Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 75 : Tragedi Kejatuhan Pigura dan Perjuangan Itzy


__ADS_3

“Flora ... meski ingatanku belum bisa kembali, yang penting aku tulus ke kamu dan berniat menjaga hubungan kita, kan?”


Bab 75 : Tragedi Kejatuhan Pigura dan Perjuangan Itzy


Kepanikan langsung melanda Kimi dan Kiara. Keduanya yang baru saja mengenakan masker di wajah, kocar-kacir keluar dari kamar. Dan kepanikan keduanya, menjadi semakin tak terkontrol, ketika mendapati Rara menangis ketakutan di balik pintu kanar keberadaan mereka.


“Kimo, kenapa?” sergah Kiara yang langsung melangkah cepat meninggalkan kebersamaan.


“Kejatuhan pigura, Ma ....” Rara masih terisak-isak.


Hal tersebut pula yang membuat Kimi memilih merangkul dan menuntun Rara, menyusul Kiara tanpa menanyakan apa pun karena Kimi takut membuat kesedihan Rara semakin bertambah. Namun, bisa-bisanya Kimo sampai kejatuhan pigura? Tapi, pigura sebesar apa, sampai-sampai Rara jadi sepanik sekarang? Pikir Kimi.


***


“Hah?!” teriak Kimo ketika mendapati Kiara yang wajahnya sudah tertutup masker warna hitam, justru menjadi pemandangan pertama yang ia dapati, setelah ia susah payah menyingkirkan pigura besar yang menindih, dari tubuhnya.


“Kimo, Kimo ...?!” sergah Kiara berusaha mendekati Kimo. Tadi, anaknya itu sampai terlonjak dan terlihat sangat terkejut, di mana kini Kimo sampai terduduk menatapnya dengan ekspresi takut.


“Kamu siapa?!” bentak Kimo yang juga terdengar mengeluh, sambil memijat-mijat tengkuk beserta punggungnya.


Sontak, pertanyaan Kimo berhasil mengejutkan ketiga wanita di hadapannya. Mereka langsung bertanya-tanya dalam hati, apakah otak Kimo semakin rusak? Pria itu kembali amnesia dan justru melupakan segalanya?


Hati Kiara terlebih Rara, menjadi sangat terenyuh. Kiara sampai menitikkan air mata kemudian bersimpuh di hadapan Kimo. “Ini Mama, Sayang! Mama Kiara. Mama yang sangat menyayangimu! Nah, itu Rara istrimu! Kamu sangat mencintainya dan sekarang, Rara sedang hamil. Sedangkan itu Kimi adikmu. Kamu juga sangat menyayanginya!” jelas Kiara sambil berlinang air mata.


Rara benar-benar tidak tahan. Ia tidak bisa menerima jika Kimo kembali amnesia dan bahkan melupakan segalanya. Hal tetsebut pula yang membuatnya bergerak cepat meninggalkan Kimi berikut rangkulan iparnya itu dan menghampiri Kimo.


Rara bersimpuh di hadapan Kimo, layaknya apa yang Kiara lakukan. “Kimo,” sergahnya sambil menahan sebelah bahu Kimo, sedangkan tangan yang satunya lagi mengelus punggung kepala suaminya itu.


Kimi yang bingung harus melakukan apa, memilih menggeser pigura besar berisi foto pernikahan Kimo dan Rara. Pigura besar itu terbilang berat. Kimi saja sampai kewalahan walau sebatas menggesernya. Ia mendorongnya susah payah dan menepikannya ke dinding di sebelah lemari.


“Flora ... Flora ... iya di situ. Sakit banget! Kepalaku rasanya kayak penyok!” keluh Kimo sambil berpegangan pada kedua lengan Rara.


Ucapan Kimo sukses membuat ketiga wanita di sana refleks diam, sebelum akhirnya bertukar tatapan. Dari tatapan penuh arti mereka seolah menuangkan pernyataan; Kimo ingat nama lengkap Rara? Ini, karena Kimo sudah kembali memiliki ingatan yang sempat hilang, apa bagaimana?


Diam-diam, lantaran Rara tak lagi mengelus punggung kepalanya yang terasa sangat sakit, Kimo pun memastikan apa yang terjadi. Ia mengamati wajah Rara, Kiara, kemudian Kimi yang kali ini sampai mendekat dan menatapnya dengan saksama.


“Sebenarnya kalian ini kenapa? Bukannya menolong, tetapi justru menjadikanku tontonan?!” rajuk Kimo.


