Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 68 : Satu Kamar


__ADS_3

“Aku ... aku jatuh cinta kepadamu. Aku tidak tahu, sejak kapan aku merasakannya? Hanya saja, ... aku harus jujur. Aku harus jujur agar kamu tidak terus bertanya bahkan menunggu. Agar kamu juga mendapatkan hakmu sebagai istriku.”


Bab 68 : Satu Kamar


Kimo yang membawa nampam berisi potongan buah mangga matang dan segelas susu hangat--susu khusus ibu hamil--mendapati Kiara terjaga di depan kamar Rara. Kiara mengintip apa yang sedang dilakukan Rara di dalam, dari sela pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup.


Di kamar, di sebelah ranjang tidur, Rara duduk di kursi kerja yang keberadaannya persis menghadap jendela. Rara sedang sibuk berkutat di depan laptop.


Setelah ikut memastikan itu semua, Kimo yang berdiri di belakang Kimo, dan masih melongok apa yang Rara lakukan pun berkata, “Ma?”


Panggilan pelan Kimo, membuat Kiara terkesiap bahkan terjaga. Kiara refleks menoleh dan menengadah demi menatap putra semata wayangnya, dan ia yakini baru saja memanggilnya. Kimo, ... sehari bersama anaknya itu, Kiara merasa sedang bersama pria idaman. Bagi Kiara, Kimo telah menjadi pria yang semakin matang. Pun meski sifat kekanak-kanakan Kimo belum benar-benar hilang. Kimo yang sekarang, sungguh mengayomi Rara. Cekatan menyiapkan segalanya, selain semakin sabar. Pun kepadanya, Kimo menjadi semakin sopan.


“Kenapa kamu ngagetin Mama?” keluh Kiara sambil memegangi dadanya menggunakan kedua tangan, lantaran apa yang Kimo lakukan, sukses membuat jantungnya berdebar-debar di atas normal. Bahkan Kiara merasa nyaris jantungan. Itu sebabnya, ia sampai mengatur napas pelan demi meredam kekacauan yang melandanya akibat ulah Kimo.


Mengandalkan senyum tak berdosa, Kimo membalas Kiara. Senyum yang bahkan baru Kiara dapatkan seumur hidupnya.


Kiara menghela napas lantaran merasa tak habis pikir. “Di dunia ini yang mengidam bukan hanya kalian, tetapi kelakuan kalian, ... makin hari makin aneh!” keluhnya.


Kimo menahan tawanya sambil mengangguk-angguk. Namun tak berselang lama, setelah Kiara juga kembali menghela napas untuk ke sekian kalinya, ia berkata, “Ma ...?”


Kiara refleks menatap Kimo sambil mengerutkan dahi.


“Mengenai kesibukkan Rara ketika memegang ponsel atau laptop, ... Mama jangan salah sangka, karena itu sudah jadi pekerjaan Rara. Rara seorang penulis dan meski dia sedang diam sekalipun, otaknya terus bekerja memikirkan lanjutan cerita.” Kimo berusaha memberi Kiara pengertian.


Kiara menghela napas karena merasa khawatir, berikut kerut di dahinya yang kian bertambah. “Apakah pekerjaannya aman buat kandungannya?” tanyanya, hati-hati.


Kimo mengangguk. “Aman. Justru dia bisa stres kalau sehari saja, dia enggak nulis.”


Kiara mengangguk-angguk mengerti. “Ya sudah, diatur saja.”


Kimo kembali mengangguk-angguk, kali ini lebih cepat. “Besok aku titip Rara, ya, Ma? Banyak rapat yang harus aku jalani dan semuanya sangat penting. Karena selama Papa pergi, semua urusan penting memang sengaja papa alihkan kepadaku.” Kimo menghela napas pelan. “Dan sepertinya, besok Rara juga ada jadwal ke restoran. Mama sekalian ikut saja.”


Kiara mengangguk-angguk. “Ya, Mama bakalan jaga Rara non-stop. Lagian, kiriman barang pesanannya kayaknya baru sampai satu minggu lagi.”


Tanggapan santai Kiara tak lantas Kimo biarkan begitu saja. Apa yang Kiara maksud juga mengenai pesanan barang yang akan menghuni rumahnya. Tak hanya seperangkat sofa berikut meja dan lemari, karena Kiara bahkan akan memesan keperluan kamar bayi. Jadi, nantinya Kiara juga akan ikut memantau pengerjaan terhadap kamar bayi yang ia rancang bersama Rara. Pun meski di rumah Kiara sendiri, Franki juga sudah menyiapkan kamar bayi yang bahkan sudah rampung penggarapannya.


“He’um. Sering-sering saja borong keperluan buat rumah ini. Enggak usah sungkan!” ucap Kimo sambil tersenyum lepas.


