
“Jika kamu memintaku bersama Elena, dengan kata lain, kamu juga tidak bisa bersama Rafa. Memangnya, ... kamu siap?”
Bab 66 : Pengakuan Cinta Atala
“Kau gila!”
Kata-kata itu melesat begitu saja dari mulut Mofaro. “Dia kakak dari kekasihmu!” tambah Mofaro yang sangat ingin menghajar atau setidaknya melayangkan bogem pada wajah Atala.
“Gila si Dean. Mana ada, orang macam begini keren?” batin Mofaro kemudian dan sampai terengah-engah saking emosinya.
Elia yang telanjur marah, berusaha meredamnya dengan mengatur napas pelan. Terlebih, karena kemarahannya, dada Elia juga sampai terasa sesak. “Atala benar-benar bedebah!” batin Elia seiring kedua tangannya yang sampai mengepal.
Elia tahu, sebuah ungkapan cinta harusnya juga disambut dengan bahagia kendati kita tidak selalu bisa membalasnya. Namun, jika pengakuan cinta yang datang padanya justru dari kekasih kembarannya sendiri, tentu penyambutan apalagi kebahagiaan juga tidak akan Elia lakukan. Karena yang ada, bukannya bahagia atau setidaknya menghargai, Elia justru merasa sangat marah sekaligus tersakiti.
“Siapa yang gila dan siapa yang salah? Asal kalian tahu, dari awal yang kucintai memang Elia! Tapi Elena justru memalsukan jati dirinya! Dia mengakui dirinya sebagai Elia, di awal aku menemuinya, sedangkan sebelum bertemu dengan Elena, aku sudah sering melihat Elia di sini!” tegas Atala.
“Yang kucintai Elia, bukan Elena! Dan dari depan restoran itu, aku sering memperhatikan Elia, sebelum aku kembali ke bandara tempatku bekerja!” tambah Atala masih meledak-ledak. Dan dengan penjelasan yang baru saja ia tegaskan, ia sangat berharap kedua sejoli di hadapannya mengerti lantaran dirinya hanya korban. Korban yang telah diperdaya oleh Elena.
Apa yang Atala tegaskan semakin menambah beban pikiran Elia yang menjadi teringat betapa seorang Elena begitu mencintai Atala. Dan jika apa yang Atala memang benar adanya, sungguh, Elia berharap Elena jatuh cinta pada pria lain agar kembarannya itu benar-benar bahagia. Terlebih, jika melihat sifat Atala yang keras, Elia yakin, pria itu tak mampu membahagiakan adik sekaligus kembarannya.
Dan setelah menyeka tuntas air matanya, Elia sengaja memunggungi dan meninggalkan Atala. “Mo, tolong antar aku pulang,” pintanya dengan suara lemah.
Mofaro yang masih merasa sangat kesal, berangsur menghela napas panjang. Ia mengambil helm yang sudah ia sediakan untuk Elia, dan ada di depannya, tetapi ketika ia akan memberikannya pada Elia, gadis itu justru terhuyung dan nyaris terjatuh lantaran sebelah tangannya ditarik paksa oleh Atala.
“Atala, lepas, sakit!” tegas Elia yang sampai kewalahan menyeimbangi langkah cepat Atala.
Atala memutari mobil sambil terus membawa paksa tubuh kurus Elia untuk memasuki mobil bagian penumpang di sebelah setir. Tak peduli seberapa pun keras Elia memberontak, yang diinginkannya hanyalah membawa dan menjauhkan gadis itu dari pria lakin.
Tentunya, kenyataan tersebut sukses menyulut emosi Mofaro. Apalagi selama ini, dalam ajaran keluarganya, sangat pantang bersikap kasar kepada wanita. Mofaro kembali meletakkan helm yang awalnya akan ia berikan kepada Elia. Ia segera turun dari mobil dan melangkah cepat untuk mengamankan Elia. Elia yang bahkan sampai dipaksa masuk ke dalam mobil di mana lantaran Elia terus memberontak, kepala gadis itu juga sampai dipaksa masuk oleh Atala setelah sampai terbentur.
Atala telah berhasil menutup pintu keberadaan Elia, namun setelah itu, sebelah bahunya ditarik dan dihadapkan paksa dari belakang. Sebuah bogem panas melesat mengenai hidungnya yang mancung. Dan karena bogem tersebut pula, tubuh Atala sampai sempoyongan. Atala bahkan terpaksa berpegangan pada mobil bagian depan miliknya.