Sekali lagi, ketiga wanita di sana hanya diam sesaat sebelum akhirnya kembali berkode mata.


“Ya Tuhan, ... sebenarnya apa yang kalian pikirkan?!” keluh Kimo lagi. Ia yang sudah merasa sangat sakit akibat tertimpa pigura, menjadi merasa sampai stres lantaran ketiga wanita di hadapannya justru menatapnya dengan pandangan aneh.


“A ... iya ... iya. Ayo aku bantu bangun!” ujar Rara mencoba menuntun Kimo.


“Flora ... Flora, enggak usah. Tubuhku berat. Aku takut perutmu kenapa-napa,” tahan Kimo menolak tuntunan Rara. Menyadari ketiga wanita di hadapannya nyaris kembali berkode mata, Kimo pun langsung berkata, “sudah, enggak usah kode-kode mata lagi. Aku baik-baik saja. Satu lagi, Mama sama Kimi kalau mau maskeran jangan sampai dilihat aku apalagi kalau malam. Ngeri aku ngelihatnya!”


Meski sempat dilarang, Kiara, Kimi berikut Rara, kompak berkode mata sambil menahan senyum. Rara menyusul Kimo, melangkah pelan sekaligus menyeimbangi. Sedangkan Kiara pamit mengambilkan es untuk mengompres kepala Kimo.


Kimo yang melangkah terseok-seok sambil memegangi tengguk berikut kepalanya, mulai duduk di tepi kasur sebelah keberadaan bantal.


“Kimo ...?” panggil Rara lirih sambil duduk di hadapan Kimo, kemudian naik, duduk di sebelah Kimo. “Kamu bikin aku syok,” sambung Rara sambil mengelus-elus tengkuk beserta kepala Kimo.


“Takut kenapa? Bukannya nolongin, kamu malah lari ...,” balas Kimo dengan nada suara lemah. Ada kecewa berikut gemas yang terdengar dari balasannya.


“Aku syok banget, tahu! Takut kamu kenapa-napa. Amnesia lagi, ... atau malah otakmu tambah rusak? Aku masih trauma!” Rara bercerita dengan tidak bersemangat.

__ADS_1


Kimo terpejam menikmati pijatan Rara, kendati terkadang, ia akan menyeringai menahan sakit.


“Terus, ... yang kamu ingat sekarang itu, aku yang lama, atau sekarang?” tambah Rara ingin tahu.


“Flora ... meski ingatanku belum bisa kembali, yang penting aku tulus ke kamu dan berniat menjaga hubungan kita, kan?” balas Kimo masih terpejam. “Toh, dokter bilang, kemungkinan ingatanku kembali dan enggaknya, tetap ada. Namun, memangnya masih penting, ingatanku kembali atau enggaknya, sedangkan aku, benar-benar jatuh cinta lagi ke kamu?”


Rara buru-buru menggeleng kemudian mendekap punggung Kimo. “Enggak ada yang lebih penting dari kesehatan kamu, juga kita yang selalu sama-sama seperti ini.”


Kimo menganggguk-angguk sambil mengelus asal kepala Rara. “Omong-omong, tadi itu ibumu? Kalau beneran iya, ibu merupakan sosok pertama yang aku lihat ketika aku siuman dari kecelakaan yang bikin aku amnesia. ... selain itu, ibu juga sering ada di mimpiku. Makanya, aku syok pas tadi kamu kasih lihat fotonya. Belum lagi, baru juga bisa menyingkirkan pigura dari tubuh, eh mama pakai masker wajah hitam kayak simuman!”


Keluhan panjang lebar Kimo, sukses membuat Rara tertawa.


“Namun, kenapa ibu selalu ada di mimpiku, ya?” lanjut Kimo terheran-heran. Kenapa Piera selalu mendatangi dan ada di mimpinya.


“Tanya langsung ke ibu, lho. Tanya, kenapa ibu selalu datang ke mimpimu? Atau mungkin, ibu juga enggak rela kalau kamu amnesia terus lupa hubungan kita?” balas Rara dengan santainya dan kembali memijat punggung Kimo.


Kimo menelan ludahnya. Merasa ngeri dengan apa yang menimpanya. Namun, jika diingat-ingat, wajah berikut tatapan Piera selalu sarat kesedihan terlebih ketika awal ia siuman. Wanita itu bahkan seolah sengaja menuntunnya untuk menatap Rara.


