Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 67 : Rasa yang Aneh


__ADS_3

“Jika aku enggak ada rasa sama Elia, kenapa aku harus sesakit ini, hanya karena mengetahui ada yang menyakitinya?”


Bab 67 : Rasa yang Aneh


Hingga sore nyaris kehilangan senja, Elena masih terjaga dan menunggu Atala. Gadis itu duduk di salah satu kursi yang ada di beranda rumah orang tua Atala. Sampai-sampai, sang sopir yang juga ikut menunggu di depan mobil, sudah berulang kali memanggil.


“Kok, sampai sekarang Atala belum pulang, ya? Padahal hari ini dia kan libur. Atala enggak sampai menemui Elia, kan?” pikir Elena.


Elena yang kerap melongok ke depan gerbang benar-benar hanya melihat sopirnya. Pria paruh baya berkulit sawo matang itu sudah mondar-mandir tak jelas di depan mobil sambil menatapnya dengan banyak rasa cemas.


“Non ... ayo, pulang. Ini mama sudah telepon!” panggil si sopir.


Elena yang juga takut jika ia pulang lebih larut, memutuskan untuk beranjak mengakhiri masa tunggunya. Ia berjalan lemas menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah Atala. Rumah Atala sendiri terbilang minimalis bahkan sederhana. Hanya memiliki dua lantai, tetapi Elena merasa sangat nyaman ketika berada di dalamnya.


“Mama ada cerita, Elia sudah pulang atau belum, enggak, Pak?” tanya Elena sembari masuk ke dalam mobil, di mana sang sopir juga sampai membukakan pintu untuknya.


“Enggak, Non. Mama cuma tanya keadaan Non,” balas sang Sopir dan terlihat jelaa masih menahan rasa cemas lantaran keputusan Elena menunggu kepulangan Atala, juga membuat dirinya mendapat teguran dari Kainya.


Setelah Elena masuk, sang Sopir segera menutup pintunya, sebelum akhirnya bergegas dan bersiap di balik kemudi.


“Bapak enggak bilang kalau saya menunggu Atala, kan?” lanjut Elena sembari menurunkan tas dari pundaknya dan kemudian mangkunya.


Elena menatap serius sang Sopir yang jelas-jelas memunggunginya.


“Maaf, Non ... saya terpaksa jujur karena tadi mama mendesak. Mama bilang, mama sampai menelepon Bu Hanum, dan saya jadi ketahuan berbohong, deh,” balas sang Sopir benar-benar menyesal sekaligus serba salah.


Elena merengut kecewa. “Mama sampai menelepon mamanya Atala? Kok mama jadi ngeselin, sih?” batinnya.


Ketika mobil belum lama melaju, sebuah dering tanda pesan masuk di ponsel Elena, sukses mengalihkan fokus perhatian gadis itu. Elena yang awalnya masih merengut kesal lantaran merasa geraknya telah dibatasi oleh Kainya, segera memastikannya. Di mana, Elena sangat berharap pesan tersebut berasal dari Atala.


Mofaro : Lena ... apa kabar?


Elena mengernyit dan merasa heran, kenapa seorang Mofaro yang ia ketahu selalu pecicilan, justru mengiriminya pesan yang begitu formil.


“Salah makan apa bagaimana, nih, orang?” batin Elena yang memilih mengantongi ponselnya. Akan tetapi, belum juga ia meletakan ponselnya, dering tanda pesan masuk kembali terdengar, dan kenyataan tersebut membuatnya urung menyimpan ponsel.


Ketika Elena melihat sang pengirim pesan masih sama, gadis itu sampai mengelus dada sambil menggerutu kesal, “ya ampun, masih Mofaro!”


Mofaro : Lena ... anak-anak bilang, Atala pacarmu itu enggak serius sama kamu. Dan aku yang suka sama kamu, jadi enggak bisa tenang, kalau cewek seistimewa kamu, sampai disia-siakan.

__ADS_1


Lanjutan pesan dari Mofaro, sukses membuat Elena jengkel. “Apaan sih, Mofaro! Sok asyik banget!” rutuknya dalam hati. Sial, Mofaro kembali mengiriminya pesan.


Mofaro : Jangan ngambek dulu, nanti cantiknya berkurang. Aku sadar diri kok. Maksudku bilang kayak tadi, karena aku cuma mau bantu kamu. Aku mau bantu kamu biar Atala benar-benar cinta sama kamu dan dia bakalan bertekuk lutut sama kamu!


Meski masih merasa kesal, tetapi Elena menjadi merenungi tawaran Mofaro. “Memangnya kelihatan banget, ya, kalau Atala enggak suka sama aku, karena yang Atala suka memang Elia?” pikirnya.


Dan Elena tetap tidak membalas pesan-pesan Mofaro lantaran ia terlalu larut memikirkan hubungannya dan Atala.


***


Di dalam kamarnya, Mofaro sampai mondar-mandir di depan tempat tidur lantaran semua pesan yang ia kirimkan hanya dibaca tanpa mendapat balasan.


“Si Elena beneran ngambek, apa, ya?” gumamnya sambil menyeringai menahan sakit, lantaran bekas bogeman Atala membuat sebagian besar wajahnya memar.


“Sial! Gara-gara si Atala, ketampananku ternoda!” rutuk Mofaro di setiap ia memastikan tampilan wajahnya di cermin rias yang ada di hadapannya.


Mofaro masih mengendalikan ponsel, dan menatap saksama layar ponselnya hanya demi memastikan balasan pesan dari Elena, yang nyatanya tak kunjung menghiasi ponselnya. Sungguh, Mofaro mulai yakin jika usaha pertamanya dalam mendekati Elena sudah gagal.


