Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 58 : Lamaran


__ADS_3

“Meski ke depannya akan ada banyak masalah yang menggoyahkan cinta kita, aku mohon, tetaplah di sisiku. Tetaplah percaya dan menjadi milikku!”


Bab 58 : Lamaran


****


Keinya keluar dari apartemen Yuan dengan wajah yang begitu tenang. Wajah tenang yang begitu sarat kebahagiaan.


Sesekali, jemari Keinya sibuk di atas layar ponsel yang menyala. Sambil terus berjalan meninggalkan lorong keberadaan apartemennya dan Yuan yang memang bersebelahan, langkah Keinya berhenti di hadapan lift di sana. Ketika denting tanda lift terbuka terdengar, Keinya segera mengantongi ponselnya ke dalam tas cukup besar yang menghiasi pundaknya kanannya.


Ketika Keinya baru balik badan sesaat setelah menekan tombol lift dan membuat pintu lift kembali menutup, tak lama setelah itu dan hanya berselang tak kurang dari tiga detik, seorang pria tiba-tiba saja membuat lift berhenti. Dan bukannya langsung masuk, pria tersebut justru tertegun menatap Keinya.


Ben—pria pengena kemeja lengan panjang warna hitam yang menahan lift keberadaan Keinya, nyaris kehilangan akal, tak bisa berkata-kata hanya karena tak sengaja melihat wajah cantik Keinya yang juga menatapnya dengan begitu teduh. Wajah cantik yang begitu minim rias kecuali lipstik merah muda yang menghiasi bibir tipis dan menegaskan kesan yang begitu segar sekaligus manis. Bahkan saking terpesonanya pada Keinya yang hanya mengenakan kaus lengan pendek warna putih dan celana jin panjang warna biru tua, Ben sampai memandangi wanita di hadapannya sambil tersenyum tulus.


Keinya yang menjadi ngeri pada cara pria di hadapannya dalam menatapnya berkata, “maaf, Anda jadi naik lift atau tidak?”


Ben terkesiap. “Sumpah! Baru kali ini aku lihat wanita sangat cantik meski nggak pakai rias atau pakaian berkelas!” batinnya yang kemudian berdeham. 


Ben tidak menjawab, hanya melangkah pelan dan berdiri persis di sebelah Keinya. Rasa ketertarikan yang begitu berkembang pesat, membuatnya selalu ingin menatap wanita di sebelahnya. Ben sengaja melihat kaca di sebelahnya di mana di situ, ia bisa dengan leluasa memperhatikan pantulan bayangan Keinya.


Keinya segera menjaga jarak dan menekan tombol tujuannya. “Kalau boleh tahu, tujuan Anda mau ke lantai berapa?”


“Ah?” lagi-lagi Ben terkesiap. Di tengah jantungnya yang menjadi berdegup kencang, ia kembali tak bisa berkata-kata. Yang ada, ia justru menatap Keinya sambil terus tersenyum.


Keinya menelan salivanya dan mulai waswas. “Anda mau ke mana?!” tanyanya cukup sewot.


“Kemana pun kamu pergi,” balas Ben tulus meski ia sempat kembali terkesiap hanya karena mendengar pertanyaan Keinya yang terdengar cukup membentak.


Keinya berdeham sambil memasang wajah galak. Keinya juga sengaja menjaga jarak meski tiba-tiba pria di sebelahnya juga berseru. “Astaga, bagaimana ini?”


Keinya sengaja abai.


Ben melirik heran Keinya. “Apakah wajah tampan berikut tubuh atletisku sama sekali tidak membuatnya tertarik?” batinnya. Rahangnya mengeras. “Aku harus mendapatkan wanita ini bagaimanapun caranya!” lanjutnya yang masih berbicara dalam hati. “Nona, apakah kamu bisa menolongku? Demi Tuhan, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu!” sergahnya bersandiwara dan sengaja memasang ekspresi serius sekaligus panik, meski wanita di sebelahnya juga menatapnya dengan risi. “Aku mohon, ini menyangkut hidup dan mati mamiku!”


Keinya refleks menelan salivanya. “Ya ya ya, katakanlah. Apa?” 


“Pria ini, terlihat sekali kalau dia sedang mengelabuhiku. Dia pikir aku akan tertipu?” cibir Keinya dalam hati.


Ben antusias dan tersenyum lepas. Ekspresi refleks atas rasa bahagia yang membuncah hanya karena mendapat balasan kesanggupan dari Keinya. 


