Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 57 : Tak Lagi Sama (Revisi)


__ADS_3

“Meski kita berada di bawah langit yang sama. Kita begitu dekat. Bahkan aku masih bisa menggenggam tanganmu dengan hangat. Namun, semuanya tak lagi sama. Kamu bukanlah milikku yang akan memberikan semuanya.”


Bab 57 : Tak Lagi Sama


****


Hati Kimo terasa begitu perih. Seolah banyak sembilu yang sibuk menyayat di sana, hanya karena ia teringat tatapan takut Rara yang begitu memohon padanya ketika wanita itu dibawa paksa oleh Gio. 


Dirasa Kimo, ada yang berbeda dari cara Rara menatapnya. Mungkin karena wanita yang selalu pura-pura serba bisa dan menjadikan keceriaan sebagai tameng itu sadar, Gio yang sekarang bukanlah Gio yang dulu, Gio yang Rara kenal. Bahkan meski Gio sampai menegaskan, meski awalnya pria itu hanya mempermainkan Rara, Gio justru benar-benar tulus bahkan masih sangat mencintai Rara hingga detik ini. 


Gio sedang berada di titik emosi paling buruk. Bagaimana jika Gio nekat melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan akan semakin melukai Rara? Karena rasa sakit hatinya saja, Gio nekat menjadikan Rara pelampiasan—tentang cintanya pada Keinya yang bertepuk sebelah tangan, juga Piera yang justru menjadi duri rumah tangga orang tua Gio. Bukankah cara Gio melampiaskan semua lukanya kepada Rara sudah cukup membuktikan, pria itu berbahaya? Memikirkan itu, Kimo menjadi hilang arah. Membayangkan semua kemungkinan buruk yang terus meracuni pikirannya membuatnya sulit untuk berpikir. Apalagi, Gio melajukan mobil dengan sangat cepat dan naasnya, Kimo sampai kehilangan jejak.


“Arggg!” Kimo menghantam setir kemudinya dengan emosi yang meluap hingga tombol klakson yang tepat ia kenai membuat suasana sekitar menjadi pekak.


Beberapa penghuni jalan yang akan melalui keberadaan mobil Kimo langsung menekan klakson mereka hingga suasana menjadi semakin riuh. Hal tersebut terjadi karena Kimo sampai menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba hingga pengemudi di belakangnya nyaris terlibat tabrakan beruntut lantaran harus tiba-tiba mengerem laju mobil.


Deretan kata makian menghampiri Kimo. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sampai keluar dari mobil untuk menggedor sekaligus memberi Kimo peringatan keras. Akan tetapi, Kimo tak peduli dan memang tidak mengindahkan mereka. Kimo masih hanyut dalam pemikirannya yang masih dibingungkan harus mencari Rara ke mana? Karena pada kenyataannya, meski Kimo memang mencintai Rara, cintanya tidak bisa membuatnya langsung menemukan Rara, walau di luar sana banyak orang percaya, cinta akan menuntun kita ke arah mana kita harus kembali.


****


Meski pria yang ada di sebelahnya memang Gio, pria yang sempat mengisi sekaligus menemaninya menghabiskan waktu selama lima tahun terakhir, bagi Rara, pria yang mengendalikan kemudi di sebelahnya bukan Gio yang Rara kenal. Pria di sebelahnya adalah pria yang masih mengedepankan perasaan, kekecewaan sekaligus emosi yang membuat Gio begitu menjadi pribadi pendendam. Hal tersebut pula yang membuat Rara terjaga, selain Rara yang susah payah diam, seolah-olah, semuanya baik-baik saja. Padahal jauh di lubuk hatinya, Rara yang sampai berkeringat dingin sudah sangat ketakutan. Rara takut, Gio nekat dan melakukan tindakan fatal.


Gio terus mengemudi bahkan sampai keluar dari Jakarta. Awalnya Rara berpikir Gio hanya akan membawanya paling jauh ke sekitar Bogor atau Bandung. Namun ternyata Gio justru sampai membawanya putar balik kembali memasuki tol menuju Jakarta. Benar-benar tidak ada kerjaan.


