Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 65: Keseriusan Mofaro


__ADS_3

“Aku tanya seperti itu, karena aku sayang sama kamu! Dan aku enggak suka kalau ada cowok atau pria lain yang dekat-dekat kamu!”


Bab 65 : Keseriusan Mofaro


“Sut ... sut ... sut ....” Mofaro memanggil Elia yang baru keluar melewati gerbang sekolah, tak ubahnya sedang memanggil unggas.


Namun, lantaran Elia terus berlalu bersama ketiga temannya yang berangsur meninggalkan Elia, sedangkan Elia terjaga di tepi jalan seorang diri, Mofaro sengaja mengambil beberapa kerikil yang ada di dekat kaki kanannya. Dan Mofaro menggunakan kerikil tersebut untuk melempari Elia.


“Ya ampun!” keluh Elia yang refleks menoleh ke sumber suara.


Dan ketika Elia mengetahui Pelakunya merupakan Mofaro, detik itu juga Elia langsung melepas sebelah sepatunya dan melemparkannya ke wajah pemuda itu.


“Ya Tuhan wajahku masih perawan, masa dicium sepatunya Nenek Sihir?!” keluh Mofaro yang hanya bisa terpejam pasrah, seiring rasa panas berikut sakit yang menyertai bekas hantaman sepatu Elia.


“Kamu ini kebangetan banget, sih? Dikiranya aku ini unggas apa, dilempar-lempar pakai kerikil? Kamu pikir enggak sakit, apa, dilempar-lempar kayak tadi?” omel Elia yang langsung berjalan cepat dan kemudian memungut sepatunya.


Elia segera mengenakan sepatu yang sempat ia lemparkan ke wajah Mofaro.


“Ya ampun, Elia ... kamu pikir aku juga enggak sakit, apa? Dilempar pakai sepatu segede itu? Lihat, hidungku sampai lepek melebihi hidungmu, gara-gara sepatumu!” keluh Mofaro sambil mengelus-elus bekas lemparan sepatu Elia yang memang sampai mengenai hidungnya.


“Ngledek, kamu, ya, mentang-mentang hidungku pesek! Pesek-pesek begini masih berfungsi dengan baik! Body shaming itu namanya kamu! Bisa dipenjara, kamu!” balas Elia yang masih mengomel.


“Apaan, sih? Siapa juga yang bahas hidungmu dengan spesifik itu? Yang menjelaskan secara rinci, kan kamu sendiri!” balas Mofaro yang sekali lagi tidak mau disalahkan sambil terus mengelus-elus hidungnya guna meredam rasa panas berikut sakit yang masih tersisan.


Sialnya, bukannya mereda, setelah Mofaro menyudahi ulahnya mengelus hidung, Elia justru langsung menariknya sekuat tenaga, sampai-sampai, wajah Mofaro ikut maju dan berakhir menunduk demi menyeimbangi tarikan gadis itu.


“Ya ampun, El-lia, sakit, tahu!” umpat Mofaro yang nyaris mencekik Elia detik itu juga, andai saja ia tidak takut hukum dan dosa, selain Mofaro sendiri yang sangat membutuhkan dukungan Elia dalam mendekati Elena.


“Ya sudah ... ya sudah ... aku minta maaf,” ujar Mofaro berusaha menyudahi perdebatan. “Aku ngalah karena aku enggak mau buang-buang waktuku.”


Elia yang sempat merasa takjub lantaran Mofaro mau minta maaf lebih dulu, menjadi kembali sangat sebal kepada Mofaro.


“Sampai kapan pun, yang namanya Mofaro enggak mungkin berubah!” cibir Elia sambil bersedekap dan melirik sinis Mofaro. Jarak mereka tak kurang dari satu meter.


“Sudah, ayo ... jalani misi kita,” ajak Mofaro.


“Ogah!” jawab Elia yang sampai mengumpat.


Mofaro refleks menelan ludah sambil mengelus-elus kedua telinganya lantaran pengang mendengar suara Elia yang selalu teriak-teriak.


“Kan kemarin kamu sendiri yang minta bantuan aku?” keluh Mofaro.

__ADS_1


“Tapi aku enggak yakin bisa berhasil,” balas Elia yang menjadi tidak bersemangat. Sebab di setiap ia teringat Elena, yang ada, Elia menjadi merasa sangat sakit hati.


“Mana mungkin kita tahu berhasil enggaknya, sedangkan kita belum nyoba?” balas Mofaro.


“Tapi Lena cinta mati banget sama si Atala!” balas Elia menegaskan.


“Ya dicoba dulu!” balas Mofaro tak mau menyerah, apalagi kalah.


Elia terdiam dan menunduk. Masih merasa tidak yakin. Apakah Elena mau berpaling dari Atala? “Tapi sepertinya, Elena hanya akan berpaling jika Atala yang ninggalin dia!” ucapnya yakin.


“Lah, ... terus, gimana, dong? Jadi kita juga perlu cariin Atala pacar baru?” balas Mofaro.


“Iya juga, sih, ya? Tapi, masa iya, kita harus cariin Atala pacar juga?” ujar Elia yang jadi bingung sendiri.


“Jadi, kita harus mulai dari mana?” lanjut Mofaro.


“Jemput Lena, sana. Kamu usaha sendiri,” balas Elia.


Mofaro mengangguk setuju. Mofaro bahkan langsung menyalakan mesin motornya. “Ya sudah, ya ... thanks! Tapi omong-omong, waktuku ke sekolah Elena kan sama kayak aku antar kamu pulang? Sedangkan kalau aku ke sekolah Elena, pasti dia juga sudah pulang?”


Elia terdiam merenungi ucapan Mofaro. “Ya terserah kamu!”


