
“Duniamu benar-benar belum berakhir, hanya karena patah hati.”
Bab 44 : Patah Hati
Athan yang awalnya sedang menyesap kopinya sambil menyimak telepon dari Yuan, sampai menyemburkan kopi yang seharusnya ditelan.
“Kamu tadi ngomong apa, Yu?!” seru Athan memastikan sambil buru-buru meletakkan cangkir kopinya pada lambar yang ada di meja.
Sedangkan Kishi yang ada di sebelahnya segera menarik beberapa helai tisu dan memberikannya kepada Athan. Dan ketika Athan yang begitu syok sekaligus panik, langsung mengelap sekitar mulutnya berikut kemeja biru muda bagian dada yang dikenakan, Kishi yang kembali menarik beberapa helai tisu dari kotaknya juga berangsur beranjak untuk mengelap meja sekitar sang papa.
“Papa pasti syok banget, tahu Ngi-ngie, tiba-tiba mau menikah,” batin Kishi sembari melepas kepergian Athan yang sampai keluar ruangan.
Athan melangkah tergesa menuju teras seberang yang di sekitarnya dihiasi taman cukup luas. Di sana, suasana memang jauh lebih tenang. Dan dari pengamatannya, Kishi melihat sang papa menjadi sibuk mondar-mandir sambil terus bicara. Kishi yakin, Athan sedang meminta penjelasan perihal pernikahan Pelangi yang sangat tiba-tiba.
“Bahkan aku enggak tahu, kalau Ngi-ngie sudah punya pacar!” gerutu Athan.
Kishi mengerucutkan bibirnya sambil menghela napas pelan. “Terkadang, sebuah kejutan memang tidak memerlukan perencanaan. Nih, buktinya. Mendadak menikah juga sukses membuat semua orang terkejut,” pikirnya.
Kishi memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah meski kini, ia telah mengenakan seragam sekolah. Sebenarnya, subuh tadi ketika Kishi bangun tidur, gadis itu sudah mendapat perihal kabar mengenai kematian kakek Kim Jinnan, juga mengenai pernikahan Pelangi dan Jinnan. Pelangi dan Kim Jinnan sepakat melangsungkab ijab qobul di depan jenazah kakek Jungsu hari ini juga, sebelum jenazah tersebut dikebumikan.
Ketika kembali ke Kishi yang baru saja kembali duduk, Athan langsung menatap Kishi sambil berkata, “kamu tahu kalau Ngi-ngie pacaran sama Jinnan?”
Dengan wajah murung dan berangsur menunduk, Kishi yang merasa berdosa karena sempat menjadi alasan awal hubungan keduanya pun mengangguk. “Ini ... semua ini, iya. Semuanya bermula karena aku. Aku yang menyadap ponsel Ngi-ngie dan melalui itu, aku menjodohkan Ngi-ngie dengan Jinnan.”
Athan menghela napas dalam dan berakhir dengan mendesah. Kedua tangannya berangsur berkecak seiring ia yang sampai menepis keberadaan Kishi. Tatapannya terempas asal ke luar teras yang baru saja ia tinggalkan.
Apa yang Athan rasakan kali ini benar-benar campur aduk. Marah, kecewa, sekaligus sulit untuk percaya. Keadaan yang bahkan membuat Athan lupa, bagaimana rasanya bahagia. Perihal Pelangi yang sebenarnya sangat ia harapkan untuk tidak menikah dini, apa pun alasannya.
“Maaf, Pa ...,” sesal Kishi yang masih menunduk.
__ADS_1
Mengenai Kim Jinnan, sebenarnya Athan cukup tahu tentang pemuda itu. Namun perihal apakah Jinnan mampu membahagiakan Pelangi, inilah yang Athan takutkan. Terlebih Athan tahu betul, Kim Jinnan juga masih terbilang muda dan hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dari Pelangi.
“Ya sudah. Toh, mustahil juga mencegah pernikahan untuk tidak terjadi. Ini sudah menjadi kemauan Ngi-ngie. Sedangkan selebihnya, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik saja.”
Kishi yang masih merasa bersalah, masih belum berani berkomentar.
“Ya sudah. Kamu siap-siap. Kita ke Ngi-ngie.” Athan mengelus-elus sebelah bahu Kishi. Tentu, ia harus ada di pernikahan Pelangi, terlebih biar bagaimanapun, ia yang akan menjadi wali.
***
Tak beda dengan Athan, Mofaro yang tengah meminum susu rendah kalori di gelasnya, juga refleks menyemburkannya dan sampai mengenai sebagian wajah Rafaro. Dan andai saja, Mo tidak buru-buru mengalihkan arah mulutnya, tentu susu yang seharusnya ia telan, akan membasuh wajah Rafaro dengan sempurna.
“Ngi-ngie, ... akan menikah hari ini juga?” ujar Kimo mengulangi ucapan istrinya.
Di meja makan, Rara tengah berbincang dengan Keinya melalui sambungan ponsel. Rara menyimak sekaligus membalas dengan serius. Dan kendati demikian, kedua mata Rara kerap memastikan kedua putranya yang kali ini kembali duduk bersebelahan.