Ben kembali bersandiwara dengan wajah yang kembali dipenuhi beban. “Aku benar-benar harus menghubungi mamiku. Dia sedang di rumah sakit dan tadi kami sempat telefonan, tapi ponselku mati kehabisan batre. Jadi, boleh pinjam ponselmu untuk menghubungi mamiku dan mengabarinya bahwa aku baik-baik saja?” ucap Ben yang kemudian berkata dalam hatinya, “Pasang wajah melas dan dapatlah nomornya! Untung ponselku hanya dalam modus getar. Jadi wanita cantik ini tidak akan curiga.”


Keinya berdeham. “Baiklah,” ucapnya sambil merogoh tasnya dan mencari-cari ponsel dari sana. Ponsel Yuan. Keinya memberikan ponsel Yuan dengan cuma-cuma sesaat setelah sampai ia buka sandi ponsel tersebut, hingga fotonya terpampang nyata lantaran Yuan memang menjadikan foto Keinya sebagai wallparper di ponsel pribadi.


Ben segera menerima ponsel dari Keinya dengan semangat. “Di foto sama aslinya, sama-sama cantik. Baiklah, secepatnya kita pasti foto berdua!” batinnya sangat yakin.


Ben segera menghubungi nomornya sendiri, di mana setelah ia merasa ponsel yang ia simpan di saku celana hitam yang dikenakan bergetar, setelah itu juga ia hanya pura-pura cemas padahal jauh di lubuk hatinya, ia bersorak girang.


Pintu lift telah terbuka, dan Keinya langsung menatap pria di sebelahnya.


Ben menatap Keinya dengan gusar sambil menghela napas cemas. “Mamiku rnggak angkat teleponnya,” sesalnya yang kemudian menggigit bibir bawahnya sambil mengembalikan ponsel pemberian Keinya. “Kalau begitu aku akan langsung menemui mamiku. Tapi sebelumnya aku benar-benar berterima kasih ke kamu. Oh, iya ....” 

__ADS_1


Ben segera merogoh saku sebelah keberadaan ponselnya dan mengeluarkan kartu nama dari sana yang langsung ia berikan pada Keinya. “Namaku Ben. Dan ini kartu namaku. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku,” ucapnya sesopan mungkin.


Keinya mengangguk. “Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot. Lagi pula teleponnya juga tidak nyambung, kan?”


Ben menepisnya sambil menggeleng. “Tidak ... tidak ... kamu wanita baik. Oh, iya. Panggil saya Ben saja supaya lebih akrab.”


Keinya mengangguk hambar. “Ya. Tapi maaf, saya sedang buru-buru.” Seulas senyum mengakhiri kebersamaannya dengan si pria. 


Keinya telah sampai di lantai dua apartemen keberadaannya, di mana di sana merupakan pusat perbelanjaan sekaligus hiburan. Ada wahana permainan selain bioskop dan restoran yang selalu ramai pengunjung. Sedangkan di sudut sana, di ruang tunggu depan wahana bermain, Yuan tengah duduk sambil memangku Pelangi. Tak beda dengannya, kedua orang yang begitu berharga dalam hidupnya itu juga mengenakan kaus pendek warna putih dan celana jin panjang warna biru tua.


Dari depan lift, Ben masih terpaku melepas kepergian Keinya yang bergegas melangkah menjejalkan diri di antara padatnya pengunjung pusat perbelanjaan di sana.


“Maaf, Tuan, saya terlambat. Tadi sebenarnya,” sergah seorang pria yang kiranya sepuluh tahun lebih tua dari Ben.


Pria yang mengenakan setelan jas hitam, memiliki tubuh lebih pendek dari Ben tersebut membungkuk-bungkuk kepada Ben, dengan kedua tangan yang bergandengan di depan perut.


Ben menanggapinya dengan malas. “Sudah ... sudah, lupakan saja.”


Wajah semringah berhias senyum lepas yang sedari tadi menyertainya hanya karena melihat Keinya, berubah menjadi ekspresi yang begitu dipenuhi rasa lelah.


Pria yang mengenakan setelan jas hitam dan merupakan ajudan Ben tersebut merasa cukup heran. “Tumben enggak marah-marah? Biasanya langsung semprot, meski hanya telat satu menit?” pikirnya. Saking penasaran dengan penyebab yang membuat Tuan-nya begitu fokus ke depan bahkan sampai terlihat sangat bahagia, ia pun memastikannya. Seorang wanita cantik dengan wajah yang begitu ia kenal.