“Ya mending, aku antar kamu dong, biar aku bisa ketemu Lena di rumah?” ujar Mofaro.


“Aku mau naik taksi. Kan sore ini Lena ada jadwal les piano, jadi pak sopir langsung jemput terus antar dia ke tempat les piano,” balas Elia.


“Terus, pacarnya ngapain?” lanjut Mofaro penasaran. Karena baginya, pacar juga memiliki andil untuk mengantar jemput kekasihnya.


“Ya mana aku tahu?” balas Elia sembari mengangkat kedua bahunya.


“Lho?!” balas Mofaro terkejut.


“Ya iya, mana aku tahu? Lagi pula, pacar kan beda sama sopir. Kalau sopir, baru wajib antar jemput, kan?” balas Elia berusaha sesabar mungkin lantaran baginya, pemikiran Mofaro terlalu sempit. “Dasar bucin!” cibirnya kemudian.


Mofaro terdiam mengerti. “Iya, juga, sih. Ya sudah, aku antar kamu saja sekalian. Biar nanti, aku langsung tunggu Elena pulang, di rumahmu,” usulnya.


Akan tetapi, Elia telanjur tidak percaya pada Mofaro. “Enggak, ah. Bekas biru di pahaku saja, belum hilang. Apa jadinya jika aku kembali ikut kamu?”


Mofaro mendengkus kesal. “Kepalaku yang kamu toyor-toyor kemarin juga masih lebam. Untung aku enggak amnesia. Kalau aku sampai amnesia, bagaimana, coba?”


Tak lama setelah Mofaro kembali bewel dan tak mau disalahkan, detik selanjutnya ada sebuah mobil sedan warna hitam yang menepi di dekat Elia. Elia merasa tidak asing dengan mobil tersebut. Dan Elia semakin merasa tidak asing, ketika yang ada, Atala justru keluar dari balik kemudi.

__ADS_1


“Atala? Ngapain dia ke sini?” gumam Elia bingung.


Mofaro yang masih mendengar gumaman Elia juga tak kalah heran. Di hadapan mereka, seorang pria yang Mofaro tafsir berumur lebih dewasa dari Kim Jinnan, menatap serius Elia, setelah sampai melepas kacamata hitam tebal yang dikenakan.


“Dia Atala, pacar Lena?” tanya Mofaro dengan suara lirih dan sengaja memastikan pada Elia.


Mofaro sampai menatap serius Elia. Dan Elia yang menyimak segera mengangguk.


“Ngapain dia ke sini?” lanjut Mofaro Masih berbisik juga. Namun kali ini, ia sampai mematikan mesin motornya.


“Kamu saja enggak tahu, apalagi aku?” balas Elia.


Mofaro benar-benar penasaran perihal apa yang menjadi alasan Atala justru datang ke sekolah Elia, bukan Elena. Dan Elia yang tak kalah penasaran juga memilih menunggu apa yang akan Atala lakukan di sekolahnya di waktu yang sudah tidak ada murid, mengingat semua murid juga sudah pulang. Kalaupun ada yang masih tersisa, pasti mereka juga akan segera pulang.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Atala dengan nada dingin kepada Mofaro.


Mofaro mendengkus bingung dan menatap aneh Atala. Tak ubahnya Elia yang langsung melakukan hal serupa.


“Kenapa? Kamu pikir, sekolah ini, sekolah kamu?” ujar Elia sengaja menegur Atala.


Elia merasa tak habis pikir, kenapa Atala sampai sempat-sempatnya menegur Mofaro bahkan dengan nada dingin. Padahal Elia yakin, Atala juga tidak mengenal Mofaro.


“Aku tanya seperti itu, karena aku sayang sama kamu! Dan aku enggak suka kalau ada cowok atau pria lain yang dekat-dekat kamu!” tegas Atala sambil menatap marah Elia.


Bingung. Mofaro dan Elia kebingungan dengan maksud Atala yang sampai marah-marah pada Elia.


“Hei ... aku bukan Elena! Masa iya, sampai sekarang, kamu belum bisa membedakan kami juga?” tegas Elia mengingatkan.


“Iya, aku tahu kamu Elia. Aku benar-benar sadar, karena dari awal pun, yang aku cintai itu kamu, bukan Elena!” tegas Atala masih meledak-ledak.


Pengakuan Atala tak ubahnya petir di siang bolong. Tak hanya untuk Elia yang langsung tersulut emosi, tetapi juga Mofaro yang tak kalah emosi. Akan tetapi, di detik berikutnya, Elia langsung menyudahi Atala dengan tamparan panas, di tengah kedua mata Elia yang telanjur basah.


“Apa maksud Atala? Dia sengaja mempermainkanku dan Elena? Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia begitu!” batin Elia yang menjadi sangat geram kepada Atala.


“Bisa-bisanya Elena begitu mencintai pria seperti ini!” Elia, sudah sangat ingin meledak, mengamuk dan memberi Atala pelajaran hingga pria itu menyesal.


“Aku mencintaimu, Elia! Bukan Elena!” tegas Atala lagi mencoba meyakinkan Elia.


Dan Elia nyaris kehilangan akal. Elia sudah sangat ingin menghancurkan Atala yang bahkan terang-terangan melakukan pengakuan.


“Apakah kamu tidak punya hati? Di mana otakmu? Semudah itu kamu mengatakan cinta setelah apa yang kamu lakukan pada Elena? Kalau memang tidak menyukainya dari awal, kenapa tetap dilanjutkan?!” omel Elia yang akhirnya meledak juga.

__ADS_1


Bersambung ....


Awas, Mo ikut ngamuk ke Atala 😂😂😂😂


__ADS_2