Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 96 : Dean


__ADS_3

“Karena selepas perceraian, bahagia dan cinta juga akan tetap ada. Dan buat kalian semua yang juga mengalami luka akibat perceraian, ... percayalah, cinta dan kebahagiaan juga sudah menunggu bahkan merindukan kalian. Jangan menyerah, dan teruslah berjuang!”


Bab 96 : Dean


Keinya tidak yakin, jika dirinya sampai mengompol. Namun, ketika ia memastikannya, selain memang celananya sudah basah, ada gumpalan darah yang turut mengalir ketika ia kencing. 


“Sayang, … kok, sampai ada darah?” Yuan yang masih terjaga sampai kebingungan. Sebab, sekalipun ia tahu segalanya perihal dasar-dasar dalam kehidupan, tetapi menyangkut kehamilan berikut persalinan, ia hanya mengetahui dasar-dasarnya saja. 


Namun melihat sang istri yang sampai mengeluarkan darah dari rahimnya, Yuan menjadi tidak baik-baik saja. Yuan takut setakut-takutnya, terlebih persalinan sang istri ditargetkan dua minggu lagi. Belum lagi, sebelumnya Keinya terpaksa menjalani sesar ketika melahirkan Pelangi. Pun meski gumpalan darah yang tenggelam di dalam kloset tak lebih besar dari dua jari yang digabungkan. Yuan yakin, keadaan kini memiliki maksud serius.


“S-sayang, kita ke rumah sakit sekarang juga, ya?” sergah Yuan kemudian sambil membantu Keinya bangun dari kloset. 


Tak peduli perihal waktu yang sedang berlangsung dan menunjukkan pukul setengah satu pagi, Yuan merasa harus membawa Keinya ke rumah sakit secepatnya.


Keinya menatap Yuan dengan semringah. “Kayaknya ini pembukaan, Yu!”


Yuan tak langsung berkomentar. Ia terdiam sejenak dan memang cukup bingung. “Pembukaan, … persalinan? Bukannya dua minggu lagi?” ucapnya kemudian.


Keinya yang masih semringah, kembali mengangguk. “Dua minggu lagi kan hanya prediksi, Yu. Bisa geser. Entah itu mundur, atau maju kayak sekarang. Ini serius tanda-tanda pembukaan seperti yang aku tahu dari sharing dokter!” Ia meyakinkan sang suami sembari menyalurkan kebahagiaan yang sedang ia rasakan, kendati rasa sakit juga terus menyertai.


Mendengar itu, Yuan menjadi tak kalah semringah. “S-serius? Kalau begitu, aku siapkan semuanya dulu. Aku telepon mama sama mami. Kamu tunggu di sini sebentar!” 


Yuan langsung bergegas meninggalkan Keinya. “Kamu istirahat saja. Diam dulu! Aku usahakan hanya sebentar, kok!” serunya.


“Justru aku harus banyak gerak biar baby-nya turun ke jalan lahir, Yu!” ujar Keinya dengan tegarnya sambil menahan sakit yang tiba-tiba menggeliat di sekitar pinggul menuju rahimnya.


Tubuh Keinya tak hanya terasa ngilu, melainkan sakit melebihi ketika ia mengalami datang bulan yang hampir semua wanita selalu merasakannya. Sakit, benar-benar sakit. Namun, Keinya menghalaunya melalui kenyataannya yang sebentar lagi akan melihat buah cintanya dan Yuan lahir ke dunia.


Yuan yang awalnya sudah berlari mendadak balik badan. Ia menatap istrinya penuh kepastian. Kenapa Keinya sama sekali tidak terlihat kesakitan terlebih teriak-teriak seperti Rara? Istrinya baik-baik saja, kan? 


“S-sayang, … kamu baim-baik saja, kan? Jangan ditahan. Kalau memang sakit, mengeluh saja!” Yuan sampai merinding melihat keadaan istrinya yang terlihat begitu tegar.


Keinya melangkah dengan semangatnya kendati wanita itu jelas menahan sakit. Dari langkahnya yang kaku sedangkan kedua tangan menahan ujung perut saja, Yuan yang sedang menghubungi Angela berikut mertuanya, sampai sesak napas sendiri melihat kegigihan sang istri. 


 ***

__ADS_1


Semua perjuangan Keinya terus berlanjut di tengah kesibukan Yuan menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa.


“Sayang, istirahatlah. Siap-siap tenaga buat persalinan,” tegur Yuan sambil menyusun perlengkapan bayi yang sebelumnya memang sudah disiapkan, ke dalam ransel.


Keinya yang tetap mondar-mandir sambil memegangi perut dan ada kalanya menghela napas dalam kemudian mengeluarkannya pelan melalui mulut, berkata, “memang harus banyak gerak. Kalau kamu enggak percaya, browshing saja ... aku baik-baik saja, Yu. Aku kuat!”


