Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Selepas Perceraian Season 2 Bab 5 : Suasana Berbeda


__ADS_3

“Jika kamu memang menyayanginya, kenapa membuatnya menunggu lebih lama? Cinta dalam bentuk isyarat, nggak selalu bisa membuat yang bersangkutan peka. Kamu harus mengungkapkannya, Gi!”


Bab 5 : Suasana Berbeda


Kimo baru saja diantar ke ruang kerjanya oleh seorang OB. Di ruang kerja tersebut ada tujuh meja termasuk meja kerja milik Kimo. Jadi, ruang kerja berikut suasana di sana benar-benar baru bahkan asing. Bukan ruangan luas apalagi megah yang memiliki fasilitas elite dan bisa dinikmati sendiri seperti ketika Kimo menjabat sebagai direktur utama di perusahaannya. Melainkan ruang bersama yang bahkan tak bersekat dan di setiap mejanya disertai laptop.


Tak lama setelah Kimo mengamati ruang kerja berikut fasilitasnya dari sebelah meja kerjanya, belum juga sempat duduk, karyawan di dalam ruang kerjanya, sudah berbondong-bondong mendatanginya. Ada dua wanita, dan sisanya pria, di mana masing-masing dari mereka membawa map, dokumen, juga ada yang membawa tumpukan amplop berukuran besar. Suasana berbeda tersebut membuat perasaan Kimo menjadi tidak enak. Ia seolah menciu ketidakberesan dari cara rekan kerjanya menghampirinya.


“Hai, kamu karyawan baru, kan? Perkenalkan nama saya Sishi. Dan saya paling senior di sini. Oh, iya. Tolong kerjakan ini. Pastikan semuanya difotokopi masing-masing sebanyak 55 lembar,” ucap wanita bertubuh gendut yang mengenakan kacamata min sambil meletakan sebuah map mika berwarna putih yang cukup tebal. Dengan tatapan bengis, wanita berambut keriting sebahu itu meninggalkan Kimo.


Setelah wanita tersebut, ada satu wanita bertubuh tinggi kurus tetapi memiliki wajah yang jauh lebih tua berikut sikapnya yang sangat kemayu dan langsung membuat Kimo risi. Wanita itu menyerahkan setumpuk dokumen yang sampai membuat si wanita kewalahan membawa bahkan meletakannya. “Nama saya Tessa. Saya senior ke 2 di sini setelah Kak Sishi. Dan ini, tolong berikan kepada masing-masing yang sudah tertera di sampulnya, ya. Oh, iya. Kamu punya wajah dan tubuh yang seksi!”


Kimo bergidik ngeri, menatap si wanita bernama Tessa itu tak percaya lantaran wanita tersebut sampai mengedipkan sebelah mata bahkan memonyongkan bibir tipis bergincu merah menyala dengan gaya yang begitu genit padanya. Ia melepas kepergian Tessa yang melangkah melenggak-lenggokkan pantatnya yang jelas-jelas rata, tidak ada seksi-seksinya.


Jadi, ketika pria bertubuh ceking dan berkacamata menjadi orang yang akan memberi pekerjaan selanjutnya sembari membawa setumpuk amplop besar berwarna cokelat, Kimo menatap pria itu tajam. “Pekerjaan apa yang akan kamu berikan?!” tegasnya lirih.


Enam orang penghuni di ruangan itu menatap Kimo tak percaya sesaat setelah terlihat sama-sama terkejut.


“Cepat beri saya pekerjaan sebelum saya berubah pikiran dan justru mengacak-acak kalian!”


Sishi yang sudah duduk di kursi kerjanya yang berada di sudut ruangan, bangkit. “Heh, kamu ini karyawan baru tapi sudah sangat belagu! Bagus kami masih mau kasih kamu pekerjaan. Kalau kami nggak mau, kamu nggak bakalan bisa kerja di sini!” hardiknya.


“Kamu pikir, kamu bos bahkan pemilik perusahaan ini?!” balas Kimo masih meledak-ledak. “Jangan mentang-mentang saya karyawan baru, kalian yang merasa lebih senior bisa seenaknya bahkan melimpahkan pekerjaan kalian kepada saya!” Kimo berkecak pinggang. “Bekerja itu tidak memandang senior dan karyawan baru. Bekerja itu lebih mengutamakan kualitas!”


Keenam orang di sana apalagi Sishi, menjadi geram, menatap Kimo kesal. Kemudian mereka kompak menoleh dan menatap Sishi.


“Kalau begitu lebih baik kamu angkat kaki dari sini karena sebentar lagi saya akan memberi surat keterangan kepada atasan, kalau kamu tidak bisa diajak kerja sama. Kamu tidak becus bekerja!” ancam Sishi.


