
“Selamat, ya, kamu sudah sukses membuat semua siswi di sini jadi janda!”
Bab 19 : Jadian
Langkah tegas yang dibarengi wajah ketus, begitu memancarkan Kishi sedang marah. Frendy yang sedang berada di tengah lapangan basket dan tidak sengaja melihat saja, langsung bisa menebak.
“Si murid baru cantik banget, ya?”
“Iya ... enggak kalah sama Pelangi.”
“Woy! Pelangi lebih tua dari kita, kali!”
“Umur boleh tua, tapi jiwa sama tampilan tetap lebih muda dari kita!”
“Kenapa dia seperti sedang marah? Seharusnya, dia belum punya banyak teman, kan? Terus, apa yang membuatnya semarah itu?” ucap Frendy yang sampai menyadari tangan kanan Kishi menenteng satu kotak tisu basah.
Mendapati sang sahabat begitu serius memperhatikan Kishi yang tampak baru saja mengunjungi area koperasi, keempat pemuda yang mengelilingi Frendy dan sama-sama mengenakan seragam basket berwarna biru putih, segera berkode mata. Keempatnya jadi senyum-senyum. Antara geli dan juga bahagia, sebelum akhirnya kompak mendorong Frendy.
“Ya ampun, kalian ini apa-apaan, sih?!” sungut Frendy sembari menatap kesal ke empat wajah pemuda yang mengelilinginya. Wajah-wajah yang masih menatapnya dengan senyum menggoda.
“Maju, Dy, jangan enggak! Sikat!” ucap mereka kompak.
“Tanpa disuruh, aku juga mau maju. Sudah, jangan rusuh. Jangan ngikut juga! Kesannya enggak laki banget kalau ke mana-mana kalian kawal!” balas Frendy yang seketika bergaya gagah.
Keempat teman Frendy segera mengelap setiap keringat Frendy.
“Eh ... eh, jangan tuntas-tuntas. Biar ada keringat dikit, biar tambah maco!” semprot Frendy lagi.
Jadi, setelah terlalu banyak drama untuk persiapannya yang bahkan sampai disemproti parfum oleh keempat sahabatnya, seperti kata-katanya, Frendy mengejar Kishi tanpa membiarkan keempat sahabatnya itu, ikut serta. Frendy siap mengejar cinta Kishi meski sebelumnya, hari kemarin, di awal gadis itu masuk ke sekolah mereka, Frendy sudah melakukan kesalahan fatal.
Frendy yang sampai berlari dalam mengejar Kishi, berhasil menyusul gadis itu, tepat ketika Kishi sudah nyaris masuk ke kelas.
“Selamat pagi, Kishi?” sapa Frendy yang bergaya kelewat sopan melebihi pelayan-pelayan di restoran mewah.
Kishi yang baru saja menginjakkan kakinya di bibir pintu kelas segera menoleh. Ia menatap aneh Frendy yang menjadi satu-satunya orang di sana.
“Kamu, ngomong sama aku?” tanya Kishi memastikan.
Frendy mengulas senyum. Pemuda yang sudah sampai memiliki berewok tipis itu tak hentinya menatap Kishi sambil tersenyum.
Dan apa yang Frendy lakukan--mendadak bersikap manis setelah apa yang pria itu lakukan hari kemarin--justru semakin membuat Kishi bingung.
“Kenapa di sini begitu banyak serigala berbulu domba?” gumam Kishi yang memilih berlalu meninggalkan Frendy begitu saja.
Di waktu yang sama, Dean yang melihat kehadiran Kishi pun memanggil Kishi, bersamaan dengan Frendy yang melakukan hal serupa. Kedua pemuda itu memanggil Kishi nyaris dalam waktu yang sama.
Kishi refleks menoleh pada Dean, tetapi karena di samping pemuda itu masih ada Feaya, Kishi segera menepisnya dan balas menatap Frendy.
“Apa?” tanya Kishi terbilang jutek.
Sadar ada orang lain yang sedang mengajak Kishi berbicara, Dean yang sampai mengernyit menatap penasaran kenyataan tersebut, segera menghampiri. Dengan tas gendong yang masih menghiasi punggung, Dean yang memang belum sempat duduk di tempat duduknya, justru mendapati Frendy sebagai lawan bicara Kishi.
“Aku pengin jadi teman kamu. Lebih sih, maunya. Tapi kalau kamu masih ragu-ragu, kita temenan dulu.” Frendy mengatakan itu sambil tersipu malu-malu.
“Aku panggil kamu, tapi kok kamu enggak balas?” ucap Dean yang sampai mengomel.
Kishi mendengus menatap kesal Dean. “Ini lagi, baru datang langsung marah-marah!” omelnya.
“Iya, si Dean ganggu aja!” gumam Frendy sambil menatap kesal Dean.
