Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 47 : Melarikan Diri


__ADS_3

Apa kabar semuanya? Terima kasih banyak atas dukungan kalian terhadap cerita ini. Dan maaf jika karya ini masih banyak kekurangannya. Buat yang kurang berkenan dengan ceritanya, budayakan menjadi orang yang lebih pintar, ya. Cukup jangan baca tanpa meninggalkan jejak kasar. Entah itu komentar jahat, atau malah kasih rating buruk. Apalagi, Author nulis cerita ini enggak hanya mengandalkan segi cerita, melainkan meminimalkan semua kesalahan dalam aspek kepenulisan termasuk typo yang sangat sulit Author tinggalkan.  Bahkan untuk gaya tulis, Author selalu berusaha menaati peraturan, karena menulis pun ada peraturannya.


Sudah, ah ... Author enggak mau curhat lama-lama. Ini saja, bab sebelumnya yang dari kemarin baru lolos review.


Tetap dukung ceritanya, ya. Ditunggu like dan komen kalian.


Terakhir, selamat membaca ....


***


Bab 47 : Melarikan Diri


Steffy masih berlari. Menerobos semua yang menghalang langkahnya.


Tak hanya pengunjung mal dan kebetulan sedang ramai-ramainya, dan mungkin efek masih jam makan siang. Sebab Kimi yang begitu bersemangat dan tak hentinya mengejarnya, juga membuatnya semakin kewalahan. Padahal yang Steffy tahu, selain sangat manja, Kimi itu gadis yang lemah. Namun nyatanya, gadis yang sudah ia incar semenjak kata-kata penolakan pedas ketika di rumah sakit, justru begitu energik.


Selain jantung Steffy yang berdegup sangat kencang, napas wanita muda itu juga semakin memburu. Steffy sampai nyaris sulit bernapas. Sialnya, ia justru menabrak pintu kaca mal, karena kelalaiannya. Saking cemas dan takutnya tersusul Kimi, Steffy jadi tidak menyadari pintu kaca yang begitu bening sudah ada di hadapannya.


Kimi menarik napas dalam bersama rasa lega yang ia kantongi, tanpa mengurangi langkah larinya, sesaat setelah mendapati Steffy terjatuh. Dilihatnta, dua orang satpam yang berjaga di pintu masuk, langsung membantu Steffy untuk bangun.


Dengan napas masih terengah-engah, bahkan tubuh juga sampai membungkuk, Kimi berseru, “Pak, tahan, Pak! Dia buronan! Tolong tahan, saya akan menghubungi polisi!”


Jarak Kimi dan Steffy tak kurang dari tiga meter. Ia bergerak cepat mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi.


Sambil berbicara dengan polisi, Kimi mengamati Steffy yang tertunduk lemas dan sampai harus dibopong, dikarenakan wanita itu pingsan. Kimi sendiri kurang yakin, apakah Steffy benar-benar pingsan, atau justru hanya tipu muslihat wanita licik itu?


Demi mencari suasana yang lebih bersahabat, tidak begitu ramai, Kimi sengaja melipir, membuatnya meninggalkan Steffy beberapa meter sambil terus berbicara dengan polisi.


“Iya, Pak. Alamat lengkapnya ada di mal ….”


Kimi baru saja menjelaskan alamat lengkap mal keberadaannya, ketika Steffy tiba-tiba menonjok wajah, kemudian menendang satpam yang sempat membopong wanita itu. Sial, Steffy kembali melarikan diri!


Steffy terus berlari sembari membenarkan topinya untuk semakin menutupi wajahnya.

__ADS_1


“Steffy?!” teriak Kimi langsung mengikuti.


Satpam yang mendapat bogem mentah berikut tendangan di bagian perut oleh Steffy,langsung menahan bekasnya menggunakan kedua tangan dan terlihat sangat kesakitan. Bahkan ia sampai jongkok seiring erangan sakit yang turut keluar dari mulutnya. Sedangkan satpam yang satu lagi memilih menyusul Steffy setelah sempat menenangkan rekannya itu.


Meski awalnya Kimi mengejar dengan begitu cepat terlebih Steffy juga bak kuda yang tak kenal lelah, tetapi langkahnya memelan bahkan berhenti total, ketika tubuh wanita yang ia kejar justru tiba-tiba mental dan ternyata karena tertabrak truk. Kejadian itu terjadi begitu cepat, tepat ketika Steffy yang kerap menoleh ke belakang, keluar dari area mal menuju jalan raya.


