Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 82 : Akhir


__ADS_3

Elena masih sangat mengantuk, ketika ponselnya justru terus berdering, karena telepon masuk yang masih bersumber dari kontak sama. Kontak tak bernama yang Elena hafal sebagai nomor Atala. Karena sesuai ucapannya, Elena memang menghapus nomor Atala dari kontak ponselnya. Hanya saja, lantaran Elena belum sempat membeli nomor ponsel baru, gadis itu masih memakai nomor lama.


“Si Atala beneran mantan enggak beradab! Waktu masih pacaran, boro-boro kirim pesan duluan. Eh sekarang setelah aku diputusin, nih orang malah sibuk telepon!” rutuk Elena yang sampai bersungut-sungut. 


Demi terhindar dari gangguan Atala, Elena sengaja meletakkan ponselnya di bawah bantal, sesaat setelah sampai mengatur ponselnya dalam modus diam, agar ia tak lagi mendengar dering dari ponselnya.


“Sekali lagi Atala telepon, besok juga, aku bakalan kasih dia dua belas tutup botol!” gumam Elena yang tertidur dalam keadaan tengkurap. Elena menyemayamkan wajah di atas bantal yang menjadi tempatnya menyimpan ponsel.


Akan tetapi, belum juga ada satu menit terpejam, Elena sudah penasaran dengan apa yang akan Atala katakan. Karenanya, gadis itu membuka mata dan kemudian berangsur duduk, sesaat setelah sampai menyingkirkan selimut tebal, dari tubuhnya.


 “Tadi itu sudah ada sebelas panggilan tak terjawab dari Atala. Tapi bentar, sekarang jam berapa? Ya ampun ... baru pukul dua? Pukul dua pagi, dan Atala telepon jam segini?! Pantas aku masih ngantuk banget!” gumam Elena tak percaya, dan sampai uring-uringan sendiri, lantaran tak biasanya Atala sampai meneleponnya apalagi di waktu yang sudah Elena ibaratkan ‘waktu hantu’. Belum lagi, seharusnya Atala juga tidur karena sebelum siang, pria itu akan memimpin penerbangan. 


Kendati demikian, Elena memutuskan untuk mengambil ponselnya dari bantal yang ada di hadapannya, dan tadi sempai ia gunakan untuk menyemayamkan wajah.


Ketika Elena memastikan ponselnya, di layar ponselnya, nomor ponsel Atala masih menari-nari melakukan telepon masuk. “Ini, Atalanya sadar, enggak, sih? Atau ... dia cuma salah pencet?” lanjut Elena lagi. “Kok salah pencet, sih? Ponselnya kan layar sentuh ...?”


Elena masih sulit percaya jika Atala yang nyatanya tidak mencintainya melainkan mencintai Elia, justru sibuk meneleponnya setelah ia memutuskan pria itu. “Ah ... jangan seneng dulu, Elena ... bisa jadi Atala mau hujat kamu dan ... ya sudahlah, jawab saja.” 


Ketika Elena sudah menggeser tombol jawab dan kemudian menempelkan ponselnya pada telinga, yang ada, Elena benar-benar kecewa, lantaran dari seberang tidak terdengar suara apa pun. “Sudah kuduga, eror kayaknya ponselnya ... sama yang punya juga, sama-sama eror. Good bye, ah!” batin Elena. Namun, ketika Elena baru menjauhkan ponselnya dan berniat untuk mengakhiri sambungan telepon, suara Atala justru terdengar memohon.


“Aku mohon, jangan dimatikan!” pinta Atala dari seberang dengan suara yang terdengar semakin jelas.


Elena mengerutkan dahi berikut bibirnya. “Kamu kesambet setan mana?” uringnya. “Aku mau tidur. Besok ada jadwal olahraga yang menguras tenaga, jadi aku juga harus tidur cukup.”


Elena mendengkus. “Kalau mau marah-marah, aku tampung besok. Sekarang aku beneran mau tidur bahkan hidup tenang.”

__ADS_1


“Aku sudah ada di depan rumahmu.”


Balasan Atala sukses membuat mata Elena yang awalnya terpejam lantaran menahan kantuk, refleks terbelalak. “A-apa?” ujarnya memastikan, lantaran ia tidak yakin dengan apa yang baru saja Atala katakan. “Ngapain kamu di depan rumahku?” lanjutnya. “Cepat pulang, tidur. Bukankah besok, kamu juga kerja?”


“Ya sudah ... tidurlah.”


Balasan Atala terdengar sangat pasrah bahkan mengalah. Tak biasanya Atala begitu, sampai-sampai, Elena yang mendengar hal tersebut menjadi merinding.


