Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Ban 91 : Resepsi Pernikahan Pelangi Dan Kim Jinnan


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari yang sudah dipersiapkan selama satu bulan lamanya. Ya, hari resepsi pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan. Meski waktu sebulan bukanlah waktu yang singkat, tapi banyak pasangan di luar sana yang justru menyiapkan pernikahan lebih lama, dari keduanya.


Terkadang, ada pernikahan yang sesuai perancangan atau setidaknya kurang lebih mendekati. Namun, ada juga yang justru gagal sebelum dilaksanakan dengan alasan yang beragam. Tentu, mengingat semua itu, tak hanya Pelangi dan Kim Jinnan yang menjadi tak hentinya bersyukur. Sebab hampir semua yang terlibat di dalamnya, khususnya orang-orang terdekat mereka, juga melakukan hal yang sama. Mereka benar-benar bersyukur, lantaran resepsi sudah nyaris digelar dengan semua persiapan yang terbilang sangat matang.


Akan tetapi, mungkin dari semuanya hanya Zean yang tidak bisa sepenuhnya merasa nyaman. Bukan karena bocah itu sampai memuji penampilan Pelangi yang begitu cantik. Sebab Pelanginyang mengenakan gaun pengantin sabrina lengan panjang, berwarna putih dan memiliki ekor panjang, memang sampai membuat Zean tak bisa berkata-kata.


Dan Zean hanya mengatakan Pelangi sangat cantik seperti boneka. Selebihnya, Zean juga mendadak seperti orang bodoh, lantaran setelan jas putih berikut dasi silver yang Kim Jinnan kenakan, membuat ketampanan Kim Jinnan seolah melesat hingga menembus gumpalan awan di langit.


Terlepas dari itu, Zean juga tidak memiliki masalah dengan siapa pun, termasuk Dean yang biasanya selalu membuatnya kesal. Pun meski kali ini, setelan jas hitam yang Dean kenakan, membuat kakaknya itu terlihat sangat tampan. Bersama Rafaro, Mofaro, dan beberapa pria teman Kim Jinnan, Zean termasuk Shean yang masih bayi, juga mengenakan setelan jas hitam bernada sama.


Sedangkan untuk para wanita muda seperti Kishi, Elia, Elena juga beberapa teman Pelangi termasuk Mentari yang masih bayi, mereka semua kompak mengenakan gaun panjang tak berlengan, berwarna merah muda. Semuanya tampil begitu sempurna. Namun tidak dengan Zean yang merasa sangat tidak nyaman kendati apa yang dikenakannya juga seragam dengan yang lainnya.


“Bagaimana mungkin aku bisa merasa nyaman, sedangkan untuk bernapas saja, aku kesusahan? Ini gara-gara perutku terlalu besar. Sedangkan efek pantatku yang semakin mengembang, juga membuat celanaku rawan.” Zean tak hentinya berbicara dalam hati. Dan saking tidak nyamannya, ia bahkan tidak berani mendekati Aurora yang kali ini terlihat sangat cantik, apalagi mahkota bunga yang dikenakan bocah itu, membuat Aurora terlihat sangat manis.


“Zean, kamu kenapa, sih? Dari tadi mondar-mandir kayak orang kebingungan?” Kim Jinnan yang sampai meninggalkan Pelangi demi menghanpiri Zean, juga sampai jongkok dan kemudian menggendong bocah tersebut.


“Ya ampun, Jinnan!” pekin Zean tiba-tiba.


Tak hanya panik, Zean juga terlihat sangat resah, hingga Kim Jinnan yang curiga, berangsur memastikan penampilan bocah itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semuanya tampak sempurna, tapi, kenapa Zean sampai nyaris menangis?


“Jinnan! Celanaku sobek ini! Bagian tengah-tengah pantat! Aduh, bagaimana ini?!” keluh Zean yang sengaja berbisik di sebelah telinga Kim Jinnan.


Antara syok, tapi ingin tertawa juga, Kim Jinnan yang sudah terlanjur tertawa pun membawa Zean menghampiri Pelangi yang jaraknya ada sekitar sepuluh meter, dari kebersamaan mereka. Di mana, mereka memang masih ada di belakang panggung.


“Jinnan ... sudah jangan digendong-gendong! Turunin! Nanti pakaian kalain lecek!” tegur Pelangi dengan suara lirih.


Semenjak menikah, di mata Kim Jinnan, jiwa cerewet emak-emak Pelangi, semakin lama menjadi semakin matang. Layaknya sekarang, Pelangi kembali cerewet mengomel-ngomel.


“Jangan, ih ... malu!” rengek Zean. “Jinnan, aku mohon jangan turunin aku. Pantatku bolong!” batin Zean ketar-ketir.


