Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 24 : Membahagiakan Pasangan


__ADS_3

“Membahagiakan pasangan itu mudah. Cukup selalu mengalah dan mengaku menjadi yang salah. Dan setelah itu, kamu juga akan mendapatkan banyak kejutan dari pasanganmu,”


Bab 24 : Membahagiakan Pasangan


Kimo dan Rara baru saja meninggalkan pintu apartemen yang mereka tutup. Mereka memang baru pulang, bersamaan dengan jam dinding yang menunjukkan tepat pukul lima sore. Kendati demikian, ada yang membuat ekspresi keduanya terlihat sangat berbeda. Karena ketika Rara tampak jauh lebih tenang bahkan kerap tersenyum, wajah Kimo justru pucat dan cenderung menahan sakit.


Kimo merasa kalau di kepalanya, ada pesta kembang api yang menghasilkan suara begitu riuh, berikut rasa mual yang tak hentinya membuatnya nyaris muntah. Selain itu, pusing yang ia rasa juga semakin mrnjadi-jadi, meski ia sudah mati-matian menghalaunya termasuk meminum obat anti mabuk perjalanan.


Kimo menahan sebelah pundak Rara, kemudian melangkah cepat mendahului istrinya itu. Bahkan langkah Kimo yang awalnya tergesa berubah menjadi lari.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Rara yang masih berdiri di tempat sambil menatap bingung Kimo.


Tanpa menoleh apalagi mengurangi langkahnya, Kimo hanya bergumam keras dengan sebelah tangan membekap mulut. Melihat keadaan Kimo, Rara yakin suaminya itu akan muntah.


Sambil mengerutkan bibir, Rara beroikir, kenapa Kimo begitu banyak memiliki kelemahan padahal jika dilihat dari penampilannya, Kimo itu tipikal maskulin yang seharusnya pemberani tanpa ada satu hal pun yang ditakuti termasuk deretan permainan ekstrim di wahana? Rara berpikir demikian, karena awal mula wajah Kimo menjadi pucat, semenjak mereka menginjakkan kaki di area wahana ekstrim yang ada di mal bawah apartemen.


Ketika Rara menoleh ke seberang, di sana ada Keinya yang menatap Kimo dengan dahi berkerut.


“Pelangi ...?!” Rara segera berlari untuk menghampiri Pelangi yang digandeng Keinya. Kini, anak perempuan yang mewarisi kecantikan Keinya itu sudah lancar berjalan. Selain itu, yang menambah Pelangi makin membuat Rara gemas, tak lain karena anak itu juga tipikal ceria yang akan membuat siapa pun semakin tidak bisa berpaling, apalagi ketika sudah mendengar celotehan berikut senyumannya.


Keinya mengulas senyum. “Itu si Kimo kenapa?”


Rara berusaha menggendong Pelangi, tetapi anak itu justru bersembunyi dibalik rok panjang Keinya. “Mabuk wahana permainan kayaknya,” ucapnya di sela bujuk rayu yang dilakukab pada Pelangi.


Tak lama berselang, kunci pintu apartemen terdengar berdenting, menandakan jika seseorang membukanya dari luar. Ketika Keinya dan Rara melongok untuk memastikan dari tempat mereka berpijak, ternyata karena Yuan datang. Pria itu baru pulang, dan Keinya tahu alasan suaminya pulang lebih awal. Tak lain karena mereka akan kembali menggelar pengajian sekaligus doa bersama untuk almarhumah Piera.


“Papa pulang ...,” seru Yuan yang seketika itu langsung menjadi fokus perhatian. Di mana, Pelangi juga langsung melangkah cepat kemudian menjadi berlari menghampirinya.


“Ya ....” Rara melepas kepergian Pelangi dengan raut sedih sekaligus iri.


Pelangi begitu dekat dengan Yuan. Yuan langsung berjongkok menyambut Pelangi kemudian membentangkan kedua tangannya, di mana Pelangi langsung masuk dan dipeluk erat oleh Yuan. Kemudian, Yuan juga sampai mengangkat tinggi tubuh bocah itu, hingga gelak tawa mengikat kebersamaan keduanya, sedangkan ketika Rara memastikan ekspresi Keinya, sahabatnya itu tak hentinya tersenyum mengamati dan terlihat sangat bahagia. Kebahagiaan keluarga kecil Keinya dan Yuan terlihat sangat sempurna.


Melihat itu, hati Rara terenyuh. Ia mendekap tubuh Keinya sambil tersenyum dengan rasa sesak yang tiba-tiba mampir memenuhi dadanya.


“Aku percaya, hasil daro usaha baik dan ketulusan yang kita lakukan tidak akan mengingkari,” ucap Rara sambil menyandarkan wajahnya ke bahu Keinya.