“Steffy ...?” lirih Kimi tak percaya.


Akibat kecelakaan yang menimpa Steffy, kemacetan menjadi tak terelakkan. Beberapa orang yang ada di sekitar sana langsung berdatangan, mengerumuni tubuh Steffy yang meringkuk di trotoar tengah jalan, dengan darah segar terus mengalir terutama dari kepalanya.


Meski dari jarak cukup jauh, sekitar enam meter, tetapi Kimi yang berdiri di seberang jalan, masih bisa melihat keadaan Steffy dengan jelas. Steffy terlihat sangat menyedihkan. Topi hitam yang sedari awal selalu digunakan untuk menutupi kepala berikut sebagian wajah, mental entah ke mana, hingga kesakitan terlihat begitu jelas di wajah wanita itu yang bibirnya saja sampai gemetaran. Dan selain kepala berikut wajah yang dihiasi darah segar, tangan berikut kaki wanita itu juga gemetaran.


Kimi merasa sangat bersalah sekaligus takut atas kenyataan itu. Ia merasa bertanggung jawab atas keadaan Steffy. Bahkan karenanya, tubuhnya sampai gemetaran seiring air matanya yang mengalir begitu saja.


Ketika Kimi akan melangkah menghampiri Steffy, seseorang dengan langkah tergesa, menabraknya dari belakang. Hal tersebut membuat tubuh Kimi terhuyung dan nyaris tersungkur. Beruntung, orang itu langsung menarik sebelah tangan Kimi.


Tubuh Kimi refleks balik badan dan menghadap si penabrak. Selain itu, Kimi juga refleks berpegangan pada kedua lengan si penabrak. Seorang pria. Tampan. Pria tersebut memiliki pandangan tenang. Saking tenangnya, hanya melihatnya saja langsung membuat hati Kimi menjadi terasa hangat. Tiba-tiba saja, Kimi menjadi merasa sangat tenang hanya karena tatapan mata si pria.


“Kamu baik-baik saja?” ucap si pria sambil memastikan Kimi dari ujung kepala hingga kaki. Ia memperlakukan Kimi dengan begitu sopan.


Kimi merasa ada benih-benih cinta berikut kebahagiaan yang detik itu juga tumbuh begitu cepat di dalam hatinya, terhadap pria di hadapannya. Bahkan ia lupa pada ketakutan yang sempat menghantuinya. Mengenai keadaan Steffy, berikut gangguan kecemasan berlebihan yang ia idap. Dan andai Franki tidak datang, menarik paksa Kimi untuk memastikan keadaan wanita itu, pasti Kimi masih terpaku pada wajah Steven--pria dengan gaya rapi yang memiliki tatapan hangat.


“Orang-orang bilang, tadi ada keributan di sekitar gaun yang kamu pilih, sedangkan keadaan di sana, sangat berantakan? Papa benar-benar cemas, takut kamu kenapa-kenapa?” sergah Franki masih menahan kedua bahu Kimi, tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.


Kimi mengangguk sambil mengulas senyum.


Steven yang masih di sana, menjadi terdiam ragu. Dan karena ponsel di tangan kanannya yang awalnya baru akan ia simpan ke saku celana hitam yang dikenakan kembali bergetar, ia pun memastikannya. Steven mendapati pesan WA dari Kainya yang menyebabkan ponselnya bergetar.


Kainya : Ada apa, Dok? Tadi, Dokter, telepon?


Steven menghela napas pelan sambil memipihkan bibirnya. Steven tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja, jantungnya menjadi berdegup tidak karuan hanya no karena membaca dan akan membalas pesan Kainya.


Kamu baik-baik saja? Seharian kemarin, kamu tidak mengabariku? Rekanku bilang, kamu sudah akan pulang? Apakah kamu yakin? Apakah benar, sudah baik-baik saja?

__ADS_1


Setelah mengirimkan pesan tersebut, fokus Steven kembali teralih pada kebersamaan Kimi dan Franki.