“De, ada yang nyariin kamu, katanya pengin jadi teman kamu!” lanjut Kishi yang kemudian berlalu meninggalkan kebersamaan.
Dean menatap aneh Frendy. Pandangan keduanya sempat bertemu, tetapi Frendy buru-buru menerobos masuk. Menyadari itu, Dean langsung mendorong mundur Frendy.
“Jangan bikin rusuh lagi! Selain murid di kelas ini, dilarang masuk. Toh, sebentar lagi, kelas juga akan dimulai!” tegas Dean sambil menatap tajam Frendy.
“Apa-apaan, sih? Enggak jelas banget! Ganggu orang usaha saja!” balas Frendy makin kesal. “Kis ... nanti istirahat, ke kantin bareng, ya?!” serunya kemudian sambil memasang wajah semringah kepada Kishi.
Kishi yang mulai mengelap meja berikut bangku bekas Feanya, menggunaka tisu basah, sama sekali tidak menggubris Frendy.
__ADS_1
“Ya, Kis! Nanti pulangnya aku antar juga!” seru Frendy lagi, masih usaha.
“Brisik, ah! Sudah sana pergi!” usir Dean yang memang sudah telanjur cemburu lantaran ada pemuda lain yang terang-terangan mengejar Kishi.
“Awas saja lo, yah, De! Gue denda kalau lo sampai lewat kelas gue!” ancam Frendy.
Dean mengangguk-angguk sambil terus menatap serius Frendy. “Oke. Nanti kalau aku lewat kelas kamu, aku bakalan terbang apa malah ngilang. Puas?”
“Rese, lo!” cibir Frendy sesaat sebelum berlalu.
Semua siswi di sana jadi senyum-senyum sendiri menyikapi balasan Dean kepada Frendy yang bagi mereka, membuat seorang Dean yang selama ini terkenal pendiam, menjadi begitu manis.
Namun, mereka juga menjadi bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Dean begitu melindungi Kishi? Bahkan Dean sampai menyusul Kishi, membiarkan Feaya menunggu sambil cemberut memperhatinnya?
“Kenapa kamu pindah?” tanya Dean hati-hati, dan masih dengan suara lirih.
Hingga detik ini, semua mata penghuni kelas masih memperhatikan setiap gerak-gerik Dean.
“Aku enggak nyangka, kalau di sini masih ada yang rasis! Dipikirnya aku bayar sekolah pakai angin, apa?!” gerutu Kishi yang kemudian mengantongi setiap bekas tisu basah bekasnya mengelap, dan awalnya ia kumpulkan di lantai.
Kemudian, Kishi segera berlalu untuk membuang semua itu pada tong sampah yang keberadaannya ada di depan sebelah pintu kelas.
Ketika Kishi kembali, Dean masih di sebelah meja yang baru Kishi lap. Kenyataan tersebut pula yang membuat Kishi bingung. Bahkan Kishi sampai memelankan langkahnya.
“Apa lagi?” keluh Kishi.
Lantaran Dean hanya diam sambil membalas Kishi dengan pandangan tidak nyaman, Kishi memilih menerobos Dean untuk duduk, sedangkan pemuda yang menjadi teman di sebelahnya dan duduk di sebelah tembok, terlihat menjadi sungkan bahkan gugup.
“Ngapain kamu masih berdiri di situ kayak tugu?” omel Kishi pada Dean. “Bikin susah move on saja!” batin Kishi semakin uring-uringan.
Kemudian Dean berdeham sambil menatap pemuda yang duduk di sebelah Kishi. “Sori, ... boleh, kita tukeran tempat duduk?” pintanya.
Meski keberatan dan sangat ingin menolak, tetapi pemuda itu tak kuasa melakukannya. Jadi, meski setengah hati, si pemuda segera mengemasi barang-barangnya, sedangkan Kishi berangsur mundur, memberi pemuda tersebut jalan.
Semua mata di sana, kecuali Feanya dan si pemuda korban gusur Dean, menatap tak percaya pemandangan yang terjadi. Dan mereka, langsung menatap curiga Feanya yang ternyata langsung terlihat begitu kesal. Ya, Feaya tak hentinya menatap kesal Kishi dengan kedua tangan gadis gendut itu yang sampai mengepal di kedua sisi tubuh.
“Apa jangan-jangan, su Feaya cuma ngaku-ngaku?”
Tak ada kemungkinan lain kecuali apa yang baru saja mereka yakini. Terlebih, semenjak awal kedatangan dan mendapati barang-barang Feaya ada di meja Kishi, Dean sampai enggan duduk di kursinya sendiri. Justru, kini pemandangan lainlah yang berbicara. Karena Dean, justru memilih bertukar tempat duduk dan membuat pemuda itu bersebelahan dengan Kishi.
