Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 78 : Menghapus Masa Lalu


__ADS_3

“Kita hanya bisa memperbaiki masa lalu tanpa bisa menghapusnya.”


Season 2 Bab 78 : Menghapus Masa Lalu


“Bukankah ... kamu juga pernah ada di posisi Steffy? ... kamu juga pernah berusaha membunuh Yuan Fahreza dengan cara menabrak mobil pria itu setelah kamu juga sempat merusak rem mobilnya?” Intan menatap Kainya dengan senyum sarat kemenangan.


Kainya tahu, di dunia ini hanya ada dua hal yang benar-benar pasti. Hal tersebut adalah tua dan mati. Kenyataan yang pasti akan selalu menyertai kehidupan tanpa bisa dihindari. Sedangkan mengenai masa lalu tidak mungkin bisa dihapus. Semua orang termasuk dirinya tidak mungkin bisa menghapus masa lalu karena masa lalu hanya bisa diperbaiki di masa yang akan dijalani. Lantas, apakah maksud Intan kali ini, sedang mencoba melakukan balas dendam kepadanya? Intan terlihat jelas menyerang tanpa basa-basi. Atau jangan-jangan, Intan memiliki maksud terselubung atas keadaan sekarang? Kainya menjadi waswas. Ia merasa khawatir pada Intan yang sepertinya tidak jauh berbeda dari Steffy. Keduanya tak ubahnya pembunuh berdarah dingin!


“Apakah, ... aku, ... boleh melanjutkan kasus itu? Itu juga percobaan pembunuhan berencana, kan?” lanjut Intan.


Pernyataan lanjutan Intan, sukses membuat Kainya tak hanya kebas, melainkan gemetaran. Rasa takut langsung menyerang Kainya detik itu juga. Bahkan Kainya yang tidak bisa menghalaunya sampai nyaris menangis. Karena kedua matanya yang terasa panas juga dirasanya sudah sampai basah.


Bagi Daniel, wanita paruh baya tak tahu diri di hadapan mereka, sedang melayangkan perang. Intan sengaja balas dendam dan berusaha menghancurkan semuanya. Terlepas dari itu, Daniel yakin, Intan sudah mengulik, mengetahui semua informasi tentang mereka. Nyatanya, Intan sampai mengetahui perihal asal-usul Daniel berikut masa lalu Kainya kepada Yuan yang sudah ditutup rapat-rapat.


“Apa bedanya kamu dengan Steffy? Hanya karena kamu jauh lebih beruntung, Yuan menutup kasus itu, kan?” Intan benar-benar menikmati ketakutan yang seketika itu menyerang Kainya berikut Daniel. Ya, ... Kainya dan Daniel terlihat sangat ketakutan, tetapi keduanya jelas berusaha menghalaunya.


“Jika kasus itu sampai dilanjutkan,” lanjut Intan sambil meletakkan sebelah kakinya di atas lututnya. Ia sengaja bersikap sesantai mungkin sambil beruusaha memancing emosi kedua orang di hadapannya.


“Jika memang sudah tidak ada urusan, pergilah. Anda masih ingat di mana letak pintu untuk keluar, kan?” tegas Kainya mengambil sikap. Ia berlalu sambil menyimpan rapat-rapat kecemasan sekaligus ketakutan yang juga sukses membuat luka lama kembali menyerangnya.


“Pergilah! Jangan mencari masalah dengan kami!” Daniel menggeleng tak habis pikir di antara keresahannya, sedangkan Intan masih duduk di sofa tanpa tahu diri. Wanita itu jelas mengincar Kainya.


Kainya nyaris meninggalkan ruang kebersamaan, baru akan menginjakkan kaki melewati pintu yang gagangnya sampai ia tahan dan Kainya jelas akan menutup pintu.


Intan berdeham keras tanpa mengurangi senyum kemenangannya. “Jika keluarga kekasihmu tahu, apakah kamu yakin, mereka masih mau menerimamu?” seru Intan sengaja mengancam.


Kainya yang sempat refleks berhenti memang ingin membalas bahkan mencabik-cabik Intan. Hanya saja, Kainya sadar, Intan sengaja memancingnya melakukan perbuatan kasar agar hal tersebut bisa digunakan sebagai bukti untuk kepentingan Intan.


“Daniel, masuk. Jangan berurusan dengan orang seperti dia!” tegas Kainya tanpa mengalihkan tatapannya. Ia masih menatap lurus ke depan di antara amarah yang tidak bisa ditahan.


“Tapi, Kak, Kai, ... wanita ini!” tahan Daniel yang sudah sangat emosi.


