Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 62 : Perang Dingin


__ADS_3

“Kalau lajang adalah kesalahan, jadi selama hidupku, aku sudah salah karena selama itu juga, aku lajang?”


Episode 62 : Perang Dingin


Seperti tidak terjadi apa-apa, itulah yang Elia dapati dari Elena, di pagi ini. Kembarannya itu tampak baik-baik saja. Elena bahkan tetap makan dengan lahap. Berbeda dengan Elia yang masih terbawa suasana. Padahal Elia sampai berkabung karena perdebatan semalam. Namun kini, mendadak Elia merasa jika Elena sudah mati rasa. Ya, Elena karena dibutakan oleh cinta Atala.


“Pagi Sayang? Tumben pagi ini kamu telat? Sini, sarapan,” sapa Steven yang langsung menarik kursi di sebelahnya. 


Steven segera menyisihkan mangkuk berisi sereal berkuah susu yang awalnya sedang ia nikmati, demi menyiapkan roti bakar untuk Elia yang segera menghampiri.


“Pagi, Pa!” sapa Elia yang kemudian mencium sebelah pipi Steven sebelum bergegas duduk di kursi yang telah Steven pilihkan.


“Mm ...?” gumam Steven yang refleks mengernyitkan dahi setelah mendapatkan ciuman dari Elia. 


Steven menatap cemas Elia. “Suhu tubuhmu hangat, lho. Matamu juga merah banget. Kamu begadang?” tebaknya.


Elia yang sudah duduk pun menanggapi Steven dengan santai sambil melepas tas gendongnya. “Aku begadang buat garap tugas yang harus dikumpulkan hari ini. Sama sedikit flu juga,” kilah Elia terpaksa berbohong sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah.


Elia sadar, suaranya sampai masih sengau lantaran semalaman, ia terlalu lama menangis. Jadi, mengatakan jika dirinya flu juga bagian dari hal yang harus Elia lakukan untuk mengelabuhi sang papa yang pasti akan gampang curiga mengingat Steven merupakan seorang psikiater.


“Oh ... kalau gitu, nanti sepulang sekolah kamu langsung tidur, ya. Terus, good job juga untuk tugasmu! Papa yakin, kamu akan kembali melakukan yang terbaik!” balas Steven langsung menyemangati Elia.


“Iya, Pa!” balas Elia yang langsung tersenyum ceria dan bersikap semanis mungkin.


“Dia kan memang enggak ada kesibukan lain selain sekolah. Beda sama aku yang banyak kesibukan. Ya memang lebih baik tidur atau bantu mama urus Shean, kan?” balas Elena terdengar sinis. Elena mengatakannya sambil menikmati roti bakar berselai cokelat dan dipegang menggunakan kedua tangan.


Sontak, apa yang Elena katakan sukses mengalihkan fokus Steven maupun Elia, selaku terdakwa di sana. Elia bahkan sampai kehilangan senyumnya, di mana wajahnya kembali murung.


“Lena sengaja balas dendam apa bagaimana? Ini ... benar-benar masih karena Atala? Gila segitunya!” batin Elia yang kemudian berdeham dan segera berkata, “banyak enggaknya aktivitas kan kembali sama yang menjalani. Sudah tahu keadaan, ya enggak boleh ngeluh apalagi menindas orang yang enggak sejalan!” balas Elia dengan cerianya. “Aku bahagia dengan caraku, dan aku menikmati apa yang kujalani! Sesederhana itu hidup ini!”


Keceriaan Elia membuat Steven yang melihatnya menjadi tersipu sekaligus gemas terhadap anaknya yang sudah menjadi gadis pintar dan begitu menyenangkan.


“Papa setuju sama kamu!” ucap Steven sambil menatap ceria Elia yang langsung semakin ceria.


Bahkan, Elia sampai balas dengan mencium sebelah pipi Steven.


