Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 34 : Quality Time


__ADS_3

“Kebanyakan orang pendiam memang lebih sadis dari orang yang banyak omong.”


34 : Quality Time


****


Kesunyian menyelimuti kebersamaan Yuan, Keinya dan juga Pelangi. Bedanya, ketika Keinya dan Pelangi tidur begitu pulas, Yuan justru sedang berkutat dengan laptop berikut beberapa map di meja kecil, sebelah Keinya dan Pelangi. Yuan duduk di ujung sofa panjang tempat Keinya tidur. Jaraknya duduk dari kepala Keinya tak kurang dari satu jengkal. Sementara Pelangi berada dalam kotak kasur dengan beberapa boneka kecil yang menyertai, tak jauh dari kaki Keinya.


Ketika Yuan sengaja menjeda pekerjaannya untuk menatap Keinya maupun Pelangi, ponsel Keinya yang berada di meja panjang tepat di hadapan Yuan, bergetar. Sebuah pesan masuk di aplikasi WhatsApp menjadi penyebabnya, di mana yang lebih kebetulan lagi, pesan tersebut merupakan pesan dari Athan. 


Setelah memperhatikan layar ponsel Keinya yang terus menyala dikarenakan pesan WhatsApp terus berlanjut, Yuan memutuskan untum mengambil ponsel tersebut. Yuan membuka dan membaca pesan-pesan tersebut dengan sesekali melirik Keinya yang masih lelap.


Gaya Yuan benar-benar tenang. Bahkan untuk bernapas termasuk menghela napas sampai nyaris tidak mengeluarkan suara, sebab Yuan takut mengusik Keinya maupun Pelangi.


Athan :


[Kei,]


[Aku tahu aku salah. Aku sudah jahat banget ke kamu dan Pelangi. Tapi coba kamu pikir, sejahat-jahatnya aku, tentu aku lebih baik dari pada pacar barumu.]


[Kei, kita harus bicara.]


[Aku beneran menyesal, Kei.]


[Aku sadar kamu satu-satunya wanita yang tulus ke aku.]


[Kalaupun aku sudah keterlaluan, kita bisa mulai lagi dari awal, kan?]


[Demi Pelangi, Kei. Semua ini harus kita lakukan demi Pelangi anak kita.]


[Lagi pula, kamu jangan asal percaya ke pacarmu. Bagaimana kalau dia justru hanya menipu dan memanfaatkanmu?]


[Ayolah Kei, aku kangen momen-momen kita quality time. Kamu masak buat aku, kita jalan-jalan.]


[Kei, pesan-pesanku jangan cuma dibaca dong. Apa jangan-jangan, pacar baru kamu nekan kamu biar kamu terus jauhin aku?]


Yuan menghela napas pelan. Kemudian tatapannya beralih dan menatap wajah Keinya. Keinya masih tidur. Ia memilih kembali meletakan ponsel wanitanya di meja. Namun, ketika Yuan melakukannya, Keinya terbangun dan mendapati tangan Yuan baru meninggalkan ponsel Keinya. Mendapati hal tersebut, Keinya terjaga kemudian merapikan penampilannya secara asal.

__ADS_1


“Yu ... kok kamu enggak bangunin aku? Padahal aku janji mau bantu kamu.” Keinya langsung duduk sila sambil membenarkan ikatan rambutnya yang nyaris lepas.


“Dengan kamu tidur, aku jauh lebih mudah kerja. Semuanya langsung beres setelah aku lihat wajah kamu.” Yuan mengatakan itu dengan ekspresi yang kelewat tenang. Wajah pria itu terlihat tak bersemangat. Namun ketika Keinya mendapati ponselnya berdering, Yuan berkata, “Fans kamu sibuk banget, ya?”


Keinya menatap Yuan dengan tatapan bingung. “Fans?” Ia tidak yakin dengan apa yang Yuan katakan. Namun, ketika Yuan memberi kode mata agar Keinya menatap ponselnya sedangkan di layar ponsel tertera pesan WhatsApp masuk dari Athan, pikiran Keinya menjadi tertuju pada mantan suaminya.


“Semenjak ditinggal Tiara, si Athan jadi rese!” keluh Keinya yang seketika meraih ponselnya dan membaca pesan-pesan dari Athan.


“Jangan diladeni, Kei. Aku cemburu.” Yuan sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Dari tatapan berikut wajah Yuan, pria itu terlihat jengkel sekaligus terluka. Hal tersebut pula yang membuat Keinya merasa bersalah. Apalagi bukannya menyerah, Athan justru menelepon.


Keinya kebingungan. Ia menatap Yuan berganti layar ponsel dalam genggamannya, dan terus saja begitu.


Yuan bangkit dan mengambil alih ponsel Keinya. Ia menjawab panggilan dari Athan. “Iya, ini Yuan.”


Yuan masih bisa bersikap tenang. Kontras dari Keinya yang justru menjadi tegang. Apalagi ketika Yuan justru melangkah meninggalkannya.


“Sebentar. Ini waktu tenang untuk kami, apalagi Pelangi juga masih tidur.”


Keinya berpikir mungkin alasan Yuan meninggalkannya karena Pelangi masih tidur. Namun tiba-tiba saja Yuan balik badan.


“Ah tidak. Malam ini aku juga akan membantumu masak karena aku tidak mau kamu kelelahan setelah apa yang terjadi padamu di masa lalu dan itu membuatmu sangat kerepotan.”


“Oh, iya, Than. Tidak ada salahnya kamu datang ke sini dan mengenal hubungan kami lebih jauh, agar kamu tidak repot-repot memikirkan kami.”


