Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 23 : Meluluhkan Hati Kiara


__ADS_3

“Tidak ada orang yang bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus hal-hal yang tidak mereka inginkan ada dalam hidup kereka.”


Bab 23 : Meluluhkan Hati Kiara


Orang bilang, cinta dan uang nyaris memikiki posisi yang sama. Keduanya sama-sama bisa mengubah. Entah dari yang baik menjadi buruk, atau justru sebaliknya. Namun mengenai harga diri, sepertinya itu menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa diusik layaknya apa yang melukai hati Kiara.


Wanita itu masih belum bisa menerima kenyataan bila anak kesayangannya justru menikahi anak dari wanita murahan. Wanita penggoda, yang baginya menjadi wanita paling jahat bahkan biadab lantaran tega melukai kaumnya sendiri.


Kedatangan Yuan di jam istirahat, yang sengaja berkunjung ke kediaman keluarga Kimo, bukanlah kehadiran yang Kiara harapkan, meski biasanya, kenyataan tersebut merupakan hal yang paling membahagiakan untuk Kiara sekeluarga. Bagaimana tidak? Semenjak SMP, Kimo dan Yuan sudah bersahabat dan keduanya sangat dekat. Sampai-sampai, saking dekatnya, keduanya sering bergilir menginap ketika libur sekolah. Kadang Yuan menginap di kamar Kimo, juga Kimo yang akan lebih sering menginap di rumah Yuan apalagi kalau sudah libur panjang.


Ketidaknyamanan yang Kiara rasakan juga beralasan. Tak lain karena ia yakin, kedatangan Yuan kali ini untuk membahas hubungan Rara dan Kimo. Apalagi, Yuan berikut Keinya istrinya menjadi orang yang paling mendukung hubungan Kimo dan Rara. Boleh dibilang, keduanya tameng untuk Kimo dan Rara. Bahkan sampai sekarang, Kimo dan Rara masih tinggal di apartemen milik Yuan yang awalnya dikhususkan untuk Keinya.


Kiara dan Yuan duduk berhadapan. Pada sofa panjang di ruang tamu selaku ruang pertama setelah pintu masuk. Biasanya, mereka akan menghabiskan waktu untuk mengobrol hangat di ruang keluarga. Namun sekarang, selain sebatas di ruang tamu, Kiara juga terlihat jelas tidak mengharapkan kehadiran Yuan. Jangankan menyapa, menatap saja tidak. Wajah Kiara lebih sering menunduk. Kalupun wanita itu mengangkat wajahnya, sorot matanya akan terlihat begitu tajam dan dipenuhi kemarahan sekaligus kekecewaan.


Yuan masih menyikapinya dengan tenang. Kedua tanganya ia letakan di atas kedua kakinya, sedangkan pandangannya lurus ke depan, menatap wajah Kiara.


“Tan ...?” panggil Yuan sarat kecemasan.


“Kalau kamu hanya ingin membahas hal tidak penting, lebih baik pergi saja. Tidak ada yang perlu dibicarakan jika itu menyangkut Kimo dan istrinya.” Kiara mengucapkan itu tanpa menatap Yuan.


“Istri? Dengan kata lain, Tante mengakui Rara istri Kimo?” ucap Yuan memastikan.


Mata Kiara membelalak menatap Yuan tak percaya. Selain itu, ia juga tampak kecolongan. Tentu maksudnya bukan untuk itu. Bukan seperti yang Yuan katakan. Ia menyebut Rara istri Kimo, di luar kesadarannya.


“Tan,” ucap Yuan kemudian dengan sangat memohon. Ia sampai memajukan tubuh berikut kakinya untuk semakin condong pada Kiara. “Rara dan Kimo ada, karena saya. Saya yang mengenalkan Rara pada Kimo, di mana akhirnya mereka saling jatuh cinta dan dengan mudahnya Kimo menjatuhkan pilihannya kepada Rara.”

__ADS_1


“Cukup, Yu. Jangan dilanjutkan lagi.”


Nada suara Kiara masih terdengar dingin. Ia memilih menunduk dan sengaja menepis tatapan berikut kehadiran Yuan.


“Tante tahu Kimo lebih dari siapa pun karena Tante mamanya.” Yuan masih mencoba meyakinkan wanita di hadapannya. “Jika bukan karena sangat mencintai Rara, tentu Kimo tidak akan melangkah sejauh ini. Mereka sudah menikah satu bulan lebih, lho, Tan. Meski mereka sedang belajar membangun rumah tangga, sampai kapan pun mereka juga akan selalu butuh Tante, karena mereka anak-anak Tante!”


“Mereka butuh bimbingan dari Tante. Kasih sayang sekaligus dukungan Tante.”


“Kimo memilih meninggalkan Tante, tak semata Kimo mencintai Rara. Karena Kimo juga ingin menunjukkan betapa dia sangat menyayangi Tante. Betapa Tante berhasil mendidik Kimo untuk menghargai seorang wanita!”