Awalnya, Elena juga tersenyum dan sampai menghentikan kunyahannya. Namun, lantaran Steven terus menatap Elia, Elena menyadari jika pujian yang Steven berikan bukan untuknya, melainkan untuk Elia.


“Ya iya ... buat apa banyak aktivitas tapi kita kewalahan sendiri, bahkan enggak bahagia,  sedangkan kita dibebaskan untuk memilih? Itu namanya bikin susah hidup sendiri! Ya sudah ah, aku mau ambil yogurt!” Elia bergegas dan sampai setengah lari menuju dapur untuk mengambil yogurt. 


Karena semenjak kemarin Rafaro membantu Elia belanja, yogurt semakin menjadi makanan favorit dalam hidup Elia. Tepatnya, semenjak Elia mengetahui Rafaro juga menyukai yogurt yang selama ini Elia suka.


Steven sadar, dari Elia dan Elena, yang sudah mantap ingin mengikuti jejaknya menjadi seorang psikiater atau setidaknya dokter spesialis, memang Elia. Jadi, Elia benar-benar fokus dengan tujuan gadis itu menjadi dokter. Elia bahkan sudah mempersiapkan keperluan melanjutkan ke jenjang perkuliahan, dari jauh-jauh hari. Berbeda dengan Elena yang memiliki banyak aktivitas dan sampai sekarang belum mengatakan tujuan sebenarnya. Dari les piano, kursus beberapa bahasa asing, selain menjalani kursus aneka masakan dan kue. Dan karena semua itu juga, Elena menjadi sangat sibuk.


***


Sekembalinya Elia dari dapur yang sampai membawa dua wadah besar yogurt, Steven yang sudah kembali melanjutkan sarapannya berkata, “Sayang, cepat. Kasihan tuh yang nungguin.”


Dan apa yang Steven katakan sukses membuat Elia terdiam. “Ada yang nungguin aku? Pak sopir maksudnya?”


Balasan polos Elia membuat Steven tertawa. Lain halnya dengan Elena yang langsung terdiam seiring dahi gadis itu yang sampai dihiasi kerut tipis. Elena benar-benar penasaran dengan apa yang Steven maksud. Ada yang menunggu Elia? Siapa? Karena bagi Elena, tidak mungkin yang menunggu sopir, sedangkan Steven sampai mengingatkan.


“Si kembar ...,” balas Steven yang masih tersenyum santai.


Balasan Steven sukses membuat rasa ingin tahu Elia dan Elena berakhir. Bahkan saking tidak percayanya, Elia sampai melepas kedua yogurt yang menghiasi tangannya. “Y-yang, benar, Pa?” tanya Elia sampai gugup.


Elia benar-benar memastikan dan sangat berharap yang datang menunggunya merupakan Rafaro. Dan Elia menatap Steven tanpa bisa menyembunyikan ketegangannya. Di mana, apa yang terjadi pada Elia membuat senyum Steven semakin mengembang. Kenyataan tersebut juga yang membuat Elia buru-buru memungut yougurtnya kemudian bergegas memastikan.


“Si kembar? Rafa ...?” pikir Elia sangat berharap di tengah kenyataannya yang sampai tersipu.


Elia sengaja melangkah cepat guna secepatnya sampai di ruang tamu. Namun sial seribu sial, yang datang bukan Rafaro, melainkan musuh bebuyutan Elia, Mofaro. Ya, pemuda paling menyebalkan dalam hidup Elia itu sudah duduk menyandar pada sofa besar yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


“Ngapain kamu ke sini? Mau minta sumbangan?” tegur Elia yang detik itu juga langsung merengut kesal.


Mofaro yang awalnya sedang main game di ponsel langsung menyambut pernyataan Elia dengan senyum lepas. “Ya ampun ... morning, kesayangan ...? Bagaimana, apakah semalam tidurmu nyenyak?”


Elia refleks bersedekap sambil tersenyum sarkastis dan menepis tatapan Mofaro yang langsung membuatnya jiji. “Ngajak perang nih orang!” cibirnya sambil melirik sengit yang bersangkutan.