Rara sudah mulai merasa lelah dan sedikit mengantuk ketika Gio menepikan mobil di depan sebuah rumah. Entah sekarang mereka ada di mana? Suasananya cukup dingin dan berkabut meski baru pukul setengah tujuh malam. Dengan kata lain, hampir sepuluh jam Gio membawanya mengendarai mobil tidak jelas. 


Setelah sama-sama diam di sepanjang perjalanan, Gio tiba-tiba keluar dari mobil, membiarkan pintunya tetap terbuka.


Rara berpikir kini ia berada di sekitar puncak. Suhu udara di sana cukup membuat Rara harus beradaptasi dengan hawa dingin di sekitar sana. Dan Rara sengaja tidak keluar meski tiba-tiba, Gio yang memperhatikannya dari luar, menghampiri, membuka pintu di sebelah Rara.


“Kita turun. Istirahat,” ucap Gio terdengar sangat galak.


Rara menggeleng tanpa menatap Gio. “Aku enggak mau turun karena ini bukan tujuanku. Ini tujuanmu. Jadi kamu saja yang turun, aku tetap di sini.”


Kemudian, Rara mengamati rumah keberadaan mereka. Mungkin, rumah yang halamannya dihiasi rumput liar tidak terawat sedangkan gerbangnya paling hanya setinggi dua meter dan tampak berkarat, merupakan sebuah vila. Vila di kawasan puncak? Tapi puncak mana?


Gio terpejam dan tampak pasrah dengan sebelah tangan masih menahan pintu. Tak lama setelah itu, ia pergi dan duduk di bangku besi yang ada di beranda rumah dan jaraknya sekitar tujuh belas meter dari keberadaan Rara.


Di sana, Rara melihat Gio mengeluarkan kotak kecil dan kemudian mengambil sebatang rokok dari dalamnya. Setelah menyelipkannya pada mulut, sebuah korek bensol juga segera Gio nyalakan. Pertanyaannya, ... sejak kapan Gio merokok? Bukankah pria itu seharusnya tidak merokok karena paru-parunya bermasalah? Memikirkan itu, Rara menjadi sangat kesal.


Rara memilih turun dari mobil kemudian duduk di ujung bangku keberadaan Gio dengan meletakan tas pundaknya sebagai pembatas di antara mereka. Rara melakukannya tanpa menatap atau sekadar melirik Gio yang tetap memperhatikan setiap geraknya. 


Yang semakin membuat Rara kesal, Gio justru sibuk dengan rokoknya, membuat udara di sekitar sana tercemar kandungan nikotin, sampai-sampai, Rara sengaja bernapas melalui mulut karena dia juga paling anti dengan asap rokok. Namun karena semua itu terus berlanjut bahkan Gio siap menyalakan batang rokok selanjutnya, kesabaran Rara benar-benar habis. Rara membanting tasnya kemudian menatap tajam Gio.


“Kalau kamu memang mencintaiku dengan semua yang kamu tahu, enggak seharusnya kamu menempatkanku pada posisi ini. Bahkan kamu tahu, kamu harus menjauhi rokok, sedangkan perokok pasif sepertiku jauh lebih menanggung risiko nikotin dari rokokmu!” omel Rara.


Gio langsung membuang rokok yang awalnya sudah ia hisap, menginjaknya dengan kesal hingga tak ada lagi asap yang dihasilkan dari sana. Kemudian, ia juga membuang sekotak rokok berikut korek yang tersisa, sesaat sebelum menunduk dan menekap wajahnya erat menggunakan kedua tangan.


“Kau tahu, wanita yang kamu sebut ibu itu sudah menjadi simpanan papaku selama dua puluh tahun?!” Gio menatap Rara tajam. Akan tetapi, Rara langsung menepisnya sejak awal Gio membahas Piera.


“Aku tidak tahu. Dan aku memang tidak mau tahu.”


Balasan Rara membuat Gio berdecak kesal. Itu juga yang membuatnya menepis Rara dari pandangannya.


“Aku telah menguburnya hidup-hidup dalam hatiku dan menyimpan semuanya dalam kenangan indah seperti yang ayah ajarkan.”