Yuan yang penasaran pun segera meraih ponsel yang terkapar di lantai sebelah ransel, tempatnya menyusun keperluan bayi berikut persalinan.


Setelah mencari tahu, ternyata yang Keinya katakan benar. Karena untuk menambah pembukaan, wanita hamil harus banyak bergerak salah satunya dengan berjalan kaki. Selain itu, wanita hamil yang akan menjalani persalinan juga dianjurkan untuk tetap makan guna persiapan mengadapi persalinan.


“Sayang, kamu mau makan apa? Aku buatkan. Sebelum mami sama mama datang. Kamu harus tetap makan,” tawar Yuan kemudian. Ia berjalan cepat menghampiri Keinya. 


“Aku akan makan apa pun, Yu! Asal sehat! Aku benar-benar enggak sabar buat ketemu baby boy!” ucap Keinya antusias dengan mata yang berkaca-kaca.


Yuan menyambutnya dengan senyum tulus seiring hatinya yang menjadi terbesit saking bahagianya. Ia benar-benar kagum dan merasa sangat beruntung memiliki Keinya sebagai istrinya. Kemudian, ia mencium kening Keinya penuh cinta sebagai ungkapan dari kebahagiaannya. “Baiklah. Tapi bentar,” lirihnya kemudian dengan bibir yang masih menempel di kening Keinya.


Yuan mengelap buih keringat yang menghiasi wajah berikut sekitar leher Keinya. Dan karena rambut Keinya yang terurai sampai basah karena keringat, Yuan juga berinisiatif menyisiri kemudian mencepolnya tinggi, agar sang istri tidak risi.


*** 


Ketika Angela berikut Khatrin datang nyaris dalam waktu bersamaan, kedua wanita itu dibuat heran dengan kenyataan Keinya dan Yuan yang terlihat begitu santai. Keinya yang tetap adem-ayem sambil menerima setiap suapan Yuan, juga Yuan sendiri yang tidak terlihat khawatir. 


“Kenapa kalian masih di rumah? Ayo, kita ke rumah sakit!” omel Khatrin.


“Yuan ... istri mau melahirkan, kok malah adem-ayem begitu?!” timpal Angela.


Sedangkan para suami hanya diam dan buru-buru memalingkan pandangan dari kebersamaan. Kedua pria paruh baya itu tampak berusaha cuci tangan tanpa ada inisiatif menolong Yuan.


Dengan mulut yang penuh spageti, Keinya yang tetap melangkah meninggalkan Yuan pun berkata, “jangan salahkan Yuan. Aku yang meminta di rumah dulu, daripada menunggu lama di rumah sakit. Di rumah jauh lebih membuatku nyaman.”


Namun, para orang tua yang lebih cemas bahkan telanjur panik, memaksa Keinya dan Yuan untuk segera ke rumah sakit. Mereka jauh lebih merasa aman jika Keinya berada di bawah awasan dokter. Jadi, segera, daripada terus mendapat omelan dari orang tua mereka, Yuan memboyong Keinya. Yuan menuntun Keinya dengan sangat hati-hati, karena istrinya itu tetap tidak mau digendong. Keinya selalu ingin bergerak bahkan kalau bisa lebih cepat, demi menambah pembukaan. Keinya sudah tidak sabar menjalani persalinan. Ia ingin segera bertemu dengan Yuan junior.


“Hati-hati. Mengenai Pelangi, biar aku yang urus,” seru Daniel melepas kepergian dua mobil alphard yang membawa rombongan Keinya dan Yuan.


Tadi, Keinya dan Yuan satu mobil bersama Khatrin. Sedangkan satu mobil yang menyusul, membawa Kim Yeon Seok, Angela, berikut Philips. Dan di sebelah Daniel terparkir sedan putih yang merupakan mobil Daniel. Tadi, Daniel memboyong Khatrin dan Philips menggunakan sedan tersebut. Daniel mengemudi sendiri setelah ia yang baru tidur, tiba-tiba dikejutkan oleh Khatrin yang menggedor pintu kamarnya dengan bersemangat.

__ADS_1


“Hm ... jam segini, kira-kira, ... Fina sudah tidur, belum, ya?” gumam Daniel yang kemudian merogoh saku sisi celananya. Ia mendapatkan ponsel dari sana dan segera menuju ruang obrolan aplikasi WA. Dan kontak Fina menjadi tujuannya. Ia mengirim pesan sambil memasuki rumah Keinya guna menjaga Pelangi layaknya janjinya.


***


Mengenakan seragam khusus warna hijau tua layaknya Keinya berikut petugas medis yang ada di ruang persalinan, Yuan yang berdiri di sisi Keinya, mendekap kepala wanita itu. Yuan tak hentinya membisikan kata-kata penenang sarat cinta tepat di sebelah telinga Keinya. Keinya yang hingga detik ini masih bertahan tanpa banyak keluhan. Hanya sesekali mengerang lirih terlepas dari kedua tangan Keinya yang tak hentinya mencengkeram sebelah tangan Yuan, sangat kuat.