“Ulangi lagi, apa yang kamu ucapkan!” tegas Kimo dengan kekesalan membuncah.


***


Yura yang baru saja keluar dari lift di lantai gedung ruang kerjanya, tidak sengaja menoleh ke kanan sebelum lorong menuju ruangannya. Di sana, ia mendapati sosok Kimo yang langsung membuatnya teringat betapa sadisnya Kiara memperlakukan Rara. Bahkan karena hal tersebut, ia sampai bersyukur sudah berhenti mengejar cinta Kimo. Apa jadinya bila ia di posisi Rara bahkan ia menjadi menantu tak diharapkan oleh Kiara? Namun masalahnya kini, kenapa wajah Kimo terlihat sangat marah, sedangkan di hadapan pria itu, karyawan lain juga menatap pria itu dengan sengit? Dirasa Yura, suasana di sana sangat tidak kondusif. Mereka seolah sedang terlibat perselisihan.


Yura bergegas memastikan bahkan sampai berlari sembari mendekap beberapa mapnya lebih erat. “Kim-mo!” panggil Yura yang terpaksa berpegangan pada sebelah bahu Kimo yang awalnya tengah melangkah pelan mendekati keenam karyawan di hadapannya.


Ketika keenam karyawan di sana menjadi terkejut atas kehadiran Yura yang tiba-tiba, Kimo justru semakin geram menatap sengit tangan Yura.


“Yura, tolong jaga sikapmu. Karena membiarkan wanita lain menyentuhku sama saja melukai wanitaku,” lirih Kimo dan hanya bisa didengar Yura, di mana ia mengucapkannya tanpa menatap Yura sedikit pun.


Yura yang awalnya memperhatikan setiap wajah di sana dan terakhir memperhatikan wajah Kimo, segera mengakhiri tahanan tangannya terhadap pria itu.


“Ini ada apa? Kalian kenapa?” Yura masih harus mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


Keenam karyawan di sana saling lirik. Dan tak lama setelah itu, Sishi langsung berdeham. Sontak semua mata kecuali Kimo, langsung terarah pada wanita gendut tersebut.


“Karyawan baru ini tidak mau mendengar instruksi kami, Ibu Yura. Dan sepertinya, dia juga pemalas! Dia bahkan tidak memiliki pengalaman kerja!” cibir Sishi sembari menunduk layaknya kelima rekannya, kendati sesekali, ia juga akan melirik sinis pada Kimo selaku sosok yang mereka jadikan terdakwa.


Yura mengernyitkan dahi dan kebingungan.

__ADS_1


“Ini, alasan Yuan membuangku ke sini?!” tanya Kimo sambil menatap sebal Yura.


Keenam karyawan di sana refleks terkejut, menatap Kimo tak percaya lantaran berani-beraninya menyebut bos besar mereka tanpa status besarnya. Keenamnya saling lirik, termasuk memastikan ekspresi berikut tanggapan Yura yang justru terlihat baik-baik saja. Kenapa Yura tidak menegur apalagi memarahi Kimo, padahal selain atasan mereka, Yura juga merupakan adik tunggal bos besar mereka?


“Sebenarnya, apa yang membuatmu terlihat begitu tidak nyaman?” tanya Yura lirih mencemaskan Kimo.


Keenam karyawan di sana makin tidak mengerti. Tetapi mereka jadi bertanya-tanya, siapa Kimo sebenarnya selaku karyawan baru dalam tim mereka yang justru terkesan sangat dijaga oleh Yura atasan mereka? Jangan-jangan, justru mereka yang salah? Mereka telah salah berurusan dengan orang yang sebenarnya orang penting? Jangan-jangan, Kimo bukan orang biasa yang bisa ditindas layaknya apa yang selama ini selalu mereka lakukan pada karyawan baru?


“Ya sudah, semuanya kembalilah bekerja.” Yura mengambil tindakan. Setelah keenam karyawan di sana pamit sambil membungkuk kemudian duduk di tempat kerja masing-masing, fokusnya kembali pada Kimo. Ia menghadap dan menatap pria itu. “Kimo, hari ini kamu ikut aku. Kita ada pertemuan dengan pihak klien untuk proyek baru dan Kak Yuan memintaku menyerahkannya ke kamu.”


Kimo menghela napas kemudian mengangguk. “Ambil pekerjaan kalian dari mejaku kemudian kerjakanlah. Jika dalam tiga hari ini, kalian tidak menunjukkan kinerja kalian, saya terpaksa merombak tim ini,” tegasnya.


