Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 36 : Menata Masa Depan


__ADS_3

“Aku akan menggunakan uangku, untuk membeli mulut orang-orang yang telah melukaiku!”


Episode 36 : Menata Masa Depan


****


Rara memberikan helmnya kepada Kimo dengan ekspresi yang masih diselimuti kesedihan. “Terima kasih,” ucapnya tanpa menatap Kimo.


Kimo juga masih belum berani berkomentar, apalagi Kimo merasa belum begitu mengenal Rara. Mereka baru bertemu hari ini sedangkan apa yang menimpa mereka seolah-olah, mereka sudah mengenal lama. Rara putus dengan calon suaminya dan itu karena Kimo.


“Tapi tolong,” ucap Rara yang baru saja meninggalkan Kimo dan sudah memunggungi pria itu. Rara berangsur balik badan kemudian menatap Kimo. “Jangan mengatakan apa pun perihal kejadian tadi, kepada Yuan apalagi Keinya. Mereka sudah melalui banyak masalah dan baru saja memulai hidup dengan tenang. Aku yakin kamu tahu maksudku.” Rara menunduk kemudian berdeham. “Terima kasih.” Setelah mengatakan itu sambil sedikit membungkuk, ia kembali meninggalkan Kimo.


“Hei ...,” tahan Kimo masih merasa canggung.


Rara berangsur balik badan. “Apa?”


“Minta nomor rekeningmu.”


Jawaban Kimo membuat Rara mengerling lantaran wanita itu tidak mengerti kenapa ia harus memberikan nomor rekeningnya kepada Kimo?


Namun, Kimo yang seolah mengerti pikiran Rara perihal permintaannya segera berkata, “aku kalah taruhan, kan? Aku enggak mau hutang.”


Rara menghela napas berbarengan dengan ekspresi wajahnya yang memancarkan ia mengerti maksud Kimo. “Buru-buru banget?”


“Oh, berarti kamu ingin lama-lama, sama aku?” Kimo sengaja menggoda Rara.


Balasan Kimo membuat Rara bergidik ngeri. Rara menggeleng geli menepis tatapan jutek pria itu.


“Lusa aku pindah ke Australia bareng mami sama adikku menyusul papi yang sudah ada di sana.”


Rara mengerucutkan bibir. “Singkat banget ya, pertemuan kita? Mmm, dasar cameo.”


“Apa maksudmu bilang aku cameo? Kesannya kayak drama saja.”


Tanpa menatap Kimo, Rara menghela napas pelan. “Hidup memang enggak jauh beda dari drama. Banyak hal enggak terduga termasuk pertemuan kita. Gara-gara kamu aku tahu kalau calon suami yang sudah hampir lima tahun aku kenal justru akan menikah dengan wanita lain. Aku pikir, aku sudah kenal dia karena lima tahun bukan waktu sebentar.”


“Jadi, kamu menyesal sudah bertemu dengan aku?”


“Enggak juga, sih. Seenggaknya aku juga harus bersyukur dan berterima kasih ke kamu.”


Tiba-tiba saja Rara terdiam. “Belajar dari apa yang menimpa Keinya, aku harus lebih selektif. Seberapapun besar sakit yang kurasakan karena Gio, kami akan menikah dalam waktu deka. Bahkan aku sudah mengurus gaun pernikahan dan keperluan lain yang menguras tabungan uangku. Sabar, Ra. Ini jauh lebih baik. Iya kalau kamu bisa ketemu dan berjodoh dengan pria seperti Yuan. Kalau kamu justru bertemu bahkan menikah dengan pria seperti Athan? Bisa sengsara sampai mati, kamu!” batin Rara.


Rara hanya pura-pura tenang. Karena jauh di lubuk hatinya, ia sudah berulang kali menjerit. Tubuhnya bahkan terasa panas karena menahan kekesalan yang begitu besar akibat ulah Gio. Rara ingin mengamuk, meluapkan semua kekecewaan sekaligus kemarahannya.


Kimo masih menatap Rara. Tepatnya memperhatikan wanita itu diam-diam. “Terus, kenapa kamu belum mengatakan ucapan terima kasih secara resmi kepadaku?”

__ADS_1


Rara merasa tak habis pikir terhadap cara pikir Kimo yang baginya begitu haus penghormatan terlepas dari pria itu yang cenderung ria. “Baiklah. Terima kasih banyak, Kimo. Tanpa bantuanmu, tentu aku masih diperbodoh Gio.” Rara sengaja bersikap sangat manis, meski setelah sampai membungkuk hormat, ia juga mendengkus sambil melirik sinis pria tersebut.


“Aku pikir kamu enggak bakal terima uangku,” cibir Kimo sesaat setelah mendengkus.


Rara menanggapinya dengan santai. Ia mengeluarkan pulpen berikut kertas dari dalam tas selempangnya. “Katanya kamu enggak mau hutang. Kok malah terkesan enggak rela?” Dalam hatinya, Rara langsung berkata, “sudah ria, pelit pula!”


