
“Enggak nyangka, kalau bahas anak, orang sekelas Kim Jinnan bisa alay juga!”
Bab 53 : Membahas Anak
Zean hilang.
Bocah itu tak ada di kamarnya dan langsung membuat seisi rumah panik. Keinya sampai menangis ketika mengadu kepada Yuan. Dan Yuan yang tak percaya anaknya yang banyak tanya itu hilang, sampai menginterogasi satpam yang berjaga berikut memantau CCTV. Namun sungguh, yang terakhir keluar masuk adalah Pelangi dan Kim Jinnan. Jadi, Yuan kembali ke lantai atas menuju kamar Zean yang pintunya masih dibuka sempurna.
Di dalam kamar Zean, dengan mata yang berkaca-kaca, Keinya terus mengamati setiap sudut kamar tak banyak aksesori tersebut, lantaran sekadar ranjang tempat tidur pun tidak ada. Hanya sebatas tenda yang lantainya sengaja dimatrasi kasur tipis tetapi hangat, lantaran Zean paling tidak bisa tidur di kasur.
“Enggak mungkin kabur apalagi hilang, Ma ... mahluk halus sejenis siluman, enggak minat ngambil bocah kayak dia. Bayangkan, belum dibawa saja, Zean pasti sudah kepo tanya-tanya sampai bibirnya berbusa.” Dean masih meyakinkan Keinya sambil merangkul sebelah pundak wanita itu.
“Aku justru curiga kalau si Zean ngerecokin Ngi-ngie. Soalnya semalam saja, dia datang ke kamarku beberapa kali, dan bilang mau tidur sama Jinnan,” tambah Dean waswas.
Namun, memang tidak ada yang mustahil unuk bocah sekelas Zean yang terlalu ingin tahu. Tak peduli seberapa banyak Dean menasehati agar Zean tidak ikut tidur bersama Kim Jinnan yang sudah menikah dengan Pelangi.
Penjelasan Dean cukup memberi pencerahan untuk Keinya. “Tapi ini sudah pukul delapan, tapi kamar Ngi-ngie masih nutup? Bagaimana kita bisa memastikan Zean ada di sana?” keluh Keinya yang sebenarnya sangat mencemaskan Zean, tetapi dia juga merasa sungkan jika harus membangunkan Pelangi yang sudah tak lagi menghuni kamar sendiri. Ada Kim Jinnan di dalam sana, dan keduanya sudah menikah. Pengantin baru.
Mendengar balasan Keinya yang sampai menatapnya dengan raut polos bak bocah, Dean justru menjadi tertawa geli. Sungguh, mamanya itu tetaplah wanita polos kendati sudah melahirkan empat orang anak. Sama halnya dengan Pelangi yang kerap Dean dapati akan memarahi Kim Jinnan, di setiap Kim Jinnan memperlakukan Pelangi dengan kemesraan yang berlebihan.
“Ya mungkin si Zean terus saja mengajak Jinnan ngobrol apa bagaimana sampao-sampai, mereka jadi begadang? Lagian, mereka kan masih pengantin baru ...?” Dean mengatakannya sambil menahan senyum.
Senyum geli yang tercipta lantaran ia juga refleks membayangkan, betapa menyebalkannya seorang Zean yang justru membersamai Pelangi dan Kim Jinnan. Bagaimana jika pengantin baru itu ingin bermesraan bahkan lebih, tetapi Zean justru tetap ikut nyempil dengan deretan keingintahuan bocah itu?
“Bagaimana? Sudah ketemu?” tanya Yuan yang baru datang. Napas Yuan sampai terdengar memburu, terlepas dari Yuan yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Dean dan Keinya refleks menoleh dan menatap Yuan dengan pandangan tidak yakin. Namun tak lama setelah itu, Dean sengaja melakukan panggilan ‘interkom’ ke kamar Pelangi melalui telepon yang ada di kamar Zean. Dean sengaja mengambil alih lantaran baik Keinya maupun Yuan, sama-sama merasa sungkan mengingat di kamar Pelangi ada Kim Jinnan.
***
Di kamar, Kim Jinnan yang sudah rapi dengan rambut yang masih setengah basah, tengah sibuk di sudut kasur dengan ponselnya. Kendati demikian, di pangkuannya, kepala Pelangi masih bersemayam.