Yura berdeham dan mengambil alih. “Mulai hari ini, Pak Kimo akan memimpin kalian. Beliau orang kepercayaan Bos Besar dan sudah sangat berpengalaman meski usianya masih terbilang muda.”


Bak tersambar petir di siang bolong, itulah pengakuan Yura dan langsung membuat keenam karyawan yang tadi sempat semena-mena kepada Kimo, menatap takut pria berwajah jutek di hadapan mereka.


***


Kimo dan Yura sudah terduduk menunggu ketika Gio tiba-tiba datang dan menyapa mereka. Di mana ternyata, kerja sama kali ini juga menjadikan mantan kekasih Rara itu sebagai bagiannya. Meski ketika dengan Yura, Gio terlihat biasa-biasa saja, tetapi ketika menjabat tangan Kimo, kedua pria itu menjadi canggung.


“Ayolah, jangan mencampurkan urusan pribadi dalam pekerjaan,” tegur Yura berusaha memecahkan ketidaknyamanan dalam kebersamaan mereka lantaran baik Kimo maupun Gio terus saja bungkam bahkan saling lirik pun tidak.


Kimo dan Gio masih saja diam. Hanya saja, ketika seseorang menghampiri mereka dengan tergesa, suasana tidak nyaman juga menjadi undur dari Gio. Ada gugup yang membuat pria itu tegang ketika Kainya hadir bahkan duduk di sebelahnya.


Yura dan Kimo refleks berkode mata sebelum kembali menatap kebersamaan Kainya dan Gio.


Kainya dan Gio refleks celingukan.


“Apanya yang kenapa?” ujar Kainya berusaha baik-baik saja meski pada kenyataannya, berada dalam satu tempat bahkan sampai duduk bersebelahan dengan Gio, sangat membuatnya tegang.


“Mengenai kerja sama ini, papi menyerahkan sepenuhnya kepadaku,” ucap Kainya masih berusaha keras melawan ketegangan yang bahkan sampai membuatnya gugup apalagi jika harus menatap bahkan sekadar melirik Gio.


“Ini benar-benar kerja sama yang menarik!” tukas Ben yang kebetulan baru saja tiba bahkan tak segan meletakkan kedua tangannya di bahu Kainya. Ia menahan kedua bahu itu dengan mesra walau sebelah tangannya meneteng tas kerja, berikut yang bersangkutan juga terus berusaha mengenyahkan tahanannya.


Kainya menghela napas lelah, merasa risi dengan kehadiran Ben yang hingga detik ini masih saja mengejarnya bahkan tak ragu melakukan sikap agresif di depan umum. “Kenapa orang ini harus di sini?” keluhnya lirih. Telunjuk kanannya menggaruk asal kepalanya.


Gio menatap risi kelakuan Ben yang tak segan bersikap romantis pada Kainya yang jelas-jelas selalu menolak. “Cepat duduk jangan mengulur-ngulur waktu!” cibirnya sembari melirik sinis yang bersangkutan.


Lagi-lagi Kimo dan Yura berkode mata. Kimo menggeleng tak habis pikir, sedangkan Yura sampai menahan tawa. Sungguh kerja sama yang dipenuhi romantika bahkan drama. Namun mereka masih meragukan ketulusan Ben yang mereka curigai hanya memanfaatkan Kainya.


Ben melirik sengit Gio sembari melangkah menuju kursi yang tersisa di antara Kimo dan Gio, sedangkan Kainya menjadi menghela napas lega melepas kepergian Ben darinya.


“Benar-benar kerja sama yang sangat menarik!” Yura berbisik pada Kimo sembari mendekat, sedangkan Kimo langsung menjauh.


“Besok aku akan menikah, jadi jangan dekat-dekat apalagi menggodaku. Bagiku tidak ada yang lebih menarik selain istriku!” keluh Kimo yang lagi-lagi menunjukkan sikap risinya di setiap Yura mendekatinya.


Yura merengut kesal. “Nggak usah gede rasa kenapa, sih? Siapa juga yang masih ngarep ke kamu? Biasa saja! Lagi pula sekarang ini, aku atasanmu!” omelnya lirih.


“Baiklah, kita mulai rapatnya!” sergah Ben dengan tatapan penuh senyumnya yang berhenti pada Kainya.

__ADS_1


Kainya menghela napas dan segera menepis tatapan genit Ben, sedangkan Gio yang berusaha tenang, diam-diam memperhatikan Kainya dan Ben. Ia memastikan setiap reaksi Kainya ketika Ben menggoda sekaligus menuangkan perhatian kepada kembaran Keinya itu.