Keinya yang balas memeluk Rara, berangsur mengangguk di antara senyumnya. “Jangan terus-menurus pura-pura bahagia. Aku tahu kamu masih sangat sedih. Nggak apa-apa, kok, Ra. Bukan hal yang salah, bersedih saat kita berduka, asal tidak terus-menerus larut. Justru, kami makin cemas kalau kamu berubah drastis kayak gini.” Keinya tidak dapat menahan kesedihan berikut air matanya.


Rara terisak-isak. “Aku hanya berusaha menghargai ketulusan kalian. Apalagi, aku juga ingin hidup bahagia seperti orang normal pada kebanyakan.”


Keinya menggeleng tak habis pikir. “Kamu ini!” omelnya lirih sembari mengacak puncak kepala Rara. Kali ini Rara menguncir tinggi rambut panjangnya. Tak seperti biasanya, Rara yang selalu memilih gaya rambut hitamnya hanya sebatas pundak, justru membiarkannya panjang. Pun dengan poni yang tak lagi menghiasi. Dan kenyataan itu Keinya curigai karena Kimo. Sebab, semua itu terjadi semenjak Rara mengenal Kimo. Mungkin karena Kimo pernah mengeluh wajah Rara akan terlihat seperti anak SMP, ketika sahabatnya itu terus memakai gaya rambut sepundak lengkap dengan poni sasak kotak yang menyertai. Dan Keinya tidak sengaja mendengarkan keluhan itu secara langsung, ketika akan menutup pintu sebelum keduanya pergi.


“Eh, Kei ... aku mau lihat Kimo dulu. Kayaknya parah tuh mabuknya. Masuk angin juga kayaknya,” pamit Rara ketika Yuan dan Pelangi mulai melangkah menghampiri mereka.


Rara segera menyudahi pelukan mereka. Kemudian ia mengelap air matanya dan menoleh pada Yuan untuk berpamitan. “Sore, Yu? Eh, tapi aku mau lihat Kimo dulu,” sergahnya.


“Lho, memangnya Kimo kenapa?” balas Yuan penasaran.


Rara yang berjalan cepat menoleh ke belakang dan menatap Yuan. “Mabuk wahana permainan,” ucapnya sambil tersenyum garing.


Yuan terdiam karena tidak percaya dengan pengakuan Rara. “Kimo mau naik wahana permainan? Seumur-umur dia nggak pernah dan paling anti, lho?”


Rara tersenyum masam.“Tapi tadi semua wahana ekstrim di bawah, sudah kami coba!” ceritanya yang kemudian mempercepat langkahnya.


“O o ... ini keajaiban,” ucap Yuan makin tidak percaya.


Lain halnya dengan Keinya yang justru tersenyum geli. “Demi membahagiakan istri, apa pun ya dilalui,” ujarnya yang kemudian mengambil alih tas kerja Yuan agar suaminya itu tidak kerepotan.


Mendengar itu, Rara menjadi tersipu.

__ADS_1


“Eh, Ra. Tadi ada yang datang kasih hadiah dan aku taruh di meja kerja kamu di kamar!” seru Keinya tiba-tiba, tepat ketika Rara meraih kop pintu.


Rara segera menoleh dan terlihat sangat antusias. “Poster jumbo Jin BTS, kah?!” sergahnya tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Balasan Rara membuat Yuan dan Keinya kompak diam, kemudian saling menoleh. Keduanya terlihat saling melempar kode mata.


“Amplop. Bukan poster,” ucap Keinya sambil menggeleng.


“Kok amplop?” ucap Rara sambil memajukan bibirnya.


“Katanya, kalian memenangkan undian?” saut Keinya cepat-cepat kemudian melirik Yuan sambil tersenyum.


Rara mengerutkan dahi. “Undian? Jangan-jangan, isinya tiket konser BTS! Oke oke. Makasih, ya, Kei!” Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, ia langsung masuk kamar.


Keinya dan Yuan masih terheran-heran menatap pintu kamar Rara yang tertutup dan sudah tidak disertai pemiliknya lagi.


“Pa ... emosi Rara kok pasang surut, ya?” keluh Keinya sembari memajukan bibirnya. “Jadi kayak anak kecil juga ...?” Sebenarnya, Keinya ingin bilang kalau perubahan emosi Rara yang menjadi kekanak-kanakan, mengingatkannya pada keadaannya saat awal hamil Pelangi. Namun karena takut sesumbar bahkan meski pada Yuan, Keinya hanya menyimpan anggapannya tanpa berani mengatakannya.


Yuan mengerutkan dahinya, menerka-nerka maksud sang istri yang jelas sedang mengkhawatirkan Rara. “Karena Rara tiba-tiba jadi fangirl BTS?” tebaknya.


Keinya tersenyum menatap tak percaya Yuan. “Kamu kenal BTS juga?” Ia nyaris tertawa.