“Kebiasaan ih!” keluh Elena yang menjadi merasa sangat kesal. “Nih orang sengaja biar aku enggak bisa move on, kayaknya!” batinnya.


“Iya. Tidur saja.” Dari seberang, suara Atala semakin melemah, tetapi tak lama setelah itu, dari seberang juga menjadi semakin senyap lantaran Atala sampai mengakhiri sambungannya.


Elena menjadi terdiam. Antara bingung, sekaligus khawatir. “Enggak biasanya Atala begini? Apa, aku saja yang baper?” Akan tetapi, dada Elena mendadak terasa sakit, seiring napas gadis itu yang sampai sesak. Dan bahkan karenanya, sebelah tangan Elena sampai mencengkeram dadanya, seiring ia yang mengatur napas pelan, demi meredamnya. “Atala enggak apa-apa, kan? Kok, ... aku jadi secemas ini, sih?” Sungguh, Elena bahkan nyaris menangis lantaran mencemaskan Atala.


“Oke ... mari kita tidur!” ujar Elena berusaha meyakinkan sekaligus menyemangati dirinya sendiri, kendati otaknya masih saja sibuk memikirkan Atala.


*** 


Di seberang gerbang rumah Elena, Atala baru saja menjatuhkan ponsel yang awalnya, pria itu tempelkan ke sebelah telinga. 


Atala benar-benar tak berdaya dengan kenyataan yang harus ia hadapi. Kenyataan yang belum lama Atala ketahui, dan itu berhubungan dengan kehamilan Irene. Ya, kehamilan Irene sahabatnya, dan tiga minggu terakhir, telah menyita perhatiannya. Kenyataan yang sempat menguras emosi Atala, di mana pria itu juga sampai melampiaskannya kepada Elena.


Akan tetapi, setelah turut berjuang dan bahkan menuntun Irene agar tidak melampiaskan tanggung jawab kehamilan sahabatnya itu kepada Kim Jinnan, kenyataan pahit justru menampar Atala. Bagaimana tidak, ayah dari anak Irene selaku sosok yang Atala cari dan sangat ingin Atala ketahui, justru papa Atala sendiri! 


Awalnya, Atala benar-benar marah kepada Irene, lantaran Atala yakin, selain hanya melantur, sahabatnya itu justru sedang bercanda. Namun, chating Irene dengan papa Atala, menjadi bukti digital yang tidak bisa diragukan. Belum lagi, di chating tersebut, papa Atala juga sampai mengancam Irene. Mengenai adegan ‘terlarang’ Irene dengan papa Atala yang sampai direkam dalam bentuk video, dan papa Atala ancamkan akan disebar luaskan, jika Irene sampai buka suara. Selain itu, ancaman tersebut juga berlaku jika Irene sampai menolak ajakan ‘berhubungan’ tubuh dengan papa Atala. 

__ADS_1


Parahnya, kebejatan papa Atala tidak hanya itu, karena nyatanya, papa Atala juga sampai menuntut Irene, untuk mengirim foto dan video Irena dalam keadaan tidak pantas. Itu juga yang membuat Irene ganti nomor ponsel, selain kabur dari rumah, dan tinggal di apartemen tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk orang tua Irene. Sungguh, kenyataan tersebut sungguh menampar Atala. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Atala saat ini, apalagi ketika pria itu baru mengetahui kebejatan papanya? Karena sekarang saja, Atala yang sempat membanting ponsel Irene, masih merasa sangat malu, jijik, bahkan hancur. Perasaan Atala sungguh campur aduk. Keinginan bunuh diri bahkan mendadak terasa begitu kuat, lantaran Atala tak sanggup menahan malu jika apa yang papanya lakukan, sampai terkuak dan semua khalayak mengetahuinya. 


Anehnya, tadi, tak lama setelah Atala terduduk lemas dalam diamnya di tengah tatapannya yang kosong, terlepas dari isak tangis Irene yang terdengar semakin pilu, satu-satunya orang yang ingin Atala temui justru Elena. Yah, Elena. Gadis yang sempat Atala kencani karena sebuah kesalahpahaman. Juga, gadis yang justru mencampakan Atala setelah kesalahan fatal yang Atala lakukan. 


Atala ingin berkeluh-kesah dan meluapkan kehancurannya pada Elena. Atala benar-benar butuh semangat dan dukungan dari Elena layaknya biasa. Namun, setelah menunggu dan berusaha menghubungi gadis itu, sepertinya Atala memang harus sadar diri, lantaran hubungan mereka memang sudah berakhir. Lantaran Elena sudah tidak lagi menganggapnya sebagai orang terpenting. Dan kini, setelah terdiam cukup lama di tengah tatapannya yang kosong dan terlihat menahan banyak luka, Atala memutuskan untuk menyalakan mesin mobilnya, sebelum akhirnya mengemudi meninggalkan sekitar gerbang rumah Elena. 