Kiara meninju asal dada Kimo yang justru menjadi tergelak. Dan tak lama setelah itu, kebersamaan mereka usai ditutup dengan ucapan selamat malam. Sebuah kebersamaan langkah yang sudah sangat lama tidak mengikat mereka. Kata-kata sederhana yang kadang sulit atau malah terlupakan hanya karena dianggap sepele.


“Selamat malam. Mimpi indah. I love you, Ma!”


Mendapat ucapan seperti itu saja, hati Kiara langsung terlena. Kiara seolah melihat sosok Kimo ketika anaknya itu masih kecil--belum sampai menginjak usia remaja. Dan ketika pemikiran tersebut menguasainya, Kiara merasa waktu berputar sangat cepat. Kimo yang dulunya tidak mau diam dan membuatnya sibuk mengejar anak itu atau malah Kimo kecil yang sangat hobi memberantakan barang-barang, justru akan memberinya anak kecil baru. Dan hanya karena memikirkan itu, rasa bahagia yang menguasai, sukses membuat wanita itu berlinang air mata.


Sambil terus melangkah menuju kamar Kimo yang telah menjadi kamarnya selama ia tinggal di sana, Kiara yang tampak sangat bahagia--tak hentinya tersenyum kendati berlinang air mata--sibuk menyeka air matanya.

__ADS_1


***


Kimo menutup kemudian mengunci pintu kamarnya dengan hati-hati. “Camilan malam sudah siap,” ucapnya sambil menghampiri Rara.


“Memangnya, ini sudah jam berapa?” balas Rara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop, berikut jemarinya yang masih sibuk di atas keyboard.


Kimo belum sempat menjawab, karena Rara yang tiba-tiba menoleh bahkan menghadap padanya, juga berkata, “Ih, Kimo! Sistim web novelku bermasalah terus! Nah, ini si Ryunana ada bikin event di webnya, tetapi persis dengan event yang ada di webku! Nyebelin banget, kan?”


Tanpa berkomentar, Kimo yang memasang wajah serius segera menghampiri Rara. Ia segera memastikan laptop milik istrinya itu, sesaat setelah menepikan nampan yang dibawa.


“Minum susunya,” ucap Kimo tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.


Rara yang awalnya melongok apa yang Kimo lakukan, segera meraih segelas susu hamil rasa strawberinya. Sambil meminumnya, ia juga tetap memantau jalannya apa yang Kimo lakulan.


“Kemarin sama Gio dikasih sistim yang bisa pembaruan otomatis, enggak?” tanya Kimo masih serius.


“Aku kurang paham. Kan kemarin pas ketemu Gio, kamu sibuk rusuh!” cibir Rara yang kemudian menuntaskan susunya.


Kimo refleks menelan ludah. “Satu hal yang sulit aku kontrol itu cemburu. Bahkan aku bisa lebih rusuh dari ormas yang menuntut keadilan, ketika aku cemburu!”


Diam-diam, Rara tersipu menertawakan kesibukan Kimo. Namun tak berselang lama setelah itu, ia menjadi terkejut lantaran Kimo bisa mengatasi gangguan sistim di web novelnya.


“Wah ... sejak kapan, kamu bisa? Keren!” puji Rara terpukau mendapati layar laptopnya menampakkan tampilan web novelnya yang rapi sekaligus cantik.


“Ya ampun ... pantas saja banyak nyamuk. Ternyata aku lupa menutup jendela,” keluh Rara sambil sesekali menepuk-nepuk tangannya, demi menangkap nyamuk yang dijumpai.


Rara berangsur menutup jendela yang keberadaannya tak kurang dua meter dari Kimo. Sedangkan Kimo yang masih mematung juga mendapati nguingan suara nyamuk mengitari kepalanya.


“Kenapa di dunia ini harus ada nyamuk, sih?” batin Kimo geram.


Rara yang masih berusaha menutup jendela kamar pun menoleh dan menatap Kimo. “Kimo, pasang obat nyamuk elektrik. Nanti kita enggak bisa tidur,” ujarnya.


“Mmm,” balas Kimo yang kemudian berlalu menuju keberadaan obat nyamuk elektrik yang keberadaannya, ada di sebelah meja rias.


Ketika Kimo berhasil memasang obat nyamuknya, Rara juga baru saja berhasil menutup jendelanya di mana tak lama setelah itu, pandangan mereka bertemu.


“Apakah kita bisa memulai semuanya dari awal?” tanya Kimo serius, masih berdiri di sebelah meja rias.


Rara mengernyit dan mengerutkan bibir lantaran tidak mengerti dengan apa yang Kimo maksud.


“Sudah hampir dua bulan. Sedangkan aku tak kunjung menemukanmu dalam ingatanku yang hilang,” lanjut Kimo.


Dirasa Rara, tiba-tiba saja suasana kebersamaan mereka menjadi terasa sangat serius. Kimo, apakah pria itu sedang membahas hubungan mereka?


