Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 41 : Teguran


__ADS_3

“Kainya ada dalam hidup Yuan, karena Kainya pura-pura menjadi kamu.”


Bab 41 : Teguran


Apa yang menimpa Yuan membuat Keinya gamang. Keinya merasa sangat bingung. Keinya juga sampai lupa mengenai tujuan awalnya pergi ke rumah sakit yang seharusnya untuk memeriksakan Pelangi. Sementara Pelangi yang awalnya diam juga menjadi tak hentinya menangis.


Fokus Keinya terbagi. Sebisa mungkin ia menenangkan Pelangi sambil memantau pengobatan yang Yuan jalani, termasuk mengurus semua keperluan pengobatannya tanpa terkecuali administrasi. Keinya benar-benar tidak bisa tenang lantaran pikirannya telanjur dikuasai Yuan. Ia merasa bertanggung jawab atas keadaan pria itu.


Bukankah tadinya Keinya sedang menghindari Yuan? Kenapa Tuhan justru kembali membuatnya bertemu bahkan begitu peduli kepada Yuan? Anehnya, Keinya sampai berujar akan melakukan apa pun asal Yuan keluar dari UGD dengan selamat.


Jika mengingat keadaan Yuan sebelum dirujuk masuk UGD, membayangkannya saja Keinya tidak sanggup. Tak hanya darah segar yang terus mengalir dan membuat tubuh Yuan berlumur darah tanpa terkecuali di bagian wajah, karena serpihan kaca juga Keinya dapati menancap di beberapa bagian lengan tangan Yuan dan mungkin lebih.


Keinya merasa lucu pada dirinya sendiri. Kenapa ia seperti seorang istri yang begitu takut sesuatu yang buruk menimpa suaminya hanya karena melihat Yuan terluka begitu parah? Apa karena mereka pernah membicarakan masa depan, pernikahan? Bahkan, ... bukankah Yuan suami Kainya, dan karena itu juga Keinya menghindari Yuan? Atau, ada alasan lain kenapa Keinya begitu peduli, setakut sekarang, jika sesuatu yang buruk sampai menimpa Yuan?


Semua pertanyaan itu Keinya tepis jauh-jauh. Karena yang terpenting untuknya kini hanya keselamatan Yuan. Keinya bahkan tidak berpikir panjang, langsung meminta petugas rumah sakit untuk segera mengambil darahnya ketika mereka mengatakan Yuan kehilangan banyak darah sedangkan stok darah yang cocok untuk Yuan sedang kosong.


“Demi apa pun, Yu. Kamu harus bertahan! Kamu harus keluar dengan selamat!”


Dengan tubuh yang masih lemas, Keinya juga tetap menjaga Pelangi dikarenakan ia hanya terjaga sendiri. Tak ada orang yang bisa ia mintai bantuan. Kalaupun ada, itu hanya Rara. Namun mereka sedang berada di kota yang berbeda. Rara di Jakarta, sedangkan Keinya di Bandung. Kalaupun Rara datang, tentu nanti kalau sudah siang. Sekarang masih jam tiga pagi. Sedangkan Keinya sudah terjaga selama dua jam lebih, menunggu Yuan yang masih ditangani di dalam IGD.


Selama menunggu, Keinya merasa waktu menjadi berputar begitu lambat. Satu menit waktunya menjadi terasa begitu lama. Padahal, Keinya sudah mondar-mandir sambil menimang Pelangi di depan pintu IGD. Yuan juga sudah mendapatkan darah dari Keinya. Namun, kenapa pihak rumah sakit yang menangani tak kunjung membawa Yuan keluar?


Sungguh, menunggu Yuan keluar dari IGD lebih menegangkan dari menunggu proses melahirkan. Perut Keinya juga sampai mulas selain wanita itu yang kerap merasa kebelet pipis.


Barulah, tepat pukul setengah empat pagi, pintu IGD terbuka. Namun kenyataan itu tak lantas membuat Keinya tenang. Sambil masih mengemban Pelangi yang akhirnya tidur dengan demam yang berangsur turun, Keinya mengikuti pemindahan Yuan menuju ruang ICU. Pria itu keluar dengan kepala berikut sebelah tangan yang diperban selain luka gores yang menyita jemari tanpa terkecuali wajah. Selain itu, dan menjadi yang paling mencolok, tak lain gips yang menghiasi leher. Keinya harap hanya itu saja yang harus Yuan rasakan tanpa luka dalam yang biasanya jauh lebih fatal jika melihat kecelakaan yang menimpa Yuan.


“Dok, semuanya baik-baik saja, kan? Enggak ada yang perlu dikhawatirkan?” sergah Keinya sambil berjalan tergesa mengikuti dokter, sedangkan petugas yang lain telah membawa Yuan memasuki ruang ICU di belakang mereka. 


Pria paruh baya berwajah tenang tersebut menatap Keinya sambil mengulas senyum. “Seharusnya tidak. Tapi kita lihat nanti. Semoga tidak harus ada yang dikhawatirkan lagi selain tulang tangan kanannya yang patah. Namun, serpihan kaca membuat tangan dan dadanya mendapat jahitan cukup serius.”


Jantung Keinya berdebar-debar mendengar penjelasan dokter yang meninggalkannya sambil melepas tuntas masker berikut tutup kepala yang dikanakan, sesaat setelah pamit kepadanya.