“Pantas, mama lebih memilih pria lain yang bahkan jauh dari papa ketimbang kembali rujuk dengan papa. Pantas, ... mama selalu bungkam di setiap aku membahas papa, dan meminta alasan mama, kenapa mama lebih memilih om Krisna yang hanya pegawai bank swasta!” batin Atala yang tak kuasa menahan air matanya. “Ternyata, kesalahan papa benar-benar fatal. Dan aku ... harus mengakhirinya ....”


Atala terisak-isak seiring sesak yang memenuhi dada berikut tenggorokannya. Seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik Atala bahkan mencabut paksa nyawa pria itu. Terlepas dari itu, Atala juga menjadi mengemudi dengan kecepatan lebih tinggi, di tengah suasana jalan yang sepi tanpa pengunjung lain kecuali Atala, seiring kehancuran yang semakin mencekam pria itu.


Ketika di pertigaan menuju jalan raya, Atala mendadak dikejutkan oleh sorot lampu depan sebuah truk yang semakin lama menjadi semakin terang, di tengah suasana yang awalnya gelap. Sampai-sampai, demi menghalau sorot lampu tersebut, Atala refleks mengernyit, sembari membanting asal kemudinya, demi menghindari truk yang nyatanya sudah ada di sebelah, dan nyaris menabrak mobil Atala. 


Tak lama berselang, suara decitan yang disusul suara hantaman lantaran mobil Atala sampai terbanting menghantam tiang listrik, sukses membuat satpam jalan di kompleks perumahan tak jauh dari perumahan Elena, langsung terjaga dan memastikan ke sumber suara. Dan di depan sana, bagian depan sebuah sedan putih, sudah berselimut asap. Asap yang semakin lama semakin pekat, sedangkan di dalamnya, Atala nyaris sekarat.


*** 


Di kamarnya, Elena justru tak bisa tidur. Karena yang ada, gadis itu justru terjaga tanpa bisa memejamkan matanya. Elena menjadi sibuk memikirkan sekaligus mencemaskan Atala. Tatapan Elena kosong, terlepas dari gadis itu yang benar-benar diam, bersembunyi di balik selimut tebal. Elena hanya menyisakan wajah yang tidak tertutup selimut, hingga kenyataannya tak beda dengan kepompong.


*** 


Sedangkan di klinik, Irene yang benar-benar merasa lelah bahkan menangis pun tak lagi menghasilkan air mata, melangkah keluar dari ruang rawatnya. Akan tetapi, Irena tidak meninggalkan klinik, lantaran wanita muda yang perutnya sudah tampak buncit itu justru menaiki anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas. Irene menaiki anak tangga dengan banyak kesedihan yang membuat wanita itu terlihat tak berdaya, terlepas dari tatapan Irene yang terbilang kosong tanpa sedikit pun semangat, atau setidaknya keinginan untuk hidup. 


Ketika Irene sudah sampai di lantai atas, balkon di seberang langsung menjadi tujuan utamanya. Dan layaknya orang yang sudah kehilangan akal, Irene memanjat pagar balkon dan wanita itu bersiap untuk loncat dari sana. Seolah-olah, hamparan yang ada di bawah dan merupakan teras depan pintu masuk klinik, telah berseru, siap menjadi saksi kebiadaban kehidupan yang harus Irene rasakan.


“Sekalipun kematian bukan akhir dari sebuah penderitaan, tetapi tidak ada yang lebih baik dari kematian, daripada bertahan tanpa tujuan apalagi harapan.” Irene terpejam pasrah dan mulai menlepaskan sekaligus menjatuhkan dirinya.

__ADS_1


Semesta alam seolah mengerti betapa Irene tersakiti. Sebab apa yang Irene lakukan juga disambut gerimis yang semakin lama semakin deras. Ya, langit menangis menyeruakan jerit batin Irene yang menuntut keadilan. Keadilan lantaran selain cintanya kepada Kim Jinnan tak sampai tujuan, nasib buruk justru harus Irene telan.


“Untuk kalian ... siapa pun ... kalian harus tahu, bahwa kejahatan selalu ada di sekitar kita, dan siap menyerang di setiap ada kesempatan. Jadi, waspada adalah satu-satunya cara untuk menghindarinya, lantaran semua orang bahkan diri kita sendiri, juga bisa menjadi orang yang sangat kejam.”


__ADS_2