__ADS_1


“Kau beruntung memiliki ayah yang begitu hebat dan tetap membuatmu menyayangi ibumu setelah apa yang wanita itu lakukan.” Gio mengatakan itu sungguh-sungguh di tengah kebenciannya kepada Piera yang sama sekali tidak berkurang.


“Seharusnya kamu belajar untuk tidak mengulang kesalahan. Jika kamu merasa tidak adil dengan apa yang kamu dapatkan dari papamu, jadilah papa yang lebih baik darinya untuk anak-anakmu.” Rara masih berucap dingin tanpa sedikit pun melirik Gio. Gio yang langsung menatapnya hanya karena mendengar “jadilah papa yang lebih baik darinya untuk anak-anakmu,” terucap dari bibir Rara.


“Kalau begitu, jadilah ibu dari anak-anakku.”


Bukannya menjawab permintaan Gio, Rara justru menepis Gio, memalingkan wajahnya dari pria berwajah oriental tersebut.


Bersama Gio, Rara merasa tidak aman. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan sialnya seharian bersama Gio ia lupa memanfaatkan benda canggih tersebut. Seharusnya ia bisa meminta bantuan melalui ponselnya yang kali ini benar-benar tidak bisa dimanfaatkan karena tak ada jaringan sinyal di sana.


Gio mengalihkan tatapannya dari kesibukan Rara yang mencari jaringan sinyal dengan mengangkat-angkat tinggi dan terkadang mengguncang ponsel. Namun, ketika wanita tersebut beranjak dan nyaris meninggalkan bangku, Gio segera menahannya dengan mencengkerat erat sebelah tangan Rara.


“Sakit, Gi!” keluh Rara sambil berusaha mengenyahkan tahanan Gio.


“Jangan pergi!” tegas Gio lirih penuh peringatan sekaligus memohon.


Ada rasa takut yang Rara dapati dari tatapan pria di hadapannya. Hal tersebut pula yang membuatnya kembali duduk.


“Sejauh apa hubunganmu dengan pria itu?”  tanya Gio tak bersemangat sambil menunduk. Gio menelan salivanya yang entah kenapa terasa begitu getir.


“Lebih jauh dari perjalanan kita hari ini.” Rara membalasnya dingin, masih menepis Gio.


Gio berangsur melirik Rara. “Apakah kamu mencintainya?” Gio berharap Rara mengatakan tidak.


Gio sangat berharap wanita yang masih sangat ia cintai itu mengatakan masih sangat mencintai Gio. Gio sangat ingin mendengar Rara memohon agar Gio kembali kepada Rara. Namun, sayangnya Rara justru bungkam. Kenyataan yang biasanya justru membenarkan harapan yang tidak Gio inginkan. Dengan kata lain, meski mungkin tidak terlalu banyak, tapi ada rasa lebih yang Rara simpan khusus untuk Kimo. Ya, Gio mengenal pria gondrong yang selalu memasang wajah dingin itu.


“Aku ...,”


Gio terdengar ragu untuk mengatakan kata-katanya, tapi Rara tetap tidak peduli.


“Melihat carannya memperlakukanmu, dia pasti sudah menceritakan banyak hal tentang aku,” lanjut Gio.


“Kimo sudah banyak cerita, kan?”


“Dia bukan pria yang banyak bicara dan memaksaku menerima semua kesedihannya.” Rara menghela napas pelan bersama ingatannya yang tiba-tiba membawanya pada kebersamaannya dan Kimo. Dari awal Rara mengenal Kimo yang dipenuhi banyak perbedaan, ketika pria itu merawatnya di rumah sakit, juga kecemasan Kimo ketika mencoba mengejar Rara yang dibawa paksa Gio. 


“Dia ... dia selalu mengupayakan yang terbaik untukku. Dan ..  meski dia terlihat begitu dingin bahkan arogan, dia pria bertanggung jawab yang memiliki hati hangat.”


Gio berdeham keras mengakhiri kata-kata Rara. “Ternyata sudah sangat jauh. Sangat cepat.” Gio memejam. “Tidak, ... lebih tepatnya ini terlalu cepat.”


Rara melirik Gio. Tak lama kemudian, pria itu juga menatapnya. Pandangan mereka bertemu dan Rara sengaja tidak menepisnya.