Pelangi mengerutkan dahi dan mulai merasa ada yang tidak beres dengan kenyataan kini. Lantaran selain Zean nyaris menangis, Kim Jinnan yang masih menggendong bocah tersebut juga terus saja menahan tertawa.


“Ngie ... ini celana Zean sobek!” lirih Kim Jinnan yang sengaja berbicara di sebelah telinga Pelangi.


“Ya Tuhan!” pekik Pelangi langsung syok dan menatap tak percaya Zean.


Zean yang merasa bingung sekaligus malu, hanya bisa memanyunkan bibirnya, sesaat sebelum akhirnya menunduk. “Bagaimana, dong?” rengeknya pasrah.


“Padahal pakaianmu sudah dilebihin banyak banget, lho, Zean. Kamu makannya dijaga, ya. Nanti kamu bisa obesitas!” tegur Pelangi lirih dan segera melangkah menghampiri Keinya yang ada di belakangnya.


Keinya dan para orang tua, ada di sudut belakang. Sedangkan Kim Jinnan dan Zean yang baru ditinggalkan, ada di tengah-tengah, ruang kebersamaan. Sementara sebelum dibawa oleh Kim Jinnan, Zean yang kebingungan, awalnya ada di barisan paling depan. Ya, awalnya, Zean sedang bersama para kaum muda seperti Dean, Kishi, Elia, dan kawan-kawan, termasuk Aurora yang terus saja menjadi satelit Kishi dan Rafaro.


Tentu, apa yang menimpa Zean, sukses membuat para orang tua geger, meski mereka bahkan Yuan, sampai refleks menertawakan apa yang menimpa Zean.


“Pakai celana papa saja, kalau gitu, ya?” tawar Keinya setelah memberikan Mentari yang awalnya ia gendong, kepada Yuan.


“Ih, Mama ... enggak sekalian disuruh pakai karung saja, akunya?” cibir Zean dan sukses membuat Kim Jinnan yang masih menggendongnya, semakin sulit mengendalikan tawa.


“Mama sih sudah mikir mau begitu. Tapi nanti ya kamu paling beda,” balas Keinya masih berusaha sesabar mungkin.


Yuan yang menyusul sambil menggendong Mentari, tak kuasa menghentikan tawanya. “Jinnan, ... turunin coba si Zean!”


“Ihh Papa, jahat banget!” protes Zean cepat dan sukses membuat tawa semakin pecah.

__ADS_1


“Lagian kamu. Jadi mbulet banget emang. Tahu gini, kemarin langsung disunat saja, biar resepsinya bareng. Jadi, Papa panggil tukang sunat sekalian, ya?” ujar Yuan yang justru sengaja menggoda Zean.


“Ihh ... Papa, apa-apaan, sih? Kalau Papa mau sunat, sunat saja sendiri. Enggak usah ajak-ajak aku!” omel Zean merajuk.


“Ma ... itu panggilan Om Steven. Om Steven kan bisa nyunat. Pakai pisau cincang saja nyunatnya, pinjam ke koki yang ada di hotel!” lanjut Yuan yang masih saja telaten menggoda Zean.


Zean yang menjadi nelangsa, menatap sedih Kim Jinnan yang masih sibuk menahan tawa. “Jinnan ... kayaknya aku beneran anak pungut, deh ... masa iya, bapak sendiri minta aku disunat pakai pisau cincang?”


Kim Jinnan semakin tak berdaya mengendalikan tawanya, berikut Pelangi yang ada di sisinya. Sedangkan Keinya justru menjadi kesal lantaran Yuan terus saja menggoda Zean. Padahal, mereka sama-sama tahu, Zean tumbuh di atas rata-rata anak seusianya. Pikiran Zean saja sudah seperti orang dewasa. Tentu, meski bermaksud bercanda, khusus pada Zean benar-benar harus waspada.


“Papa sudah!” tegur Keinya lirih sambil melotot pada Yuan.


Mendengar Keinya memarahi Yuan, Zean yang awalnya sampai menyemayamkan wajahnya di sebelah leher Kim Jinnan, langsung bersemangat. Zean segera menoleh untuk memastikan.


“Marahinnya yang lama dong, Ma. Hajar! Papa kan sudah kayak Dean. Jahat ke aku tuh!” sergah Zean.


Bukannya marah, yang ada Yuan justru semakin sibuk tertawa. “Kimo ... Kimo! Kemari!” sergah Yuan sesaat setelah balik badan dan membuatnya menatap Kimo yang ada di ujung sana bersama Rara.


Kimo yang cukup kebingungan berangsur menunjuk wajahnya sendiri untuk memastikan apa yag ia dengar tidak salah, perihal Yuan yang memanggilnya. Di mana, apa yang Kimo lakukan juga langsung disambut anggulan mantap oleh Yuan.