Setelah melayangkan bogem, Mofaro segera membuka pintu mobil keberadaan Elia dan segera menuntun keluar gadis itu. Tentu, ia melakukannya dengan hati-hati tak seperti apa yang Atala lakukan sebelumnya.
“Berani kamu main kasar sama wanita! Aku pastikan seumur hidupmu, kamu akan menyesal!” tegas Mofaro yang kemudian menuntun Elia melewati Atala.
Demi Tuhan, apa yang terjadi kini membuat Elia sangat ketakutan. Elia bahkan menyadari jika jantungnya berdentum sangat berlebihan dan sampai berbunyi sangat keras sekaligus berisik.
Akan tetapi, Atala yang melihat tangan Elia digandeng Mofaro juga langsung tersult emosi. Emosi yang langsung membuat pria itu seolah memiliki kekuatan bahkan nyawa tambahan. Jadi, setelah ia mengelus hidung bekas bogeman Mofaro dan sampai mendapati darah dari sana, detik itu juga ia meraih dan menarik sebelah bahu Mofaro, disusul sebuah bogem yang ia layangkan asal pada wajah pemuda itu.
“Atala, cukup!” teriak Elia yang sampai menangis histeris.
Saking takutnya, Elia refleks terpejam sambil menunduk, sedangkan kedua tangannya menekap erat kedua telinganya. Sebab hanya sekadar mendengar deru napas Atala dan Mofaro berikut baku hantam yang keduanya lakukan saja, sudah membuat nyawanya seperti dicabut paksa.
“Jangan pernah menyentuhnya!” tegas Atala.
“Kau benar-benar lucu!” Mofaro tersenyum sarkastis dan sangat puas dengan apa yang telah ia lakukan. Ya, bogem-bogem yang ia layangkan sukses membuat wajah menyebalkan Atala babak-belur. Pun meski pada kenyataannya, wajahnya juga tak kalah babak-belur lengkap dengan darah segar yang turut menyertai.
Sadar suasana sudah lebih tenang, Elia berangsur membuka matanya. Perlahan-lahan, pandangannya mendapatkan cahaya yang begitu terang lantaran di sore menjelang siang sekarang, cahaya mentari terpancar lebih terik dari biasanya, tak ubahnya kegarangan yang tengah menyelimuti kedua pria di hadapannya. Di waktu yang sama, Mofaro berangsur menunduk dan menatap Elia.
__ADS_1
Mofaro mengulurkan tangan kanannya di tengah wajahnya yang babak-belur dan sukses membuat Elia merasa ngeri. Namun karena Elia yang tak sengaja menoleh ke samping untuk memastikan apa yang terjadi pada Atala, justru mendapati Atala melayangkan bogem dan nyaris mengenai kepala Mofaro, dengan sekuat tenaga, Elia meraih uluran tangan Mofaro dan menarinya, hingga yang ada, tubuh Mofaro menimpa dan menindih tubuh Elia setelah sampai terjerembam.
“Ya ampun Nenek Sihir!” keluh Mofaro.
“Atala, cukup! Kamu bukan siapa-siapaku, jadi kamu enggak berhak mencampuri urusanku!” tegas Elia yang mengabaikan keluhan Mofaro. Ia menatap sengit Atala di tengah tubuhnya yang masih tertimpa Mofaro.
“Aku mencintaimu!” tegas Atala yang sampai mendelik menatap Elia saking geramnya.
“Iya, terima kasih. Tapi maaf, aku tidak mencintaimu!” balas Elia.
“Gara-gara pemuda ini!” tuding Atala.
“Bukan urusanmu!” tepis Elia. “Kamu lebih dewasa dari kami, dan seharunya kamu juga tahu bagaimana bersikap. Demi apa pun, aku kecewa dengan caramu yang kasar itu!” tambahnya.
“Dan apa pun yang terjadi, jika memang kamu laki-laki, tak seharusnya kamu berbuat seperti ini!” tambah Elia lagi yang kemudian berusaha mendorong tubuh Mofaro agar bangun dan tak lagi menindihnya. “Berat, tahu, Mo ...,” keluhnya lirih.
“Kamu yang tiba-tiba narik aku, kan?” balas Mofaro yang lagi-lagi tidak mau disalahkan.
“Kalau aku enggak narik kamu, kepalamu sudah bocor dan bisa jadi, kamu benar-benar amnesia!” omel Elia.
Mendengar omelan Elia, Mofaro langsung menatap kesal Atala. “Kamu itu laki-laki, tapi selain beraninya main kasar kepada wanita, kamu juga hobi main belakang, ya?!” umpatnya.