Yuan kebingungan. “Salah gitu, kalau aku kenal BTS? Ya ampun, kamu ini. Sekarang mereka kan sedang booming banget. Dan perusahaan sedang mengincar mereka buat ambasador!”


Keinya tersenyum antusias sambil mendekap mesra sebelah lengan suaminya. Ia siap menyimak setiap cerita dari suaminya. “Terus ... terus, bagaimana?”


“Ya, kalau mau ikut booming, kita juga harus mengikuti apa yang sedang digemari pasar ....” Yuan terus menceritakan mengenai rencana perusahaannya yang akan menjadikan BTS sebagai brand ambassador.


***


Di kamar, Rara menemukan Kimo tengah muntah-muntah di kloset. Selain sampai terduduk bahkan mendekap kloset, suaminya itu juga terlihat sangat lemas lengkap dengan wajah Kimo yang sampai terlihat pias.


Rara segera melepas jaket yang Kimo kenakan dan kemudian menyisihkannya ke lantai. Ia mengambil segelas air minum yang tersedia di nakas, dan membantu Kimo untuk meminumnya.


“Pelan-pelan ...,” lirih Rara sembari mengelap buih keringat di wajah Kimo. “Yuan bilang, seumur-umur kamu nggak pernah bahkan anti naik wahana permainan ekstrim?”


Mendengar cerita sang istri, Kimo yang awalnya masih minum, menjadi tersedak hingga batuk-batuk.


“Kan ... kan ... pelan-pelan, Kimo,” keluh Rara yang kemudian menyisihkan gelasnya ke nakas.


“Terus, kamu lebih percaya ke Yuan?” tanya Kimo memastikan.


“Nggak juga. Toh meski memang iya, nyatanya seharian ini kamu sudah nemenin aku naik, kan?” balas Rara sembari memijati pundak suaminya.


Kimo mengembuskan napas panjang dan terlihat sangat legah. Mendapati itu, Rara hanya tersenyum geli, karena dengan kata lain, apa yang Yuan katakan memang benar. Namun seperti yang baru saja ia katakan kepada suaminya. Karena meski kemungkinan Kimo takut bahkan fobia naik wahana ekstrim, tetapi suaminya itu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuknya bahkan sampai mau-maunya mencoba semua wahana demi membahagiakannya!


“Sini, kamu mau kerokan? Kayaknya kamu juga masuk angin. Aku mau siap-siap acara pengajian. Kasihan Keinya kalau menyiapkan semuanya sendiri,” lanjut Rara kemudian.


“Enggak ... enggak ... aku anti kerokan,” tolak Kimo yang kemudian menjatuhkan tubuhnya dan meringkuk.


Terlihat jelas kalau Kimo sedang menahan sakit.


“Sebentar, biar cepat sembuh. Nanti sekalian aku buatkan air jahe. Biasanya akan lebih cepat sembuh,” bujuk Rara yang menjadi mengernyit, menatap penasaran amplop cokelat besar yang ada di nakas. “Mungkin ini amplop hadian yang dimaksud Keinya?” pikirnya.


Rara beranjak dari duduknya untuk mengambil aplop cokelat tersebut.


“Ya sudah kalau gitu. Lagi pula, kalau aku terus nolak, yang ada kamu justru marah, kan?” ucap Kimo terdengar pasrah, tanpa mengubah keadaannya yang masih meringkuk, membiarkan tubuhnya tertekuk layaknya udang rebus.


Kimo terpejam lama tanpa mendengar tanda-tanda Rara menyimak ucapannya. Ketika ia memastikan apa yang dilakukan istrinya, ternyata Rara sudah tidak ada di sebelahnya, melainkan sedang membaca sebuah kertas dari amplop cokelat, di sebelah nakas.

__ADS_1


“Eh, Sayang ... ini kok kita dapat hadiah jalan-jalan ke Korea?”


Kimo mengernyit. “Hadiah dari siapa?” tanyanya penasaran. Karena Rara membalasnya dengan menggeleng, ia pun merangkak mendekati wanita itu.


“Ini. Baca, coba. Kalau dilihat sih dari wahana permainan kita main tadi.” Rara memberikan amplop cokelat berikut isinya. Ada beberapa lembar kertas berikut vocer penginapan.


Kimo menganatinya lebih rinci. “Kok aku curiga sama Yuan dan Keinya, ya?” pikirnya.


“Eh ... omong-omong, ini hadiah jalan-jalan ke Korea, berarti bisa ketemu Jin, kan?!” sergah Rara tiba-tiba dan sampai membuat Kimo nyaris jantungan saking kagetnya.


Rara menatap suaminya penuh harap. Kimo terlihat jelas kaget karena ulahnya yang tiba-tiba sampai menjerit. Buktinya, Kimo sampai meliriknya dengan ekspresi yang begitu judes.