Aurora yang masih sangat lugu, berangsur menarik tisu dan ia serahkan kepada Mofaro yang duduk di hadapannya. Ia sampai harus berdiri demi mengangsurkan tisu itu kepada sang kakak. Dan ketika Mofaro menerima tisu pemberian Aurora, tak lama setelah itu, Rafaro justru beranjak dari duduknya.
“Hari ini aku izin buat enggak masuk kerja. Suasana hatiku mendadak menjadi sangat buruk.” Rafaro meninggalkan meja makan begitu saja. Setelah tatapannya sampai menjadi sayu bahkan sendu.
Tadi, semua yang di sana bisa melihat dengan jelas, jika selain suara Rafaro sampai menjadi terdengar sengau, mata Rafaro yang menjadi memerag juga sudag basah. Rafaro menangis dan bahkan hilang arah. Mereka yakin, itu. Mengenai kabar Pelangi yang akan menikah, dan mereka yakini sebagai penyebabnya. Padahal, dari semuanya, justru berpikir Mofarolah yang akan paling patah hati.
“Apakah anggapan itu memang benar? Jika saja aku tidak terus mendesak Ngi-ngie, ... mungkin Ngi-ngie justru dengan Rafa?” pikir Mofaro yang tiba-tiba saja merasa sangat bersalah atas kesedihan yang menimpa kembarannya. Kesedihan yang juga membuat adiknya itu terlihat sangat hancur.
Kimo yang sadar Rara masih berbincang dengan Keinya dan sepertinya memang ada masalah serius yang harus dibahas, memilih untuk beranjak. Kimo sengaja menyusul kepergian Rafaro. Dan ketiga orang yang baru ditinggalkan, kompak melepas kepergian Kimo.
Untuk kali ini, Rafaro yang biasanya paling anti mengunci kamar, sampai menguncinya. Kimo yang sudah meraih gagang Pintu kamar Rafaro, reflek menelan ludah sebelum akhirnya menghela napas. Namun, Kimo yang tak mau menyia-nyiakan waktunya pun mengetuk pintu kamar Rafaro.
“Aku benar-benar ingin sendiri. Aku bak-baik saja. Tolong, tinggalkan aku.”
__ADS_1
Dari dalam, suara Rafaro terdengar sangat datar tak berirama, tak ubahnya suara robot. Dan mendengar itu, Kimo yang menjadi merasa serba salah pun berangsur menggigit bibir bawahnya.
“Rafaro ... Papa yakin, kamu tahu, ini bukan akhir dari segalanya. Kamu pria yang pintar dan--” Kimo tak kuasa melanjutkan ucapannya, sebab patah hati memang bukan perkara mudah.
Kimo pernah muda dan ia juga pernah patah hati sekaligus terluka karena urusan cinta. Jadi, meminta orang yang sedang patah hati untuk baik-baik saja apalagi menerima kenyataan, bukanlah perkara yang seharusnya dilakukan.
“Papa ada buat kamu. Kapan pun kamu butuh Papa. Kamu tinggal panggil Papa. Mari kita bicara. Karena biar bagaimanapun, Papa juga pernah ada di posisi kamu.”
Dari dalam, Rafaro sama sekali tidak membalas. Namun Kimo juga tidak menyerah begitu saja. “Lakukan apa pun yang sekiranya bisa membuatmu lebih baik. Namun tetap, ya, Raf ... duniamu benar-benar belum berakhir, hanya karena patah hati.”
“Dan meski patah hati memang sangat menyakitkan, tetapi Papa yakin, Tuhan memiliki alasan kenapa kita sampai merasakannya.”
Di dalam kamar, Rafaro yang terduduk lemas di tepi kasur pun sampai berlinang air mata. Tatapan Rafaro kosong di tengah kenyataannya yang bahkan tidak memiki gairah hidup.
“Jadi, jika memang Tuhan memiliki alasan untuk semuanya, apa alasan Tuhan membuat Pelangi benar-benar melangkah dan bahkan memilih pria lain?” pikir Rafaro yang detik itu juga berangsur terpejam pasrah.
“Sakit, tapi enggak berdarah ....” Dalam benak Rafaro, sosok Pelangi yang baginya sangat sempurna, telah memenuhi dan tersenyum kepadanya.
“Aku harap ini hanya mimpi ....” Rafaro berangsur merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia yang masih terpejam, benar-benar berusaha berdamai dengan kenyataan.
“Seperti halnya kenyataan yang begitu cepat berubah ... seperti itulah yang kuharapkan terjadi pada perasaan berikut hatiku, jika Pelangi memang bukan tercipta untukku. Dan mulai sekarang, ... mulai sekarang semoga aku bisa melepasnya jika memang beginilah takdirnya dalam bahagia ....”
Rafaro, dengan tubian luka berikut kenangan kebersamaannya dengan Pelangi yang tak hentinya memenuhi ingatannya, benar-benar merasakan betapa jahatnya luka yang dinamakan patah hati. Rafaro sampai memukul-mukul dadanya demi meredam sesak yang memenuhi di sana dan membuatnya sangat tersiksa.
Bersambung ....
Pengin nulis lebih bikin nangis, takut puasa kalian batal 😔😔😔.
Semoga hari ini bisa up lagi, yaa 💓🙏
__ADS_1