
“Maaf, Ra. Aku enggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Seharusnya, kejadian ini tidak sampai terjadi!”
Bab 55 : Pendarahan
Awalnya, Rara sengaja bangun dikarenakan punggungnya terasa semakin panas sekaligus pegal. Wanita itu sudah tidak tahan dan berniat berkonsultasi dengan dokter. Belum lagi, keringat juga sampai membuat tubuhnya cukup kuyup. Jadi, sebelum pergi Rara berniat mandi walau hanya sebentar. Namun, ... di rasa Rara ada yang janggal. Wanita itu merasa jika sekitar rahimnya basah. Ah, tidak. Ada cairan yang terasa keluar, seperti saat ia sedang mens!
Ketika Rara menoleh ke kasur bekasnya tidur, di sana ada bekas rembesan berwarna merah kotor. Ya, di seprai cokelat bekasnya tidur itu pasti darah. Pertanyaannya, bukankah dia tidak sedang mens? Dia sedang hamil dan tidak seharusnya ada bekas tembus darah, kan?
Rara yang awalnya akan mengambil pakaian ganti, dan sudah sampai membuka lemari, buru-buru lari dan masuk ke kamar mandi yang letaknya ada di lorong sebelah tempat tidur. Masih berada satu ruangan dengan kamar.
Tak lama setelah Rara masuk tanpa menutup pintunya, tiba-tiba wanita itu menjerit histeris.
“Kimo?!”
Rara sudah berulang kali memanggil nama pria yang masih resmi menjadi suaminya. Pria yang bahkan hanya meminta cerai pura-pura lantaran tidak mau bercerai darinya. Meski beberapa saat sebelum Rara tidur, mereka sampat terlibat berdebatan yang membuat Rara memaksa pria itu untuk memilih.
Saking kesal sekaligus penasaran, terlebih Rara sendiri baru ingat telah memaksa Kimo untuk memilih, wanita berambut panjang lurus itu pun bergegas memastikan. Rara keluar dengan hati yang tak hentinya berdesir. Pendarahan saja nyaris membuatnya sekarat, ditambah memikirkan keberadaan Kimo yang ia takutkan justru pergi menemui Steffy. Celaka. Benar-benar celaka jika itu yang terjadi.
“Kimo ...?” semakin Rara mencari, semakin hilang suara wanita itu. Semuanya benar-benar menyisakan tangis berikut langkah yang bahkan menjadi tak mau beranjak. Apalagi, selain suasana rumah benar-benar sepi, kamar pria itu juga kosong. Hanya menyisakan kata-kata pamit di secarik kertas yang diletakan di atas kasur yang bahkan belum sempat dibereskan. Selimut masih tergulung dan sebagian terjuntai ke lantai. Dan karena secarik kertas itu pula, Rara semakin terpuruk. Rara terduduk lemas sambil terisak-isak di lantai memandangi kertas di hadapannya, yang letaknya memang di pinggir kasur. Wanita itu menekap mulutnya erat menggunakan kedua tangannya.
Aku pergi. Tapi secepatnya aku pasti kembali.
Dan keadaan Rara menjadi semakin memburuk, ketika wanita berhidung mancung itu mendapati ponsel Kimo juga ada di nakas. Rara terpejam pasrah.
“Kenapa sampai enggak bawa ponsel? Apakah kamu benar-benar memilih Steffy? Apakah kamu sengaja bersamaku karena kamu ingin mengambil anak ini dariku?!” batin Rara sampai sesengggukan. “Demi Tuhan, Kimo ... jika itu yang sebenarnya terjadi, lebih baik kamu enggak pernah ada dalam hidupku!” Rara masih terpejam di tengah air matanya yang seolah tidak akan berakhir hingga ia mendapatkan jawaban dari apa yang diinginkannya. Bertemu Kimo. Ya, bertemu pria itu.
“Cukup otak kamu saja yang rusak. Enggak dengan hati dan nalurimu!” Kali ini, Rara sampai dirundung kecewa bahkan kekesalan. Hanya saja, karena tidak tahu harus mengandalkan siapa lagi, Rara pun memilih menghubungi Keinya. Pun meski kemungkinan buruknya, Keinya yang gampang syok justru pingsan.