“Kamu pikir Korea itu kompleks perumnas, yang bisa kamu kelilingi hanya dalam hitungan menit? Korea itu luas, Flora,” omelnya. “Heran aku sama Rara. Kok tiba-tiba kayak anak kecil manja begini, ya?” batinnya. Buktinya, Rara sampai mendekap bahkan bergelendotan manja padanya sambil melayangkan bujuk rayu, dan lagi-lagi, masih ingin bertemu dengan Jin BTS!


“Jangankan Jin! Wewe gombel, gebderowo, termasuk buto ijo, aku kasih buat kamu!” balas Kimo saking sebalnya lantaran Rara tak hentinya merengek meminta bertemu salah satu member BTS bernama Jin.


Rara mencebik sedih dan sarat kemanjaan.


Melihat itu, Kimo pun berkata. “Iya ... iya ... nanti diatur. Sekarang buatkan wedang jahe dulu, biar pusing sama mualku hilang.” Kimo mengalah. Dan ia yakin, ke depannya ia juga akan semakin mengalag. Mana tega ia membiarkan istrinya terus-menerus bersedih.


“Membahagiakan pasangan itu mudah. Cukup selalu mengalah dan mengaku menjadi yang salah. Dan setelah itu, kamu juga akan mendapatkan banyak kejutan dari pasanganmu,” batin Kimo yang merasa begitu lega melihat keceriaan pada diri Rara. Istrinya itu sampai berlari kecil, setelah sampai mencium sebelah pipinya, hanya karena persetujuan yang ia berikan.


***


Keinya yang baru keluar dari kamar dan tidak sengaja melihat Rara, menjadi tertegu. Rara yang begitu ceria bahkan cenderung seperti anak kecil. Sedangkan dari dalam kamar Rara yang tidak ditutup sempurna, ia mendengar Kimo yang sepertinya kembali muntah-muntah. Melihat kenyataan itu semua, Keinya menjadi tersenyum bahkan tertawa di antara kebahagiaan yang tiba-tiba saja meluap.


Segera, Keinya menyusul Rara. Di dapur, Rara sedang mencuci jahe di wastafel, kemudian mengeringkannya menggunakan tisu.


“Mau buat wedang jahe?” ucap Keinya basa-basi.


Rara yang cukup terkejut karena baru menyadari kedatangan Keinya di belakangnya segera balik badan dengan senyum kebahagiaan yang masih menghiasi wajahnya


“Kamu mau sekalian?” tawar Rara yang kemudian menyalakan kompor dan bersiap membakar jahenya.


Keinya yang masih senyum-senyum, menggeleng. “Yuan minta dibuatkan kopi.” Sekali lagi, Keinya sengaja menahan pemikirannya mengenai Rara yang hamil karena ia tidak mau sesumbar.


Keinya segera menyiapkan gelas berikut memilih kapsul kopi yang akan ia masukkan ke dalam mesin kopi. Tak lupa, ia mengisi air pada mesin kopi tersebut sebelum menyalakannya.


“Oh ... mmm, rasanya sangat menyenangkan bisa satu rumah seperti ini,” ucap Rara yang kemudian melirik Keinya.


“Kayaknya seru, ya, kalau kita camping bareng di gunung, pokoknya alam bebas!” balas Keinya tak kalah antusias.


“Ah aku mau ...!” sambut Rara tak kalah antusias. Sampai-sampai, ia lupa membalik jahe bakarnya. “Duh, nyaris gosong ini!”


Keinya menertawakan ulah konyol sahabatnya. Kemudian, demi memastikan misi hadiah bulan madu untuk Rara dan Kimo berhasil, ia pun menanyakan mengenai amplop hadiah yang sebenarnya ia rancang bersama Yuan. Di mana, Korea Selatan menjadi pilihan mereka sebagai hadiah jalan-jalan untuk Rara dan Kimo, mengingat Rara sangat tertarik dengan Negeri Gingseng tersebut.


Menyimak balasan Rara yang begitu antusias, Keinya bisa memastikan misinya berhasil tanpa kecurigaan. Tetapi entah untuk Kimo. Namun bila melihat hubungan Kimo dan Rara yang semakin dekat, Keinya yakin Kimo akan memilih mengalah asal Rara bahagia.


“Sekalian bulan madu, ya?” ujar Keinya. “Ingat, jangan memikirkan pekerjaan. Kamu harus benar-benar fokus liburan!” tambahnya dan langsung membuat Rara tersipu.


Bersambung ....


Alhamdullilah, meski telat, tapi hari ini babnya lebih panjang dari kemarin.


Terus ikuti dan dukung Selepas Perceraian, ya. Maaf kalau masih banyak typo.


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2