Tentu penampilan keduanya berbeda jauh. Karena ketika Kim Jinnan sudah terlihat segar berikut pakaiannya yang tak lagi mengenakan pakaian kemarin, Pelangi justru masih meringkuk berantakan dengan tubuh terlilit selimut. Sedangkan Zean, bocah itu masih tidur sangat lelap. Zean bahkan sampai mendengkur di seberang Kim Jinnan, sembari mendekap bantal guling yang sedari awal sudah Zean boyong dari kamarnya.
Dan kesibukan Kim Jinnan berkirim pesan, menjadi terusik ketika telepon rumah di belakangnya berdering.
“Siapa yang telepon?” pikirnya yang kemudian memilih untuk menjawabnya.
“Halo?” ucap Kim Jinnan masih menerka-nerka.
“Jinnan?” balas dari seberang sana.
“De ...?” tebak Kim Jinnan yang mengenali suara tersebut sebagai suara Dean.
“Iya, ini aku. Jinnan, ... maaf mengganggu. Tapi, Zean ada di situ, atau tidak?” Dari seberang, Dean terdengar sangat sungkan.
“Iya. Tapi anaknya masih tidur.” Kim Jinnan menatap lama Zean yang memang masih tidur seiring senyum tipis yang menarik kedua sudut bibirnya.
Dari seberang, Dean tak langsung menjawab. Mungkin sekitar satu menit kemudian, Dean berkata, “oh, ya sudah kalau begitu. Kim Jinnan, ayo kita sarapan!”
“Baiklah sebentar lagi, setelah Ngi-ngie beres mandi.” Kim Jinnan terpaksa berbohong. Padahal, Pelangi masih sangat lelap di pangkuannya.
“Tapi, Jinnan ... tolong bangunkan Zean! Mama bilang, Zean ada jadwal les renang dengan Aurora!” pinta Dean kemudian.
“Oh, Zean ada jadwal renang, ya? Baiklah.”
“Iya. Makasih, Jinnan.”
“Iya, De. Sama-sama.” Kim Jinnan segera menaruh teleponnya.
__ADS_1
Dan kali ini, fokus pandang Kim Jinnan langsung teralih pada Zean yang juga jauh lebih lelap dari Pelangi. Tak tega rasanya jika ia harus membangunkan Zean, apalagi Pelangi yang masih sangat betah di pangkuannya. Namun jika melihat waktu, sekarang sudah pukul delapan pagi. Belum lagi, Zean juga ada jadwal renang.
“Baiklah ... ayo kita bangun,” gumam Kim Jinnan yang kemudian membangunkan Pelangi.
“Jinnan ... lima menit lagi,” tawar Pelangi untuk ke sekian kalinya.
Kim Jinnan tak kuasa menahan tawanya melihat Pelangi yang sampai membenamkan wajah di tumpukan bantal yang ada di seberang, sesaat setelah wanitanya itu mengulet tak ubahnya belut.
“Kamu sudah minta lima menit berulang kali, Ngie. Ayo, yang lain sudah menunggu,” bujuk Kim Jinnan sembari menyibakkan rambut Pelangi ke belakang telinga.
“Serius, Jinnan. Aku ngantuk banget. Kamu kan tahu, tadi aku tidur jam berapa? Iya kamu enggak apa-apa, sudah terbiasa enggak tidur. Aku? Aku sudah terbiasa tidur minimal enam jam!” protes Pelangi yang tetap membenamkan wajahnya di antara tumpukan bantal.
Zean yang akhirnya terbangun meski belum dibangunkan, menjadi menatap aneh Pelangi dan Kim Jinnan. Mata sipitnya yang masih sayu, berkedip-kedip cepat. “Orang dewasa memang hobi bertengkar,” gumamnya. “Habis itu sayang-sayangan lagi.”
Dan apa yang Zean katakan refleks membuat Kim Jinnan tertawa lepas. “Semalam kamu tidur sangat pulas, Zean.”
Zean mengangguk-angguk bak orang dewasa yang akan selalu serius menanggapi segala sesuatunya. “Iya. Ternyata tidur di kasur ini sangat nyeyak. Jadi malam nanti aku mau tidur di sini lagi, ya?” pintanya.
Dan Kim Jinnan langsung tidak bisa berkomentar. Jangankan berkomentar, tawanya saja langsung usai detik itu juga. Tak terbayang apa yang akan terjadi ketika Zean kembali ikut bersama mereka lagi. Iya kalau Zean kembali tidur pulas. Kalau bocah itu sampai membuat mereka terjaga hingga waktu yang tidak bisa ditentukan?
Bisa-bisa Pelangi akan semakin bangun siang, karena harus tetap tidur minimal enam jam, setelah melayani dan menjalankan kewajibannya sebagai istri yang baik untuk Kim Jinnan. Ya, kewajiban sebagai istri yang baik.