Kimo berdeham dan jelas sengaja menjaga harga dirinya. Baginya, sekalipun Rara terbilang tipikal polos, tapi wanita itu juga tipikal yang bisa saja melemparinya bom waktu tanpa terduga.


“Sepuluh juta seratus, kan?” ujar Kimo sembari menerima kertas yang sudah Rara tulis nomor rekening.


“Kok sepuluh juta seratus? Memangnya kamu enggak mau kondangan ke mantanmu? Kamu bilang, kamu mau pindah ke Australia? Kamu enggak mau titip kondangan sekalian? Kalau iya, berarti harus tambah buat ppn sama ongkir.”


Sebelah tangan Kimo yang tak memegang kertas berisi tulisan rekening, mengepal dan nyaris menggetok Rara, andai saja ia tidak ingat wanita di hadapannya sedang merasakan beban berat. “Ijo, ya, kalau urusan duit!”


“Bodo!” Rara segera meninggalkan Kimo sambil mencengkeram selempang tasnya.


****


Keinya membukakan pintu untuk Rara dan Kimo. Keinya menatap cemas Rara yang menyambutnya dengan senyum ceria. Senyum ceria yang Keinya yakini hanya pura-pura. Namun tak beda dengan Rara, Keinya juga sengaja pura-pura agar sahabatnya itu tidak larut dalam kesedihan.


“Ayo, masuk. Kita makan malam. Aku sudah masak banyak,” ucap Keinya sambil menatap Kimo sedangkan sebelah tangannya sudah menggandeng sebelah tangan Rara.


Ketika mereka memasuki ruang keluarga, di sana Yuan masih berkutat dengan laptop sambil memangku Pelangi. “Kalian sudah pulang?” tanya Yuan sembari mengalihkan fokusnya dari layar laptop.


Kimo mengangguk. “Emm. Aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik. Aku sudah tidak punya hutang, kan?”


Diam-diam Yuan memperhatikan kebersamaan Rara dan Keinya. Keinya jelas mencemaskan Rara. Sedangkan yang dicemaskan jelas pura-pura baik-baik saja.


“Kalau dapat yang kayak Yuan, aku bisa jadi ratu. Tapi kalau dapat yang model Gio atau Athan, dijamin aku bakalan jadi babu! Lihatlah, Yuan kelihatan banget tulus sama Keinya dan Pelangi. Pelangi sampai dipangku nempel terus begitu!” batin Rara sambil melambaikan tangan dan sengaja menggoda Pelangi. Bocah itu tampak serius menatap layar laptop yang menyala di hadapannya.


“Aku siapkan dulu,” sergah Keinya.


“Aku bantu!” timpal Rara.


Ketika keduanya pergi, Kimo menghela napas dalam, kemudian duduk di sofa kecil sebelah Yuan yang jelas menunggu kelanjutan cerita darinya. Di mana, Kimo juga yakin, Yuan sengaja memberinya kesempatan untuk menguak fakta lain dari Gio.


“Gila saja kamu. Sejak kapan kamu tahu, kalau pecundang itu juga akan menikah dan parahnya,” sergah Kimo antusias yang tidak tega menyebut nama Rara. Ia pernah begitu hancur karena Gio telah membuat adik perempuannya terluka dan bahkan luka itu ia rasakan untuk kedua kalinya, ketika wanita yang akan ia nikahi juga menjadi bagian dari sumber kesedihan adiknya. Dan sekarang, hal nyaris serupa juga ia ketahui menimpa Rara. Rara itu perempuan. Dan sekali lagi, melihat perempuan terluka, Kimo juga terluka lantaran Kimo terlahir dari seorang perempuan, sedangkan adik kesayangannya juga seorang perempuan.


Yuan yang cenderung diam, membenarkan posisi duduk Pelangi. “Secepatnya aku akan menemui Gio secara pribadi.”


Kimo yang masih ketar-ketir dan kerap menghela napas berujar, “tadi aku sempat nonjok dia.”


Yuan menatap Kimo. “Menonjok, ... Gio?”


“Penginnya sih, lebih!” Kimo menepis tatapan Yuan sambil mendengkus kemudian berdeham. “Ya. Santet sekalian!”

__ADS_1


“Lha … kenapa tadi hanya menonjok? Enggak langsung lebih? Urusan tanggung jawab, enggak usah kamu pikirin. Nanti aku yang urus!” ucap Yuan meyakinkan.


Dengan sisa rasa kesal lantaran harus membahas Gio, Kimo melirik Yuan sambil menggeleng tak habis pikir. “Jangan bahas dia lagi. Nek, aku! Eh, tapi serius, kamu enggak mau nitip apa-apa buat mama papamu?”


“Kenapa harus nitip? Lusa saja, kami akan bertemu. Bahkan sekarang mereka sudah di Singapura.” Yuan setengah tertawa membalas wajah kesal Kimo.


