
Bab 35 : Kenapa Dunia Terasa Begitu Sempit?
Kimo sudah tidak betah menemani Rara di bawah pohon kersen yang ada di depan indekos Gio. Mereka sedang menunggu kepulangan Gio yang hingga detik ini mengabaikan semua telepon berikut pesan dari Rara.
“Bisa anteng dikit, enggak?” omel Rara lantaran Kimo terus mondar-mandir dan ada kalanya sambil garuk-garuk kepala, hingga susunan rambut Kimo kian berantakan tak ubahnya sarang burung. “Kalau kamu enggak bikin ulah juga nggak bakalan ada drama begini. Beruntung kamu teman Yuan, kalau bukan pasti sudah aku masukin ke kaleng!”
Kimo refleks menelan salivanya sambil melirik kesal Rara yang ada di belakangnya. Kalau saja Yuan tidak wanti-wanti agar ke mana pun Rara pergi harus selalu ia temani, Kimo tak mungkin mau bahkan sudi menunggu atau sekedar pergi dengan Rara. “Kamu pikir aku bahan sarden, asal kamu masukin ke kaleng?” cibirnya sambil memelotot pada Rara.
Hampir empat jam mereka terjaga di depan indekos khusus pria. Mereka tak beda dengan orang hilang tanpa tujuan. Benar-benar hanya mereka yang berada di sekitar sana, selain lalu lalang motor dan mobil yang kadang melintas.
Rara dan Kimo memang sama-sama resah. Namun keresahan Kimo bukan karena kabar Gio yang tak kunjung didapatkan layaknya Rara, melainkan karena lapar, bahkan perutnya juga mulai keroncongan.
Mendengar perut Kimo keroncongan terlepas dari wajah pria itu yang menjadi pucat, Rara menjadi iba. Ia menatap sebal perut beserta wajah Kimo yang langsung menepisnya dan jelas karena gengsi.
Kimo menjauh dan sengaja menjaga jarak dari Rara. Ia mengamati pohon tempatnya berteduh sekaligus menunggu. Buah pohon tersebut yang ukurannya tak lebih besar dari kelereng tampak merah padam dan ia berpikir rasanya enak.
“Kalau kamu lapar pesan makanan saja,” tukas Rara sambil menepis keberadaan Kimo.
“S-siapa yang lapar? Meledek saja. Tahu-tahu aku lupa bawa dompet dan ponsel!”
Rara melirik sinis Kimo. “Ya. Setidaknya kamu punya hutang sepuluh juta kepadaku dan itu belum termasuk uang bensin. Memalukan, motor mogok bukannya mesinnya yang rusak, eh malah kehabisan bensin.” Cibirnya.
Kimo menggeragap. Antara kesal dan malu jika harus mengingat hal itu. Tadi, di tengah perjalanan tiba-tiba saja motornya mogok. Tentu kenyataan itu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi sebelumnya, apalagi ia juga tipikal yang rajin membawa motornya ke bengkel untuk diservis. Namun tadi, untuk pertama kalinya Kimo memboncengkan seseorang menggunakan motornya dan ia juga tidak menyangka wanita seperti Rara yang menjadi orang pertama yang ia bonceng, justru membuat motornya mogok. Sialnya, setelah menuduh Rara penyebabnya dan mengecap wanita itu pembawa sial untuk motornya, fakta berbeda terkuak ketika motornya ditangani di bengkel. Hal yang membuat Kimo harus kehilangan sepuluh juta lantaran kalah taruhan dari Rara.
[“Jadi orang jangan asal tuduh! Kalau kamu enggak memaksa aku membonceng motor kamu, aku juga enggak sudi! Sembarangan bilang aku pembawa sial! Motormu saja yang jelek!”]
[“Kamu bilang motorku jelek? S-sembarangan banget kamu! Asal kamu tahu, setiap minggu motor ini diservis. Dan kamu tahu berapa harga motor ini? Ratusan juta!”]
[“Ya ampun, lagi-lagi kamu pamer harta.”]