“Selamat, ya, kamu sudah sukses membuat semua siswi di sini jadi janda!” ucap Kishi masih ketus sambil meletakkan kotak tisu basahnya di meja Dean.
Kishi melakukan itu tanpa menatap Dean. Namun Kishi juga tidak menyangka, Dean akan sampai menahan tangannya hingga tangan mereka bertumpuk di atas tisu basah yang Kishi letakkan.
Kishi menatap tak percaya tangan mereka yang saling bertumpuk. Lebih tepatnya, Dean sampai menggenggam tangan Kishi. Kemudian, dengan segenap keberanian yang berhasil dikumpulkan, Kishi memberanikan diri untuk menatap Dean. Demi Tuhan, Kishi bisa memastikan jika kedua matanya gemetaran, sedangkan wajahnya sudah sampai bersemu.
“Apa maksudmu? Katakan pelan-pelan karena di sini banyak orang,” lirih Dean sambil menatap serius Kishi.
“Tanya saja pacarmu!” tegas Kishi lirih sambil menatap ketus Dean.
Kishi berusaha menarik tangannya dari Dean, tetapi pemuda itu tetap menahannya. Kenyataan itu juga yang membuat Kishi menatap geregetan Dean di antara kegelisahan yang tiba-tiba juga menyertainya.
“Kamu?” ucap Dean pelan dan masih menatap serius Kishi.
“Apa?!” balas Kishi masih meledak-ledak kendati masih dengan nada lirih juga.
“Tadi katanya aku suruh tanya. Tanya sama kamu, kan?” balas Dean memastikan dengan gaya yang jauh lebih sabar.
Kishi kebingungan. “Lho, kok aku? Ya tanya sama--?” ucapnya terhenti lantaran Dean tiba-tiba berucap.
“Kalau bukan kamu siapa lagi? Orang sampai sekarang memang cuma kamu.” Dean menepis tatapannya dari Kishi.
“Kok, gini? Apa maksudnya?” batin Kishi yang menjadi semakin bingung. Sialnya, jantungnya sampai ikut berdentam-dentam keras. Karena yang Kishi pikir, sebenarnya Dean sedang mengungkapkan perasaan kepadanya. Perihal ia yang nyatanya menjadi satu-satunya gadis yang Dean cinta. Namun, Kishi ragu Dean sampai semanis itu!
“Semalam aku telepon kamu ... tapi yang angkat malah Rafa ....” Kali ini, Dean benar-benar tidak bersemangat. Ia kembali terluka hanya karena teringat betapa tegasnya Rafaro yang memberinya peringatan, seolah-olah, Kishi milik Rafaro tanpa mau membaginya.
“Masa, sih? Kok Rafa enggak cerita? Tapi bagus, sih, biar Dean tahu rasa!” batin Kishi yang tiba-tiba saja menjadi merasa sangat puas.
“Baru telepon sekali saja sudah perhitungan. Apalagi kalau kamu jadi aku yang selalu kamu abaikan?” Kishi menggeleng lelah dan buru-buru menarik paksa tangannya. “Jangan pegang-pegang! Kamu pikir aku apaan!” ancamnya yang kemudian mendengus.
__ADS_1
“Sudah diancam segitu tajam, masih saja enggak peka!” batin Kishi semakin kesal.
Dan yang membuat Kishi semakin kesal, tak lain ketika pandangannya bertemu dengan Feaya yang nyatanya juga tengah menatapnya. Anehnya, gadis gendut itu sampai terlihat begitu kesal, dan seolah siap meremukan tulang-belulang Kishi detik itu juga.
“Jadi cowok kok enggak ada tegasnya! Bisa, ya, kamu beda benget sama papamu? Bahkan kamu kalah jauh dari Zean!” rutuk Kishi yang mulai membuka tasnya dan mengeluarkan buku pelajaran.
“Apa lagi?” keluh Dean sambil menatap Kishi.
Dengan emosi yang berangsur surut, Kishi yang juga menjadi terdiam cukup lama hingga membuat Dean semakin menunggu pun berkata, “kayaknya, ... aku mau lanjut sekolah di luar negeri saja, deh ... kita bertemu sepuluh tahun lagi!” Kemudian, ia menatap Dean penuh keyakinan.
“Kenapa harus sepuluh tahun lagi?” tanya Dean yang nyaris tak berkedip hanya untuk menatap kedua manik mata Kishi yang berwarna hitam.
Kishi menepis tatapan Dean. “Ya karena sepuluh tahun lagi, aku ingin menikah. Dan aku ingin menikah denganmu, jadi tentu saja kita harus bertemu!”