***
Yang membuat Keinya semakin tidak baik-baik saja setelah dibuat panik dengan pengakuan Rara yang mengatakan mengalami pendarahan--bahkan mendengar itu, Keinya nyaris pingsan--tak lain karena ketika ia sampai di rumah Rara dan letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, jusru mendapati Rara terduduk sambil menyandar ke pintu. Pintu dua muka itu dibiarkan terbuka tuntas sebelahnya, sedangkan Rara terlihat sangat stres. Selain kedua matanya sangat sembam, tatapan Rara juga kosong di antara sisa linangan air mata yang masih mengalir pelan.
“Flora, kenapa kamu di situ?!” sergah Keinya yang sampat berhenti beberapa saat sambil menatap Rara tak percaya.
Keinya yang mengemban Pelangi, sampai setengah berlari hanya untuk menghampiri Rara. Untung saja, gerbang rumah Rara tidak sampai dikunci, jadi Keinya bisa leluasa masuk.
__ADS_1
Kedua ajudan Keinya melangkah cepat menyeimbangi Keinya. Keduanya meninggalkan mobil Alphard yang Keinya minta khusus untuk hari ini. Keinya sendiri memilih mobil itu dikarenakan selain bisa menampung lebih dari delapan orang dengan sopir, mobil berkapasitas besar itu juga memiliki kenyamanan setara dengan duduk di atas sofa empuk yang meski melewati terjal bahkan tanjakan sekalipun, sampai tidak terasa.
Rara menatap Keinya, dengan kesedihan berikut tangis yang kembali tersambung bahkan bertambah. Sampai-sampai, Keinya yang jongkok demi menyeimbangkan tinggi tubuh mereka, menjadi ikut nelangsa.
Keinya langsung menyeka air mata Rara menggunakan sebelah tangannya yang tidak menahan punggung Pelangi. “Kimo di mana?” tanyanya sambil sesekali melongok ke dalam rumah Rara.
Rumah Rara benar-benar sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan atau penghuni lain selain sahabatnya. Bahkan Kimo yang berjanji akan menjaga Rara selama dua puluh empat jam juga tak kunjung ia lihat batang hidungnya.
Bukannya menjawab, mendengar nama Kimo disebut, Rara justru terisak-isak parah.
“Flora ... iya ... iya ... sudah.” Tangan Keinya yang awalnya mengelap air mata Rara, menjadi mengelus-elus punggung sahabatnya itu.
“Kimo ...? Kimo ke mana? Dia pergi?” tanya Keinya kebingungan. “Pak, tolong bantu teman saya. Bopong! Pelan-pelan!” Keinya benar-benar masih panik. Ia segera menutup pintu.
Menyadari pintu belum dikunci, Keinya yang awalnya sudah lari menyusul Rara, mendadak kembali. Beruntung, pintu rumah Rara juga seperti pintu di rumahnya, yang bila ditutup dari luar tanpa menekan tombol kunci di handle, akan terkunci otomatis.
Rara duduk di bangku penumpang yang sengaja dimodifikasi agar Rara bisa merebahkan tubuh lebih leluasa. Keinya yang segera duduk di sebelahnya segera menanyakan perkara Kimo.
“Kimo enggak ada di rumah? Dia ke mana?” sergah Keinya.
“Jangan bahas dia lagi. Dia sudah mati.”
Menyadari kedua tangan Rara sampai gemetaran, Keinya pun meraih dan menggenggamnya. Beruntung, Pelangi menurut dan sedari awal hanya diam. Pelangi masih menjadi penonton yang baik, meski terkadang akan berpegangan erat di kedua bahu Keinya.
“Kei, semuanya akan baik-baik saja, kan? Anakku akan baik-baik saja, kan?” isak Rara yang masih saja terpejam.
Keinya yang menjadi ikut berlinang air mata pun mengangguk. “Iya, Ra. Semuanya akan baik-baik saja. Sabar. Kita akan ke rumah sakit terdekat. Sebentar lagi.”
“Jangan lepasin tangan aku, ya, Kei. Aku takut. Tadi darahnya keluar banyak ...,” racau Rara lagi.
“Iya, Ra. Aku enggak bakal ngelepasin tangan kamu. Aku ada di sini buat kamu.” Dada Keinya terasa semakin sesak, sedangkan ia juga tak mampu membendung kesedihan sekaligus air matanya. Mimpi apa ia semalam, sampai-sampai harus menghadapi Rara yang lagi-lagi diuji?
