
“Terkadang, orang yang enggak punya hubungan darah tetapi punya garis wajah sama, biasanya jodoh, ya?”
Bab 35 : Kakak Adik
Masih pukul setengah tujuh, sedangkan mentari baru saja merangkak naik bersamaan dengan sorot sinarnya yang menebarkan kehangatan dan baik untuk kesehatan, ketika Yuan menggendong Pelangi. Yuan terus melangkah dan menurunkan Pelangi di taman depan rumah.
“Nah, kita main, ya! Suasananya sedang bagus-bagusnya buat kesehatan, biar Pelangi tambah sehat!” ucap Yuan kemudian, siap-siap memantau gerak Pelangi.
Yuan yang sesekali menerima telepon di ponselnya, terus mamantau setiap langkah Pelangi yang sibuk berjalan cepat di atas hamparan rumput jepang. Sesekali, Pelangi akan meringis ketika menepuk-nepukkan sebelah tangannya pada rumput bertekstur kaku itu, sedangkan selain Yuan akan mentertawakannya, pria itu juga akan mengabadikan momen itu melalui bidik kamera di ponselnya ketika tidak sedang bertelepon.
“Pelangi mau lepas sandalnya, biar tambah geli?” tanya Yuan masih menertawakan ulah Pelangi yang kegelian, tetapi tetap menepuk atau meraba rumput jepangnya dengan gemas.
Tak lama kemudian, Itzy yang kebetulan sedang lari pagi dan mendapati Yuan, langsung kegirangan. Itzy sampai menahan kuat-kuat handuk kecil yang menghiasi tengkuknya, sambil jingkrak-jingkrak.
“Demi Tuhan! Mimpi apa aku semalam, sampai-sampai, bisa lihat Daniel sepagi ini? Ih gemes banget! Daniel punya aura positif yang luar biasa! Cuma lihat dari samping kayak gini saja sudah bikin aku girang banget, bagaimana kalau aku jadi istrinya, sedangkan mataku otomatis penuh sama dia?!” Itzy sampai sesak napas dan mengipas-ngipaskan kedua tangannya di depan leher.
Itzy yang makin berkeringat, keringat panas dingin saking girangnya bisa melihat Yuan setelah berminggu-minggu tidak melihat pria itu, buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celana olahraga panjang berwarna hitamnya. “Harus ambil fotonya! Ya ampun, si Daniel kalau cuma pakai kemeja lengan panjang warna putih kayak gini kok tambah ganteng, ya?” ucapnya tak sabar dan langsung melongo, lantaran ketika ia sudah siap mengarahkan kamera ponselnya, sosok Yuan yang ia ketahu bernama Daniel, sudah tidak ada di tempat semula.
“Lho, ke mana si Daniel? Hobi banget, deh ... baru juga bentar, sudah ngilang saja,” keluhnya dalam hati.
Itzy yang seketika itu menjadi cemberut, berangsur mendekati keberadaan terakhir ia melihat Yuan, meski hanya sebatas melalui sela gerbang rumah paling megah sekaligus besar di kompleks mereka tinggal. Dan sialnya, sudah tidak mendapati Yuan, ia justru terguyur air dari lantai atas. Ketika Itzy memastikan, ternyata di atas sana sedang ada yang menyiram kebun.
“Sst! Sial! Sudah gagal, apes pula!” cibirnya sambil meletakan kedua tangannya di atas kepala sembari berlari menjauh ke arah rumahnya.
***
“Pelangi sini dulu. Jangan masuk dulu. Mama masih masak, Sayang.” Yuan mengejar Pelangi. Anaknya itu nyaris masuk rumah.
Yuan sengaja berlari demi menahan Pelangi, kemudian membopong bocah itu dan membawanya ke arah yang berbeda. Yuan membawa Pelangi ke sudut kanan depan rumahnya karena di sana ada kolam ikan koi cukup besar dilengkapi patung malaikat kecil yang menumpahkan air dari kendi. Biasanya, Keinya juga mengajak Pelangi main di sana sambil mendulangi bocah itu.
“Itu apa ... itu apa? I-ikan ....”
__ADS_1
***
Sekitar pukul setengah delapan, tak lama setelah Yuan pergi, Keinya sengaja menyempatkan waktu mengajak Pelangi jalan-jalan menggunakan sepeda. Meski kali ini sampai dikawal dua ajudan pria berseragam setelan panjang warna hitam, tetapi Keinya tetap mendorong sepeda Pelangi sendiri.
“Setelah ini kita ke restoran, ya? Nanti sorenya kita tinggal jenguk Bibi Rara sama Paman Kimo,” ucap Keinya sambil sesekali membungkuk untuk menatap Pelangi yang sepertinya jauh lebih menikmati alunan musik dari sepeda, terlebih bukannya merespons apalagi menatap Keinya, Pelangi justru menggoyang-goyangkan tubuh berikut mengangguk-anggukan kepalanya.
Ketika melintasi rumah Itzy, Keinya tidak sengaja melihat wanita muda itu berjalan tergasa memasuki mobil yang disiapkan oleh satpam rumah. Satpam rumah membukakan pintu kemudi karena Itzy akan menyetir sendiri.
“Kalau nggak salah, itu si wanita aneh dan sepertinya, dia juga yang kirim hadiah buat Daniel? Eh, Daniel, apa Yuan?” batin Keinya yang sampai memelankan langkahnya sambil mengamati Itzy berikut rumah wanita itu yang nyatanya masih satu kompleks dengan rumahnya. “Ini rumahnya? Dia masih lajang, apa sudah menikah?” pikirnya lagi. “Tapi kalau sudah menikah, harusnya nggak kirim-kirim hadiah buat laki-laki lain, kan?” Keinya masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Itzy yang mendapati Keinya, langsung terusik juga. “Bukankah itu wanita yang rumahnya di dekat rumah Daniel?” pikirnya. “Samperin, ah ... nantinya juga bakal jadi tetangga.” Dengan keyakinan itu, ia menghampiri Keinya dan sengaja mengemudi dengan kecepatan lambat. Benar-benar pelan.