“Kamu tahu saja tujuanku ke sini, ya?” lanjut Mofaro yang memang mendengar setiap balasan Elia meski gadis itu bertutur lirih. 


“Aku bawa kabar bahagia buat kamu. Karena pagi ini, aku bersedia boncengin kamu dan anterin kamu ke sekolah pakai motor kesayanganku.” Mofaro masih bertutur manis layaknya senyuman yang menghiasi wajah tampannya.


Namun bagi Elia, Mofaro pasti memiliki tujuan terselubung. “Enggak sudi aku, bonceng kamu! Lagi pula aku masih sayang nyawa. Buat apa aku bonceng kamu kalau enggak terpaksa?!” balas Elia cepat.


Mofaro masih menanggapi keangkuhan Elia dengan senyum manis. “Ayolah, bukankah kita sudah melakukan kesepakatan? Kamu lupa, permintaanmu kemarin?”


“Anggap saja aku amnesia. Semudah itu kalau berurusan denganku! Sudah sana pergi!” balas Elia lagi.


“Ayolah ... aku benaran tertarik penawaranmu yang kemarin!” Kali ini Mofaro sampai merengek dan tak segan meraih sebelah tangan Elia. Mofaro juga sengaja mengguncang-guncang tangan Elia yang ditahan.


“Tawaran apa?” tanya Elena yang tiba-tiba datang. 


Elena menatap curiga kebersamaan Elia dan Mofaro. Mofaro yang terlihat jelas siap ke kantor jika dilihat dari cara pemuda itu berpakaian. Mofaro telah mengenakan setelan kemeja lengan panjang berikut celana bahan panjang yang berwarna hitam. Dan detik itu juga, dunia Mofaro dan Elia seolah berputar lebih lambat bertumpu pada Elena.


“Kalian pacaran beneran?” lanjut Elena menebak-nebak.


Elena tampak begitu penasaran. Namun, baik Mofaro maupun Elia yang menyimak sambil menatap serius, segera menggeleng.


“Kok kamu megang tangan Elia sampai segitunya? Terus ... kalau enggak pacaran, kenapa juga kamu pagi-pagi ke sini hanya untuk antar Elia ke sekolah?” lanjut Elena sengaja menginterogasi lantaran ia sangat penasaran pada hubungan Elia dan Mofaro.


Ketika Elena begitu ingin tahu, yang bersangkutan justru menggeragap dan tidak bisa memberikan jawaban. Baik membenarkan, atau pun menepis anggapan Elena.


“Aku sih berharap, kalian beneran pacaran, biar Elia enggak sibuk urus hubunganku dan Atala!” tegas Elena kemudian. 


“Apa maksudmu memanggil pacarku  ‘paman’?!” balas Elena sewot.


Elia tak acuh. “Lagian, sekeren apa sih, status pacaran? Yang menikah saja bisa bercerai, apalagi yang sekadar pacaran? Dan aku juga berani jamin, yang pacaran belum tentu nikah dulu, atau setidaknya sampai ke jenjang pernikahan!”


Elia menatap tegas Elena yang baginya begitu membanggakan status pacaran, perihal hubungan Elena dengan Atala. “Lihat Ngi-ngie sama Jinnan. Memangnya sebelumnya ada yang menyangka, mereka akan tiba-tiba menikah? Bahkan aku sempat berpikir, Ngi-ngie hanya akan menikah dengan Rafaro. Tapi nyatanya, Ngi-ngie justru menikah dengan orang asing yang bahkan baru kita kenal, kan?”


Elena tidak bisa berkomentar. Begitu juga dengan Mofaro yang seperti dihadapkan pada masa lalu menyakitkan, dan sedang susah payah ia lupakan. Ya, Mofaro sudah berusaha move on dari Pelangi yang justru menikah dengan Kim Jinnan seperti apa yang Elia ucapkan.