“Jika bagi Tante wanita penggoda merupakan wanita paling jahat bahkan biadab lantaran tega melukai kaumnya sendiri ...,” ucap Yuan merasa berat melanjutkan kata-katanya. “Rara juga wanita. Dan jika dia harus mendapatkan ketidakadilan hanya karena ulah ibunya, apalagi ketidakadilan itu justru berasal dari kaum bahkan mertuanya sendiri ...?” Ia sengaja menuntun Kiara untuk melanjutkan sendiri maksudnya dan sebenarnya sudah sangat gamblang.


Kiara masih bergeming. Tertunduk layaknya batu yang tidak akan pernah bergerak apalagi mengubah diri.


“Memangnya apa lagi yang Tante cari? Tante mau memaksa Kimo sama wanita lain? Memangnya Tante bisa jamin, Kimo bahagia? ... jangankan bahagia, Tan ... aku berani bertaruh kalau Kimo langsung nolak bahkan parahnya, dia bakalan melakukan hal yang lebih nekat dari sekarang ini!”


Yuan menggeleng tak habis pikir. “Tidak ada orang yang bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus hal-hal yang tidak mereka inginkan ada dalam hidup kereka, Tan.”


“Jangankan kesalahan orang lain, kesalahan kita saja sangat sulit kita kontrol, kan?” Yuan menghela napas berat.


Kiara menepis tatapan Yuan dengan lirikkan sinis.


“Kemarin, Tante Piera baru saja meninggal. Dan Tante tahu, apa yang terjadi pada Kimo dan Rara? Mereka sangat bersedih. Rara merasa menjadi anak yang belum bisa membahagiakan ibunya. Sedangkan Kimo juga merasakan hal yang serupa, termasuk perasaannya kepada Tante.”


Meski Kiara masih menunduk, tetapi Yuan mendapati wanita itu sampai menjadi mengerutkan dahi. Menandakan jika usahanya mulai mendapatkan hasil.

__ADS_1


Kendati Yuan terus bertutur, tetapi pria itu masih melakukannya dengan sopan. Nada-nada marahnya juga terdengar sarat kesabaran.


“Sudah, lah, Tan ... kita sudah sama-sama dewasa. Memangnya apa lagi yang Tante cari setelah semua yang Tante lalui, termasuk perang dingin ini?”


Lantaran Kiara tetap bungkam, Yuan pun memilih mengakhiri usahanya. “Jika harga diri menjadi satu-satunya yang berharga dalam hidup Tante, bahkan Tante rela mengorbankan kebahagiaan anak-anak Tante, sekarang saya mau tanya, di mana harga diri Tante, sedangkan Tante tetap merasa takut pada orang yang Tante anggap buruk? Bahkan Tante sengaja semakin menekan, menjatuhkan mereka?”


Meski Kiara masih menunduk, tetapi Yuan mendapati bila kerut di dahi wanita itu makin bertambah. Menandakan jika usahanya semakin mendapatkan hasil.


“Sekarang buka mata Tante. Kimo sangat bahagia hidup bersama Rara, apa pun dan bagaimanapun keadaan mereka. Mereka semakin bahagia dengan tekanan yang Tante berikan.”


“Kalau begitu, aku pamit, Tan. Maaf sudah mengganggu waktu Tante yang begitu berharga.” Setelah berkat seperti itu, Yuan beranjak kemudiannmembungkuk kepada Kiara, sesaat sebelum ia berlalu dari hadapan wanita itu.


Yuan percaya, Kiara tidak sepenuhnnya mengekang hubungan Kimo dan Rara. Karena di saat-saat tertentu, wanita itu pasti merindukkan kebersamaan dengan Kimo. Apalagi ketika Kiara tidak sengaja melihat pasangan muda.


Bagi Yuan, Kiara hanya butuh waktu untuk menyingkirkan ego berikut gengsinya. Kiara juga membutuhkan waktu khusus agar bisa memiliki keberanian sekaligus harga dirinya lagi untuk mengakui jika sebenarnya ia mau menerima Rara.


Yuan percaya itu. Dan sekarang, ia tinggal menanyakan kelanjutan misi yang Keinya kerjakan dalam meyakinkan Rara untuk berbulan madu. Kimo dan Rara harus berbulan madu agar tidak terus-menerus larut dalam duka. Faktanya, beberapa foto kebersamaan Rara dan Kimo yang ia dapatkan dari orang suruhannya, terlihat begitu bahagia, meski keduanya hanya melakukan kencan biasa.


Bersambung ....


Author sengaja ngetik sedikit-sedikit, soalnya kemarin sempat ngetii banyak selama tiga jam, dan itu hilang karena belum sempat kesimpan. Episode selanjutnya, InsyaAlloh besok siang ^^


Tetap dukung ceritanya, ya ^^


Oh, iya. Yang berkenan bisa mampir ke cerita sebelah. Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) dan CEO Mengejar Tuan Putri.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2