Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 63 : Kembali Ke Kediaman Kim Jinnan


__ADS_3

“Jangan biarkan wanita itu masuk apalagi sampai menemui Tuan Muda dan Nona Pelangi. Dan usahakan, mengenai kedatangannya, jangan ada yang tahu. Kalian harus merahasiakannya dari Tuan Muda apalagi Nona!”


 Bab 63 : Kembali Ke Kediaman Kim Jinnan


“Sebelum pulang, kita jalan-jalan dulu.” Kim Jinnan melangkah keluar dari perusahaannya dengan sangat bersemangat. Tangan kanan mengendalikan ponsel yang ditempelkan pada telinga kanan, sedangkan tangan kiri menenteng tas kerja.


Kini, Kim Jinnan tengah berbincang dengan Pelangi melalui sambungan telepon di ponselnya.


“Memangnya kamu enggak capek? Ini kan bukan malam Minggu?” balas Pelangi dari seberang dengan suara yang terdengar kelelahan.


Kim Jinnan tak langsung menjawab lantaran baginya, apa yang Pelangi katakan tak beda dengan keluhan. Terlebih jika mendengar suara sang istri yang terdengar jelas kelelahan. “Kamu jangan kerja, ya? Dari suaramu saja, kamu terdengar kelelahan banget.”


Dari seberang, terdengar Pelangi yang menghela napas dalam.


“Ngi-ngie,” tahan Kim Jinnan sebelum Pelangi membalasnya. Kim Jinnan yakin, Pelangi akan memberinya balasan berupa alasan perihal Pelangi yang ingin tetap bekerja. “Biar aku saja yang kerja. Kamu di rumah, santai-santai jadi Nyonya. Lakukanlah hal yang menyenangkan. Kayak mamah.” Kim Jinnan benar-benar serius dengan permintaannya.


“Tapi Jinnan, kasihan papah kalau urus semuanya sendiri,” balas Pelangi dari seberang.


Kim Jinnan langsung diam. Ia yang baru saja melewati pintu masuk perusahaannya, langsung berpikir keras. Apa yang Pelangi katakan memang tidak salah. Namun, bagaimana jika wanitanya itu sampai kelelahan bahkan sampai berujung fatal?


“Tapi kamu sampai kecapean begitu. Bagaimana, ya?” Kim Jinnan menghela napas dalam. Dirasanya, apa yang menimpa hubungannya dan Pelangi terbilang sensitif. Belum lagi, hubungan berikut pernikahan mereka juga pernikahan yang sangat tiba-tiba. Tak etis rasanya jika Kim Jinnan tiba-tiba menuntut ini itu, kendati apa yang Kim Jinnan mau juga demi kebaikan Pelangi berikut kebaikan hubungan mereka.


“Padahal kalau aku pulang, aku juga mau semua waktumu. Aku mau kamu fokus urus aku, sedangkan kamu kecapean begitu?”


Kim Jinnan yang masih berdiri di depan pintu masuk, sengaja geser lantaran beberapa karyawannya juga silih berganti keluar dari perusahaan untuk pulang.


“Kasihan papa, lah, Jinnan ....” 


“Tapi aku juga khawatir sama kamu.” Kim Jinnan menjadi tidak bersemangat.


“Ya sudah, jemput aku, katanya mau jalan-jalan?” tagih Pelangi dari seberang.


Mendengar itu, Kim Jinnan menjadi tertawa dan kemudian senyum-senyum sendiri. Pak Jo yang kebetulan baru datang bersama kedua ajudan Kim Jinnan, sampai ikut tersenyum hanya karena melihat Tuan Muda mereka senyum-senyum sendiri sembari berbincang melalui ponsel. Pak Jo yakin, Kim Jinnan sedang telepon dengan Pelangi. 


Kemudian, melalui gerakan wajah berikut tatapan, pak Jo yang mendekap dua buah map berwarna biru dan hijau, mengisyaratkan salah seorang ajudan Kim Jinnan untuk mengambil alih tas kerja dari tangan sang Tuan Muda.