Jangan tanyakan apa yang semalam terjadi kendati sengketa ‘obat cantik’ sempat membuat mereka terlibat dalam perdebatan. Karena setelah itu, mereka kembali menjadi pasangan yang saling mencintai, meski percecokan dari Pelangi yang sibuk mengomel selalu mewarnai kebersamaan mereka. Seperti apa yang baru saja Zean keluhkan. Perihal orang dewasa yang hobi bertengkar, tetapi setelah itu akan kembali sayang-sayangan.
“Dadah Jinnan ... aku mau mandi terus sarapan. Langsung makan rendang, ah ... enak!” Zean berlalu bak tak punya dosa. Melangkah terseok sembari mendekap bantal gulingnya dengan erat.
“Jangan lupa jadwal renangmu. Mamah sudah menunggu!” seru Kim Jinnan mengingatkan sebelum Zean benar-benar membuka pintu.
Zean berangsur balik badan dan membuatnya mendapati Kim Jinnan yang tengah berusaha membangunkan Pelangi. Kakak iparnya itu kembali memangku kepala Pelangi.
“Jinnan, ... apakah kalau aku renang, aku bisa setinggi kamu? Punya badan bagus terus perut kotak-kotal juga kayak kamu?” tanya Zean penasaran.
“Berarti, dulu kamu juga rajin renang, ya?” lanjut Zean yang sampai melangkah kembali dengan sangat semringah.
Seperti biasa, Zean ingin tahu lebih banyak.
Kim Jinnan mengangguk. “Iya. Aku suka renang. Sepak bola, basket, dan semua olahraga.”
“Lihatlah Kim Jinnan. Perutku bulet begini? Ini bagaimana ini, biar kotak-kotak juga?” Zean sampai membuka baju bagian perutnya, kemudian mengelus-elus perutnya yang buncit. Seperti ada sebagian bola basket yang menempel di perutnya.
Dan melihat itu, Kim Jinnan tak kuasa menahan tawanya.
“Kalian berisik sekali! Ya sudah, aku mandi!” uring Pelangi yang akhirnya beranjak kendati itu sangat sulit ia lakulan. Sebab kantung yang ia rasakan sampai membuat kepalanya terasa sangat pusing.
Pelangi menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan kemudian melangkah terseok meninggalkan kebersamaan Kim Jinnan dengan Zean. Meski merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya yang terasa sakit semua, tetapi kebersamaan Zean dan Kim Jinnan membuatnya khawatir.
“Jinnan, jangan bahas yang aneh-aneh, ya? Sudah suruh mandi saja si Zean. Ajak mandi, tapi jangan bahas yang aneh-aneh,” ujar Pelangi yang tadinya sudah nyaris masuk ke kamar mandi.
Pelangi sampai kembali dan menatap cemas kebersamaan keduanya.
“Ngie lihat perutku masa begini?” keluh Zean yang kali ini sampai memamerkan perutnya kepada Pelangi.
“Zean, cepat kamu mandi, nanti mama cari-cari kamu,” tegur Pelangi.
“Jinnan, ayo kita mandi bareng biar seru!” ajak Zean kemudian yang tak lagi memedulikan Pelangi.
“Aku sudah mandi dari tadi. Laki-laki sejati harus bangun pagi-pagi terus langsung mandi,” ucap Kim Jinnan.
“Masa, sih? Berarti, aku bukan laki-laki sejati, dong?” keluh Zean langsung menanggapi Kim Jinnan dengan serius.
__ADS_1
Sadar tidak dihiraukan oleh keduanya, Pelangi pun kembali ke kamar mandi. “Generasi buaya itu ...,” gumamnya sembari terus melangkah kendati rasa nyeri akan semakin terasa kuat, jika ia terus melangkahkan kakinya.
“Dan aku, enggak mungkin gabung sama yang lain, dalam keadaanku yang seperti ini. Mereka pasti bisa langsung menebak, apa yang sebenarnya terjadi? Ihh ... tragedi obat cantik!” gerutu Pelangi yang menatap miris bayangan dirinya di cermin wastafel.
“Tapi omong-omong mengenai anak ... sekarang usiaku sembilan belas tahun. Seandainya kuliah dua tahun, berarti aku bisa punya anak di usia dua puluh satu tahun. Enggak mungkin juga aku punya anak sekarang. Bisa repot punya dua bayi sekaligus!” gumam Pelangi.