“Tadi Steffy tiba-tiba datang, dan dia mencoba menusukku, Pa! T-tapi sekarang,” ucap Kimi terhenti lantaran ia teringat betapa tragisnya kecelakaan yang menimpa Steffy dan itu melibatkannya.


Ketika Franki masih menyimak dengan serius, Steven langsung menerka-nerka, apakah Steffy yang dimaksud juga Steffy yang sama dan menjadi dalang dari penusukkan Kainya? Juga, Steffy yang statusnya telah menjadi buronan setelah semua kejahatan yang wanita itu lakukan?


“Kimi ... Kimi ... lihat Papa. Semuanya baik-baik saja,” bujuk Franki meyakinkan sambil terus menahan bahu Kimi yang perlahan turun.


Lantaran Kimi justru menjadi gemetaran dan terlihat menahan kecemasan luar biasa, bahkan Franki langsung berusaha menenangkannya, Steven pun menjadi ikut membantu.


“Jangan takut. Lawan ... pelan-pelan, tidak apa-apa,” sergah Steven sarat kesabaran sambil mengantongi ponselnya. Kendati demikian, kedua matanya berusaha menatap mata Kimi yang terus saja menunduk.


Franki menatap tak percaya sosok Steven. Awalnya hanya sekilas, tetapi karena tubuh Kimi yang gemetaran dan sempat merunduk, berangsur berdiri lagi, ia pun memberi pria muda itu kesempatan untuk membantu putrinya. Putri angkat dan baginya sudah seperti anak sendiri.


Steven menahan kedua bahu Kimi. Ia sengaja membungkuk demi menatap kedua mata wanita itu. “Semua yang kamu takutkan hanya sugesti. Jadi, ... lawan sugesti itu dengan sugesti baik. Pelan-pelan. Semua orang menyayangimu ....”


Ketika Kimi menjadi semakin membaik, Steven berangsur melepaskan wanita itu kepada Franki.


Franki merengkuh tubuh Kimi, sambil mematap Steven dengan penuh terima kasih. “Terima kasih, banyak, ya!”


Steven mengulas senyum. “Sama-sama, Pak. Jika memang terjadi seperti ini lagi, Bapak harus lebih sabar. Kalau tetap sulit di tenanhkan, bisa bawa ke tempat yang lebih tenang. Ketenangan selalu membuat orang melupakan beban pikirannya.”


“Ah, iya ... terima kasih banyak!” ucap Franki.


Cara berutur Steven yang sangat tertata, membuat Franki yakin, pria muda berparas ramah di hadapannya bukan pria biasa.


Steven mengulas senyum sambil mengangguk. “Sama-sama, Pak. Enggak apa-apa. Putri Bapak sangat istimewa. Kalau sudah saatnya, putri Bapak pasti akan baik-baik saja.” Kemudian ia menambahi. “Maaf saya pamit dulu. Permisi.”


Franki mengangguk dan masih terperangah melepas kepergian Steven. Pria muda itu menyeberang jalan, menghampiri suasana ramai dan Franki yakini karena baru saja terjadi kecelakaan. Ambulans berikut mobil polisi saja, tampak berdatangan.


Dengan mata dan kepalanya sendiri, Steven dibuat merinding tak percaya, sosok yang ia curigai sebagai Steffy penusuk Kainya, memang masih sosok yang sama. Wanita itu sudah tak sadarkan diri dan terlihat sangat mengenaskan. Seolah menerima ganjaran bahkan karma dari apa yang sudah wanita itu lakukan.


Bagi Steven, sebenarnya, alasan terkuat seseorang menjadi jahat itu karena sebuah obsesi. Obsesi yang tumbuh begitu kuat lantaran orang itu sudah tidak bisa menahan rasa sakit. Orang itu merasa sangat tertekan. Dan yang paling disayangkan, hal-hal yang membuat seseorang begitu terobsesi justru berasal dari faktor lingkungan tanpa terkecuali orang-orang terdekat.

__ADS_1


Selain itu, Steven juga yakin, Steffy memiliki alasan kuat, kenapa wanita itu begitu nekat, dan bahkan tega mengorbankan papanya sendiri? Bisa jadi, dan tidak menutup kemungkinan, orang-orang yang Steffy korbankan tanpa terkecuali papanya, merupakan faktor utama yang membuat wanita itu tertekan.


Bersambung ....


__ADS_2