Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 82 : Sarapan


__ADS_3

“Kita enggak boleh mengedepankan gengsi, kalau kenyataannya kita memang mau bahkan cinta. Daripada kehilangan dan berakhir dengan menyesal, lebih baik jujur dari awal ....”


Bab 82 : Sarapan


“Ingat, Ra ... kalau kamu mau keluar rumah harus pakai masker. Selalu cuci tangan kalau habis ngapa-ngapain. Minum air putih minimal lima belas menit sekali, dan usahakan tenggorokkan jangan sampai kering.” Kimo mengatakannya sambil berlalu membawa piring berikut gelas bekasnya sarapan.


Rara terdiam bingung memperhatikan suaminya yang terkesan buru-buru. “Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali, lho ....”


“Biar kamu ingat,” balas Kimo sambil kembali menghampiri Rara. “Oh, iya. Jauhi keramaian, ya. Kasihan juga sama baby kalau dia sampai dengar yang enggak-enggak.”


“Bukannya ingat, aku malah pusing dengerin kepanikan kamu gara-gara virus korona.” Rara menyantap alpukatnya sambil sesekali melirik Kimo yang kemudian kembali duduk di sebelahnya.


Dalam piring saji Rara memang dihuni satu buah alpukat mentega yang sudah dibelah dan baru Rara tandaskan satu. Sedangkan di piring sebelahnya masih ada dua tumpuk roti gandum panggang dan sebutir telur ayam kampung yang direbus, selain segelas susu hamil. Di mana, semua itu sudah menjadi salah satu menu andalan untuk Rara semenjak hamil. Apalagi sejak Kiara juga turun tangan mengurus Rara. Semuanya benar-benar diurus ketat termasuk makanan yang harus selalu habis tanpa terkecuali susu hamil yang sudah membuat Rara bosan bahkan terkadang mual.


“Iya, Kak Kim. Bukannya ingat, malah jadi stres nanti Kak Raranya. Lagian kan ada Mama. Mama lebih paham gimana menanganinya? Jiwa ibu-ibu lebih kuat dan biasanya lebih ditakuti banyak kalangan. Tuh, Mama saja sudah sampai bikin ramuan seduhan rempah rimpang buat kita,” sela Kimi.


Kiara menatap tegas Kimo sambil mengunyah apel yang baru ia santap. “Nanti Mama yang urus. Kamu enggak usah khawatir. Kamu urus kerjaan saja. Sebisa mungkin Mama bakalan jagain Rara kok,” ucapnya meyakinkan. “Terus kalian juga jangan lupa. Bekal termasuk ramuan rimpangnya diminum. Jangan makan sembarangan apalagi sampai makanan cepat saji.”


“Tapi aku harus tetap waspada, Ma,” balas Kimo yang kemudian mencondongkan kedua lututnya pada lutut Rara. Ia berangsur mengelus-ngelus perut Rara. “Hari ini periksa kandungan. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya, Ma. Jangan sampai lengah juga. Takutnya tante Intan kesurupan nekat lagi!”


“Mama bejek-bejek kalau dia berani ganggu kita lagi. Enggak usah sampai lampor polisi. Bejek-bejek sendiri saja, baru lempar ke polisi!” balas Kiara geram. Tak habis pikir kenapa Intan justru menyebar teror bahkan kepada Rara dan Kimo yang jelas-jelas korban!


“Kamu oke, kan?” Kali ini, tujuan Kimo adalah Kimi.


Meski tampak tegang, Kimi berangsur mengangguk sambil menyantap sereal dengan susu rendah lemak di mangkuknya.


“Jangan takut ... kamu harus jadi pemberani biar enggak ada yang semena-mena sama kamu, Kimi ....” Kimo berusaha meyakinkan Kimi kendati kedua tangannya masih menahan perut berikut punggung Rara.


Yang membuat Kimo semakin rutin mengelus dan meraba perut Rara, tak lain karena perut Rara sudah membentuk benjolan yang besarnya melebihi jangkauan tangan Kimo ketika merabanya. Perut Rara sudah semakin besar, dan kenyataan tersebut makin membuat Kimo tidak sabar untuk segera menimang anak mereka.

__ADS_1


“Heum. Enggak usah takut. Kayak Mama saja. Strong!” Kiara membenarkan sambil menyantap potongan buah apelnya lagi.


Meski masih menunduk, Kimi berangsur mengangguk. “Iya. Aku akan berusaha.”


“Harus! Anak Mama harus kuat! Kayak Kak Rara!” Kiara masih meyakinkan Kimi.


Pujian Kiara sukses membuat Rara tersipu. “Akhirnya aku diakui secara resmi,” batinnya.


“Kemarin, ban mobil Gio kempis semua. Itu bukan gara-gara Mama, kan?” tuduh Kimo kemudian.