“Kamu mau jalan-jalan ke mana?” ucap Kim Jinnan yang masih senyum-senyum sendiri.


Kim Jinnan segera memberikan tasnya pada sang ajudan yang langsung melakukannya dengan sopan. Di mana, pak Jo yang awalnya akan memberikan map di tangannya, sampai urung lantaran Kim Jinnan terlihat begitu asyik mengobrol melalui sambungan ponselnya.


“Kok terserah aku, sih?” lanjut Kim Jinnan yang segera memasuki mobil bagian penumpang ketika ajudan yang tidak membawakan tasnya, membukakan pintu mobil untuknya.


“Kan kamu yang minta jalan-jalan,” balas Pelangi terdengar mengomel.


Kim Jinnan terkikik sembari mengendurkan lilitan dasi dari lehernya. “Aku ikut kamu saja,” ucapnya membalas Pelangi.

__ADS_1


“Aku sih maunya tidur panjang,” balas Pelangi cepat.


“Kita pulang ke rumah, ya?” ajak Kim Jinnan. Rumah miliknya, bukan milik orang tua Pelangi maksudnya.


“K-kenapa?” balas Pelangi terdengar enggan.


“Biar lebih bebas.” Kim Jinnan menjadi gugup lantaran Pak Jo yang duduk di sebelahnya menjadi senyum-senyum dan Kim Jinnan yakini, pria tua itu sedang menertawakannya. “Pak Jo! Enggak usah seheboh itu! Pak Jo juga pernah muda, kan?” keluh Kim Jinnan akhirnya.


Pak Jo mengangguk-angguk sambil membungkuk, sedangkan di depan sana, kedua ajudan Kim Jinnan yang salah satunya merangkap menjadi sopir, juga jadi ikut senyum-senyum. Dan tak beda dengan pak Jo, keduanya juga sengaja menahan tawa. Entah sambil menuntuk, atau pura-pura menyibukkan diri dengan melihat ke kanan-kiri.


*** 


Sesuai rencana, Kim Jinnan membawa Pelangi pulang ke rumah pribadi. Rumah keluarga Kim Jinnan yang tentunya menjadi rumah pribadi keduanya. Namun, sepanjang perjalanan, baik Pelangi maupun Kim Jinnan justru ketiduran. Keduanya duduk di bangku penumpang paling belakang. Di mana, Pelangi tidur di pangkuan Kim Jinnan, sedangkan Kim Jinnan yang memangku menyandar pada jendela kaca.


Pak Jo yang tetap duduk di bangku penumpang bagian tengah layaknya awal, sampai tidak tega membangunkan keduanya. Jadilah, meski sudah akan memasuki gerbang rumah, pak Jo sengaja tidak membangunkan keduanya. Namun ketika pak Jo mendapati sebuah sedan biru terparkir tak jauh dari gerbang, detik itu juga pak Jo langsung terjaga. 


Pak Jo sengaja meminta sang sopir untuk tetap mengemudi tanpa menghiraukan wanita cantik berpakaian cukup terbuka yang terjaga di depan mobil. Wanita cantik bertubuh cukup gelap yang mengenakan celana levis di atas paha berwarna biru tua dan langsung sibuk menatap mobil yang Kim Jinnan tumpangi dengan penuh harap.


“Jangan biarkan wanita itu masuk apalagi sampai menemui Tuan Muda dan Nona Pelangi. Dan usahakan, mengenai kedatangannya, jangan ada yang tahu. Kalian harus merahasiakannya dari Tuan Muda apalagi Nona!” Pak Jo menatap serius kedua ajudan Kim Jinnan yang langsung mengangguk mengerti dalam membalasnya.


Bahkan meski gerbang rumah sudah tertutup rapat, di mana gerbang sendiri sampai dihiasi pelindung mika hingga apa yang terjadi di luar tidak bisa terlihat dan begitu pun sebaliknya, tetapi Pak Jo kerap menatap marah ke arah gerbang. “Wanita itu ... berani-beraninya datang ke sini!” batin pak Jo geram. Sekali lagi, pak Jo menoleh pada keberadaan gerbang sebelum akhirnya membangunkan Kim Jinnan.


