
“Selalu ada alasan di balik suatu hal apalagi kejahatan. Dan biasanya, faktor lingkungan termasuk orang-orang terdekat selalu menjadi pokok yang harus dibenahi lebih dulu.”
Bab 51 : Menjaga Hatinya
Steven benar-benar datang. Pria itu menepati janjinya. Membuat emosi Daniel seperti diaduk-aduk. Daniel benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu.
Kini, di kedua sisi Kainya ada dua pria yang terjaga. Keduanya duduk di sofa kecil, saling berhadapan. Bedanya, ketika Steven terlihat begitu tenang meski kadang menawari Kainya sesuatu, Daniel justru kebalikannya.
Daniel benar-benar yakin, pria di hadapannya memang ancaman terberatnya dalam mendapatkan Kainya. Apalagi sejauh ini, seberapa pun banyak pria dalam kehidupan Kainya, Steven adalah satu-satunya pria yang sempat Daniel kenal, meski Kainya juga sempat menikah dengan Yuan. Termasuk mengenai desas-desus pria bernama Ben yang sempat nyaris menikahi Kainya, meski kabar itu tidak memiliki kelanjutan lagi. Entah ke mana, pria bernama Ben itu. Akan tetapi, menghilangnya Ben berikut menikahnya Yuan dengan Keinya, sangat menguntungkan Daniel.
Daniel pikir, setelah kedua kandidat yang mendekati Kainya hilang, ia akan lebih mudah mendapatkan Kainya. Namun ternyata ia salah. Karena bukannya leluasa, yang mendekati Kainya justru bertambah.
Kainya sendiri sadar, bagaimana perasaan kedua pria di sisinya. Mengenai Daniel yang ia yakini marah. Juga, Steven yang memang serius berkomitmen kepadanya.
Steven sudah dewasa. Usianya sama dengan Kainya. Bahkan tanggal lahir mereka hanya berselisih satu hari, meski Kainya lahir lebih dulu. Kainya mengetahui itu, karena ketika awal pertemuan mereka--saat Steven melihat data diri Kainya--pria itu mengatakannya. Saat itu, Steven megajak Kainya mengobrol sebentar sebelum Kainya mengatakan keluh-kesah--selaku alasan Kainya berobat pada Steven.
Namun mengenai Daniel, Kainya menyayangi pria muda itu. Rasa sayang seorang keluarga, seorang kakak kepada adiknya layaknya ia yang selalu ingin memberikan yang terbaik kepada Keinya. Jangankan pada adik, untuk orang lain sekelas teman saja, Kainya ingin memberikan yang terbaik. Namun, Kainya tidak tahu bagaimana caranya membuat pria itu mengerti. Kainya ingin memberi Daniel penegasan, agar adiknya itu berhenti mencintainya sebagai lawan jenis. Kainya benar-benar tidak mau keutuhan keluarganya terganggu hanya karena cinta Daniel kepadanya. Akan tetapi, apakah ada cara melepas tanpa melukai? Adakah cara menolak tanpa menorehlan luka bahkan bekas?
Itulah alasan Kainya belum berani menegur Daniel terang-terangan. Dekat dengan pria pun Kainya jadi tidak berani, meski Kainya sendiri sudah berniat menutup hati. Kainya masih menunggu perubahan dari Daniel secara alami. Kainya berharap adiknya itu berhenti mencintainya, Daniel menemukan cinta yang baru dan pastinya jauh lebih baik bahkan pantas ketimbang dirinya.
“Daniel, bisa lihat bagaimana keadaan Steffy? Kakak ingin tahu,” pinta Kainya dan memang selain ingin memecahkan keheningan suasana ruang rawatnya, ia juga sudah sangat penasaran dengan keadaan terbaru Steffy. Apakah Steffy baik-baik saja dan siap menjalani hukuman sesuai kejahatan yang wanita itu lakukan? Kainya mengharapkan yang terbaik, dan pastinya, Steffy tidak kabur apalagi membuat ulah baru lagi.
Daniel mengerutkan dahi dan terlihat merenung. “Dengan kata lain, aku harus membiarkan Steven hanya berdua dengan Kak Kai? Oh, tidak bisa! Bagaimana kalau Steven memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Membuat Kak Kai terpaksa memilihnya?” pikir Daniel yang detik itu juga, makin dilanda gelisah.
“Biar aku saja yang pergi. Aku akan merek video Steffy untukmu.” Setelah mengatakan itu, Steven benar-benar pergi.