“Sepertinya, kita harus segera ke makam ibu. Kirim doanya juga harus ditambah,” sergah Kimo.


Rara mengangguk setuju. “Iya.”


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Ben sedang dibuat ketar-ketir oleh ulah Itzy. Itzy yang bahkan tidak mau pulang dan berdalih ingin menginap di rumah Ben agar lebih dekat dengan mama Ben. Sungguh kenyataan yang membuat Ben semakin menggila lantaran Itzy tidak mengenal penolakkan.


“Mom, kalau begini terus, aku bisa mati karena gila!” keluh Ben sambil menatap heran Itzy yang ada di kamar tamu. Wanita itu tampak bersiap memasang seprai berikut sarung bantal, mengganti yang lama dengan yang baru.


Shena tersenyum geli. “Daripada Ryunana, Itzy lebih baik. Ryunana terlalu tegas bahkan kejam. Bisa-bisa, kamu jadi suami teraniaya kalau hubungan kalian tetap dilanjutkan.”


Ben buru-buru menelan ludah dan menggeleng. “Sama aja, ah, Mom. Ngeri aku! Mom jaga Itzy. Aku mau fokus urus materi rapat buat besok. Ingat, Mom. Jaga Itzy baik-baik. Takut dia menyelinap masuk ke kamarku, bisa-bisa, aku diperkosa sama dia!” Ben wanti-wanti saking takutnya pada Itzy. Sebab, sebelum turun dari mobil saja, Itzy nyaris menciumnya dan asal main sosor. Beruntung, Ben bergerak cepat dan segera menoyor kepala Itzy.


“Kak Ben, aku pinjam bajunya, dong ... biar kayak di drama-drama. Biar tambah romantis kalau aku pakai baju Kak Ben?” seru Itzy kemudian.


Shena terkikik, sedangkan Ben yang awalnya sempat berhenti, memilih berlalu dengan buru-buru. Ben menaiki anak tangga menuju lantai atas atas selaku keberadaan kamarnya.


Itzy melepas kepergian Ben dengan cemberut. Dan setahunya, Ben dan Shena berniat menjual rumah tersebut. Rumah megah dengan gaya klasik berdominan berwarna putih gading keberadaannya dan bagi Itzy sangat elegan. Ben dan Shena sepakat menjual rumah dan membeli rumah yang ukurannya lebih kecil, demi menghapus kenangan bersama Oskar yang begitu kental di rumah tersebut.


Kali ini, Itzy kembali bersikap manis sekaligus ceria. “Mom, Kak Ben ada cerita tentang aku?”


Shena mengulas senyum sambil mengangguk. Hal tersebut membuat Itzy kian antusias.


“Cerita, dong Mom!” sergah Itzy yang memanggil Shena saja menjadi mengikuti panggilan Ben terhadap calon mertuanya itu.


“Ben takut sama kamu, karena kata Ben, kamu terlalu agresif,” balas Shena mencoba memberi pengertian sambil mengelus sebelah bahu Itzy.


Itzy tertunduk murung dan tampak menerka-nerka. “Tapi di mana-mana, cowok sukanya yang agresif-agresif sama yang seksi, kan, Mom?” balasnya penuh keyakinan.


“Ya enggak semuanya. Buktinya, Ben malah takut, kan? Ben lebih suka wanita pendiam tapi santun. Wanita yang lebih bisa bersikap tenang sekaligus dewasa.” Shena masih sabar menghadapi Itzy. Ia menatap Itzy sarat pengertian.


Kini, yang terlintas di pikiran Itzy atas penjelasan Shena perihal wanita idaman Ben adalah sosok Kainya. “Nah, mungkin aku harus kalem, anggun kayak pacarnya Kak Steven, ya, Mom?”


Shena mengernyit menatap bingung Itzy. “Steven sahabatnya Ben?” tebaknya.


Itzy langsung mengangguk di antara kegirangannya. “Iya. Dia kembarannya istrinya Yuan! Kalau enggak salah namanya Kainya!”

__ADS_1


Balasan Itzy sukses membuat hati Shena terbesit. Seolah banyak sembilu yang menyayat di sana. “Kok, Kainya justru sama Steven?” batinnya. Karena jauh di lubuk hatinya, awalnya ia sudah cocok dengan Kainya. Tetapi Ben menolak lantaran anaknya itu tidak mengingat Kainya dan Ben tidak memiliki rasa yang tersisa untuk Kainya.