Tudingan Kimo sukses membuat Kiara tersedak. Kimi yang ada di sebelahnya, buru-buru memberikan segelas air minumnya pada Kiara. Bahkan, Kimi juga sampai memijat-mijat tengkuk Kiara.


“Mama enggak apa-apa, kan?” tanya Rara memastikan dan kemudian menatap sebal Kimo. “Sayang, kalau ngomong di-rem dulu, dong ... lihat situasi!” lirihnya sambil melirik penuh peringatan kepada Kimo.


“Aku juga berbicara begitu karena situasinya mendukung!” balas Kimo penuh keyakinan dan menggunakan suara lirih juga layaknya Rara.


“Ya mungkin gara-gara Gio deketin Kimi lagi, jadi Mama murka terus kasih Gio pelajaran?” ucap Kimo yang tetap melanjutkan ucapannya kendati sebelah tangan Rara sudah berusaha menekap mulutnya.


Rara menatap Kimo sarat peringatan, tetapi yang bersangkutan seolah tak tahu-menahu dan hanya meliriknya penuh tanya.


“Ya ampun! Jangan cerita ke Mama! Kan aku sudah bilang, kalau itu rahasia!” bisik Rara tepat di sebelah telinga Kimo.


Kimo mendadak kikuk. Baru ia ingat jika perihal hubungan Kimi dan Gio merupakan sepenggal kisah rahasia yang Rara ceritakan kepadanya. Sepenggal kisah rahasia yang sudah Rara wanti-wanti, agar Kimo merahasiakannya khususnya dari Kiara.


“Memangnya kalian ada hubungan lagi?” ujar Kiara kemudian sambil menatap cemas Kimi.


“Maaf, Ma. Ini rahasia dan aku keceplosan!” ucap Kimo kemudian sambil memasang tampang tak berdosa.


Dan Kimi langsung membantah tegas. “Enggak. Kenapa aku harus berhubungan lagi sama dia?” Ia langsung menyibukkan diri dengan menyantap sisa serealnya yang masih ada setengah mangkuk.

__ADS_1


“Syukurlah. Semoga memang begitu.” Kiara benar-benar lega jika pengakuan Kimi, memang kenyataan yang terjadi. Sebab, tak bisa ia bayangkan jika yang Kini katalan justru benar. Apa jadinya jika Kimi berhubungan lagi dengan Gio yang sudah sempat menghancurkan mereka?


Rara dan Kimo saling lirik kemudian bertatapan cukup lama.


“Kalau memang iya, juga enggak apa-apa. Enggak ada yang tahu dengan rahasia Tuhan termasuk dalam urusan jodoh. Jangankan balikan dan menikah dengan mantan, menikah dengan mantannya sahabat bahkan mantan dari saudara, kalau memang itu sudah jalan takdir kita, kita bisa apa? Gengsi, ... malu?” ucap Kimo kemudian. “Kita enggak boleh mengedepankan gengsi, kalau kenyataannya kita memang mau bahkan cinta. Daripada kehilangan dan berakhir dengan menyesal, lebih baik jujur dari awal ... Kimi, kamu paham dengan apa yang aku maksud?” Ia menatap Kimi dengan sangat serius.


Kimi yang awalnya menyibukkan diri dengan menandaskan isi mangkuknya berangsur melirik dan menatap Kimo. “Ya ampun, Kakak ... aku enggak ada hubungan spesial dengan Gio. Kami sebatas teman,” jelasnya meyakinkan.


“Its oke. Semuanya terserah kamu yang menjalaninya. Tapi itu, ingat kata-kataku. Enggak ada yang tahu dengan rahasia jodoh. Namun, jodoh juga cerminan dari kita,” balas Kimo jauh lebih santai.


Kimi mendengkus sebal. “Mmm!” ucapnya membalas Kimo dengan malas setelah sampai memenuhi mulutnya.


Rara yang hanya diam dan cenderung menunduk, berangsur mengelus sebelah tangan Kimo yang masih bertumpu di perutnya. Dan kenyataan tersebut membuat Kimo menatap Rara.


“Habiskan sarapanmu, setelah itu aku baru bisa berangkat. Aku usahakan hari ini akan pulang lebih cepat. Ma, ... nanti kirimi aku video USG-nya, ya!” ucap Kimo kemudian.


Hari ini, Rara memang akan kontrol kehamilan. Dan tanpa mereka ketahui, Intan juga sudah menyiapkan kejutan istimewa atas kenyataan tersebut. Sebab, Intan benar-benar dengan keputusannya. Menjadi pengganggu tak ubahnya hantu bahkan wabah mematikan bagi siapa saja yang terlibat dan membuat Steffy mendekam dalam jeruji pesakitan di tengah keadaan tubuh Steffy yang nyaris lumpuh total.


Bersambung ....


Kalian sudah sarapan?


Jangan lupa sarapan, yaa.


Terus ikuti dan dukung ceritanya.


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2