Keadaan sekarang membuat Keinya teringat ketika ia yang saat itu hamil Pelangi, dengan usia kandungan memasuki delapan bulan, malah jatuh saat di kamar mandi, dan hal tersebut membuatnya pendarahan. Lantaran Athan tidak bis dihubungi, ia pun menghubungi Rara. Dan keadaan dulu, tidak begitu jauh dengan keadaan sekarang. Dulu, Rara yang merawatnya, meyakinkan sekaligus menguatkannya jika semuanya akan baik-baik saja. Bahkan dulu, Rara menggunakan semua uang tabungannya demi mengurus biaya persalinan Keinya yang terpaksa menjalani operasi sesar, demi menyelamatkan nyawa Keinya berikut Pelangi, lantaran saat itu, air ketuban juga sudah nyaris habis, sedangkan Athan benar-benar tidak bisa dihubungi.
“Bertahanlah, Ra. Semuanya akan baik-baik saja. Kalaian pasti baik-baik saja,” batin Keinya tanpa berani mengatakannya, lantaran takut semakin membuat Rara sedih.
__ADS_1
“Tadi, sebelum kembali tidur karena aku merasa sangat lelah ... aku marah ke Tuhan ... aku benar-benar marah ... kenapa Tuhan selalu mengujiku? ... kenapa Tuhan, sampai membuat Kimo lebih memilih Steffy setelah apa yang kulalui selama ini? ... tapi ... aku salah. Aku salah besar ....”
“Kim-mo!” Lagi-lagi Keinya hanya bisa mengeluh di dalam hati. Ia benar-benar kecewa kepada Kimo. Terlepas dari itu, ia juga mengutuk Steffy bahkan Kiara. “Jika Engkau benar-benar ada, tolong, tegur dan sadarkan mereka, karena apa yang mereka lakukan sudah sangat keterlaluan!” batin Keinya meronta-ronta.
***
Sesampainya di rumah sakit, Keinya langsung meminta Rara dirujuk ke IGD. Pasien gawat darurat tanpa bisa menunggu apalagi mengantre. Tentu, keadaan Rara yang sedang hamil dan mengalami pendarahan langsung ditangani dengan cepat. Apalagi, dokter berikut petugas di sana juga mengenal Keinya sebagai istri Yuan dan tentunya, hal semacam itu bisa memudahkan Keinya mendapatkan penanganan. Belum lagi, Yuan juga memiliki saham di rumah sakit tersebut.
“Pendarahannya sejak kapan?” tanya seorang perawat yang turut mengantar ranjang gynaecolog keberadaan Rara dan memang ranjang khusus untuk pasien ibu hamil atau ibu melahirkan.
“Kayaknya baru tadi, Sus!” balas Keinya cepat lantaran Rara sudah tidak bisa berkata-kata. Rara terlihat sangat tertekan.
“Ibu, jangan tegang. Dibawa santai. Ibu harus rileks biar baby juga ikut rileks. Biar baby juga ikut happy. Semakin Ibu ceria, semakin bagus juga buat baby,” bujuk seorang dokter wanita yang langsung menemani Rara.
Awalnya ketinya memasuki IGD, Rara menolak dilepaskan tangannya oleh Keinya. Tetapi, dokter yang menangani terus meyakinkan dan menghibur Rara.
“Tolong lakukan yang terbaik, Dok!” pesan Keinya sebelum pintu IGD benar-benar ditutup.
Dokter itu mengangguk sambil mengulas senyum. “Kami akan melakukan yang terbaik!” yakinnta.
Kemudian, tatapan Keinya teralih pada Rara. Rara yang tiba-tiba saja kembali menjelma menjadi bayi yang harus ia jaga lebih eksklusif lagi. Ketika tatapan mereka bertemu, ia mengangkat kedua tangannya yang mengepal dan ia arahkan kepada Rara. “Semangat!” Keinya benar-benar menyemangati Rara meski air matanya justru menjadi terus berlinang.
Rara yang kembali menangis, berangsur mengangguk.
Dunia seolah berputar lebih lambat ketika pintu IGD akan ditutup terlebih ketika pandangan Keinya tak lagi bisa menangkap keberadaan Rara.
“Maaf, Ra. Aku enggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Seharusnya, kejadian ini tidak sampai terjadi!” Keinya makin terisak-isak. Ia sampai menekap mulutnya menggunakan kedua tanga. Terlebih karena tangisnya, Pelangi juga ikut menangis.
Bersambung ....
Seharusnya, enggak sampai sepuluh episode sama episode ini, Selepas Perceraian, tamat.
Semoga Author bisa kasih yang terbaik untuk kalian, ya.
Salam sayang,
__ADS_1
Ditunggu like dan dukungan kalian ^^
Rositi.