“Padahal aku pikir, aku baru tidur,” gumam Kim Jinnan sembari memijat keningnya demi meredam pening yang tiba-tiba melanda.


Kemudian, setelah merasa jauh lebih baik dan mendapati suasana luar yang semakin gelap, Kim Jinnan berangsur membangunkan Pelangi, meski jauh di lubuk hatinya, Kim Jinnan tidak tega lantaran sang istri terlihat sangat lelap.


“Jinnan, aku mau langsung tidur, ya?” pinta Pelangi yang kemudiaan menyandarkan wajahnya pada dada Kim Jinnan.


Kim Jinnan yang berangsur mendekap Pelangi, segera mengangguk-angguk. “Tentu. Dan sepertinya aku juga mau langsung tidur juga.”


Kim Jinnan dan Pelangi terus berjalan sambil memeluk satu sama lain. Keduanya sama sekali tidak mengetahui jika ketiga pekerja yang sedari awal menyertai kepulangan mereka, tengah bertatap serius di belakang.


Pak Jo dan kedua ajudan Kim Jinnan masih bertatap serius di sebelah mobil yang terparkir di depan garasi rumah. Dan bersama pak Jo, keduanya segera melangkah tegas mendekati gerbang rumah yang baru saja mereka tinggalkan. 


“J-jinan, pak Jo dan kedua orangmu mana? Kita enggak tunggu mereka?” tanya Pelangi ketika mereka baru saja masuk rumah setelah seorang pekerja membukakan pintu untuk mereka.


Pelangi sampai menoleh ke belakang, mencari-cari keberadaan pak Jo dan kedua ajudan Kim Jinnan. Namun sungguh, ketiganya bak ditelan bumi.


“Biarkan saja. Toh mereka bukan anak kita. Mereka justru lebih dewasa dari kita, ... dan mungkin memang ada urusan yang harus mereka selesaikan?” balas Kim Jinnan.


“Ya sudah ... aku mau langsung tidur. Tapi omong-omong, ini pukul berapa sih?” lanjut Pelangi yang memilih melangkah lebih dulu.


Kim Jinnan yang menyusul segera memastikan waktu melalui arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. “Setengah tujuh, Ngie.”


“Ya sudah, nanti aku bangun sekitar setengah delapan,” ujar Pelangi yang mulai menaiki anak tangga menuju lantai atas sambil berpegangan pada pegangan tangga.

__ADS_1


Bukannya memberi balasan positif, Kim Jinnan justru menertawakan Pelangi sembari berlari mendahului sang istri.


“Jinnan ... kenapa kamu ketawa begitu? Kamu sengaja meledek aku?” cibir Pelangi yang memang langsung tersinggung.


Tak seperti biasa, Kim Jinnan yang biasanya selalu membuat Pelangi luluh dengan banyak perhatian sekaligus kata-kata cinta, justru semakin melepaskan tawanya.


“Kim Jinnan!”


“Hahaha ... lagian kamu ini lucu banget. Tahu-tahu kalau sudah tidur, kamu susah urusannya. Eh ini pakai acara target bangun dan hanya tidur satu jam. Mustahil!” 


Kim Jinnan benar-benar tidak bisa mengontrol tawanya. Apalagi selama mereka menikah dan membuat mereka mengetahui kekurangan sekaligus keburukan satu sama lain, satu-satunya hal yang paling sulit Pelangi ubah adalah bangun tepat waktu. Dan benar-benar sebuah keajaiban jika Pelangi sampai bisa bangun cepat kecuali untuk urusan yang sudah Pelangi targetkan dengan sangat matang.


“Jinnan, kamu jahat banget, meledek begitu!” omel Pelangi.


“Aku enggak jahat, Ngie ... justru aku ingin ubah kebiasaanmu itu. Belajar bangun tepat waktu, ya?” balas Kim Jinnan sambil melepas jasnya.


Lantaran Kim Jinnan belum membuka lampu kamar, Pelangi pun segera menyalakannya sebelum akhirnya berlalu dan segera membantingkan tubuh di atas kasur.