Namun terlepas dari itu, Elia juga yakin, hubungan Pelangi dan Jinnan tidak selalu baik-baik saja. Pasti ada saja masalah bahkan meski dari hal sepele. Karena ibarat jalan, jalan tol yang sudah dibuat semulus mungkin saja tetap menelan korban. 


“Jadi, di mana letak kesalahan seseorang lajang? Apa salah seseorang yang tidak punya pasangan, tidak punya pacar sepertiku? Aku bahagia, dan ini hidupku!” lanjut Elia menuntut balasan Elena.


Elena benar-benar diam dan menunduk.


“Kalau lajang adalah kesalahan, jadi selama hidupku, aku sudah salah karena selama itu juga, aku lajang?” pikir Mofaro yang sampai hanyut dan memikirkan keluh kesah Elia.


Dari balik pintu ruang keberadaan ketiganya, Kainya menjadi terdiam cemas. Mengenai Elia berikiut Elena yang kadang akan membalas dengan ketus. Kainya yakin, anak kembarnya sedang tidak baik-baik saja. Keduanya sedang terlibat dalam perang dingin. Jadi, ia memutuskan untuk membahas hal tersebut dengan sang suami, tepat ketika Mofaro menarik sebelah tangan Elia sambil berseru.


“Ya ampun si bawel pinter banget kalau ngelawak, ya?!” Mofaro kembali mengguncang-guncang sebelah tangan Elia yang masih ia tahan.


“Kan, sintingnya nambah parah!” pikir Elia makin sebal kepada Mofaro yang masih saja menggila dan tak hentinya berulah kepadanya.


Namun yang Elia bingungkan, kenapa statusnya yang lajang seolah menjadi masalah tersendiri bagi Elena bahkan hubungan Elena dan Atala? Masalah apa yang sebenarnya Elena sembunyikan atas hubungan gadis itu dengan Atala dan sampai menarik status Elia ke dalamnya?


***


Pagi ini, sesuai rencana Mofaro, pemuda itu membonceng Elia dan mengantarnya ke sekolah. Pastinya, kali ini Mofaro sampai menyediakan helm khusus untuk Elia. Namun, lantaran dalam berkendara, Mofaro kerap ngebut tiba-tiba, Elia yang kaget juga tak segan mengamuk bahkan mencekik leher Mofaro.


Keributan tersebut juga yang membuat Rafaro dan kebetulan berkendara di sebelahnya, lebih tepatnya Mofaro baru saja menyalip mobil Rafaro, menjadi menertawakannya. Terlebih, tingkah Mofaro dan Elia yang nyaris tidak pernah akur memang selalu menjadi hiburan tersendiri baginya.

__ADS_1


Kini, di lampu merah, Mofaro dan Elia yang juga sampai terjebak macet, melanjutkan misi mereka.


“Tapi benaran, kan, kalau aku lebih keren dari si paman pilot?” tanya Mofaro.


“Ya ampun, kamu ini ... katanya jenius, tapi kok bodo banget. Lola nyangkutnya!” omel Elia yang sampai menoyor punggung kepala Mofaro.


Rafaro yang sampai menurunkan kaca mobilnya sampai menjadi terpingkal-pingkal melihatnya.


“Ya ampun, aku memang jenius. Jadi kamu jangan seenaknya noyor-noyor kepalaku!” keluh Mofaro.


“Lagian kamu ini lola! Aku sudah jelasin sampai mulutku berbusa, tapi kamu masih saja enggak nyambung!” balas Elia masih mengomel.


Rafaro sengaja memajukan mobilnya terlebih di depannya masih sedikit kosong. Dan apa yang ia lakukan sukses membuatnya sejajar dengan Elia. Di mana tak lama setelah itu, Rafaro segera berdeham.


“Waduh ... bentar, ... kok dehamannya kayak enggak asing, sampai-sampai, aku juga jadi berdebar-debar gini, ya?” pikir Elia yang berangsur memberanikan diri untuk menoleh. Dan tepat di sebelah kanannya, Rafaro sudah ada di balik kemudi sambil tersenyum jail.