Ketika Mofaro memutuskan untuk duduk di tepi kasurnya, tak lama setelah itu seseorang mengetuk pintu kamarnya daru luar.


“Siapa?” seru Mofaro.


“Sejak kapan nama Rafa berubah jadi kompres?” gerutu Mofaro sembari bergegas menuju pintu.


“Sejak kapan namamu berubah jadi kompres?” protes Mofaro bersungut-sungut.


“Sudah jangan bawel!” balas Rafaro yang sampai memasang wajah sebal.


“Mama dan yang lain enggak ada yang tahu, kan, kalau wajahku babak belur?” lanjut Mofaro dengan suara yang turun drastis.


Mofaro sampai melongok ke belakang Rafaro. “Si Rora juga jangan sampai tahu, soalnya dia suka curhat-curhat sama si Zean. Bisa viral kalau bocah itu sampai tahu!” gerutunya.


“Sudah ... sudah, ayo masuk!” balas Rafaro yang memang merasa semakin kesal.


Rafaro sampai cukup mendorong Mofaro untuk masuk melalui baskom berisi air dingin yang sampai digenangi banyak kotak es batu.


Yang membuat Mofaro heran, kenapa Rafaro terkesan marah kepadanya. Bahkan ketika membantunya dalam mengkompres wajah, Rafaro sampai menggunakan tenaga dan terkesan geregetan.


“Duh duh ... pakai hati dong, jangan pakai perasaan. Ini beneran sakit,” keluh Mofaro yang memilih menghindari handuk kompres Rafaro.

__ADS_1


“Sudah, enggak usah protes! Salah siapa kamu sampai babak belur begini? Kalau papa apalagi mom sampai tahu, mereka bisa langsung jantungan! Kamu ini, ya!” omel Rafaro.


“Siapa juga yang mau babak belur seperti ini? Tahu gini, tadi aku enggak minta bantuan kamu!” balas Mofaro yang kemudian merintih kesakitan sambil mengelus wajahnya dengan sangat hati-hati.


Rafaro mendengkus kesal dan kemudian menepis tatapannya dari Mofaro. Ia menoleh asal ke sebelah kanan selaku keberadaan meja berikut cermin rias. Dan sebuah masker berwarba biru yang tergeletak di sana, sukses membuat Rafaro terdiam, seiring rasa sakit yang tiba-tiba hinggap di hatinya.


“Itu kan, ... maskernya Elia? Kok bisa ada di kamar Mo? Mereka ...?” batin Rafaro langsung curiga.


“Mo, enggak sampai naksir Elia juga, kan?” Apa yang Rafaro pikirkan sukses membuat dirinya ketar-ketir.


“Sebenarnya, lukamu ini kenapa, sih?” sergah Rafaro sesaat setelah menghela napas dalam.


Mofaro menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Membuat Rafaro yang hanya diam menyimak, menjadi semakin merasa sakit. Rafaro benar-benar menyayangkan keadaan, kenapa yang ada di sisi Elia ketika gadis itu diserang Atala justru Mofaro, bukan dirinya?


“Jika aku enggak ada rasa sama Elia, kenapa aku harus sesakit ini, hanya karena mengetahui ada yang menyakitinya?” batin Rafaro yang bahkan langsung berlalu meninggalkan Mofaro, padahal Mofaro belum selesai cerita.


“Tapi si Lena belum balas-balas ... yah ... kok pergi, sih? Woiii, aku belum beres cerita!” ujar Mofaro yang kemudian berseru.


Dan karena Rafaro membiarkan pintunya terbuka begitu saja, Mofaro pun buru-buru berlari untuk menutup pintunya. “Si Rafaro kenapa, sih? Aneh banget hari ini!” gumam Mofaro.


Tepat ketika Mofaro akan menutup pintu, di hadapannya ada Rara. Rara yang membawa nampan berisi sepiring menu makan melam, berikut semangkuk sup, yang detik itu juga langsung melesat dari kedua tangannya. Tentu, apa yang menimpanya sukses menimbulkan kebisingan di sana.


“Y-ya ampun, wajahmu kenapa, Mo?” ucap Rara yang sampai memegangi dadanya lantaran wanita itu merasa jantungnya nyaris copot melihat wajah anak pertamanya babak belur.


Rara bahkan sampai menitikkan air mata dan kemudian terduduk lemas di lantai sambil memegangi dadanya menggunakan kedua tangan. Dan seperti apa yang Rafaro katakan, wajah Mofaro yang babak belur benar-benar membuat Rara jantungan.


“Mom, aku enggak apa-apa,” ucap Mofaro meyakinkan.


Mofaro sampai menunduk dan mencoba membantu Rara untuk bangun, tetapi Rara yang sampai terisak-isak, terus saja memanggil Kimo.


“Ya ampun ... celaka kalau papa sampai tahu!” batin Mofaro ketar-ketir.


***


Di mobil, di tempat duduk penumpang bagian tengah, Pelangi masih mendiamkan Kim Jinnan. Bahkan Pelangi sampai meletakkan totebag-nya di tengah-tengah dan menjadi sekat mereka.


“Sampai kapan Ngi-ngie akan marah dan sampai mendiamkanku seperti ini? Hanya karena aku ingin secepatnya punya anak, tapi dia belum siap? Ya ampun ... masa iya, aku harus minta anak sama tombok? Dipikirnya punya anak kayak di cerita-cerita, rutin berdoa tiba-tiba ada yang kasih, kayak timun mas?” batin Kim Jinnan yang menjadi uring-uringan sendiri. Kendati demikian, Kim Jinnan terus saja memperhatikan wajah Pelangi. Pun meski ia tak berani memulai pembicaraan guna memecahkan kedinginan di antara mereka, berikut hubungan mereka.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2