
“Orang-orang berbakat mungkin bisa menghasilkan banyak karya. Tapi orang-orang yang memiliki nama juga bisa dengan mudah memiliki karya bahkan tanpa keahlian sekalipun!”
Bab 21 : Empat Mata
***
“Kita harus bicara empat mata!”
Lagi-lagi Ryunana berucap lantang yang terdengar pedas bahkan menyepelekan. Rara saja sampai sakit hati dibuatnya walaupun ia tahu yang dimaksud bukan dirinya, melainkan Keinya. Keinya yang kali ini menatap Ryunana nyaris tak berkedip dengan pandangan kecewa sekaligus tidak habis pikir. Belum pernah Rara melihat Keinya sangat kesal layaknya sekarang. Teman baik yang merangkap menjadi atasannya itu terlihat sudah di ambang batas kesabaran.
“Sekalipun kesalahan memang terletak padaku, tolong, jaga sikapmu.” Keinya tak lagi benar-benar formal kepada Ryunana.
Benar dugaan Rara, nada suara Keinya saja terdengar dingin. Keinya pasti sudah mulai terbawa emosi.
“Apa maksudmu masih bisa berkata seperti itu? Mana mungkin aku bisa diam bahkan baik-baik saja, setelah dipermainkan seperti ini?” Ryunana tak mau kalah. Wanita itu bahkan sampai memelotot kepada Keinya.
Keinya yang tampak kecewa segera mengalihkan tatapannya dari Ryunana. “Baiklah, mari kita berbicara empat mata.” Ia mulai malas berurusan dengan Ryunana.
Ryunana terengah-engah seiring dadanya yang naik turun dengan teratur.
Setelah terdiam cukup lama, Keinya menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan melalui mulut sambil berlalu menuju ruang tamu. Ruangan yang sempat ia gunakan bersama Rara dalam memastikan data naskahnya dengan cerita di Mangatoon, sebelum ia justru berakhir pingsan.
Tak lama berselang, dengan perasaan dongkol bahkan sampai mendengkus, Ryunana menyusul kepergian Keinya meninggalkan Rara yang menjadi kebingungan. Rara sendiri merasa serba salah, tapi cenderung mencemaskan Keinya. Apa yang akan dilakukan Keinya, sedangkan wanita itu terlihat sudah tidak tahan menghadapi Ryunana ditambah situasi hati Keinya sedang sangat terluka bahkan buruk?
***
Di ruang tamu, Keinya berdiri menunggu sambil bersedekap di sebelah sofa panjang yang menghadap meja kaca. Ia segera balik badan ketika mendengar ketukan langkah cepat dari hak sepatu yang dikenakan Ryunana dan terdengar sangat berisik. Tak beda dengan ketukan lari kuda yang mengenakan sepatu dan menggunakannya di jalanan beraspal.
__ADS_1
Ryunana menepis tatapan Keinya dengan wajah yang masih sinis. Apalagi jika ia mengingat hubungan Keinya dengan Yuan.
“Katakan padaku, apa maumu?” Keinya sengaja memulai pembicaraan. Tak semata ingin segera menyelesaikan kasus mereka, melainkan sikap Ryunana yang begitu angkuh bahkan arogan dan membuatnya tidak tahan.
“Langsung ke pokok masalahnya saja!” balas Ryunana sambil bersedekap bahkan sampai membentak. Tubuhnya yang semampai ditambah sepatu berhak tinggi yang dikenakan, membuatnya cukup menunduk hanya untuk menatap Keinya. Bahkan karenanya, ia merasa jauh lebih cantik dibanding wanita di hadapannya, meski pada kenyataannya, tinggi tubuh tidak akan mempengaruhi kecantikan wajah apalai hati.
Bagi Ryunana, kecantikan seorang wanita diukur dari bentuk tubuh termasuk tinggi badan, di mana sandang berikut aksesori yang menyertai juga menjadi nilai tak kalah penting. Karenanya, Ryunana merasa jauh lebih menarik dibandingkan Keinya yang tampilannya sangat sederhana. Bahkan Keinya hanya mengenakan sandal jepit sebagai alas kaki. Meski mungkin alasan wanita itu mengenakannya lantaran kedua telapak kaki Keinya diperban, terlepas dari ikat rambut Keinya yang baginya sangat norak dikarenakan itu dasi Yuan dan seharusnya ialah yang mengenakannya!
Keinya mencoba bersabar dan bersikap sesantai mungkin hingga semuanya benar-benar berakhir. “Sejauh ini aku melihatmu sebagai wanita karier yang pintar. Kamu pasti sering mengalami hal semacam ini.”
