Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 34 : Ancaman Perjodohan


__ADS_3

“Daripada aku dijodohin sama nenek-nenek, lebih baik aku nikah sama kamu!”


Bab 34 : Ancaman Perjodohan


Aura berbed begitu terasa dari perubahan sikap Mofaro kepada Rafaro. Pemuda itu menjadi begitu ketus kepada adik sekaligus kembarannya sendiri.


Tak hanya sikap, sampai-sampai, yang hanya sekilas melihat pun langsung menyadari. Sebab setiap pemuda berambut bergelombang sepundak itu menatap atau melirik Rafaro pun, tatapannya sangat bengis.


Mofaro jelas menyimpan kebencin yang begitu besar kepada Rafaro. Membuat Rara dan Kimo yang tak hentinya memperhatikan keduanya dalam kebersamaan mereka, menjadi gerah sendiri.


“Ini, nih ... yang bikin Papa sampai berujar, kenapa salah satu kalian enggak ada yang jadi perempuan saja? Kenapa kalian harus terlahir jadi laki-laki semua,” tegur Kimo yang memimpin jalannya sarapan.


Aurora yang duduk di sebelah Rara, hanya menjadi pengamat tanpa berkomentar. Hanya mata bulat bak mata bonekanya saja yang sesekali berkedip, mengamati kedua kakaknya yang kali ini sampai duduk bersekat di antara Kishi. Karena biasanya, keduanya akan duduk bersebelahan atau berhadapan. Namun kini, sebelum Kishi duduk di kursinya, keduanya yang sudah datang lebih dulu justru sengaja duduk berjarak.


“Lihat Pelangi sama Dean utu selalu bikin hati dan hidup Papa adem. Lha, kalau lihat kalian dikit-dikit seperti ini, kepala Papa jadi panas. Kayak berasap ini!” lanjut Kimo.


“Jadi, aku diam pun salah, Pa?” tanya Rafaro tak lama setelah Kimo selesai berbicara.


“Kenapa hanya diam? Jelas-jelas kamu tahu kenapa aku begini!” saut Mofaro yang langsung meledak-ledak sambil berusaha menatap Rafaro yang terhalang oleh keberadaan Kishi.


“Mo ...,” tegur Rara sambil menatap tegas Mofaro.


“Mom! Kalian terlalu sayang sama Rafaro! Ini enggak adil! Bahkan aku yang lahor dulu!” seru Mofaro yang sudah telanjur tidak dapat menahan emosinya.


“Mo!” kali ini Kimo sampai berteriak setelah sampai meletakkan garpu dan pisau yang awalnya digunakan untuk memotong roti lapis di piringnya selaku menu sarapan mereka.


Kimo, menatap tajam Mofaro dengan mata yang sampai berkaca-kaca.


“Bahkan kalian tahu bagaimana sakitnya jika waktumu hanya dhiasi rasa cemburu? Itu sudah sangat menyiksaku, tetapi kenapa kalian juga memperlakukanku tidak adil seperti ini?!”


“Dan apakah kamu tahu? Mom, ... ibumu ini hampir mati hanya karena melahirkanmu!”


“Mengandung dan melahirkan kalian bukan perkara mudah! Mom bertaruh nyawa untuk kalian semua!”


“Jadi jangan mentang-mentang kalian merasa terluka karena suatu hal, kalian bisa seenaknya membentak ibu kalian!” Kimo mengatakannya nyaris tak berjeda.


Tak ada lagi yang berkometar. Rafaro yang lebih dulu menunduk dan jelas mengalah. Juga Mofaro yang melakukan hal serupa kendati jelas, pemuda itu hanya mencoba menghargai orang tuanya, karena setengah hati pun, tidak terjadi. Mofaro, masih sangat marah.


Mofaro masih kecewa pada orang tuanya yang selalu saja bilang akan berlaku adil, tetapi di matanya, orang tuanya lebih peduli sekaligus menyayangi Rafaro.


“Mau berpikir apa lagi? Masih merasa diperlakukan tidak adil? Kalian ini belum merasakan apa-apa. Kalian baru sakit hanya karena patah hati. Bayangkan jika kalian juga mengalami kesulitan seperti yang lain?”


“Jangan hanya melihat ke atas! Kembali pada kenyataan kalau kalian bukan siapa-siapa!” lanjut Kimo.

__ADS_1


Rara, mulai meraih punggung suaminya dan mengelusnya pelan. Rara tak menyalahkan Kimo, tetapi Rara juga tidak menyalahkan anak-anaknya. Karena baginya, anak-anak begitu hanya mereka kurang mengerti.


“Papa justru bersyukur, jika pada akhirnya, Pelangi lebih memilih pria lain. ... bayangkan saja jika Pelangi sampai memilih salah satu dari kalian? Bisa meledak rumah ini gara-gara kalian terus saja merebutkan dia!” lanjut Kimo masih belum bisa mengakhiri emosinya. Emosi yang selalu akan mendidih ketika anak-anaknya sampai ada yang berani berlaku kasar kepada Rara bahkan sekadar berbicara dengan nada tinggi.


Karena sejauh ini, bayangan sekaligus ingatan perjuangan Rara melahirkan Mofaro dan Rafaro, masih memenuhi ingatan berikut mata Kimo. Rara, ... istrinya itu hampir mati hanya karena menjalani persalinan. Belum lagi, ketika Raa juga hamil si kembar, Rara harus merasakan banyak luka bahkan kehilangan. Dari restu Kiara yang tak kunjung mereka dapatkan, ... kematian Piera yang bahkan sebelumnya menyia-nyiakan Rara. Semua itu teramat menyakitkan terlebih Kimo sempat amnesia.


Karena meski hingga sekarang, Kimo belum bisa mengingat ingatannya yang hilang, tetapi sahabat terdekatnya--Yuan dab Keinya selalu meyakinkannya. Tak hanya cerita-cerita dari mereka. Melainkan bukti foto dan video. Jadi, jika pertengkaran di rumah mereka juga sampai membuat Rara menjadi korban, Kimo tidak akan membiarkannya.


“Mom kalian ini terlalu berharga untuk kita semua. Bahkan tanpa Mom, kita enggak mungkin bisa merasakan hidup mewah penuh kebahagiaan seperti sekarang. Karena tanpa perjuangan Mom, kalian enggak akan ada. Jadi jangan sekali-sekali menyalahkan Mom, bahkan sekadar buruk sangka!” Kali ini, Kimo mengucapkannya dengan nada suara yang jauh lebiu lirih sekaligus tenang.


Kimo menatap saksama kedua manik mata Mofaro dan Rofaro. Meski kejadian seperti sekarang bukan hal yang asing, di mana, Mofaro memang selalu lebih meledak-ledak dalam menyampaikan emosinya, tetapi untuk kali ini juga, untuk pertama kalinya, Kimo sampai meledak-ledak. Dan hal itu terjadi lantaran Mofaro terkesan jelas menyalahkan Rara yang telah melahirkan Mofaro dan Rafaro.


“Mom salut sama Ngi-ngie yang sampai lebih memilih untuk enggak memilih salah satu dari kalian. Keputusannya benar-benar tepat, meski sebelumnya Mom sempat yakin, Pelangi memang mengharapkan salah satu dari kalian,” ucap Rara yang jauh lebih tenang daripada Kimo.


Rara menatap dalam, manik mata anak kembarnya dengan mata yang memerah bahkan basah.


“Sori, Mom ...,” sesal Rafaro sambil menatap sedih Rara.


Rara mengangguk pelan sambil balas menatap Rafaro.


“Ya, ... kamu memang yang harus meminta maaf, karena kamu memang yang salah!” sela Mofaro.


Pernyataan Mofaro sukses menyita perhatian di sana. Kimo sudah terlihat terpancing emosi dan jelas akan kembali meledak-ledak menegur anak pertamanya itu. Hanya saja, Rara langsung berdeham dan lebih dulu berucap.


“Biarkan aku yang mengejar Ngi-ngie, kamu enggak usah!” ucap Mofaro kemudian.


“Ya. Kamu yang ngejar, aku yang nikahin Ngi-ngie,” balas Rafaro dengan santainya dan mulai meraih roti lapis di piring yang sama sekali belum ia sentuh.


Kishi mendadak mesem mendengar balasan Rafaro yang bahkan mendadak bersikap cuek.


“Raf, kalau kamu berani nikung aku, aku kirim kamu ke Merkurius biar kamu kembung kebanyakan makan gas!” ancar Mofaro yang sampai mengibaskan sebelah tangannya di hadapan Kishi agar Kishi mundur dan tidak menghalanginya dalam menyerang Rafaro.


Rafaro tak acuh sambil menikmati roti lapisnya menggunakan tangan kosong. “Kami saling mencintai. Bahkan aku sudah menargetkan dalam waktu dekat, kami akan jadian.”


Rafaro benar-benar bersikap santai. Tak peduli Mofaro sudah nyaris menerkamnya hidup-hidup.