Persalinan siap dilakukan karena pembukaan Keinya memang sudah sempurna. Terhitung, setelah setengah jam dari kedatangan di rumah sakit, pembukaan Keinya yang setibanya baru pembukaan enam, sudah sempurna akibat kegigihan wanita itu mondar-mandir dan tak hentinya bergerak.


Keinya sampai menitikkan air mata. Ia menatap Yuan dengan matanya yang sudah sangat sayu. Dan Yuan yang tak kuasa melihat perjuangan istrinya tak kuasa menahan air mata. Yuan mengangguk pelan dan terus begitu menuangkan kasih sayang sekaligus cintanya.


Tak jauh dari Yuan dan Keinya, seseorang yang ditugaskan khusus untuk merekam kebersamaan Keinya dan Yuan dalam bentuk video, juga sampai menitikkan air mata. Karena untuk mengabadikan momen berharga kali ini, Yuan dan Keinya memang sepakat menyewa jasa khusus orang yang sudah andal di bidangnya.


Tak lama setelah itu, cengkeraman tangan Keinya terhadap tangan Yuan semakin kuat seiring wanita itu yang mengejan kencang. Dan tak sampai dua menit, tangis bayi pecah menggeser suara erangan berikut napas yang tersengal-sengal Keinya ketika mengenjan.


“Alhamdullilah!” seru semuanya tanpa terkecuali Yuan dan Keinya.


Air mata berikut buih keringat ketegangan langsung dibayar lunas atas kelahiran Yuan junior.


Yuan langsung tersenyum lebar. Raut sedih yang sedari awal menghiasi wajahnya langsung sirna. Ia menjadi begitu semringah. Memang tak langsung mengemban anaknya. Sebab ia refleks mendekap kepala Keinya dan menghujani wajah berikut kepala wanita itu dengan ciuman. Berkali-kali dan sampai tak terhitung, Yuan mengucapkan terima kasih kepada sang istri yang sudah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah hati mereka.


Tak tahan menunggu, Yuan langsung bergegas menyambut anaknya yang masih dalam proses pembersihan oleh suster. “Selamat datang, Dean ... selamat datang ke dunia ini. Papa sama mama, bahkan semuanya sudah sangat menunggu kehadiranmu. Kami semua menyayangimu! Tumbuhlah menjadi manusia berguna. Manusia yang menyayangi orang tua sekaligus sesama. Dan Papa, dengan kedua tangan Papa, Papa akan selalu membantumu dalam menggapai semuanya!” batin Yuan yang sampai gemetaran ketika menyentuh anak laki-lakinya yang langsung ia berinama Dean. Dan Yuan masih tak percaya jika bayi menggemaskan dan bahkan masih bergelepot darah dalam dekapannya, merupakan anaknya. Buah cintanya dengan Keinya.


“Kebahagiaanku terasa semakin lengkap setelah Dean hadir. Dean, ... ada kakak Pelangi yang sudah enggak sabar nunggu kamu. Nanti kalian pasti ketemu!” gumam Yuan sambil menciumi wajah anaknya.


Yuan menyodorkan Dean kepada Keinya. Ia bahkan sengaja meletakkan Dean di dada Keinya untuk segera mendapatkan ASI untuk pertama kalinya.


Dan kini, Yuan menjadi tidak sabar menunggu anak-anaknya tumbuh dewasa. Juga, ia yang akan menua bersama Keinya menghabiskan waktu mereka dengan bahagia dan cinta.


Keinya menatap Yuan penuh cinta di antara kelegaannya. “Karena selepas perceraian, bahagia dan cinta juga akan tetap ada. Dan buat kalian semua yang juga mengalami luka akibat perceraian, ... percayalah, cinta dan kebahagiaan juga sudah menunggu bahkan merindukan kalian. Jangan menyerah, dan teruslah berjuang!” batin Keinya yang berangsur memejamkan pelan kedua matanya seiring ciuman dalam yang lagi-lagi, Yuan kuncikan di keningnya.


Bersambung .....


Satu episode lagi, kita bertemu di episode terakhir. Buat kalian semua, tolong bantu like, komen, vote, juga share cerita ini agar mendapat banyak lebih pembaca, ya. Tolong dukung dan kasih komentar positif untuk cerita ini, juga cerita Author yang lain. Masih ada Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh), dan juga Menjadi Istri Tuanku.


Dan buat kalian yang ingin tahu informasi tentang cerita-cerita Author, kalian bisa gabung di grup chat yang sudah tersedia. Juga, bisa cek di ig author : Rositi92.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2