[“Ya sudah. Kalau motor ini benar-benar rusak berarti karena kamu.”]
Saat itu, Rara kalang kabut dan tidak bisa menerima anggapan Kimo. [“Oke. Aku kasih kamu sepuluh juta kalau anggapanmu benar. Tapi kalau nyatanya motor jelekmu ini rusak karena seharusnya diganti sejak lama, kamulah yang harus kasih sepuluh juta ke aku!”]
Dikarenakan penyebab motor mogok Kimo justru karena kehabisan bensin, Rara pun memenangkan taruhan sepuluh juta, di antara mereka.
Namun yang membuat harga diri Kimo semakin hancur, tadi, ketika Kimo sudah kalah dan akan membayar bensin, ternyata Kimo lupa membawa dompet maupun ponsel. Di mana karena kenyataan tersebut pula, Kimo terpaksa meminta bantuan Rara dan pinjam uang Rara.
Dan kini, di saat Kimo merasa sangat lapar di tengah waktu yang sudah nyaris gelap, mana mungkin Kimo harus kembali meminta tolong pada Rara yang jelas-jelas tidak menyukainya? Akan tetapi, karena sudah semakin lapar, Kimo iseng mencoba buah kersen yang ia petik. Namun, Rara yang melihatnya langsung berseru, “Itu beracun!”
Kimo yang telanjur mengunyah buahnya refleks menelannya karena terkejut. “M-masa?”
Tampang Kimo kali ini benar-benar lugu dan itu membuat Rara nyaris tertawa. Tentu saja Rara hanya mencoba mengelabuhi pria itu. Mana mungkin buah kersen beracun, karena selain buahnya yang manis dan kaya khasiat, daun berikut pohonnya juga tak kalah berkhasiat?
Namun, Rara yang sudah telanjur kesal pada Kimo sengaja mengerjai pria itu. “Serius. Tapi sudah tertelan, ya? Muntahkan, ayo muntahkan!”
“Tapi rasanya manis, enak,” balas Kimo sama sekali tidak curiga dengan keseriusan Rara. Apalagi wanita itu juga sampai berjalan tergesa menghampirinya.
“Manis bagaimana? Memang kamu enggak tahu, ini pohon apa?”
__ADS_1
Kimo menggeleng dengan ekspresi lugu yang membuatnya terlihat sangat bodoh.
“Itu buah beracun. Dan yang bisa makan cuma ular!” tambah Rara.
“U-ular?” Kimo langsung terkejut.
Mendapati itu, Rara tergelak sambil meninggalkan Kimo.
“Dasar wanita gila! Bisa-bisanya kamu membohongi bahkan menyamakanku dengan ular!” Kimo mematahkan ranting pohon kersen dan melemparkannya pada Rara yang langsung menghindar di tengah gelak tawa yang terus berlangsung. Rara terlihat sangat bahagi benar-benar bahagia di atas penderitaannys.
***
Suasana sudah gelap. Sudah pukul tujuh malam. Namun, yang ditunggu-tunggu juga tak kunjung datang. Termasuk Rara yang Kimo dapati tak kalah lelah bahkan jenuh darinya.
Sambil jongkok menopang dagu menggunakan kedua tangan, Kimo kerap mendapati Rara melamun menatapi layar ponsel. Melihat Rara seperti itu, Kimo jadi tidak tega dan sedikit merasa bersalah. Terlebih biar bagaimanapun, apa yang tengah terjadi juga karenanya.
“Tapi masa iya, pacar kamu langsung marah? Hanya karena ada yang ngerecokin?” Kimo menatap heran Rara yang hanya membalasnya dengan lirikan datar. “Kalau sudah mau menikah seharusnya enggak boleh begitu. Kalau benar-benar cinta harusnya enggak percaya omongan orang lain.”
“Sudah deh, jangan berisik. Mendingan kamu pergi saja,” omel Rara.
“Kalau Yuan tanya macam-macam bagaimana? Lagian, aku harus memastikan hubunganmu dan kekasihmu,” balas Kimo cepat.