“Aku tahu hidupmu sudah berat apalagi semenjak Tiara harus kembali pada suaminya. Sedangkan hidupmu akan jauh lebih berat kalau kamu terus memikirkan kami.”


“Percayalah, semenjak kamu memutuskan untuk berpisah, Keinya dan Pelangi sudah menjadi tanggung jawabku. Aku juga sudah menyiapkan masa depan untuk Pelangi termasuk investasi dan pendidikan terbaik untuknya.”


Keinya hanya diam menyimak setiap ucapan Yuan yang sukses membuat hati Keinya kembali tenang, setelah sebelumnya sempat tegang bahkan risau, hanya karena ulah rese Athan. Terlepas dari semuanya, cara Yuan menyikapi Athan, membuat pemikiran buruk jika sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi antara Yuan dan Athan, langsung menguap begitu saja dari kehidupan Keinya. 


Keinya percaya Yuan bisa diandalkan. Itu mengapa ia memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


“Kami tidak tinggal bersama. Aku memiliki banyak tempat tinggal, tapi aku sengaja tinggal di sebelah apartemen Keinya dan Pelangi, karena aku tidak bisa jauh-jauh dari mereka.”


“Apakah kamu juga tertarik tinggal di apartemen yang sama dengan kami? Kudengar, semua asetmu dibawa kabur Tiara? Aku benar-benar turut bersedih untuk kabar itu ....”

__ADS_1


Lanjutan ucapan Yuan yang berangsur pergi meninggalkan ruang keluarga keberadaan Pelangi tidur, membuat Keinya yang masih bisa mendengarnya, menjadi tersenyum geli.


“Kebanyakan orang pendiam memang lebih sadis dari orang yang banyak omong.” Bagi Keinya, itulah Yuan yang cenderung irit bicara, Yuan yang selalu melakukan semuanya dengan tenang tanpa terkecuali ketika pria itu sedang sangat marah, tapi akan sangat menusuk ketika sudah sampai bertindak bahkan meski sekadar bercerita. Dan Keinya sangat berharap Athan berhenti mengganggunya, setelah apa yang Yuan lakukan.


****


Ketika Keinya sedang memotong wortel dan kentang yang sudah dikupas, tiba-tiba saja Yuan datang.


“Sayang, ada yang mau ngobrol,” ucap Yuan.


“Sudah jangan repot-repot meladeni Athan. Nanti kamu capek sendiri,” ucap Keinya tanpa menatap atau sekadar menoleh pada Yuan yang sudah berdiri di sebelahnya.


“Iya, Mah. Keinya memang pinter masak. Masakannya sangat enak. Lusa, kalian bisa kolab buat masak. Kalian pasti cocok.”


Lanjutan perkataan Yuan, sukses membuat jantung Keinya seolah melesak. Apalagi, suara wanita yang berbicara dengan logat bahasa Indonesia dan terdengar sangat kaku dari seberang, menguatkan keyakinan Keinya jika Yuan tak lagi berbicara dengan Athan. Yuan berbicara dengan mamanya yang memang menetap di Australia. Sialnya, belum sempat kabur, Yuan justru sudah mengangsurkan ponselnya pada Keinya dengan panggilan video yang sedang berlangsung.


“Hai, Keinya? Selamat malam?” Seorang wanita bermata biru kehijauan layaknya mata indah Yuan, menyambut Keinya dengan senyum yang begitu ramah.


Detik itu juga, Keinya memang bungkam saking syoknya. Keinya hanya bisa mengulas senyum, lebih tepatnya bersikap seramah dan semanis mungkin, meski jauh di lubuk hatinya, Keinya menjerit tidak percaya diri. Keinya sungguh belum siap berkomunikasi apalagi sampai tatap muka dengan orang tua Yuan, meski itu melalui perantara panggilan video! Keinya benar-benar kesal pada Yuan. Keinya pestikan, dirinya akan memberi pria itu pelajaran setelah panggilan video dengan mama Yuan berakhir.


Yuan mengambil alih pekerjaan Keinya secara paksa sesaat ia meletakkan ponselnya di kedua telapak tangan Keinya. Setelah panggilan telepon Athan ia akhiri, ia memang melakukan panggilan video pada mamanya menggunakan ponsel Keinya. Dan sekarang, Yuan hanya bisa menahan tawa sambil memotong sisa wortel yang belum terpotong.


Mengingat wajah Keinya yang begitu kaku karena gugup bahkan mungkin syok hanya karena melihat wajah mama Yuan, Yuan merasa Keinya menjadi sangat lucu. Apalagi sebelum pergi meninggalkan Yuan untuk mengobrol dengan mama Yuan, Keinya sampai menendang kaki Yuan.


Mungkin sepuluh menit kemudian, Keinya kembali ke dapur dengan setengah berlari. Keinya langsung mengambil spatula sambil mengejar Yuan yang langsung kabur ke ruang keluarga, padahal awalnya pria itu sedang mengaduk sup di panci.


“Kei ... Kei, ampun, Kei. Nanti Pelangi bangun, hei … ampun!”


Yuan terus memutari sofa-sofa di sana dan membuat Keinya yang mengejarnya tanpa ampun, melakukan hal serupa.


“Tadi aku kesel banget gara-gara ngobrol sama Athan. Jadi demi cari hiburan, mending aku telepon Mama pakai ponsel kamu biar kalian akrab dan saling sharing. Lagi pula, Lusa kalian juga ketemu di peresmian apartemen.”


“Tapi seenggaknya kamu bilang dulu biar aku bisa siap-siap, Yu! Sini, kamu. Jangan kabur!”


“Ampun, Kei. Ampun! Ayolah, kita quality time saja!”


“Quality time, gimana, sedangkan ulah jailmu bikin aku setegang ini?”

__ADS_1


****


__ADS_2