“Aku cemburu, lho!” ujar Rafaro tanpa menatap Elia.


“Kami sedang berbisnis!” elak Elia cepat-cepat.


Mofaro yang sampai mendengarnya juga langsung menoleh dan memastikan. “Hahaha ... kami lagi kencan rutin, Raf. Sori, ya, pinjam bentar!”


Mendengar ucapan Mofaro, Elia yang merasa kecolongan segera menoyor kepala Mofaro. Tak hanya satu tangan atau sekadar sekali. Sebab selain menggunakan kedua tangan, Elia juga sampai menoyor kepala Mofaro berulang kali.


Rafaro terpingkal-pingkal dan susah payah menahan tawanya melihatnya. Apalagi, Mofaro juga tak segan membalas dan mencubiti paha Elia. Jadilah, Elia buru-buru turun kemudian lari ke mobil Rafaro, sesaat setelah sampai melepas helemnya dan memberikannya kepada Mofaro.


“Kamu sama Rafa, nanti kamu telat, lho!” tegur Mofaro yakin sambil menunjuk-nunjuk Elia yang sudah duduk di sebelah Rafaro.


“Lihat, Raf!” ujar Elia yang sedikit menarik roknya dan sengaja memamerkan bekas cubitan Mofaro yang sampai menimbulkan banyak bekas biru. “Panas pedes ini!” lanjutnya yang benar-benar kesal kepada Mofaro


“Ya ampun ... sampai separah itu?” Bahkan Rafaro sampai tidak tega melihatnya.


Lantaran lampu merah sudah usai, semua yang awalnya menunggu pun kembali berkendara tanpa terkecuali Mofaro dan Rafaro. Dan menyadari Mofaro sampai menyeimbangi mobilnya, Rafaro segera menurunkan kaca mobilnya.


“Biar aku yang antar. Kalau sampai telat, aku akan langsung menemui gurunya,” ucap Rafaro dengan gayanya yang begitu tenang.


Bersama Rafaro, Elia benar-benar merasa aman. Kontras ketika Elia bersama Mofaro. Yang ada, selain menjadi semakin emosi, Elia juga akan teraniaya dan mendapatkan luka layaknya sekarang.


Elia yang telanjur kesal sengaja melambaikan tangan sembari menjulurkan ludahnya, ketika mobil Rafaro yang ia tumpangi, sampai melewati Mofaro.


“Sengaja banget si Elia!” cibir Mofaro dalam hati dan segera menambah kecepatan laju motornya hingga melampaui mobil Rafaro dengan sangat cepat.


“Kalian perang dingin terus? Lihat pahamu sampai begitu?" ucap Rafaro menyayangkan apa yang terjadi apalagi paha Elia juga sampai menjadi korbannya.


“Kalau bukan untuk misi, tentu aku enggak mau pergi sama Mo,” balas Elia yang sampai cemberut.


“Misi?” ulang Rafaro yang kemudian sampai menoleh dan menatap Elia penuh kepastian.


Elia segera mengangguk dan menceritakan semuanya. Perihal misinya dan Mofaro, juga alasannya membantu Mofaro mendekati Elena.


“Kok, Elia dan Mo yang enggak pernah absen bertengkar, justru terkesan sangat dekat?” pikir Rafaro.


“Bahkan, Elia sama sekali enggak terlihat canggung kepada Mo?” lanjut Rafaro lagi dan memang masih mencoba mencermati keadaan. Mengenai hubungan Elia dan Mofaro.


Karena bagi Rafaro, meski Mo dan Elia selalu bertengkar, tetapi keduanya memiliki hubungan yang bisa dikatakan spesial.


“Lain kali kalau Mo macam-macam, tinggal saja.”


Pesan Rafaro cukup mengusik Elia. Rafaro meminta dirinya untuk meninggalkan Mofaro ketika pemuda banyak bicara itu macam-macam kepada Elia? Tentu saja Elia tidak akan melakukannya!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2