Kali ini Kimo menunduk, meski kedua kakinya berangsur melangkah mendekati Rara. “Aku ... aku jatuh cinta kepadamu. Aku tidak tahu, sejak kapan aku merasakannya? Hanya saja, ... aku harus jujur. Aku harus jujur agar kamu tidak terus bertanya bahkan menunggu. Agar kamu juga mendapatkan hakmu sebagai istriku.”

__ADS_1


Penuturan Kimo membuat Rara nelangsa. Rara bahkan sampao menitikkan air matanya. Rara menelan ludah kemudian membasahi bibir bawahnya. “Aku sudah pernah mengatakannya, bukan?” ucapnya santai.


Kimo yang sudah ada di hadapan Rara menjadi menatap Rara dengan mengernyit.


Rara menatap Kimo dengan wajah yang berbinar. Pun dengan hatinya yang menjadi berdebar-debar layaknya ketika ia baru mengalami indahnya jatuh cinta.


“Karena meski otak kamu rusak, tapi aku yakin, hati dan cinta kamu selalu sempurna buat aku.” Rara yang tersipu berangsur menunduk. Dirasanya, tidak hanya pipinya yang menjadi meremang, melainkan sekujur tubuhnya. Terlebih ketika kedua tangan Kimo berangsur merengkuh tubuhnya.


“Karena cinta yang tulus, selalu membuat kita kembali. Aku percaya itu!” Rara menitikkan air mata. Air mata bahagia.


“Maaf,” lirih Kimo terdengar berat yang kemudian mengendus dalam, kepala Rara. Tak beda dengan Rara, ia juga menutikkan air mata.


Rara mengangguk sembari balas mendekap erat Kimo. “Apakah kamu tahu? ... semenjak otakmu rusak ... semenjak kamu amnesia dan aku hilang dari ingatanmu ... aku selalu merasa takut. Aku juga tidak bisa berhenti merindukanmu sekalipun pandanganku selalu dipenuhi olehmu, dan bahkan kamu selalu di sisiku!” keluhnya sambil terisak-isak.


Kimo mengangguk. “Aku tahu ... aku bisa melihatnya ... aku bisa melihat betapa besar cintamu kepadaku. Itu juga yang membuatku yakin, ... kamu tidak mungkin membohongiku.”


Rara terpejam pasrah, ia membenamkan wajahnya di dada Kimo, atas kebahagiaan yang menjadi meluap menguasai kehidupannya.


Sambil mengeratkan dekapannya, Kimo berkata, “Maaf ... maaf karena telah membiarkanmu merasa takut bahkan sendiri.”


Rara menggeleng. “Tidak semua yang kualami menyakitkan ... sebab, aku juga harus berterima kasih, karena jika saja kamu tidak amnesia, belum tentu mama akan merestui kita.”


Kimo dan Rara sama-sama tersipu. Kemudian, Kimo berangsur menahan kedua lengan Rara dan mendorongnya pelan. Ia menatap lekat-lekat kedua mata Rara yang sudah terlihat sembam. Setelah mengelap pelan sekitar mata Rara, ia melayangkan ciuman lama di kening wanita itu.


“Bagaimana kalau kita menikah? Kita menikah lagi? Bukankah sebelumnya, kita juga belum menggelar resepsi?” sergah Kimo atusias.


Raa tersipu kemudian menunduk. “Aku juga mau dilamar lagi! Lamar aku dengan benar! Di depan orang tua sekaligus keluargamu!” tuntutnya.


Kimo mengangguk-angguk seiring air mata bahagianya yang terus berlinang. “Aku akan membicarakannya setelah papa pulang!” janjinya.


Rara membalasnya dengan senyum yang kian leoas, kendati hal serupa juga terjadi pada air matanya yang semakin rebas.


“Flora ... sekarang kita kembali satu kamar. Sedangkan selain itu, kita juga sudah kembali menjadi pasangan normal. Jadi, mulai malam ini, ... mulai malam ini, kita juga bisa melakukan aktivitas suami istri, secara normal, kan?” ucap Kimo yang tiba-tiba saja merasa sangat gugup.


Rara yang tersipu nyaris menertawakan Kimo. Kimo yang terlihat begitu gugup, bahkan berbicara saja sampai menjadi tidak lancar.


Rara berangsur menunduk dan mengangguk-angguk santai. Dan tak lama setelah itu, terdengar Kimo yang mengembuskan napas berat. Kimo terkesan merasakan kelegaan luar biasa, di mana pria itu juga kembali mendekapnya hangat.


“Terima kasih. Aku mencintaimu!” ucap Kimo.


Rara mengangguk. “Mmm ... aku juga mencintaimu. Sangat!”


Senyum bahagia seolah tidak akan berakhir dari wajah keduanya. Ya, ... Kimo dan Rara merasa sangat lega atas kejujuran yang baru saja mereka lakukan. Dan tiba-tiba saja mereka menyesal, kenapa mereka tidak jujur dari awal hingga semakin lama menyimpan semua yang hanya membuat mereka terjebak dalam keresahan?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2