“Meski kita berada di bawah langit yang sama. Kita begitu dekat. Bahkan aku masih bisa menggenggam tanganmu dengan hangat. Namun, semuanya tak lagi sama. Kamu bukanlah milikku yang akan memberikan semuanya,” batin Gio. Ia menatap dalam, wanita yang memenuhi pandangan sekaligus kehidupannya. Dan meski Rara masih menatapnya,  wanita itu justru tak lagi peduli kepadanya.


“Apakah kamu tidak ingin menanyakan sesuatu?” ujar Gio.


Rara menggeleng pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua netra Gio. Menghadapi Gio yang sekarang, membuat Rara tak lagi takut. Rara sudah merasa biasa saja.


Gio menertawakan dirinya sendiri dan terlihat begitu terluka sekaligus menyedihkan. “Sudah kuduga.”


“Melihatmu yang selalu melimpahkan kekesalan dan menyalahkan orang lain atas semua yang kamu rasakan, bukankah memang tidak harus ada yang kutanyakan?” Rara mengatakannya dengan malas. Ia benar-benar tak bersemangat.


Gio mendengkus. Kedua tangannya ia letakan di atas lutut sementara tubuhnya condong ke depan. “Mendekati dan membuat Kimi mencintaiku adalah misi dari papa. Papa menjadikan itu sebagai barter menceraikan Piera.”


Rara tetap bungkam dan pura-pura tak peduli.

__ADS_1


Gio melirik Rara dan menjadi sebal pada wanita yang masih sangat ia cintai itu. “Tapi karena Papa mengingkari janjinya, aku sengaja menghancurkan semuanya. Termasuk dengan Steffy,  ... aku juga tidak akan menikahinya!”


Dalam diamnya, Rara menjadi semakin tidak mengerti pada Gio. Hanya saja, cara pria itu menyikapi keadaan membuatnya prihatin. “Tenang, Ra. Biarkan Gio dewasa dengan masalah yang harus dihadapi. Dia bisa kalau dia memang mau,” batin Rara. Hati kecilnya memintanya untuk tidak memberikan respons berlebihan apalagi peduli kepada Gio.


“Kamu tahu? Dua hari yang lalu orangmu ada yang datang menemuiku.”


Penuturan Gio kali ini berhasil mengusik Rara. Orangnya? Mendatangi Gio, siapa? Keinya?


“Pria itu memintaku untuk melepaskan semuanya. Kamu sungguh beruntung memiliki orang-orang yang begitu menyayangimu.”


Pria? Berarti bukan Keinya?


“Bahkan Athan juga sampai ikut memberiku peringatan. Dia terlihat sangat marah dan mengancam akan membunuhku kalau aku sampai melukaimu.”


“Athan? Pria itu juga peduli kepadaku?” batin Rara tak percaya.


Gio menatap Rara. “Kudengar, akhirnya Athan bercerai dengan Keinya?”


Rara mengangguk lemah.


Gio tersenyum sarkastis. “Tapi pria yang menemuiku kemarin, dia calon Keinya?”


Rara menatap tak percaya Gio. “Jadi, orangnya yang menemui Gio, … Yuan?” batinnya semakin tak percaya. Betapa Yuan begitu tulus menyayangi orang-orang Keinya, tanpa terkecuali Rara yang sampai mendapatkan imbasnya.


“Aku rasa, dia jauh lebih baik dari Athan. Dia bahkan begitu peduli kepadamu.”


Semakin Gio banyak bicara, Rara semakin yakin jika mantan kekasihnya itu sangat kesepian. Beruntung, setelah sepuluh menit berlalu dari Rara yang terpaksa kembali duduk, deru mobil yang Rara kenali mobil Kimo, terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan gerbang rumah kebersamaan Rara dan Gio.


Kimo keluar dengan buru-buru dan terlihat sangat marah. Pria itu langsung memanjat gerbang yang tergembok, sedangkan tubuh Rara refleks terduduk lantaran Gio kembali menariknya. Tadi, hanya melihat yang datang memang Kimo, tiba-tiba saja hati Rara menjadi sangat bahagia di mana karenanya, Rara sampai refleks berdiri.