“Itukan Nona Kainya. Anak dari Tuan Philips yang kemarin sempat Tuan tolak permintaan kerja samanya,” seloroh Kemal si ajudan Ben.


Ben terbengong-bengong tak percaya. “Apa kamu bilang? D-dia, Kainya anaknya Tuan Philips?” Ben memastikan sambil menatap Kemal penuh kepastian. 


Kemal mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana hitam yang dikenakan. Dengan gawai canggih tersebut, ia menjelajahi akun Instagram dan memasuki akun bernama Kainya Selena Liem. Di sana, foto-foto sosok yang begitu mirip dengan Keinya, terpampang begitu nyata.


Kemal kebingungan. “T-tapi, bukankah kerja sama yang tuan Philips ajukan, sudah Anda, tolak?”


Ben menoleh dan menatap tajam Kemal. “Kerjakan saja. Pastikan kerja sama dengan Tuan Philips sukses. Bila perlu, hari ini juga kamu harus bisa membuat Tuan Philips bekerja sama dengan kita. Saya tidak membutuhkan keluhan. Hubungi saya secepatnya, untuk kesuksesan kerjamu!”


Kemal mendengkus melepas kepergian Ben. “Orang itu ... kebiasaan. Kalau sudah punya kemaunan, harus langsung ‘der’!” rutuknya sebal.


“Kainya ... siapa pun kamu, aku akan segera mendapatkanmu!” gumam Ben sambil terus melangkah dan tersenyum penuh keyakinan.


****


Ketika Keinya mengenakan kaus bersablon tulisan ‘MAMA’ tepat di bagian tengah dada, Yuan mengenakan kaus dengan tulisan ‘PAPA’, sedangkan Pelangi mengenakan kaus dengan tulisan ‘KAKA’. Ketiganya terlihat sangat kompak hingga mata-mata yang melihat, selalu memandang iri.


Keinya dan Pelangi masuk di wahana mandi bola, sedangkan Yuan yang terjaga di luar bak mandi bola, dengan gesit mengabadikan kebersamaan Keinya dan Pelangi melalui bidik kamera ponselnya.


Keinya tersenyum pada Yuan. “Sini, ikut masuk,” sergahnya sambil mengulurkan sebelah tangannya.


Yuan memang sudah tidak mengenakan tripod meski langkahnya masih tertatih dan belum senormal biasanya. Jadi, ketika memasuki bak mandi bola demi menyanggupi permintaan Keinya, Yuan melakukannya dengan hati-hati. Di mana, Keinya juga membantunya jauh lebih hati-hati. Setelah itu, Yuan duduk persis di sebelah belakang Keinya. Ia mendekap Keinya dari belakang sedangkan Pelangi duduk dalam pangkuan Keinya. Satu, dua, tiga—mereka berujar, bersiap sambil terus menatap layar ponsel yang siap mengabadikan kebahagiaan mereka.


Yuan dan Keinya mengabadikan banyak kebersamaan mereka dan Pelangi. Penuh tawa lepas, benar-benar kebahagiaan tanpa batas.


*****


“Secepatnya, akan ada seragam berlabel ADIK yang ikut berkumpul bersama kita,” ujar Yuan sambil memandangi hasil foto kebersamaan mereka.

__ADS_1


Keinya yang awalnya akan menyuapi Yuan shusi menggunakan sumpit, menjadi tersipu dan buru-buru menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi wajahnya.


Yuan menertawakan ulah Keinya. “Ngie-ngie, lihat. Mamamu malu!” ia menuntun Pelangi yang ada dalam pangkuannya untuk melihat wajah Keinya.


Keinya menurunkan tangannya dari wajah. Ia mencoba mengendalikan senyum lepas yang sampai membuat wajahnya terasa panas sekaligus merah merona. “Makanlah,” ucapnya sesaat setelah berdeham sambil melanjutkan suapannya pada Yuan.


Yuan mengangguk sambil tersenyum dan sengaja menggoda Keinya.


“Yu, sudah ... jangan meledek terus,” rengek Keinya.


Dengan mulut yang masih penuh shusi, Yuan berusaha mengendalikan tawanya.


Ketika Keinya memunggungi Yuan untuk mengambil air mineral dingin berikut sedotan yang sudah terpasang, ia dikejutkan oleh kehadiran ajudannya yang datang sembari membawa buket besar cukup aneh.