Kainya berangsur balik badan. Ia menatap Daniel sarat kecemasan sekaligus peringatan. Melalui gerakan wajah, ia meminta, menuntun Daniel untuk menunaikan perintahnya. Kainya berharap Daniel masuk dan meninggalkan Intan. Namun karena pria muda itu tetap diam dan bahkan seolah akan membalas Intan, Kainya terpaksa kembali dan menarik Daniel untuk mengikutinya.


Kainya membawa paksa Daniel meninggalkan Intan lengkap dengan menutup sekaligus mengunci pintunya. Kainya membawa Daniel ke tengah-trngah ruang keluarga yang luas, agar benar-benar jauh dari Intan. Kainya takut, Intan yang ia kunci di ruang tamu sampai menguping.


“Kenapa Kakak enggak melawan? Dia sudah keterlaluan, Kak!” tuntut Daniel tegas.


“Apakah kamu enggak sadar, dia sengaja memancing kita untuk sampai melakukan kekerasan agar bisa dijadikan bukti?” Kainya berusaha meyakinkan Daniel.


Daniel bungkam tanpa bisa benar-benar mengontrol emosi sekaligus kekesalannya. Baginya, perihal Intan yang sedang memancing mereka memang masuk akal. Namun, akankah mereka hanya diam?

__ADS_1


“Jadi, apa yang harus kita lakukan? Tak mungkin kita hanya diam, kan? Kita juga harus segera bertindak!” ucap Daniel kemudian.


Sayangnya, Kainya sudah telanjur termakan pancingan Intan. Perihal kejahatannya di masa lalu dan digunakan wanita itu untuk menjebloskan Kainya ke penjara. Juga, perihal hubungan Kainya dan Steven yang pastinya akan terancam.


“Jika masa lalu bisa dihapus ... sayang, kita hanya bisa memperbaiki masa lalu tanpa bisa menghapusnya.” Kainya tertunduk sedih.


Hati Daniel menjadi terenyuh melihat Kainya yang terlihat sangat sedih layaknya sekarang. “Kak, Kai ... semuanya oke! Kak Kai, enggak usah berpikir macam-macam!” Ia meraih kedua bahu Kainya. Ia berusaha meyakinkan wanita itu, tetapi Kainya yang bahkan sampai berderai air mata kebingungan, justru menggeleng dan menepisnya.


“Benar kata tente Intan ... aku dan Steffy sama saja. Aku hanya lebih beruntung karena Yuan mau menutup kasusnya lebih cepat. Karena bila saja Yuan tidak bergerak cepat, ... aku juga bernasib sama dengab Steffy!”


Daniel menggeleng tegas. “Enggak, Kak, Kai! Kakak sangat berbeda dengan Steffy! Bahkan Kakak sudah berusaha memperbaiki masa lalu. Kakak wanita baik. Kakak bahkan rela berkorban untuk kebahagiaan banyak orang!”


Balasan Daniel cukup bisa membuat Kainya merasa tenang. “Lalu ... lalu, bagaimana dengan keluarga Steven? Bagaimana jika mereka tidak bisa menerima masa laluku?” tanya Kainya benar-benar bingung.


Bagi Kainya, ia sudah merasa cocok, nyaman dengan Steven. Namun, membayangkan masa lalunya yang akan menghalangi hubungan mereka, Kainya benar-benar bingung. Andai saja ada yang bisa membantunya menghapus masa lalu, Kainya benar-benar akan berterima kasih. Kainya bahkan siap jika harus membayar dengan nominal yang tidak sedikit.


“Kenapa? ... di saat aku benar-benar berusaha berubah, ... di saat aku menemukan orang yang benar-benar mencintaiku bahkan aku juga mencintainya, selalu saja ada yang menghalangi bahkan itu justru dari diriku sendiri!” Kainya terisak-isak sambil tertunduk sedih.


Daniel benar-benar tak kuasa melihat Kainya yang sekarang. Kainya terlihat sangat menyedihkan. Wanita itu terlihat sangat terpuruk, trauma dengan masa lalunya. Ia merengkuh tubuh Kainya dengan sangat erat.


“Percayalah, Kak! Jika Steven benar-benar mencintaimu, jika Steven memang jodohmu, dia pasti juga akan mencintai kekuranganmu! Dan jika memang Steven tidak bisa melakukan semua itu, ... berarti dia memang tida pantas mendapatkanmu!” tegas Daniel.


***


Keinya baru saja kembali ke kamar setelah selesai membuat sarapan, ketika ia mendapati beberapa pesan WA di ponselnya, dan dua di antaranya merupakan pesan WA dari Athan.


Athan meminta bertemu Pelangi, tetapi hal tersebut langsung membuat Keinya merasa tidak nyaman. Keinya bahkan menjadi duduk gelisah di tepi kasur dan sukses mengusik perhatian Yuan yang baru datang.


“Kenapa, Kei?” tanya Yuan cemas lantaran baginya, gerak-gerik Keinya cukup mencurigakan.