Karena Rara tak menjawab, Kimo memutuskan untuk menghabiskan piza yang masih tersisa. Itu piza Rara yang beli tanpa pajak apalagi ganti rugi seperti uang sepuluh juta berikut bensin. Rara membelikan piza berikut minuman untuk Kimo yang kelaparan.
“Ra. Sudah malam mending aku antar kamu pulang. Bukan kenapa-kenapa. Aku yakin Yuan dan Keinya punya alasan kenapa aku disuruh menemani kamu sampai kamu benar-benar bertemu pacarmu,” ucap Kimo mulai kesal lantaran nyaris seharian hingga malam, menunggu Gio yang juga tak kunjung memberi kabar.
“Tapi aku belum ketemu Gio. Lagi pula ini kan salah kamu,” balas Rara masih dengan keputusan sekaligus keyakinannya. Ia harus bertemu Gio dan meluruskan perkara yang ada.
“Kalau dia benar-benar cinta kamu, bahkan sebentar lagi kalian juga akan menikah, maaf ya, Ra. Mending kamu enggak jadi nikah sama dia. Tolong pikirkan lagi. Mau jadi apa kamu kalau baru pacaran saja sudah begini? Aku kasihan sama kamu. Apalagi kalau kalian sampai punya anak.”
Kimo menjadi serba salah, lantaran bukannya menjawab apalagi membalasnya dengan ngeyel seperti sebelumnya, Rara justru menunduk dan tersedu-sedu.
“Aku enggak bermaksud bikin kamu sedih, Ra. Kalau begitu kita tunggu setengah jam lagi. Tapi kalau dia sampai belum balik juga, kita langsung pulang. Aku janji besok bakalan antar kamu dan jelasin ke dia. Tapi ya kamu pikirkan lagi, jangan mengandalkan cinta deh kalau pada kenyataannya yang kamu andalkan cuma bikin kamu terluka. Serius, aku kasihan sama kamu kalau keadaannya justru gini.”
“Sudah jangan menangis. Mami dan adikku juga perempuan. Aku paling enggak bisa lihat perempuan menangis.” Kimo berdiri di hadapan Rara tanpa melakukan apa-apa dikarenakan Kimo merasa serba salah. Mau menenangkan Rara dengan mengelap apalagi memeluk seperti yang sering ia lakukan pada mami dan adik perempuannya, takut dikira modus.
Belum lama setelah Rara menyeka air matanya, ponselnya berdering.
“Tuh mungkin balasannya,” ucap Kimo yang awalnya masih terjaga di hadapan Rara dan memutuskan untuk menjauh sambil mengantongi kedua tangannya di jaket jin yang dikenakan.
Ketika Rara memastikan, ternyata itu dari Keinya. “Keinya ....”
Mendengar itu, Kimo langsung balik badan. “Kan, Keinya saja sampai telepon. Jangan-jangan, dia sudah mikir macam-macam lagi? Aku dikira enggak tanggung jawab!”
Rara pun menjawab telepon dari Keinya. “Iya, Kei?”
“Kenapa suaramu terdengar sangat sedih? Kamu menangis?” tuding Keinya dari seberang terdengar sangat cemas.
Rara menunduk sedih.
__ADS_1
“Kamu belum bertemu Gio juga? Dia pasti belum pulang, kan? Sudah kamu pulang saja. Kimo masih sama kamu, kan? Mana coba aku mau bicara.”
Ketika Rara akan membalas Keinya, Gio datang dengan motor gedenya. Hal tersebut membuat Rara mengatakan pada Keinya.
“Enggak usah lama-lama. Aku sudah masak banyak untuk makan malam. Ajak Kimo juga.”
“Iya, Kei.” Rara mengakhiri panggilan telepon mereka dari ponselnya.
Rara nyaris menghampiri Gio yang baru turun dari motor. Gio sendiri tengah melepas helm, andai saja Kimo tidak tiba-tiba menahan sebelah lengan Rara dan melangkahkan langkah Rara.
“Dia pacar kamu?” tanya Kimo penuh penekanan.