Yuan tersenyum tulus, penuh cinta memandangi wajah Keinya. Wanitanya itu kebingungan menatap buket yang dibawa ajudannya. Kemudian, Yuan mengambil buket tersebut. Ia mengangsurkannya kepada Keinya yang seketika bergeming. Mata Keinya menjadi berkaca-kaca menatap tak percaya Yuan yang menatapnya penuh cinta.


“Ini lamaran. Tapi belum lamaran resmi,” ucap Yuan.


Keinya tersenyum menatap Yuan berikut buket besar yang pria itu berikan. Bersamaan dengan itu, air matanya luruh dan terus berlinang di tengah jantungnya berdegup sangat kencang.


“Karena wanita yang aku cintai begitu hobi masak, jadi aku memilih sayuran warna-warni ini ketimbang bunga, termasuk restoran ini.”


Kata ‘restoran ini’ yang Yuan maksud membuat Keinya bingung. Mereka memang sedang berada di sebuah restoran sepi karena hanya mereka termasuk kedua ajudan mereka saja yang menjadi pengunjung di sana. Namun, ketika Keinya menatap ke depan selaku papan label restoran, ‘Keinya Restaurant’ terpampang nyata dengan kali grafi yang begitu apik.


Yuan terus tersenyum memandangi keterpukauan Keinya.


“Ini berlebihan,” keluh Keinya.


Yuan menepisnya sambil meggeleng. “Dalam waktu dekat, akan segera diresmikan.”


“Yu ....”


“Tidak ada yang berlebihan kalau itu untukmu, karena semua yang aku perjuangkan juga untuk kebahagiaan kalian.”


Keinya berangsur mendekap tengkuk Yuan di tengah kenyataannya yang terisak-isak. Yuan terpejam dengan sebelah tangan mengelus punggung Keinya.


“Meski aku bukan pria pertama yang mengatakan ini, tetapi aku akan menjadi satu-satunya pria yang selalu mencintai sekaligus membahagiakanmu. Bahkan ketika raga ini tak lagi bernyawa, satu-satunya wanita yang kucintai, satu-satunya wanita yang selalu kurindukan hanyalah dirimu, Kei.” Yuan mengatakannya dengan sangat tulus. Pelan sekaligus lirih.


Tangis Keinya semakin tak terkendali. Tangis bahagia. Keinya terpejam pasrah sambil terisak-isak dan mengeratkan dekapannya.


“Meski ke depannya akan ada banyak masalah yang menggoyahkan cinta kita, aku mohon, tetaplah di sisiku. Tetaplah percaya dan menjadi milikku!” lanjut Yuan.


Ada desir perih yang seketika memilin ulu hati Keinya. Kenapa ucapan lanjutan Yuan seolah mengisyaratkan sebuah perpisahan? “Tidak ... tidak, Yuan akan memberiku segalanya dan dia tidak mungkin melepaskanku!” batin Keinya menepis kekhawatirannya.


Awalnya, hal yang paling Keinya takuti dalam kehidupan ini bukanlah ketika ia harus menghadapi kesedihan sekaligus luka bertubi layaknya apa yang ia lalui dan sampai membuatnya melepaskan Athan. Sebab kebahagiaan layaknya sekarang, justru jauh lebih membuat Keinya merasa takut. Ketakutan yang begitu menyiksa dan mengikisnya dengan banyak luka. Namun, setelah Keinya mengenal Yuan, yang Keinya takutkan hanyalah ketika Keinya justru bukan menjadi wanita yang dicintai pria itu.


Yuan mengakhiri dekapannya, menahan sebelah wajah Keinya sambil menyeka air mata di sana. “Ada hal serius yang ingin kukatakan kepadamu. Hal ini juga yang membuatku belum bisa melamarmu secara resmi.”


“Ha ...?” Jantung Keinya seolah melesak. Di mana tubuhnya juga tiba-tiba kebas. Hal yang membuat Yuan belum bisa melamarnya secara resmi? Apa itu? Apakah hal tersebut pula yang membuat Keinya merasa sangat takut? Takut jika ternyata Keinya tak lagi menjadi satu-satunya wanita yang Yuan cintai? Satu-satunya wanita yang selalu Yuan rindukan?


Yuan ... pria itu hanya mencintainya, kan? Pikir Keinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2