“Oh, iya. Lusa peresmian apartemenmu, ya?”


Yuan mengangguk bangga dan itu makin membuat Kimo kesal. “Oh, iya. Sambil awasi si Rara, deh. Takutnya dia—mmm ... aku takut dia mengikuti jejak Kimi.”


Kimi merupakan adik perempuan Kimo. Dan Kimi sempat mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi setelah mengetahui Gio selingkuh dengan pacar Kimo. Yuan paham itu. Bahkan, alasannya mengenalkan Rara kepada Kimo, karena meski penampilan Kimo tak meyakinkan, tapi Kimo tipikal yang begitu menghargai wanita. Itu juga yang membuat Yuan mempercayakan Rara pada Kimo.


“Kalau kamu mencemaskan Rara, kenapa enggak kamu saja yang mengawasinya? Pekerjaanku kan juga banyak.” Yuan sengaja memancing Kimo. Ia beranjak meninggalkan sahabatnya itu sambil menyibukkan diri berbincang dengan Pelangi.


“K-kamu pikir aku pengangguran sukses, apa? Aku juga punya banyak pekerjaan!” Kimo menyusul Yuan. “Dikiranya aku ini baby sister atau malah relawan yang siap menghibur siapa pun!” rutuk Kimo dalam hatinya.


****


Alasan Rara menerima tawaran Keinya tinggal di apartemen, bukan semata karena ia memang sedang menghemat pengeluaran pernikahannya. Sebab ia juga ingin memastikan Keinya baik-baik saja termasuk bebas dari gangguan Athan yang ditakutinya akan mencoba kembali dan menjadikan Pelangi sebagai alasan ke duanya rujuk. Apalagi, ketakutannya juga terbukti lantaran tadi ketika ia menunggu kepulangan Gio, Athan sampai meminta bantuan padanya untuk meyakinkan Keinya agar mau rujuk.


“Kei, apakah Athan menghubungimu?” tanya Rara sambil menata piring dan sendok di meja makan.


Keinya yang meletakkan panci berisi sop langsung menatap cemas Rara yang kebetulan di sebelahnya. “Jangan bilang kalau dia juga menghubungimu?”


Rara mengangguk. “Bahkan dia berani menyogokku!” ucapnya geregetan. Kedua tangannya mengepal di depan wajah. Dan andai saja Athan di hadapannya, pasti pria itu sudah ia hajar detik itu juga.


Keinya berkecap sambil menggeleng tak habis pikir.


“Tapi tenang saja. Aku sudah bilang padanya, kalau dia mau mendapatkan bantuanku, dia harus menyiapkan lima triliun!” Rara tertawa lepas. “Lima triliun, mana punya dia, kan? Apalagi kita sama-sama tahu, semua aset Athan sudah digondol Tiara!” 


Balasan Rara membuat Keinya tergelak disusul juga oleh Rara yang semakin tertawa lepas. Kini, baik Rara maupun Keinya sama-sama mencoba menata masa depan. Kehidupan baru, bangkit dari masa lalu. Meski mereka sadar, rasa sakit dan luka yang ingin mereka tinggalkan di masa lalu tidak akan benar-benar hilang.


Tiba-tiba saja, tawa di antara keduanya usai. Rara menunduk diikuti juga oleh Keinya yang sudah menangis.


Rara menghela napas dalam. “Aku akan bekerja keras, Kei. Aku akan menggunakan uangku untuk membeli mulut orang-orang yang telah melukaiku. Aku juga akan hidup sehat agar aku bisa membesarkan anak-anakku. Aku juga akan mengurus Pelangi ketika kamu dan Yuan bulan madu.” Rara tersenyum getir sambil berlinang air mata. “Jangan khawatir, ini air mata bahagia. Aku baik-baik saja.” Ia mendekap Keinya yang justru terlihat jauh lebih terluka darinya.


“Maaf, Ra. Maaf. Maaf kalau aku belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Sebenarnya aku tahu kalau Gio, dia ….”


“Sudah, jangan bahas dia lagi. Aku enggak mau memperburuk masa depanku hanya karena memikirkan dia. Dia saja jahat ke aku, ngapain aku mikirin dia?”


Keinya mengangguk-angguk. Namun, kebersamaan mereka terusik lantaran ponsel Rara bunyi.


“Serahkan padaku. Itu pasti Gio!” sergah Keinya. Namun ketika ia mengambil ponsel Rara dari saku celana jin biru tua yang Rara kenakan, kontak penelepon justru tertera Ryunana.


Rara antusias. “Sini, Kei. Biar aku kerjain si Ryunana. Siapa tahu dia bisa kasih aku banyak uang!”

__ADS_1


Keinya tergelak menikmati kejailan Rara. Ia merasa sedikit lega lantaran Rara masih berpikir jernih. Kendati demikian, Keinya merasa harus tetap jaga-jaga lantaran ia takut, Rara hanya pura-pura.


****


__ADS_2