Kimo melangkah tergesa menghampiri kebersamaan Yuan dan keluarga kecilnya. “Ada apa, Yu?” tanya Kimo ketika jaraknya dari Yuan, hanya kurang satu meter.


“Ini ... kembaran kamu!” balas Yuan sambil melakukan gerakan wajah, menunjuk Zean pada Kimo.


Kimo langsung tertawa lepas. Namun Zean buru-buru mengoreksi.


“Bukan kembaran. Tapi calon matu! Iya, kan, Papah Kimo!” Zean sengaja memasang senyum semanis mungkin. Dan krnyataan tersebut sampai membuat Yuan dan Kimo sempoyongan karena keduanya langsung tawa sangat lepas.


“Jangan ganjen, ah!” tegur Keinya. “Sudah ... ayo ke ruang ganti. Kamu pakai pakaian yang lain saja, ya?”


“Tapi aku enggak mau turun. Malu pantatku! Jinnan, tolong antar aku!”


“Iya ... iya. Ayo kita ke ruang ganti.” Sambil berusaha mereda tawanya, Kim Jinnan mengikuti Keinya yang melangkah menuju ruang ganti di lorong sebelah.


“Jinnan ... aku ganteng, kan?” rengek Zean.


Kim Jinnan langsung mengangguk-angguk membenarkan anggapan Zean, agar bocah itu tidak ribut apalagi berisik.


***


Setelah drama sobeknya celana Zean, acara resepsi Pelangi dan Kim Jinnan pun digekar. Diiringi lagu Beautifull in White mengiringi langkah Kim Jinnan yang menggandeng Pelangi menuju altar pelaminan. Melewati bentangan jalan yang sampai dihiasi karpet merah, hujan kelopak bunga mawar putih bercampur dengan merah, sukses membuat Pelangi syok sekaligus terkagum-kagum.


“Jinnan, di agenda kita enggak ada ini, kan?” lirih Pelangi yang sengaja memastikan kepada Kim Jinnan.


Sambil menoleh dan menatap sang istri, Kim Jinnan sengaja mengulas senyum. “Aku sengaja bikin, buat kamu. Biar lebih romantis.”


Balasan Kim Jinnan sukses membuat Pelangi tersipu. “Ini indah banget. Aku aja sampai enggak nyangka.”


“Ya biar enggak kalah indah dari pengantinnya!”


Pelangi menjadi tertawa, lantaran Kim Jinnan justru menjadi sibuk menggodanya. Namun, sepanjang perjalanan menuju altar pelaminan, Pelangi kerap menengadah demi menikmati hujan kelopak bunga mawar dan putih yang pastinya hanya hujan buatan.


“Aku mau kayak gini di kamar juga,” pinta Pelangi tepat ketika mereka nyaris menaiki anak tangga altar.

__ADS_1


“Bisa diatur!” balas Kim Jinnan yang semakin mengeratkan gandengannya mengingat selain harus menaiki beberapa anak tangga, Pelangi istrinya juga mengrnakan heels tinggi dan terbilang cukup runcing.


Ketika sampai di altar dan kemudian balik badan sambil kompak melambaikan tangan pada semuanya tak ubahnya ratu dan raja yang baru saja dinobatkan, Kim Jinan berbisik, “sebenarnya, aku juga undang Atala dan Irene, lho. Tapi enggak tahu mereka datang atau enggak.”


Mendengar bisikan Kim Jinnan, Pelangi langsung syok. Pelangi bahkan sampai berhenti melambaikan tangan. “Lena bagaimana? Lena masih suka sama Atala, ih!”


Kim Jinnan berangsur menoleh dan menatap Pelangi. “Aku saja enggak tahu, hubungan mereka seperti apa?”


“Sudah tahu enggak tahu, kamu justru main undang?” balas Pelangi yang kali ini sampai mengomel.


Nuansa super romantis yang awalnya menyelimuti Pelangi, menjadi terkikis oleh ketidaknyamanan.


“Yang kutahu, meski Atala berniat tanggung jawab, tapi Irene tetap enggak mau. Mereka tetap menjad sahabat baik. Selebihnya, Atala akan merawat anak Irene.”


“Ya ampun ... rumit banget. Kasihan mereka. Terus, kira-kira, Elena bagaimana, ya?” Pelangi menunggu pendapat suaminya.


“Kalau jodoh, biasanya sampai pelaminan terus hidup sama-sama, sampai akhir waktu. Tapi kalau hanya bertemu untuk sementara waktu, ya namanya hanya bertamu.”


“Ya ... Jinnan. Jawabanmu klise banget.”


