kemarahan.
Akan tetapi, Elia memilih diam, kendati dadanya sudah semakin kacau, di mana di sana seolah ada benderang perang, yang berdentum-dentum.
Lantaran hanya didiamkan, Rafaro meraih sebelah tangan Elia. Dan ketika Elia memastikan, pemuda itu juga sudah sampai menyiapkan salep yang bisa menghapus bekas luka.
“Enggak usah. Tadi sudah diobati sama kakek,” tolak Elia sambil menarik tangannya yang ditahan Rafaro.
“Tapi aku belum mengobatinya untukmu,” balas Rafaro serius tanpa menatap Elia, lantaran fokusnya terus teruju pada tangan Elia yang dipenuhi banyak luka melepuh.
Hati Elia seolah melesak seiring rasa ngilu yang memilin ulu hatinya. “Kenapa begini? Di saat aku belajar melupakanmu, kamu justru semakin perhatian dan ... tidak mau melepasku?” batinnya.
“Aku tidak suka kalau kamu bergantung pada orang lain bahkan pada saudaraku sendiri. Jadi, jangan pernah bergantung pada orang lain. Dan mulai sekarang, bergantunglah kepadaku. Kamu cukup bergantung kepadaku ....” Rafaro menatap Elia penuh keseriusan.
Dan detik itu juga, Elia merasa terhipnotis pada Rafaro yang mendadak berubah menjadi dingin bahkan misterius.
“Apakah Rafaro salah makan, atau malah salah minum obat?” pipir Elia.
__ADS_1
Bagi Rafaro, siapa pun yang mencoba mengusik hubungannya dan Elia, bahkan itu Mofaro yang nota benr saudara sekaligus kembarannya sendiri, mereka tak ubahnya duri dalam hubungan. Dan Rafaro sangat berharap, penegasannya kali ini bisa dimengerti oleh Elia.
Bersambung ....