“Bukannya kamu sendiri yang bilang aku cukup hidup santai, jadi Nyonya? Lagian, kan, aku masih di bawah umur, jadi harus tidur cukup biar kulit tetap bagus juga!” balas Pelangi yang kemudian mendekap sebelah bantal tempatnya menyemayamkan wajah.


Berbeda dengan Pelangi yang langsung tertidur pulas, Kim Jinnan justru terkikik menertawakan balasan Pelangi. “Masih di bawah umur?” ulang Kim Jinnan untuk ke sekian kalinya.


Namun tak lama setelah itu, Kim Jinnan segera meraih tas Pelangi yang digeletakkan begitu saja di dekat kasur sebelah wanitanya itu tengkurap. Kim Jinnan meletakkannya di kursi kerja berikut ponsel miliknya yang ia taruh di mejanya. Tentu, bukan ponsel yang kemarin Pelangi banting dan Kim Jinnan katakan pada Zean karena terkena badai tornado. Sebab di siangnya, Kim Jinnan sudah langsung mendapatkan ponsel baru berkat bantuan pak Jo. 


Dan di ponsel barunya kini, tidak ada aplikasi lain kecuali WhatsApp, layaknya ponsel milik Pelangi. Pastinya, wallpaper ponsel kembali menggunakan foto kebersamaan Kim Jinnan dan Pelangi. Foto ketika Pelangi dan Kim Jinnan yang sama-sama menatap ke kamera, kompak memamerkan senyum termanis mereka.


“Masih kurang sebenarnya kalau hanya berdua. Coba seenggaknya bertiga. Ada yang tiap waktu nangis dan bikin sibuk, kan tambah lengkap!” batin Kim Jinnan yang masih menatap bahagia wallpaper ponsel barunya. 


Karena meski sadar, dirinya belum bisa menjadi seorang ayah yang baik, tetapi jauh di lubuk hatinya, Kim Jinnan sudah sangat ingin memiliki momongan yang nantinya akan semakin meramaikan hubungannya dan Pelangi.


“Enggak kebayang kalau kami punya anak. Mereka yang lucu-lucu ... menggemaskan, pintar, ... aku pasti bakalan lebih semangat kerja. Cepat pulang, terus gendong dan main sama mereka.” Kim Jinnan masih berandai-andai dalam angan.


“Terus Ngi-ngie sibuk ngomel karena ini itu, dan aku sama anak-anak justru akan semakin sibuk membuat Ngi-ngi mengomel.”


“Hahaha ... benar-benar lucu!”


Kim Jinnan menjadi asyik sendiri dengan pemikirannya. Pemikiran yang juga menjadi keiinginan terbesarnya, semenjak ia mengenal dan serius menjalin hubungan dengan Pelangi. Ia yang akan segera menjadi seorang ayah, juga Pelangi yang menjadi seorang mama. Ya, mereka hidup bahagia dengan segala drama di dalamnya, layaknya pasangan suami istri pada kebanyakan.


“Aku akan bekerja lebih keras lagi!” pikir Kim Jinnan lagi agar bisa menjadi kepala keluarga yang lebih bisa diperhitungkan.


“Mandi bareng, yuk?” ajak Kim Jinnan kemudian sabil menatap saksama Pelangi dari tempatnya berpijak. “Dia benar-benar sudah pergi ke alam mimpi?” gumamnya tak percaya lantaran Pelangi begitu hobi tidur. Tidak, lebih tepatnya, Pelangi juga sangat mudah tidur.


“Ada kesempatan dikit pasti langsung tidur,” gumam Kim Jinnan yang memilih untuk mandi lebih dulu sebelum melakukan hal lain, termasuk mengusili Pelangi dan membuat istrinya itu kembali sibuk marah-marah.


Karena ketika Pelangi marah-marah, sebenarnya ada kebajagiaan tersendiri yang Kim Jinnan rasakan, lantaran baginya, ketika sudah marah-marah, Pelangi akan menjadi sangat lucu sekaligus menggemaskan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2