“Kan mereka yang menjalani, bukan aku. Kalau kamu tanya ke aku tentang hubungan kita. Baru, aku bisa jawab panjang lebar.”


Kembali, Pelangi menjadi tersipu. Namun tak lama setelah itu, ada yang cukup mengganggu Pelangi. Mengenai buket pernikahan mereka. Kira-kira, siapa yang akan mendapatkannya.


Sebelum menjawab, Kim Jinnan sengaja membenarkan mahkota berwarna silver yang menghiasi kepala Pelangi, kemudian menyilakan sebagian rambut Pelangi yang memang dibiarkan terurai dengan gaya ikal gantung, ke belakang punggung. Karena meski kebanyakan gaya rambut pengantin disanggul, tapi Pelangi memang sengaja ingin tampil beda.


“Lempar saja. Semoga sih, bukan Zean yang dapat!” Mengingat Zean yang mengaku akan menjadi mennatu Kimo, baik Pelangi maupun Kim Jinnan sendiri, menjadi tertawa geli.


Kini, Pelangi dan Kim Jinnan menyambut kedatangan Keinya dan Yuan, di mana keduanya sama-sama menggandeng Mentari. Kemudian, di belakang mereka diikuti oleh Atan dan Kimi. Diikuti juga oleh Khatrin dan Philips, kemudian Dean, Zean dan juga Kishi, dengan Zean yang digandeng oleh keduanya.


Semeriah dan sesempurna apa pun acara resepsi, bagi Kim Jinnan memang tetap ada yang kurang, lantaran biar bagaimanapun, pihak keluarga dari Kim Jinnan hanya diwakili oleh Pak Jo. Pak Jo saja sampai kerap harus menyeka air matanya yang terus saja mengalir, menuangkan isi hatinya yang sibuk menjerit.


“Apakah kalian juga melihatnya? Sungguh ... resepsi ini sangat meriah. Semuanya tersenyum bahagia bahkan Pelangi yang semenjak awal sering meragukanku. Tidak ... tidak. Yang benar, kami sama-sama belajar bahkan sampai sekarang. Kami telah mengalami banyak perubahan untuk menjadi pasangan yang baik.” Kim Jinnan berbicara dalam hatinya, perihal kerinduannya kepada orang tua dan juga kakeknya. Terlebih, ketika sesi foto. Kim Jinnan sampai merinding tanpa bis menghalau rasa panas yang menyerangnya, khususnya kedua matanya.


“Aku juga merindukan kalian. Tapi kita sama-sama bahagia dengan kehidupan kita!” Dalam diamnya, Kim Jinnan seolah melihat Kakek Jungsu dan kedua orang tuanya, tengah melangkah melewati hamparan karpet merah menuju altar pelaminan. Ketiganya tersenyum semringah menatap bangga Kim Jinnan, dengan kakek Jungsu yang memimpin langkah. Karenanya, Kim Jinnan menjadi tersenyum leoas kendati air matanya menjadi sibuk berlinang.


“Seperti janjiku. Aku benar-benar akan membuat Kalian bangga!” batin Kim Jinnan yang dikagetkan oleh jemari Pelangi. Padahal, awalnya Kim Jinnan melihat kakek beserta orang tuanya telah ada di hadapannya dan memenuhi pandangannya. Namun, jemari Pelangi yang sibuk menyeka air mata Kim Jinnan, membuat pria itu terkesiap.


“Aku baik-baik saja,” ujar Kim Jinnan meyakinkan Pelangi.


Kim Jinnan menatap Pelangi sambil mengulas senyum.


Pelangi yang sudah sampai ikut berkaca-kaca, berangsur mengangguk. “Ya. Aku tahu. Karena kamu laki-laki hebat!” Setelah mengatakan itu, air mata Pelangi luruh. “Terima kasih banyak, Jinnan ....”


Kenyataan tersebut membuat Kim Jinnan yakin, Pelangi mengetahui perihal apa yang membuatnya mendadak diliputi banyak kesedihan.


“Tapi aku benar-benar melihat mereka,” lirih Kim Jinnan.


Pelangi berangsur meraih sebelah tangan Kim Jinnan yang digenggamnya erat, sambil mengangguk-angguk.


Kebetulan, kini hanya mereka berdua di altar dan duduk di tempat duduk yang tersedia. Namun sekali lagi, Kim Jinnan kembali melihat bayang-bayang keluarganya. Ketiganya sampai berdiri di antara dirinya dan Pelangi. Di mana, ketiganya menatapnya dengan senyum lepas. Mereka terlihat sangat bangga kepada Kim Jinnan, dan seolah meminta Kim Jinnan untuk melanjutkan perubahan baik yang telah Kim Jinnan lakukan, semenjak Kim Jinnan menikah dengan Pelangi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2