***


“Tadi kamu ke sini diantar sopir, kan? Aku sudah izin ke papimu untuk mengajakmu makan siang,” ujar Ben ketika rapat baru saja selesai.


Kainya melirik Gio penuh harap.


“Kainya sudah ada janji dengan Gio, Ben,” saut Kimo yang sedang menulis pesan WhatsApp untuk Rara tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya. “Mending kamu sama Yura saja. Dia masih jomlo.”


“Lho, kok aku dibawa-bawa, sih?” elak Yura mulai kesal pada Kimo dan menjadi tidak enak hati pada Ben. Ia takut, Ben jadi berpikir macam-macam padanya apalagi sampai mengiranya benar-benar berharap, padahal Yura tidak tahu-menahu mengenai Ben.


Suasana canggung mulai menyelimuti kebersamaan tanpa terkecuali Yura. Benar-benar suasana berbeda dari suasana kerja pada umumnya lantaran kali ini, pekerjaan mereka turut dibubuhi romantika asmara.


“Oh, iya. Karena kalian bukan orang lain untukku, kalau ada waktu, besok sore aku dan Rara akan menikah. Sepulang kerja, datanglah ke apartemen Keinya. Memang tidak ada pesta, tetapi akan ada syukuran kecil-kecilan.” Kimo mengantongi ponselnya pada saku samping celananya.


“Itu terdengar sangat romantis!” puji Kainya yang terlihat sangat antusias dan disambut dengan seulas senyum oleh Kimo.


“Datanglah. Rara pasti akan sangat senang jika kamu menemaninya,” ucap Kimo.


Gio dan Ben refleks menjadikan Kainya fokus perhatian. Keduanya menatap wanita itu dengan seulas senyum. Berbeda dengan Kainya yang begitu bahagia menyambut ajakan berikut kabar bahagia dari Kimo, Yura justru menjadi tertunduk sedih karena teringat perlakuan sadis Kiara pada Rara.


Kainya mengangguk di tengah keantusiasannya. “He’um! Besok aku dan mami akan fokus ke pernikahan kalian!” Ketika satu-persatu dari kami menikah, aku kapan? Ya Tuhan, kenapa suasana berbeda seperti ini sampai menghantuiku? Bukankah aku sendiri yang memutuskan untuk menutup hati dan menjauhi rasa bernama cinta? Tiba-tiba saja, Kainya merasa begitu nelangsa.


“Aku juga akan datang!” timpal Ben tak kalah antusias. “Kalau memungkinkan, aku akan datang bersama rombongan Kainya dan maminya,” ucapnya sembari menatap mesra Kainya.


Kimo membalasnya dengan anggukan. “Terima kasih.” Kemudian tak beda dengan Kainya, ia juga melirik Gio yang justru menjadi bergeming. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan.


Bukannya memberi tanggapan mengenai kabar baik yang Kimo sampaikan, Gio justru seolah tidak tertarik dengan pembahasan itu.


“Kalau begitu, pertemuan kita sampai sini dulu. Empat hari lagi kita bertemu di waktu dan tempat yang sama.” Kimo berangsur beranjak.


Semuanya berangsur beranjak dari duduk mereka layaknya apa yang Kimo lakukan.


“Baiklah, sampai jumpa besok,” ucap Kainya sambil tersenyum kemudian berlalu, di mana Ben langsung bergegas menyusul.


“Sampai jumpa besok!” pamit Ben yang kemudian fokus mengejar Kainya.


Kini giliran Yura dan Kimo yang memerhatikan Gio. Gio menatap kepergian Kainya dan Ben dengan tatapan hampa.


“Jika kamu memang menyayanginya, kenapa membuatnya menunggu lebih lama? Cinta dalam bentuk isyarat, nggak selalu bisa membuat yang bersangkutan peka. Kamu harus mengungkapkannya, Gi!” tegur Kimo gemas pada Gio yang terus saja berpura-pura tak peduli pada Kainya, padahal dari cara menatap saja, Gio terlihat jelas sangat mengharapkan Kainya.


Gio menggeragap. “A-apa, maksudmu?!” elaknya gugup. Apakah aku terlihat begitu tertarik pada Kainya? Dengan suasana berbeda ini, apakah ini yang dinamakan suka bahkan cinta?


Yura terdiam memandangi Kimo. Meski watak dan tampangnya keras, tetapi Kimo memiliki jiwa yang begitu romantis.


***


Catatan dari Author : Buat yang baca, tolong jangan pelit jejak kalian, ya. Sedih banget lihat cerita makin sepi padahal pembaca makin banyak bahkan Author juga selalu berusaha update tepat waktu dan sebisa mungkin kasih yang terbaik T_T

__ADS_1


__ADS_2