
“Jadi, perjuanganku selama ini, sia-sia, ya?”
Bab 18 : Dean dan Feaya, Pacaran?
Kim Jinnan menghela napas untuk ke sekian kalinya sambil terus mengemudi. Kim Jinnan merasa semakin tertantang lantaran bukannya mulai peka, Pelangi justru semakin menghindarinya.
“Baiklah Pelangi. Dengan caramu yang begini, aku jadi semakin yakin, aku tidak salah memilihmu. Aku akan semakin berjuang!” Kim Jinnan terus mengemudi dan sebisa mungkin tetap di belakang mobil yang membawa Pelangi.
Ketika mobil yang membawa Pelangi menepi di depan sekolah Pelangi, Kim Jinnan juga segera menepikan mobilnya.
Kim Jinnan segera menurunkan kaca jendela pintu sebelah kemudi. Kemudian, ia mengambil ponselnya dari saku sisi celana bahan warna hitam yang dikenakan. Kim Jinnan langsung menelepon nomor Pelangi.
Pelangi yang awalnya abai dan tidak memperdulikan keberadaan Kim Jinnan, menjadi menghela napas berat sesaat gadis itu mendapati dering yang menghiasi ponselnya. Pelangi yakin, itu pasti Kim Jinnan. Dan Pelangi yang sadar Kim Jinnan tidak akan menyerah sebelum dibalas, terpaksa memastikan lantaran ponselnya terus berdering. Dering tanda panggilan masuk dan ketika Pelangi memastikan, memang dari Kim Jinnan.
Tepat di depan gerbang sekolah, Pelangi menerimanya.
“Aku hanya ingin melihat wajahmu. Berbaliklah,” pinta Kim Jinnan dari seberang.
“Kim Jinnan!” seru Zean antusias dari dalam mobil.
Kim Jinnan memang memarkirkan mobilnya di seberang lebih depan dari mobil yang masih ditumpangi Zean. Mobil Zean sendiri memang tidak jadi melaju lantaran Zean melarang sopirnya. Zean sampai turun dari mobil hanya untuk menatap Kim Jinnan, meski dari kejauhan.
“Zean, masuk mobil nanti kamu terlambat!” tegur Pelangi dengan suara keras.
Kim Jinnan sampai menjauhkan ponselnya dari telinga, lantaran suara Pelangi sukses memekakkan pendengarannya.
“Bentar, Ngie ...,” tawar Zean yang masih menatap ke arah Kim Jinnan.
Dari dalam mobil, Kim Jinnan sengaja melambaikan tangannya kepada Zean.
“Nanti malam main lagi, ya! Kita main PS lagi!” seru Zean.
Gaya Zean tak ubahnya orang dewasa yang sedang berkomunikasi dengan teman sebayanya.
Dari dalam mobil, Kim Jinnan langsung mengangguk setuju. Namun demi membujuk Zean, Kim Jinnan sengaja keluar dari mobilnya. “Masuk dan berangkatlah. Jangan sampai kamu terlambat sekolah!” serunya dengan suara yang dipenuhi perhatian.
Bagi Pelangi, cara Kim Jinnan menasehati Zean, membuat pria itu terlihat menjadi orang yang cukup waras. Pelangi sampai merinding dalam menyaksikannya. Kim Jinnan terlihat layaknya usia berikut pakaian kantoran yang membuat pria itu tampak sedikit berwibawa.
“Siap, Kim Jinnan! Aku tambah semangat sekolah, lho, gara-gara kamu! Sampai jumpa nanti malam, ya! Ngi-ngie kangen kamu!” seru Zean yang kemudian buru-buru masuk mobil.
__ADS_1
Namun, pernyataan terakhir bocah itu sukses membuat wajah Pelangi berkerut menahan kesal, sedangkan Kim Jinann yang langsung terkejut, juga sampai menjadi gugup. Bahkan, wajah Kim Jinnan sampai menjadi bersemu.
Pelangi menggeleng tak habis pikir melihat kepergian mobil yang membawa Zean.
“Kalau begini urusannya, jadi tambah rumit, Ngie,” gumam Dean yang masih terjaga di sebelah Pelangi.
“Terima kasih!” seru Kim Jinnan dari sebelah mobilnya. Kim Jinnan menatap Pelangi dengan sangat bersemangat.
Kim Jinnan sampai melambai-lambaikan tangan kirinya yang tidak menahan ponsel ke telinga, pada Pelangi. Panggilan telepon mereka memang masih berlangsung. Pelangi yang terlihat sangat kesal juga baru saja mengakhirinya dan menyimpan ponselnya pada saku seragam bagian dada, sebelum gadis itu mendadak berlalu dan lagi-lagi mengabaikan Kim Jinnan.
Dean nyaris menatap sebal Kim Jinnan. Namun, sisi lain di hatinya mendadak berkata, “dia hanya sedang berjuang mendapatkan cinta Pelangi. Jangan menghakimi apalagi membencinya. Karena biar bagaimanapun, dia jauh lebih baik daripada kamu yang bahkan tidak pernah berniat memperjuangkan cintamu kepada Kishi.”
Dan karena kenyataan itu juga, meski tampak enggan, Dean mengangguk sambil sedikit membungkuk kepada Kim Jinnan, sebelum kepergiannya menyusul Pelangi.
“De, tolong jaga Pelangi, ya, selagi aku enggak di sisinya!” seru Kim Jinnan tiba-tiba dan sukses mematahkan langkah Dean.
Dean berangsur menoleh, menatap Kim Jinnan dan kemudian mengangguk, menyanggupi permintaan pria itu.
“Thanks!” seru Kim Jinnan lagi.