“Athan minta bertemu Pelangi, Yu,” balas Keinya tanpa bisa menyembunyikan keresahannya.


Yuan berangsur bersimpuh di hadapan Keinya. Ia tak lantas berkomentar, dan justru menatap cemas wajah istrinya. Dan kenyataan tersebut justru semakin menambah kecemasan Keinya. Sebab Keinya tahu, Yuan pasti akan membujuknya, memberi Athan kesempatan bertemu Pelangi. Sedangkan di masa lalu, Athan begitu keji kepada Keinya maupun Pelangi.


“Setelah semua yang kita dapat dari Tuhan, kita enggak boleh egois, Kei. Tuhan sudah kasih kita segalanya. Pelangi bahkan sekarang di perutmu juga ada lagi. Kita akan punya anak lagi,” jelas Yuan yang belum selesai berbicara lantaran Keinya langsung menahannya.


“Jadi maksudmu, mentang-mentang aku sedang hamil lagi, kamu mau melepas Pelangi ke Athan? Kamu mau mengenyampingkan Pelangi, Yu?” ucap Keinya kecewa.


Yuan menggeleng tegas sambil terus menatap serius Keinya. “Sama sekali tidak. Aku hanya berusaha adil. Adil kepada Pelangi, juga Athan yang memang ayahnya, Kei.”


“Yu!”

__ADS_1


“Athan ayah Pelangi, dan Pelangi anak Athan, Kei! Semua orang termasuk kita tidak mungkin bisa menghapus masa lalu karena masa lalu hanya bisa diperbaiki di masa yang akan dijalani! Beri Athan dan Pelangi kesempatan. Kita sama-sama menemani Pelangi, tidak akan melepas begitu saja.”


Meski Keinya tidak menyalahkan apa yang Yuan katakan, tetapi mengenai Athan, bahkan membiarkan pria itu bertemu apalagi dekat dengan Pelangi, ... rasanya, ... Keinya masih belum bisa.


“Kei ...?” panggil Yuan memohon sambil mengguncang pelan kedua lutut Keinya.


Keinya tertunduk sedih dan bakan nyaris menangis. Namun Yuan tidak menyerah. Ia sampai membungkuk sedemikian rupa demi bisa menatap wajah Keinya.


“Kei, ... Kei, lihat aku. Tatap aku. ... kamu tahu, istri itu ibarat cerminan dari suami? Kalau kamu bahagia dan bisa ikhlas, berarti aku berhasil menjalankan kewajibanku sebagai suami. Tapi kalau kamu kayak gini ...?”


Bujuk rayu Yuan sukses membuat hati Keinya terenyuh. Keinya benar-benar nelangsa sekaligus merasa bersalah dibuatnya.


Masa lalu memang tidak bisa dihapus dan hanya bisa diperbaiki di masa yang akan dijalani. Bahkan Keinya saja tidak bisa menghapus masa lalunya sendiri khususnya masa lalu bersama Athan yang sangat tidak Keinya harapkan. Sedangkan jika Yuan sampai memohon layaknya sekarang, Keinya juga merasa sangat bersalah bahkan merasa tak tahu diri.


“Yu, maaf ....” Tangis Keinya pecah. Ia benar-benar memohon, meminta maaf kepada suaminya.


Yuan menopang wajah Keinya menggunakan kedua tangannya. “Iya. Kita sama-sama mengawasi tumbuh kembang Pelangi.”


“Iya.” Keinya mengangguk setuju sambil menyeka air matanya menggunakan kedua tangan.


“Seharusnya Athan sudah berubah dan belajar dari masa lalunya,” lanjut Yuan.


“Semoga saja memang begitu!” balas Keinya sangat berharap.


Yuan berangsur bangkit, duduk di sebelah Keinya kemudian merengkuh tubuh wanitanya. “Satu lagi, ingat, kamu lagi hamil. Jangan membenci berlebihan. Nanti kalau anak kita justru lebih mirip yang kamu benci, bagaimana?” lanjutnya dan sengaja menggoda Keinya.


“Ih ... amit-amit, Yu!” keluh Keinya yang menjadi sibuk mengelus perutnya menggunakan kedua tangan.


Tak terbayang oleh Keinya, kalau anak yang sedang ia kandung justru mirip Athan. Iya kalau kecerdasannya yang mirip, kalau sifat buruknya?


“Ya sudah. Bilang ke Athan dan atur jadwal pertemuan. Setelah itu, kamu dan Pelangi mandi. Dandanlah secantik mungkin.”


Bersambung ....


Selamat sore malam sabtu, yaaa. Duh, Yuan. Kalau ada mesin potocopy orang, ada yang mau juga, punya suami macam Yuan?


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya ....


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2