“Mo ... sudah. Kepalaku pusing. Jangan diteruskan,” tegur Elia sambil memegangi kepalanya menggunakan sebelah tangan, sedangkan sebelahnya lagi bertopang pada tanah di tepi jalan.
Beruntung, suasana di sana sudah sepi. Karena andai saja sampai ada yang mengetahui dan setidaknya menonton, Elia pasti merasa semakin stres. Sebab sekarang yang tidak sampai disertai siapa-siapa kecuali mereka berikut lalu-lalang kendaraan yang melintas, Elia sampai sangat lemas seperti kehilangan banyak tenaga.
Mofaro mendengkus kesal dan sampai mendesah. “Kalau saja aku enggak menghormati keputusan Elia, habis kamu!” tegasnya lirih.
Mofaro segera mengakhiri tatapannya terhadap Atala. Ia segera membungkuk dan menarik sebelah tangan Elia dengan hati-hati. Mofaro membantu Elia bangun dan sampai menahan punggung gadis itu.
“Elia, tolong beri aku kesempatan!” sergah Atala sangat memohon dan sampai mengikuti Elia.
“Santai, ya!” tegur Mofaro.
Elia yang telanjur bingung mengenai masa depan hubungannya dengan Elena, juga perihal perasaan Elena yang sangat ia khawatirkan, memilih bungkam dan abai.
Elia segera memakai helm yang telah Mofaro berikan, sedangkan Mofaro yang kadang menanggapi Atala juga turut mengenakan helmnya.
“Elia jahat banget dan sama sekali enggak menghargai perasaanku, padahal aku cinta mati sama dia!” gumam Atala yang melepas kepergian Elia.
Mofaro mengendarai motornya dengan cukup aman tak ugal-ugalan layaknya biasa.
Elia yang masih diam, berangsur mendekap pinggang Mofaro di tengah tatapannya yang sampai kosong. “Mo, jangan antar aku pulang. Kamu tolong antar aku ke rumah sakit papaku saja,” pintanya.
Bagi Elia, kejujuran dalam hubungan termasuk keluarga, sangatlah penting. Jadi, ia yang tidak sanggup menahan semua masalah perihal hubungan Elena dan Atala, berikut hubungan Elena dengan Elia sendiri, memutuskan untuk menceritakannya kepada Steven.
Tentu, Elia merasa lebih aman menceritakannya kepada Steven, lantaran Kainya sang mama cenderung gampang panik dan pemikir keras. Elia tidak mau, jika apa yang menimpanya dan Elena, sampai membuat mamanya stres. Belum lagi, sang mama masih harus fokus mengurus Shean yang terbilang rewel yang bahkan baru mau tidur setelah lewat pukul enam pagi.
Terlepas dari itu, Mofaro yang memilih diam juga sadar, Elia yang biasanya menyebalkan dan memang selalu menyebalkan kecuali sekarang, sedang tidak baik-baik saja. Satu lagi, ada satu hal yang tidak bisa Mofaro lupakan. Karena tadi, andai saja Elia tidak menariknya, tentu bogem Atala sudah berakhir fatal kepadanya. Dengan kata lain, Mofaro juga harus berterima kasih kepada Elia.
__ADS_1
“Memiliki kembaran, kadang kita merasa hanya menjadi bayang-bayang. Apakah kau setuju dengan anggapanku?” ucap Mofaro yang berusaha memecahkan keheningan.
“Bayang-bayang?” ulang Elia di tengah suaranya yang terdengar sumbang lantaran apa yang Mofaro katakan sukses mengingatkannya pada pengakuan Elena kemarin malam. “Elena juga berkata seperti itu,” lanjutnya.
“Dan aku, benar-benar merasa bersalah,” lanjut Elia yang menjadi menunduk sedih. Elia merasa, selain aliran darahnya yang sampai menjadi menghangat, kedua matanya juga mengalami hal serupa, sedangkan pandangannya sudah sampai buram lantaran ia juga sudah sampai menangis.
“Terkadang, kita yang enggak tahu apa-apa memang justru sangat dibenci oleh orang lain, bahkan orang terdekat kita sendiri, hanya karena orang itu enggak menyukai kita,” ujar Mofaro.
Elia yang sudah berderai air mata, bergumam sambil mengangguk-angguk membenarkan ucapan Mofaro.
“Sebelum Ngi-Ngie menikah, aku dan Rafa juga sering terlibat salah paham,” lanjut Mofaro lagi.
Elia menghela napas dalam, demi meredam sesak yang semakin menjadi tak terbendung, hanya karena ia berusaha menahan kesedihan berikut tangisnya.