Namun kali ini, Dean hanya mengangkat tangan kanannya sambil terus melangkah cepat, tanpa kembali menjawab apalagi menoleh.
***
Kishi, nyaris memasuki kelas, andai saja Feanya tidak tiba-tiba menghalangi langkahnya. Awalnya, Kishi akan berlalu begitu saja mengingat tubuhnya yang kecil bisa tetap masuk meski harus menyelip-nyelip. Namun karena Feanya tak hentinya tersenyum kepada Kishi dan bahkan gadis gendut itu sampai menyebut nama Kishi, Kishi terpaksa berhenti.
“Kenapa?” balas Kishi sedikit angkuh. Sebab, Kishi masih kesal dan memang cemburu kepada gadis gendut di hadapannya.
“Kishi ... kamu kan tahu kalau Dean lebih menyukaiku. Bahkan anak-anak juga tahu kalau kami pacaran,” ucap Feaya malu-malu.
“A-apa? P-pacaran?” saut Kishi syok yang bahkan menjadi tergagap.
Kishi menjadi kerap menelan ludah sambil sesekali mengerjap, menatap tak percaya Feaya yang begitu dengan santainya menatapnya sambil terus tersenyum.
Feaya mengangguk ceria, membenarkan pernyataan Kishi. “Iya, jadi ... mulai hari ini juga, kita bertukar tempat duduk saja!”
“Kamu enggak lagi mengigau apalagi mabuk, kan? Apa maksudmu minta bertukar tempat duduk? Toh, aku sekolah di sini juga bayarnya pakai uang, bukan pakai angin!” rutuk Kishi kesal yang kemudian memilih menyelip melewati Feaya demi bisa masuk ke kelas.
Sialnya, ketika Kishi berhasil masuk kelas, ia mendapati barang-barang Feaya—tas dan sekantong camilan, sudah menghiasi meja miliknya yang bersebelahan dengan meja Dean. Sedangkan semua murid yang sudah duduk di kursi masing-masing, juga menatap prihatin Kishi.
__ADS_1
“Kishi, ... ternyata si gedut Feaya juga anaknya orang tajir, lho! Bahkan lebih tajir dari keluargamu!”
“Dan satu lagi, tubuhnya sebesar itu, sedangkan kamu seupil! Bisa remuk tulang-tulangmu, kalau kamu berani sama dia!” bisik salah satu siswi yang duduk tepat di hadapan Kishi.
Kishi menyimaknya. Siswi-siswi di sana tampak menunjukan reaksi tidak suka ketika membahas Feanya.
“Asal kamu tahu, ... si Sintia tulang tangan kanannya sampai patah, gara-gara kemarin didorong Feaya. Ini baru didorong, lah kalau sengaja dibejek-bejek? OMG ... kami kapok! Pokoknya kami enggak lagi-lagi nyerang dia!” timpal siswi di sebelahnya tak kalah menggebu.
Semuanya mengangguk setiap cerita yang disampaikan, sambil bergidik ngeri.
Kishi mengerling seiring dahinya yang menjadi dihiasi kerutan samar. “Di balik wajah manisnya, Feaya seseram itu?” pikirnya. “Terus, memang benar, dia sama Dean ... pacaran?” ujarnya memastikan.
Siswi-siswi di sana menjadi menunjukkan ekspresi wajah tidak yakin. “Ngakunya sih gitu. Kan kemarin dia juga sampai dikasih kado sama Dean ...,” ucap salah satu dari mereka.
Pernyataan yang baru saja Kishi dengar, sukses membuat hatinya menjadi terasa sangat perih. Kishi mengangguk-angguk kaku seiring matanya yang menjadi berkaca-kaca. “Oh ... gitu, ya?”
“Iya ... makanya dia ngelunjak gitu, kan? Sengaja duduk di tempatmu?” balas siswi yang ada di sebelahnya.
“Jadi, perjuanganku selama ini, sia-sia, ya?” batin Kishi yang susah payah menahan air matanya agar tidak mengalir.
“Padahal tadinya dia enggak pernah bertingkah. Eh sekarang malah belagu banget!”
“Tapi aku beneran eggak nyangka, ... selera Dean ternyata yang gembrot-gembrot? Tapi masa iya, Dean beneran? Apa si Feaya main jampi-jampi?”
Kishi tak lagi menyimak obrolan. “Ya sudah, aku mau ke koperasi dulu buat beli tisu basah. Makasih, ya, ... buat infonya.” Kishi memang merasa harus membeli tisu basah untuk membersihkan tempat duduk sekaligus meja Feaya yang kemarin ia dapati sampai mengiler. Kishi tidak yakin, kursi dan meja bekas gadis itu higenis apalagi baik untuk kesehatannya.
Namun, ketika Kishi kembali berusaha melewati pintu yang masih dipenuhi tubuh Feaya, Kishi yang kembali harus menyempil justru menjadi berdiri di antara Feaya dan Dean. Karena ternyata, Dean sedang ada di hadapan Feaya. Sungguh, Kishi mendadak mati kutu dan semakin terluka ada di posisi itu.
“S-sori, ujar Kishi tanpa berani menatap keduanya. Ia berlalu begitu saja dengan langkah tergesa. “Dasar pasangan lacnat!” umpatnya dalam hati.
Dean yang bagi Kishi terlalu dingin tanpa mau menghargai perjuangan Kishi, juga Feaya yang nyatanya tak beda dengan srigala berbulu domba!
Bersambung .....
Feaya ngebet banget ke Dean. Wah ... fitnah sudah merajalela 😌😌
Yang besok puasa, selamat menunaikan ibadan puasa, yaaa 😍😊
Terus ikuti dan dukung ceritanya. Sampai jumpa di bab selanjutnya 😊😍
__ADS_1