Shena berdeham mencoba mengakhiri kesedihannya. Takut membuat Itzy yang masih ada di hadapannya bingung. Anak gadis dari sahabatnya itu menunjukkan hasil belajar mengganti sarung bantal. Hasilnya lumayan. Pun dengan sprai yang Itzy pasang dan dipamerkan oleh wanita muda itu penuh keantusiasan. Melihat Itzy yang sekarang dan terlihat jelas berjuang merebut perhatian Ben, Shena merasa cukup bahagia. Setidaknya, Itzy mau berubah dan lebih menghargai Ben. Itu jauh lebih baik daripada Ben hidup tanpa percaya kepada cinta. Belum lagi, semenjak Oskar justru mencampakkan mereka dan mengambil semuanya untuk istri mudanya. Ben benar-benar kehilangan selera dalam urusan cinta.


***


Ben masih berkutat dengan pembuatan laporan di laptopnya ketika ponselnya berdering sekali dan Ben kenali sebagai pesan masuk. Ketika ia memastikan, di layar ponselnya ada kontak Itzy. Sebuah pesan WA masuk dari wanita muda yang membuatnya takut itu awalnya Ben biarkan. Namun karena pesan terus berdatangan, Ben pun menyerah dan meraih ponsel yang ada di sisi kanannya.


Itzy : Kak Ben, peluk cium dari jauh! Mmmuah!


Itzy : Kak Ben, Kakak belum tidur, kan?


Itzy : Kak Ben, aku tidur sama Kakak saja, ya!


Itzy : Kak Ben, aku sudah di depan pintu kamar Kakak!


Ben bergidik ngeri membaca pesan dari Itzy. Tangannya sampai gatal dan akhirnya mengetik balasan.


Ben : Kalau kamu tetap agresif begini, kupastikan malam ini juga, aku bakalan nendang kamu dari rumah dan malah ngajak tidur wanita lain! Sudah tidur, jangan berisik!


Ben baru saja meletakkan ponselnya dengan sisa kemarahan yang tak kunjung sirna, ketika pesan dari Itzy kembali mewarnai ponselnya.


Itzy : Hahaha santuy, Kak. Ini aku saja sudah siap-siap tidur, kok. Mom nemenin aku karena Mom takut aku kabur ke kamarmu. Kakak yang minta Mom buat ngawasin aku, kan?


Ben mengembuskan napas lega sesaat setelah membaca pesan balasan Itzy. “Syukurlah ....” Ben tidak berniat membalas pesan Itzy lagi meski wanita itu kembali mengiriminya pesan.


Itzy : Besok aku mau belajar masak sama Mom!


Itzy : Eh, Kak! Mantanku WA


Itzy : Kak! Ayo, dong, cemburu!


Itzy : Kaaaaaaaaak, Bennnnn!!!!!


Itzy : Kak Beb, perutku sakit, sepertinya aku mau datang bulan! Serius ini sakitnya beneran, sedangkan Mom sudah tidur. Aku enggak tega bangunin Mom.


Itzy : Kak Ben, sakit beneran!


Ben menghela napas dan mulai merasa gerah. Ia membalas pesan dari Itzy sebelum membereskan pekerjaannya.


Be**n** : Sakitnya di pending dulu. Aku masih sibuk banget. Dua jam lagi baru beres.


Itzy : Ya sudah, aku tunggu. Dicepetin karena aku beneran sakit.


Ben, sama sekali tidak percaya dengan tipu daya Itzy. Ia terus mrngetik dan membereskan semua dokumen berikut keperluan untuk rapat besok. Padahal di dalam kamar, Itzy sudah berulang kali guling-guling kesakitan sambil mencengkeram perutnya.


“Sakit banget, sih?! Kak Ben juga lama!” gumam Itzy sedangkan Shena yang meringkuk menghadap padanya juga tidur dengan sangat lelap.


Keringat dingin sudah menjadi buih yang menghiasi wajah berikut sekitar leher Itzy. Sedangkan prahara sakit perut bahkan tubuh terasa pegal-pegal sudah langganan Itzy rasakan ketika datang bulan. Hanya saja, karena sekarang sudah ada Ben, Itzy ingin mendapat perhatian dari pria itu.


Bersambung ....


Hallo, ada yang kangen? Maaf ya, anak Author masih rewel jadi kemarin enggak sempat ngetik. Ini saja ngetiknya sambil netein bocahnya. Wkwkwk


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2