“Mo ... jika kamu benar-benar mencintai Elena, tolong, jauhkan dia dari orang-orang seperti Atala,” pinta Elia yang kemudian menyandarkan keningnya pada punggung Mofaro.
“Kok, rasanya nyesek banget, ya? Aku jadi ikut sakit mendengar permohonan Elia,” batin Mofaro yang menjadi tidak tega kepada Elia. Terlebih, ia pernah ada pada posisi Elia—berselisih paham dengan saudara bahkan kembaran sendiri.
Dan rasa iba Mofaro semakin bertambah, lantaran tadi, ia dengar dengan telinganya sendiri, perihal Elena yang nyatanya telah memanipulasi keadaan, dan pura-pura menjadi Elia, kepada Atala.
Bukankah seharusnya, Elena yang bersalah? Padahal sejauh ini, Elena terlihat begitu santun dan terkesan jauh lebih dewasa daripada Elia yang kakaknya. Ibaratnya, tak beda dengan Mofaro dan Rafaro yang memang lebih dewasa Rafaro sebagai adik. Kendati demikian, Mofaro sengaja tak mau menuangkan pemikiran tersebut lantaran takut, hanya memperkeruh suasana.
“Jika kamu memintaku bersama Elena, dengan kata lain, kamu juga tidak bisa bersama Rafa. Memangnya, ... kamu siap?” ucap Mofaro dengan dada yang sampai berdebar-debar lantaran apa yang baru saja ia lakukan benar-benar membuatnya tegang bahkan menguras emosi.
Apa yang baru saja Mofaro katakan tak ubahnya tamparan keras bagi Elia yang detik itu menjadi kebas. Bahkan saking sakitnya, jantung Elia seolah berhenti bekerja. “Tidak bisa bersama Rafa?” batinnya.
“Sakit banget, ya!” lanjut Elia masih dalam hati seiring air matanya yang kian rebas. Bahkan saking sakitnya, Elia sampai menyeringai. Ya, Elia tengah merasakan betapa dalamnya luka tak berdarah yang bahkan lebih pedih dari luka berdarah-darah.
“Asal Elena bahagia dan terhindar dari pria kasar seperti Atala, ... aku enggak apa-apa. Toh, Rafa juga enggak menyukaiku, ... sedangkan aku terlalu muda untuk meratapi sakitnya terluka karena cinta.” Elia benar-benar tulus dengan ucapannya. Benar-benar asal Elena yang selama ini selalu merasa menjadi bayang-bayangnya, bahagia bersama cinta yang tepat, ia juga akan bahagia.
“Lagi pula ... dianggap seperti sahabat dan tenggak dihindari apalagi dibenci oleh orang yang kita cintai, juga sudah lebih dari cukup. Selebihnya, aku benar-benar ingin fokus dengan belajar dan karierku!” tambah Elia.
“Aku juga enggak kalah kasar dari Atala, kan? Bahkan aku selalu bikin kamu emosi?” ujar Rafaro.
“Seenggaknya kamu sadar diri. Sudah, jangan dibahas!” tegur Elia yang buru-buru menyeka air matanya, seiring ia yang mengakhiri sandarannya terhadap punggung Mofaro.
Elia menghela napas dalam. Ia mencoba berdamai dengan hati dan sebisa mungkin mengalihkan kenyataan terpahit dalam hidupnya, yaitu melupakan Rafaro, dengan segala hal.
Elia mengamati suasana sekitar sambil terus menghiasi wajahnya dengan senyum, kendati air matanya tak mau ingkar dan tak hentinya berlinang.
“Demi Lena yang selama ini selalu menjadi bayang-bayangku. Demi Elena yang sudah bekerja keras menjadi yang terbaik! Aku ... benar-benar ikhlas!” batin Elia yakin.
“Lena sudah terlalu lama menahan luka tak berdarah yang tanpa sengaja telah kutorehlan hanya karena aku ada dalam hidupnya,” pikir Elia.
Kini, di benak Elia, bayang-bayang sosok Rafaro yang selalu memperlakukannya dengan hangat, sengaja ia hapus, kendati yang ada, sosok Rafaro justru semakin memenuhi benaknya.
“Sabar, Li! Enggak ada yang lebih berharga dari hubungan keluarga, kan?” batin Elia lagi.
“Pelan-pelan, ... kamu pasti bisa! Kamu masih terlalu muda untuk memikirkan cinta. Jangan serakah!” gumam Elia yang kali ini sengaja menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung ....