Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 60 : Kebersamaan


__ADS_3

“Kalau dekat berantem, kalau jauh saling kangen.”


Bab 60 : Kebersamaan


****


“Ada satu hal yang harus aku katakan. Ini tentang Yura dan Kimo.”


Ketika nama Kimo disebut disandingkan dengan nama Yura oleh Keinya yang terlihat begitu serius, Rara mulai menyimpulkan beberapa hal. Mengenai cara Yura bersikap padanya, juga, kenapa Kimo yang seharusnya akrab dengan Yura, justru terlihat sengaja menjauhi Yura. Belum lagi, Kimo tipikal keras yang kalau tidak suka, benar-benar tidak ada penawar.


“Sebenarnya Yura menyukai Kimo sejak lama. Bahkan selama dia di sini, dia sering meminta bantuanku untuk membantunya mendekati Kimo. Sedangkan Kimo justru memintaku membantunya mendekatimu. Bingung sendiri jadinya. Aku ke kamu, juga aku ke Yura. Di lain sisi, Yuan memintaku mengabaikan Yura, sedangkan itu tidak mungkin. Yura adik Yuan dan aku harus memperhatikannya lebih,” ucap Keinya dengan kedua tangan yang terus bergerak di depan tubuh. Ia benar-benar merasa serba salah sekaligus terbebani akan hal tersebut. Ia menyayangi Rara dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya, tetapi ia juga tidak mungkin mengabaikan Yura yang sudah ia anggap sebagai adiknya. Namun jika harus memilih, Keinya tidak akan bisa.


Rara menahan dan menggenggam kedua tangan Keinya yang terlihat sangat serba salah. “Aku enggak pernah meragukan kamu, Kei. Jangan menjadikan ini beban.” Seulas senyum ia berikan.


Keinya terpejam sambil mendengkus. “Tapi aku takut kamu salah paham. Aku enggak mau hubungan kita yang sudah sejauh ini, bahkan akhir-akhir ini aku merasa ada yang kurang gara-gara kamu enggak ada, jadi bermasalah karena salah paham.”


Rara tersenyum haru atas pengakuan Keinya. Pengakuan dipenuhi rasa takut atas ketulusan yang begitu besar.


“Ditinggal kamu sebentar saja, berasa ditinggal anak bertualang ke hutan, kamu sampai tersesat di sana, sedangkan aku enggak bisa apa-apa,” lanjut Keinya yang tiba-tiba saja merasa sangat sedih. Tak bisa ia bayangkan jika apa yang ia takutkan—hubungannya dan Rara bermasalah bahkan berakhir hanya karena salah paham mengenai cinta Yura pada Kimo.


Rara menggeleng. Kemudian ia mendekap tengkuk Keinya yang membuatnya cukup berjinjit. “Nggak ... nggak. Itu nggak mungkin terjadi. Kita saling percaya.”


Keinya mengangguk sambil membalas pelukan Rara. Benar, ia dan Rara berbeda dari persahabatan pada kebanyakan. Tentu, masalah semacam hadirnya Yura bukanlah masalah berarti untuk mereka.


“Ini ujianmu menghadapi ipar. Ada yang bilang, dari semua orang yang menyeramkan di dunia ini, kabarnya pihak ipar adalah yang paling menyeramkan.” Rasa tidak nyaman mulai menyerang Rara atas apa yang baru saja ia ucapkan. Apalagi bila ia mengingat posisinya—ibu yang selama ini ia ketahu sudah meninggal justru menjadi simpanan—istri muda pengusaha kaya. Tentu ini akan membuatnya sulit dalam menghadapi sekaligus mendapatkan pasangan ketika pihak dari pria yang ingin memperistrinya, mempermasalahkan status Rara. Belum lagi, Kimi adik Kimo juga bermasalah dengan Gio sekeluarga, termasuk mengenai Steffy, calon istri Kimo yang sempat direbut Gio. Semua masa lalu itu sungguh membuat keadaan Rara menjadi tidak mudah.


Sedangkan Keinya, bayang-bayang Kainya juga membuat perjalanan Keinya tidak mudah. Belum lagi, meski Yuan bisa melakukan semua untuknya, Kainya juga bisa melakukan hal tak terduga, sedangkan Keinya tidak mungkin berseteru dengan saudara sendiri. 


Semoga, baik Rara maupun dirinya bisa mendapatkan jalan terbaik.


***


Saat Yura meninggalkan Kimo, di waktu yang sama Yuan juga keluar dari apartemen. Yura yang sampai menangis langsung membuat Yuan khawatir, tapi ketika Yuan mendapati Kimo ada di hadapannya, kekhawatirannya sirna. Pun meski rona kecewa terpancar dari wajah adiknya.


“Kenapa sih, kamu enggak coba menjodohkan Yura saja?” keluh Kimo ketika pintu apartemen sudah ditutup sesaat Yura masuk.


Yuan menggeleng tak habis pikir. “Kalau kamu jadi Yura, kamu mau, dijodohkan di saat perasaan dan hati kamu sedang sakit-sakitnya?”

__ADS_1


Kimo berkecak pinggang sambil menghela napas dan tampak pasrah. “Memangnya enggak ada cara lain, ya?” Ia mendengkus. Bingung sendiri kalau sudah memikirkan Yura. “Bahkan gara-gara ini, aku jadi enggak enak kalau bertemu orang tuamu.”


Yuan meninggalkan Kimo dan siap membuka pintu apartemen Keinya. “Daripada memikirkan orang tuaku, mending kamu memikirkan Athan,” ucapnya sambil menekan sandi pintu apartemen Keinya.


“Lho, atas dasar apa? Athan kan mantan Keinya? Kenapa aku harus memikirkannya? Itu kan masalahmu.” Kimo terheran-heran. Apa gunanya memikirkan Athan, sedangkan masalah yang jauh lebih penting dan harus ia hadapi saja sudah memenuhi pundak berikut pikirannya?


Yuan balik badan. “Enggak salah?”


“Apanya yang enggak salah?” Kimo makin tidak mengerti. Jangan-jangan, ada rahasia besar menyangkut mantan suami Keinya dan itu berhubungan dengannya, sampai-sampai, Yuan terus menuntut kepastian?


Sambil menahan gagang pintu, Yuan berkata, “Athan itu ada rasa ke Rara. Jadi bersiap-siaplah!”


Kimo dibuat tak percaya atas apa yang baru saja Yuan katakan. “Dari mana kamu tahu itu?”


Yuan yang berhasil membuka pintu apartemen berkata, “bukankah aku memang selalu satu langkah lebih depan dari kamu?”


“Sttt!” Gigi Kimo bertautan kencang, ia nyaris mengejar Yuan, tapi pria itu buru-buru menutup pintu tanpa mengizinkannya masuk. “Yu, yang benar saja? Ini baru jam tujuh malam tapi kamu melarangku masuk?” protesnya dengan kedua tangan menahan pintu. “Selangkah lebih depan? Athan menyukai Rara? Berani-beraninya orang itu!”


Tak lama setelah Kimo menggerutu kesal, pintu dibuka dari dalam. Keinya menatapnya heran. “Kamu yang enggak mau masuk, apa justru Yuan yang jail?” tanya Keinya memastikan.


“Kamu yakin masih mau nikah sama dia?” balas Kimo menatap Keinya prihatin.


“Omong-omong, Rara pintar masak?” tanya Kimo sambil melewati Keinya yang masih menahan pintunya.


Keinya menahan senyumnya. “Masak air!” Susah payah ia menahan tawanya agar tidak pecah.


Kimo tertawa. “Benar-benar rekor. Enggak apa-apa. Biar aku yang di dapur daripada kami mati muda karena makan makanan beracun.”


Meski Rara bisa mengerjakan semuanya hal, tapi untuk urusan memasak, Rara memang masih payah.


“Aku dengar, lho. Yu, kamu benar, mending Kimo jangan boleh masuk,” protes Rara yang awalnya akan memastikan Kimo. Ia meninggalkan Kimo, dan sengaja bekerja sama dengan Yuan.


Yuan langsung tertawa merayakan kemenangannya, sedangkan Kimo merasa kecolongan. Ia segera menyusul Rara yang ia takuti akan dipengaruhi hal buruk oleh Yuan.


“Kan sudah aku bilang, carilah pria yang lebih mencintaimu berikut kekuranganmu. Lagi pula, Kimo itu kan pemarah, kenapa kamu mau sama dia?!” ujar Yuan sengaja mengeruhkan hubungan Kimo dan Rara.


Tak mau ketinggalan, Kimo pun kembali pada Keinya. “Kei, lihat, Yuan benar-benar enggak tahu diri. Kamu yakin masih mau sama dia, yang hobinya jadi kompor hubungan sahabatnya sendiri?”