Kimo terlihat sangat marah. Dari suaranya saja sudah terdengar sangat berbeda. Hal tersebut pula yang membuat Rara cukup takut, Kimo akan macam-macam pada Gio.
Rara mengangguk. “Iya. Tapi kamu enggak usah bahas apa-apa, biar aku yang—?”
Rara belum selesai bicara, tapi Kimo justru melangkah cepat dan langsung menarik sebelah pundak Gio hingga pria itu balik badan. Namun, sebelum Gio benar-benar balik badan, sebuah bogem panas Kimo layangkan di wajah Gio.
“Kimo!” teriak Rara langsung berlari menghampiri Gio.
Gio langsung tersungkur dari motor. Dari sebelah sudut bibir Gio mengalir cairan merah. Namun bukannya merasa bersalah, Kimo justru mencengkeram kemeja bagian dada yang Gio kenakan, hingga tubuh kurus Gio terangkat sempurna.
“Kimo ... Kimo, sudah!” Rara berusaha menghentikan ulah Kimo. Namun yang membuatnya heran, kenapa Gio tidak membalas dan bahkan terlihat merasa bersalah tanpa berani menatap Kimo?
“Setelah menghancurkan adikku dan merebut calon istriku, kamu juga menghancurkan teman baruku?!” tegas Kimo dengan mata berkaca-kaca di tengah tubuhnya yang gemetaran.
“Kimo sudah. Cukup!”
Kimo mengempaskan cengkeramannya. Ia menatap Gio penuh kecewa bahkan jijik. Tak lama setelah itu, ia meninggalkan Gio sambil menggandeng sebelah tangan Rara, memaksa Rara pergi dari sana.
“Kimo, lepas!” Rara berusaha mengakhiri cengkeraman Kimo.
“Lupakan dia karena sebentar lagi dia akan menikah, Ra!” Kimo mengatakan itu sambil terus melangkah cepat tanpa menatap Rara.
“A-apa, … maksud, kamu?” Rara menggeragap. “Bukan begini caranya balas dendam. Kalaupun kamu marah padaku, enggak seharusnya,”
Kimo langsung menahan ucapan Rara. “Enggak seharusnya apa? Pria itu benar-benar akan menikah. Dia akan menikah dengan mantan kekasihku setelah menghancurkan adik perempuanku. Bukankah aku suda mengatakan itu sebelumnya?!” Kimo meledak-ledak. Tak habis pikir kenapa ia harus kembali menjumpai wanita polos bahkan bodoh seperti ibu dan adiknya?!
Rara kebas. Nyawanya seolah dicabut paksa detik itu juga. Dengan perasaannya yang hancur itu, ia berangsur balik badan. Rara menatap Gio yang hingga detik ini masih resmi menjadi kekasihnya. Namun, kenapa pengakuan dari Kimo begitu menyakitkan? Bahkan, meski ia terdiam meratapi Gio cukup lama. Sama sekali tidak ada penjelasan atau setidaknya Gio melakukan pembelaan sekaligus penyangkalan.
“Gio, apakah semua yang dikatakan Kimo benar?”
“Gio jawab aku!”
“B-baik, lah! Kalau kamu tetap diam berarti ... mulai detik ini juga kita putus! Ingat, aku yang mutusin kami! Dan kupastikan, kamu enggak akan pernah bisa bahagia! Camkan itu!”
Kimo memberikan nilai lebih pada Rara yang langsung memutuskan Gio sembari mengelap tuntas air matanya. Di mana, Rara juga langsung bergegas membonceng Kimo tanpa sedikit pun penyesalan.
“Gio … bisa-bisanya dia melakukan ini kepadaku!” Dalam diamnya, Rara tak kuasa mengakhiri air matanya. Tak habis pikir, kenapa selama bertahun-tahun bersama Gio, ia sama sekali tidak mengetahui perihal apa yang Kimo tudingkan pada Gio, dan bahkan tidak Gio sangkal? Juga, kenapa Kimo justru memiliki masalah khusus dengan Gio, hingga Rara merasa, dunia mereka begitu sempit?
__ADS_1
****