Menyadari laju mobil melambat dan mendekati Keinya, kedua ajudan pria langsung berjaga di sebelah Keinya. Bahkan saking gesitnya dalam berjaga, Itzy yang menyadari menjadi parno sendiri. Ia yang baru akan mengeluarkan kepalanya dari kaca jendela pintu sebelahnya mengemudi, menatap sungkan kedua pria berwajah garang itu.
“Halo Adik cantik, kita ketemu lagi? Masih ingat, enggak sama Aunty?” sapa Itzy kemudian.
Keinya sengaja menghentikan langkah dan itu juga membuat Itzy melakukan hal serupa.
“Kak, kenalan, ya. Kita sudah beberapa kali bertemu dan bahkan sepertinya kita juga tetangga.” Itzy mengangsurkan tangan kanannya dengan ramah. “Nama saya Itzy. Dan ini rumah saya. Eh, maksud saya, rumah orang tua saya. Saya masih menumpang karena saya belum nikah!” lanjutnya yang langsung menjabat tangan Keinya lantaran wanita itu juga langsung menjabat tangannya.
“Wanita ini sangat ramah. Cantik. Energik. Tipikal idaman banget. Tapi, ... Yuan, enggak, kan? Yuan enggak mungkin tergoda, kan?” batin Keinya yang tiba-tiba saja merasa takut kehilangan Yuan. Kendati demikian, ia tetap menyunggingkan senyum termanisnya kepada Itzy.
“Nama saya Keinya. Saya sudah menikah, dan ini anak saya. Rumah saya ada di sana.” Keinya menunjuk ke belakang. “Rumah ke lima dari sini,” lanjutnya sengaja menegaskan.
Itzy langsung terdiam. “Rumah ke lima?” ulangnya lirih dan menerka-nerka. “Kok kayak nggak asing, ya, maksud dari rumah ke lima?” batinnya.
Menyadari ekspresi berbeda dari Itzy yang menjadi terheran-heran, Keinya sengaja melanjutkan, “kamu kenal Daniel?”
“Hah ...? Daniel?” Itzy terbengong-bengong tak percaya. “Wanita ini kenal Daneil?” batinnya lagi makin tidak percaya.
“Jangan-jangan benar dugaanku, kalau wanita ini pengirim hadiah buat Daniel yang sampai sekarang masih saja berdatangan?” batin Keinya lagi dan sengaja memasang senyum seramah mungkin.
__ADS_1
“Daniel itu adik saya. Dan sepertinya seumuran sama kamu,” lanjut Keinya.
Mendengar itu, Itzy langsung antusias. Ia bahkan tersenyum lebar dan kemudian tersipu lantaran Keinya masih menatapnya penuh senyum.
“Oh, Kak Kei ini kakaknya Daniel? Tapi, kok, kayak seumuran, ya? Ah, Kak Kei, awet muda!” ucap Itzy kemudian yang sampai mengguncang sebelah tangan Keinya.
Keinya masih bertahan dengan senyumnya. “Jadi, kamu beneran kenal Daniel?”
Pertanyaan Keinya langsung membuat Itzy terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia salah tingkah bahkan tersipu.
Sambil sesekali menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, Itzy mengakuinya dan terlihat malu-malu. “Salam, ya, Kak, buat Daniel. Aku suka banget lho, sama dia! Kagum pokoknya! Ada, cowok setampan dia, kayak patung hidup!”
Keinya menghela napas pelan sambil terus menatap Itzy. “Aku benar-benar harus hati-hati kalau dugaan Kainya justru benar. Si Itzy ini hanya salah orang, mengira Yuan sebagai Daniel. Dengan sikap Itzy yang sangat mudah bergaul bahkan akrab, menyenangkan, ditambah kecantikan yang dimiliki, susah buat nolak wanita kayak dia ...,” batin Keinya waswas.
“Pantas, ya, Kakak sama Daniel punya garis wajah yang sama! Ternyata kalian kakak-adik!” puji Itzy lagi sambil kembali mengguncang sebelah tangan Keinya yang masih ia tahan.
Keinya mengerling. “Garis wajah yang sama? Aku sama Daniel? Aku sama Daniel enggak mirip. Justru, aku lebih mirip Yuan,” batin Keinya menerka-nerka.
“Terkadang, orang yang enggak punya hubungan darah tetapi punya garis wajah sama, biasanya jodoh, ya?” ucap Keinya kemudian.
“Ah, iya! Mitosnya begitu. Oh, ya sudah kalau begitu, aku mau kerja dulu, ya, Kak Kei ... kapan-kapan, aku boleh main, kan?”
Keinya mengangguk menyanggupi permintaan Itzy yang bergegas meninggalkannya dan sampai melambai-lambaikan tangan kepada Pelangi sebelum memasuki mobil.
“Asal bukan buat mendekati suamiku, kamu bebas main ke rumahku ...,” lirih Keinya melepas kepergian Itzy yang seketika mengenudi dengan kecepatan normal.
Bersambung ....
Hari ini episodenya pendek, ya? Besok Author kasih 2 bab deh. Oh, iya. Ditunggu jejak kalian. Like, vote, dan komennya biar perfoma ceritanya nggak jatuh ^^
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.