“Maksudmu ditipu klien, begitu? Jadi, kamu juga bersemangat buat nipu aku?” balas Ryunana enteng sambil melakukan gerakan wajah terhadap wajah Keinya. Ia sengaja melakukannya untuk menegaskan, Keinya merupakan salah satu penipu yang ingin mengelabuhinya.
Keinya menelan salivanya dan berusaha masa bodo pada kesinisan lawan bicaranya.
Semakin kesal, lagi-lagi Ryunana menghela napas. “Walaupun kerja sama kita di atas materai, tapi aku bisa saja melimpahkan semua kesalahan kepadamu. Tak semata keteledoran dan alasan yang kamu berikan, tapi semua yang kamu lakukan selama ini!”
“Kamu membuat nama baikku tercemar. Bahkan karena ulahmu, aku sampai memiliki anti-fans—”
“Langsung ke intinya saja,” tegas Keinya memotong penjelasan Ryunana. “Aku tahu maksudmu bukan untuk itu.” Kali ini ia menghela napas dalam demi menghilangkan sesak di dadanya lantaran terlanjur kesal pada lawan debatnya.
“Aku bisa saja memberikan uang ganti rugi untuk kasus ini dan menarik semua naskah-naskahku dari kamu.” Keinya kembali bersikap formal.
Ryunana langsung ketar-ketir. “Kenapa dia malah langsung ke pokok masalah?” batinnya.
“Aku tidak bisa bersama orang yang tidak merasa nyaman apalagi sampai tidak percaya padaku, apalagi untuk urusan kerja sama.” Gaya Keinya benar-benar tenang. “Aku tidak memaksamu untuk memilih. Kamu benar-benar bebas.”
“Baik!” tahan Ryunana memotong kalimat Keinya. Ia menarik kedua tangannya yang menjadi mengepal di sisi tubuh.
__ADS_1
Ryunana dan Keinya yang sama-sama diam, bertatapan cukup lama. Ryunana terlihat nyaris meledak, tapi Keinya justru kebalikannya. Keinya begitu santai menghadapi kobaran amarah Ryunana. Bahkan keduanya bak kobaran api yang berhadapan dengan dinding es.
“Jadi, kamu akan membuat orang-orang di industrimu hancur?” Nada bicara Ryunana terdengar mengancam lengkap dengan senyum sarkastis yang kali ini menghiasi wajahnya.
Setelah terdiam sejenak, Keinya pun berkata, “kami hancur, kamu pun hancur!”
Ryunana kembali tersenyum sarkastis yang hanya membuat sebelah ujung bibir tebal bergincu merah menyalanya, sedikit tertarik. “Bukankah kalian sendiri yang bilang, industri kalian ada karena kalian tidak memiliki branding yang berpotensi menarik minat pasar tanpa orang-orang sepertiku?”
Keinya mulai gusar lantaran tidak habis pikir dengan cara pikir wanita di hadapannya. Cara pikir Ryunana mirip dengan Tiara. Tapi tiba-tiba Keinya menambahi, lantaran Athan juga termasuk dalam kelompok karakteristik keduanya.
“Orang-orang berbakat mungkin bisa menghasilkan banyak karya. Tapi orang-orang yang memiliki nama juga bisa dengan mudah memiliki karya bahkan tanpa keahlian sekalipun!” tegas Ryunana.
“Bahkan dalam memasarkan karya, orang-orang yang memiliki nama sepertiku jauh lebih berpotensi meraup pundi-pundi keuntungan.” Senyum Ryunana terlihat menyepelekan. Senyum yang turut mengibarkan kemenangan. Ryunana benar-benar merasa menang.
“Jika kamu berpikir kamu mengenalku, kamu salah besar ... aku memiliki apa yang tidak kamu dan orang-orangmu miliki!” tambah Ryunana.
Keinya yang mulai gusar, buru-buru membasahi bibir bawahnya. “Apakah kamu mengincar hal lain dari pokok masalah kita? Sesuatu yang ada dalam kehidupanku?” tegasnya menghentikan Ryunana.
Ryunana membelalak. Mata tajamnya gusar menatap tak percaya Keinya.
“Katakanlah. Jangan membuang-buang waktuku,” tambah Keinya masih menyikapi keadaan dengan tegas.
“Rupanya, Keinya sangat jeli bahkan tidak takut pada apa pun. Dia sangat mirip Yuan!” batin Ryunana yang menjadi gugup. Terlebih, tatapan Keinya terus tertuju padanya tanpa teralih sedikit pun.
Rasa takut mulai membersamai Ryunana apalagi jika Keinya yang tampak jelas tidak takut dengan gertakannya, juga sampai bantu Yuan. Celaka!
“Aku harus bergerak cepat sebelum Yuan sampai turun tangan!” pikir Ryunana ketar-ketir.
__ADS_1