“Mo, ... duduk. Kalau kamu tetap emosional, Papa enggak segan buat jodohin kamu,” ancam Kimo sambil terus mengunyah roti lapis yang sudah ada di dalam mulutnya.


“Dijodohinnya sama Ngi-ngie, kan, Pa?” tanggap Mofaro penasaran. Bahkan saking penasarannya, ia tak lagi meledak-ledak.


“Sama nenek-nenek!” balas Kimo lagi dan jelas mengambil sikap tegas


Aurora yang sedari tadi hanya diam, mendadak tertawa lepas. Pun dengan Rafaro yang menjadi tidak bisa menahan tawanya. Rafaro melahap roti lapisnya dengan kebahagiaan yang berlimpah memenuhi dadanya. Pun dengan Kishi yang tak kuasa menahan tawanya tak ubahnya Rafaro.

__ADS_1


“Aku benar-benar merasa teraniaya,” ucap Mofaro bersedih dan memang syok dengan ancaman perjodohan dari Kimo.


“Sudah, habiskan sarapanmu. Nanti kamu telat ke kantornya,” ujar Rara yang menjadi sosok paling netral dari semuanya.


Rara bahkan sampai bangkit dan menambah dua roti lapis ke piring Mofaro. “Habiskan,” pintanya.


Dengan emosi yang berangsur meredup, Mofaro yang juga terlihat sedang berpikir keras jika melihat kerut di dahi bahkan bibir berisinya yang menjadi cemberut, berangsur mengangguk. Mofaro kembali melanjutkan sarapannya. Ia memotong-motong satu roti lapis di piringnya menggunakan garpu dan pisau sambil sesekali menikmatinya.


Dan semuanya kembali menyantap sarapan mereka. Setumpuk roti lapis yang sebelumnya dibakar, juga beberapa potongan buah apel selain segelas susu rendah lemak


“Sek, ... nikah, yuk?” ajak Mofaro sambil menatap serius Kishi dan sukses membuat Kishi berikut semua yang di sana membeo.


Kishi, Rafaro, Kimo, Rara, tanpa terkecuali Aurora, langsung menatap Bingung Mofaro, meski setelah itu, mereka kecuali Kishi juga menjadikan Kishi fokus selanjutnya.


“Daripada aku dijodohin sama nenek-nenek, lebih baik aku nikah sama kamu!” rajuk Mofaro lagi.


“Heh heh, heh .... jangan paksa-paksa Kishi. Kalaupun Kishi enggak nemuin orang yang benar-benar tulus sama Kishi, lebih baik Kishi nikah sama aku!” tegur Rafaro serius.


“Eh, Raf ... tampangmu itu tampang bayi, ya! Enggak seharusnya kamu poligami!” omel Mofaro yang lagi-lagi sampai mengibaskan sebelah tangannya pada Kishi demi menyerang Rafaro.


“Iihh ... ngapain sih kalian berantem terus? Kalau kembar harusnya saling sayang, bukan begini!” omel Kishi yang memang sudah tidak tahan.


“Aku enggak sudi punya kembaran macam Rafaro. Wajah bayi tapi kelakuan *nyiny*i!” celetuk Mofaro dan jelas meledek.


“Apa maksudmu dengan nyinyi? Sembarangan kamu!” tangkis Rafaro.


Baik Kimo terlebih Rara masih tidak percaya, jika anak kembar mereka akan selalu menyukai hal yang sama bahkan dalam urusan cinta. Ya, Rara melayangkan semua keresahan itu melalui tatapan sedihnya kepada Kimo. Kimo yang bahka terlihat kewalahan mengurus si kembar.


“Jangan ribut lagi! Aku enggak menikah dengan pria mana pun kecuali Dean. Kami sudah berjanji!” tegur Kishi lagi yang kembali mengambil sikap tegas.


Akan tetapi, ketimbang urusan anak kembarnya, pengakuan Kishi jauh lebih mengusik Kimo.


“Kalau gini caranya, mantan suami istri bakalan jadi besan?” bisik Kimo kepada Rara sambil menahan senyumnya.


Rara pun sampai harus mengendalikan tawanya akibat fakta menggelitik yang baru saja Kimo sampaikan.


“Dunia ini terlalu lucu!” bisik Rara pada Kimo tepat di sebelah telinga pria itu. Rara melakukannya sambil menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan.


Bersambung ....


Dijodohin sama nenek-nenek? Siapa sih, yang enggak syok 😂😂😂😂.


Habis rebutan Pelangi, jadi rebutan Kishi. Duh si kembar jadi mantu Author saja, kali ya? Tapi anak Author masih 19 bulan 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2