Meski tidak berani menatap Dean, tetapi Kishi juga kerap melirik pria itu. Dan tak lama setelah itu, sebelah tangan Dean kembali meraih bahkan menggenggam erat sebelah tangan Kishi.
“Jangan membuatku menunggu terlalu lama. Jangan sampai selama itu,” ucap Dean tanpa ragu dan memang masih menatap Kishi.
Kishi yang tidak percaya, berangsur menoleh dan membuatnya menatap Dean.
Dean mengangguk sambil menatap sendu Kishi, meyakinkan gadis itu melalui tatapannya. “Kita menikah. Jangan selama itu. Dan jangan pergi jauh dariku, karena aku juga butuh dukunganmu secara langsung.”
Kishi diam. Benar-benar diam. Membiarkan jantungnya menjelma tabuhan bedug di kala hari raya. Benar-benar berisik seiring Kishi yang berangsur menunduk, di mana, ia juga balas menggenggam genggaman tangan Dean.
“Tapi tadi di Gendut bilang, kalian pacaran, bahkan kamu minta dia duduk di kursi aku,” ucap Kishi lirih sambil menatap sedih Dean.
Mata Kishi sampai berkaca-kaca.
“Bahkan semua siswi di kelas, di sekolah ini, mengaku sebagai istriku! Kamu lupa itu? Dan kenapa juga kamu percaya orang lain, jika kamu memang mencintaiku?” balas Dean. “Tadi saja, Fe bilang kamu yang minta pindah. Kamu pikir aku percaya? Enggak ... aku enggak mungkin percaya sama orang lain, karena aku kenal kamu!”
Kishi menjadi tersipu dan menunduk, kendati di waktu yang sama, air matanya juga luruh. “Kamu jangan bikin aku gede rasa deh, De ....”
Dean tertawa kecil seiring sebelah tangannya yang sampai mengacak ringan punggung kepala Kishi. Dan pandangan tersebut sukses membuat penghuni kelas heboh, menatap tak percaya.
Kishi menatap bingung Dean, lantaran semua penghuni kelas telah menjadikan mereka sebagai fokus perhatian.
“Enggak apa-apa. Aku enggak takut lagi, karena nyatanya, kamu lebih menyeramkan dari sekelompok mafia!” ucap Dean yang masih menertawakan Kishi.
“Kamu serius, enggak? Ini hubungan kita apa, soalnya kalau kamu tetap enggak kasih kepastian, aku mau sama Rafaro saja!” tuntut Kishi yang langsung membuat Dean berhenti tertawa.
“Bisa-bisanya?” keluh Dean.
“Hidup ini terlalu tragis jika hanya dipenuhi hal-hal yang menyakitkan, Dean. Ya sudahlah. Aku mau fokus belajar!” balas Kishi yang memang langsung fokus belajar.
“Aku serius. Aku benar-benar serius. Tapi, meski begitu, kita sama-sama fokus sama tujuan kita dulu. Dan yang terpenting, jangan membuatku menunggu terlalu lama,” ucap Dean penuh kepastian.
Kishi berangsur menoleh dan menatap Dean penuh cinta. Ia mengulas senyum malu-malu dan kemudian mengangguk. “Jadi, ini, kita ... jadian?”
“Ya, iya. Apa lagi?” balas Dean serius.
“Tapi kurang romantis lho, De,” keluh Kishi sambil menatap sedih Dean.
“Iya, nanti ditunggu saja. Sekarang kita fokus urusan sekolah dulu,” balas Dean yang mulai mengeluarkan buku berikut alat tulis dari dalam tasnya.
Kishi benar-benar bahagia. Hatinya menjadi berbunga-bunga. “Akhirnya ... jadian juga!” batinnya masih merasa sulit percaya.
“Apa bagusnya sih, Kishi? Hanya karena dia kurus? Oke! Aku juga bisa kurus!” batin Feanya yang langsung memberikan satu kantong camilannya kepada teman meja di sebelahnya. Ya, pemuda yang diajak bertukar tempat duduk oleh Dean.
“Itu buat kamu. Sudah enggak usah kebingungan begitu!” omel Feaya.
Si pemuda itu segera memberikan balik satunkantong camilannya kepada Feaya. “Nyatanya enggak cuma tampilanmu saja yang buruk, ya? Karena cara berpikir bahkan hati kami juga sama. Sama-sama buruk!” tegasnya.
Feaya, benar-benar tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Andai saja tidak banyak orang termasuk Dean, Feaya sudah menghajar total pemuda di sebelahnya yang baginya sangat sombong.
Bersambung .....
Seberapa greget kalian sama cerita ini? Kalian mau Author nulis sampai mana? Hanya sampai bulan ini, atau tetap lanjut?
Jawab, yaaa. Author tunggu. Selamat siap-siap sahur bagi yang menjalankan, yaaa 💜
__ADS_1