“Kok dua bayi?” ujar Kim Jinnan yang mendatangi Pelangi di kamar mandi terlebih Pelangi belum sempat menutup pintunya.
“Kan kelakuanmu juga enggak beda sama bayi!” cibir Pelangi yang kembali mengomel layaknya biasa.
Kim Jinnan tertawa. “Jalan-jalan, yuk! Minggu, sekalian ke makam kakek?”
“Jalan-jalan bagaimana? Ke kamar mandi saja prosesnya mengalahkan adegan slow motion di serial India. Ditinggal masak rendang pun bisa mateng!” balas Pelangi yang lagi-lagi mengomel.
Kali ini, meski Kim Jinnan kembali tertawa bahkan tersipu, tetapi pria itu sengaja menahannya. Kim Jinnan mendekati Pelangi dan mendekap istrinya itu dengan mesra.
“Makasih, ya?” lirih Kim Jinnan sembari mengendus dalam kepala Pelangi. “Aku akan merindukan aroma ini,” lirihnya lagi.
“Jinnan. Aku bingung. Bagaimana aku bisa keluar kamar kalau keadaanku seperti ini? Tapi enggak mungkin juga kalau aku tetap di kamar, sedangkan aku juga banyak yang harus diurus, termasuk kumpul sama semuanya?” ujar Pelangi yang sampai menengadah dan menatap serius Kim Jinnan.
“Bentar ... aku juga enggak tahu. Aku kan enggak berpengalaman,” balas Kim Jinnan.
“Iih!” omel Pelangi yang sampai mencubit kesal perut Kim Jinnan yang detik itu juga langsung menyeringai menahan sakit.
“Coba berendam pakai air hangat. Bentar, aku siapkan.” Kim Jinnan bergegas mengakhiri dekapannya.
Seperti ucapannya, Kim Jinnan segera menyiapkan air hangat di bak rendam yang ada di sana. Dan Pelangi yang masih mrmperhatikan setiap gerak-gerik Kim Jinnan pun mendekatinya.
“Nanti, keluarga besarku bakalan datang ke sini. Semuanya. Ada mama Rara sama keluarganya juga. Pokoknya, semua yang kemarin datang ke pernikahan kita termasuk mama Kainya, kembaran mama Kei.”
“Oh, mamah memang punya kembaran, ya?” saut Kim Jinnan antusias.
Pelangi yang berangsur memasukkan tangannya ke bak rendam yang baru terisi sedikit segera mengangguk. “Iya. Nyaris sulit dibedakan. Cuma, sekarang mama Kainya tubuhnya jauh lebih berisi.”
“Asyik! Berarti kita juga punya kemungkinan buat punya anak kembar!” ucap Kim Jinnan yang semakin antusias.
“Eh, kamu kenapa, sih? Kesurupan, apa bagaimana?” ujar Pelangi sembari menatap bingung suaminya.
“Persiapan, Ngie ... kan dua tahun lagi, kita bisa proses anak!” balas Kim Jinnan semringah.
Sebelumnya, Pelangi belum pernah melihat Kim Jinnan sesemringah sekarang. Namun ketika membahas anak, pria itu menjadi orang yang baru saja dimabuk cinta!
“Serius, orang sepertimu ingin cepat-cepat punya anak?” tanya Pelangi makin tidak percaya.
“Apa maksudmu? Pada Zean saja, aku seperti sedang mengurus anakku sendiri,” balas Kim Jinnan meyakinkan.
Pelangi menatap saksama Kim Jinnan. Demi Tuhan, tidak ada kebohongan yang terpancar.
“Syukurlah ...,” gumam Pelangi sembari mengembuskan napas lega.
“Lha ... kamu pikir, tujuanku menikahimu karena apa? Ya tentu karena aku juga ingin punya banyak anak!” tegas Kim Jinnan.
“Enggak nyangka, kalau bahas anak, orang sekelas Kim Jinnan bisa alay juga!” batin Pelangi.
Namun kini, yang sangat ingin Pelangi ketahui adalah bagaimana caranya meredam nyeri di rahimnya, terlebih agar rasa itu tidak menyiksanya kitika ia melangkah? Keluarga besar dan rekan orang tuanya akan datang. Tak mungkin juga ia berdiam diri di kamar!
Bersambung ....
Duh ... up jam segini. Lagi enggak enak hati jadi semangat nulis hilang entah ke mana 😂😂🙏
__ADS_1
Jadi nanti di bab selanjutnya, si kembar juga akan bertemu dengan si kembar. Lah, siapa? Iya ... anak Kainya sama Rara. Kan sama-sama kembar 😁😁🌟