__ADS_1


Keinya yang masih menahan tawa, menatap Rara dan dibalas pula oleh Rara. Tak lama setelah itu, keduanya kompak meninggalkan pria di sisi mereka. Kimo dan Yuan kebingungan, tetapi Keinya tiba-tiba berkata, “malam ini kalian dapat jatah masak buat makan malam.”


Kimo dan Yuan bengong dan refleks saling tatap.


“Mengenai web novel kita. Semuanya sudah siap,” ujar Keinya yang lebih dulu memasuki kamarnya disusul oleh Rara.


“Keren. Enggak sabar, aku, Kei!” Rara antusias.


“Kamu cari penulis yang sudah banyak pasukan, ya. Aku sudah menyiapkan syarat yang harus mereka penuhi berikut penawaran honor,” ucap Keinya yang tiba-tiba berhenti. Fokusnya kembali tercuri pada keheningan Yuan dan Kimo. Ia pun melongok ke arah dapur untuk memastikan. “Kok sepi, ya?”


Rara menahan tawanya. “Kita bahas ini di dapur sambil masak. Biar aku yang jaga Pelangi. Sudah, sana kamu ke dapur dulu.”


Rara mengambil Pelangi yang kebetulan baru bangun, sedangkan Keinya yang ke dapur lebih dulu, mendapati Yuan dan Kimo sedang berbagi tugas. Yuan mulai mengambil pisau dan talenan menyanding beberapa potongan besar ikan salmon, sedangkan Kimo mengeluarkan wortel, brokoli, juga beberapa bumbu seperti bawang bombai dan bawang putih, dari dalam kulkas.


“Memangnya hanya wanita yang bisa masak, kami para pria juga bisa selangkah lebih depan. Bukan begitu, Yu?” ujar Kimo sambil menutup pintu kulkasnya menggunakan kaki dikarenakan kedua tangannya sudah mendekap sayuran beserta bumbu.


“Jangan pamer di depan wanitaku. Lagi pula, kalimat selangkah lebih depan itu kalimatku. Kenapa kamu asal comot?” balas Yuan sambil membaluri ikan salmonnya dengan olive oil.


Kimo kalah telak terlebih Rara yang baru datang sambil mengemban Pelangi juga langsung menertawakannya.


“Yuan benar-benar enggak bisa diuntung. Rara lagi, pasangan durhaka!” gumam Kimo sebal.


Kimo melangkah loyo menuju wastafel di belakang Yuan dan sengaja mengupas sekaligus memotong brokoli berikut wortel yang ia bawa, di sana. Ia mengerjakannya dengan serius. Dan keseriusannya sedikit berkurang ketika Rara menghampirinya kemudian membantunya. Hatinya menjadi berdebar-debar di antara kebahagiaan yang membuatnya sangat berharap, kebersamaan kini akan terus berlangsung.


“Ngie-Ngie, lihat ... Papa masak salmon. Mau dimasak apa, ya? Pelangi mau makan salmon panggang? Apa ditim dikasih brokoli sama wortel?” ucap Yuan sengaja mengajak Pelangi mengobrol sambil menyalakan kompor yang sudah dihiasi wajan anti lengket untuk memanggang salmon.


Di belakang, Rara dan Kimo saling lirik, “Papa?” bisik keduanya mengulang panggilan yang Yuan ajarkan pada Pelangi. Tak lama setelah itu, Kimo dan Rara menjadi cekikikan sambil terus bekerja. Rara mulai membilas wortel beserta brokoli yang sudah dipotong, sedangkan Kimo mulai mengupas bawang putih.


Yuan melirik sebal kebersamaan Kimo dan Rara. “Manusia-manusia syirik!” cibirnya.


Mendapati itu, Keinya menggeleng sambil mengendalikan tawanya. “Kalau dekat berantem, kalau jauh saling kangen.”


“Tapi aku enggak pernah kangen sama Kimo,” lirih Yuan sambil menatap Keinya sungguh-sungguh.


Keinya mencebik, meragukan pengakuan Yuan.


“Jangan pernah tertipu dengan gaya Kimo yang cool. Kita taruhan, kalau Kimo memotong bawang bombai apalagi bawang merah, dia pasti menangis!”

__ADS_1


Perut Keinya terasa semakin sakit karena harus terus-terusan menahan tawa. Namun, ia bersyukur, bisa menghabiskan waktu bersama yang begitu dipenuhi warna layaknya kini. Ke depannya, Keinya berharap, kebersamaan layaknya kini akan lebih sering terjadi, meski mereka disibukkan dengan kehidupan masing-masing.


*****


__ADS_2