“Sekali lagi kamu berani menyentuhnya, kupatahkan semua tulangmu!” tegas Kimo yang masih dikuasai emosi. Ia menatap tajam Gio kemudian melepas paksa tangan pria itu dari sebelah pergelangan tangan Rara disusul duduk di antara keduanya.


Kimo menatap cemas Rara yang kebingungan menatapnya. Setelah terdiam dengan mata mengerling, ia buru-buru melepas jasnya lantaran ia yakin, udara dingin di sana telah membuat Rara kedinginan. Bahkan wajah Rara saja sudah mulai pucat.


Rara menunduk membiarkan Kimo mengenakan jas yang teramat kebesaran di tubuh Rara. Namun, setelah itu, Rara merasa jauh lebih baik dan tidak kedinginan lagi. Apalagi setelah berhasil mengenakan jas padanya, Kimo juga sampai merangkulnya erat. Kimo teramat melindungi Rara, di mana kenyataan tersebut membuat Rara tersentuh. Hati Rara menjadi diselimuti rasa hangat.


“Apakah masih ada yang harus dibicarakan?” tanya Kimo tegas sambil menatap Rara.


“Tidak. Sama sekali tidak ada yang harus dibicarakan.” Rara mengatakannya penuh keyakinan kendati ia masih menunduk.


Kimo menenteng tas Rara kemudian menuntun wanita itu untuk berdiri. “Selesaikanlah masalahmu tanpa melibatkan apalagi melampiaskannya kepada orang lain,” tegasnya sambil menatap sebal Gio sesaat sebelum berlalu meninggalkannya.


“Bukankah sangat menyenangkan, setelah melepaskan Steffy, kau justru mendapatkan wanita yang begitu istimewa?” seru Gio.


Langkah Kimo berhenti seketika. Sedangkan Rara yang melakukan hal serupa, diam-diam ingin melihat reaksi wajah Kimo. Tak lama setelah itu, Kimo balik badan dan Rara mengikutinya.


“Walau apa yang kamu katakan membuatku tidak nyaman karena dengan caramu begini kamu terkesan begitu memandang remeh sebuah hubungan, harus kuakui, aku merasa sangat beruntung akan menikah dengan Rara. Terima kasih karena telah melepasnya untukku.” Kimo memberikan sedikit senyuman pada Gio yang seketika kehilangan ekspresi. Gio terlihat sangat terluka.


Meski merasa cukup tersanjung dengan sikap Kimo, Rara yang menjadi gugup menegaskan dalam hati, Kimo belum melamarnya, tapi kenapa pria itu mengatakan akan menikah dengan Rara?


Menyadari Rara kebingungan dalam melewati gerbang, Gio mendekat dan membukakan gerbang melalui gembok yang ia simpan di saku sisi celana jin yang dikenakan.


Ketika Kimo menuntun Rara meninggalkan Gio yang jelas tak sudi melihat kebersamaannya dan Gio, Rara berkata, “selesaikan masalahmu. Dan dewasalah dengan masalahmu. Karena dengan begitu, kamu akan bahagia. Kalau kamu memang ingin membahagiakan mamamu, rawatlah mamamu. Jadilah anak yang setidaknya bisa membahagiakan dirimu sendiri, agar mamamu juga merasakannya.”


Tak lama kemudian, Gio melepas kepergian mobil Kimo yang membawa Rara, sambil terisak-isak. Dan melalui kaca sepion di hadapannya, Rara menyaksikan tangis Gio hingga pantulan Gio benar-benar tak terlihat.

__ADS_1


“Gio, ... kamu pasti bisa bahagia. Maaf, bukannya aku tidak bisa menerimamu apa adanya berikut kekuranganmu. Hanya saja, setelah semua yang terjadi, bahkan orang tua kita sudah menikah sangat lama, juga, caramu yang tetap menyalahkan orang lain atas semua rasa sakit yang kamu rasakan, aku rasa inilah saatnya untuk kamu membenahi diri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” batin Rara yang menunduk pasrah sambil memejam. “Mungkin, ini yang Keinya rasakan, ketika dia lebih memilih untuk melepas Athan!” pikir Rara berusaha berlapang dada. Rara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


******


__ADS_2