Sama sekali tidak ada keluhan atau pun hal yang membuat pria itu terlihat keberatan. Steven masih sama--tenang, bijak sekaligus dewasa. Dan kenyataan tersebut membuat Daniel tertampar. Baginya, mengalahnya Steven justru membuat pria itu terlihat jauh lebih baik darinya.
__ADS_1
***
Tak sampai dua puluh menit dari kepergiannya, Steven kembali datang. Sesuai janjinya, ia merekam video Steffy dan memberikannya kepada Kainya.
Seteven kembali duduk di tempatnya. “Steffy belum sadar meski oprasinya berjalan dengan sukses. Sejauh ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan meski tulang kaki kanannya patah.”
Selain kepala Steffy yang dibungkus perban, kaki kanan wanita itu juga mengalami hal serupa, sampai-sampai ukurannya tiga kali lipat dari kaki kirinya. Kainya melihat kenyataan itu melalui video di ponsel Steven.
“Sampai sekarang masih ada tiga polisi yang berjaga di depan ruang ICU keberadaan Steffy. Selain itu, orang tua Steffy juga datang. Aku juga sempat berbicara dengan mereka,” ucap Steven kemudian ketika Kainya mengembalikan ponsel padanya.
Kainya mengerutkan dahi sambil menatap Daniel penasaran.
“Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat Steffy begitu tertekan bahkan pendendam,” ucap Steven.
Baik Kainya maupun Daniel, sama-sama dibuat penasaran dengan apa yang Steven maksud. Pun, meski Daniel masih bersikap angkuh.
“Kamu menemukan apa yang kamu cari?” tanya Kainya kemudian.
Steven mengangguk sambil mengulas senyum. Akan tetapai, pria itu justru tidak memberikan cerita lanjutan. Membuat Kainya yang penasaran, terpaksa kembali bertanya.
“Apa?” tanya Kainya yang terlihat jelas berjaga. Ada rasa gengsi yang juga terlihat jelas, wanita itu redam.
Steven kembali mengulas senyum dan terlihat begitu sabar. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu murni masalah keluarga Steffy.” Karena baginya, masalah keluarga Steffy merupakan privasi yang harus ia jaga meski kesalahan mutlak kenapa Steffy menjadi liar, memang karena didikan orang tua Steffy sendiri.
Kainya terdiam tanpa bertanya lagi. Terlebih menurutnya, orang seperti Steven pasti akan menjaga baik-baik privasi setiap orang apalagi kliennya.
“Kalau begitu, kalian istirahat saja. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang dikhawatirkan lagi.” Kainya berangsur menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya, hingga melebihi dada seperti awal keadaan selimut.
__ADS_1
“Apakah kamu benar-benar sudah merasa lebih baik? Kamu serius mau pulang?” tanya Steven kemudian.
Kainya yang terpaku menatap kecemasan Steven pun mengangguk. “Dokter sudah membiri izin. Aku bosan lama-lama di sini. Aku mau istirahat di rumah saja.”
Demi menjaga hati Daniel, Kainya segera menunduk. Ia tidak mau, tanggapannya pada pria lain juga melukai adiknya itu. Paling tidak, ia akan membuat adiknya itu bosan mengejarnya, hingga akhirnya Daniel memilih pergi dan mencintai wanita lain. Sungguh, Kainya akan melalukannya, menjaga hati Daniel hingga adiknya itu menemukan wanita yang tepat dan benar-benar melupakannya.
Sama halnya dengan Kainya, diam-diam Steven juga memikirkan hal yang sama. Ia akan menjaga hatinya, hanya untuk Kainya. Ia akan menunggu hingga semuanya benar-benar tepat, indah pada waktunya.
Bersambung ....
Hallo, Author di sini. Wkwkwk
Oh, iya. Author lihat banyak komentar baru dari akun baru, jadi, Author mau sekalian nyapa sekaligus kenalan, ya.
Selamat datang semuanya, di ceritanya Author. Semoga kalian suka. Maaf jika masih banyak kekurangan.
Oh, iya, ... yang mau berteman, bisa tengok Instagram Author di : Rositi92.
Tapi omong-omong, hari ini, Author sebaiknya update cerita ini lagi, atau update cerita baru yang judulnya : Menjadi Istri Idaman?
Eh, cerita yang : CEO Mengejar Tuan Putri
juga belum update, wkwkwk~~
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1