“Ya ... semoga hanya itu. Aku akan menjaga dan merawatnya,” gumam Keinya yang kembali memikirkan Yuan. Ia segera bergegas menuju ruang ICU keberadaan pria itu, andai saja suara Rara tak memanggil namanya.


“Kei ...?”

__ADS_1


Keinya berangsur balik badan, menatap tak percaya sahabatnya yang bahkan sudah ada di depan matanya. Wanita bertubuh mungil yang selalu menggerai rambut lurusnya itu berlari padanya sambil berlinang air mata.


“Kei ....” Rara mendekap erat Keinya tanpa bisa mengakhiri tangisnya.


“Ra ... sudah jangan menangis. Aku baik-baik saja. Yang kecelakaan itu Yuan.”


Rara tetap menangis sambil mendekap Keinya. Terisak-isak tanpa mau mengakhiri dekapannya. Membuat Kimo yang datang bersamanya tampak serba salah. Kenyataan tersebut pula yang membuat Keinya membiarkan Rara tetap menangis sambil memeluknya.


“Kenapa kalian bisa ke sini bahkan sampai bersama?” tanya Keinya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Rara.


Dari tampilan Kimo, pria itu terlihat rapi dalam artian siap pergi ke suatu tempat. Namun Keinya yakin Kimo tidak benar-benar berniat datang ke rumah sakit. “Bukankah seharusnya kamu menjalani penerbangan ke Australia?”


Kimo mengangguk sesaat setelah menatap Keinya sekilas. “Tapi pihak kepolisian menghubungiku dan mengatakan Yuan terlibat kecelakaan lalu lintas. Mana mungkin aku pergi sedangkan Yuan sedang begini?”


Balasan Kimo terdengar mengeluh. “Maaf, ya,” ucap Keinya atas ketidaknyamanan yang harus Kimo rasakan akibat kecelakaan Yuan.


Kimo tersenyum kecil. “Apakah kamu juga kembali memberikan darahmu untuknya?”


“Apa ...?” Keinya merasa cukup terkejut atas pertanyaan yang baru saja Kimo berikan. Kenapa pria berambut gondrong tersebut seolah mengetahui kisah Keinya dan Yuan?


Keinya yang masih bisa mendengarnya semakin yakin, Kimo mengetahui semuanya. Mungkin karena Kimo teman dekat Yuan, jadi Yuan menceritakannya layaknya Keinya dan Rara.


“Omong-omong, aku ingin berbicara penting,” tambah Kimo sesaat setelah berdeham.


“Iya, katakanlah,” jawab Keinya yang tiba-tiba saja menjadi tegang. Kimo terlihat sangat serius. Pasti ada hal serius yang akan Kimo sampaikan. Belum lagi, Rara juga sampai mengakhiri dekapannya.


Rara segera mengambil alih Pelangi dari Keinya sesaat setelah menyeka tuntas air matanya.


“Apakah kamu berpikir, Yuan keliru? Yuan lebih memilih kembaranmu? Jika begitu yang kamu pikirkan, kamu salah besar.” Kimo mengatakan itu dengan serius. “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian. Tapi karena keadaannya sudah begini, aku harus menjelaskannya kepadamu.”


“Aku mohon, jangan pernah meninggalkan Yuan lagi. Yuan sangat mencintaimu. Dia hanya mencintaimu. Cukup dulu saja dia begitu terpukul ketika tahu wanita yang dia nikahi bukan dirimu.”


Hati Keinya terenyuh. Namun sekalipun ia bahagia, di balik kebahagiaannya ada Kainya yang terluka.


“Yuan memang sempat menikah dengan Kainya. Hubungan mereka teramat baik, awalnya. Tapi itu karena kesalahan. Kainya ada dalam hidup Yuan karena Kainya pura-pura menjadi kamu. Yuan dan Kainya ada, karena Yuan sangat mencintaimu. Selebihnya, Yuan langsung membatalkan pernikahan mereka. Mereka sudah tidak memiliki hubungan. Dan Yuan sangat membenci Kainya.”

__ADS_1


“Sekarang, melihat suasana seperti ini lagi. Aku rasa Tuhan sengaja menegur kalian. Tuhan sengaja menegurmu yang asal meninggalkan Yuan tanpa memberinya kesempatan.”


“Aku mohon, tolong jaga Yuan, Kei. Dia hanya butuh kamu. Keluarganya juga tahu ini. Percaya padaku. Karena hanya inilah yang bisa aku lakukan sebagai teman kalian.”


“Sekali lagi aku tegaskan, yang Yuan cintai itu KEINYA, bukan Kainya!”


Kimo benar-benar memohon. Aura serius yang begitu kontras dari penampilannya ia salurkan melalui tatapan dalamnya pada ke dua manik mata cokelat milik Keinya yang menjadi bergetar.


Seketika itu pula Keinya menjadi sangat terharu sekaligus menyesal, kenapa dirinya begitu gegabah asal mengambil keputusan? Seharusnya Keinya duduk bersama dengan Yuan maupun Kainya dan bila perlu disertai mediator.


“Kamu enggak pernah cerita kalau Kainya kembaranmu?” keluh Rara yang kembali menitikkan air mata. “Bahkan kamu berniat meninggalkanku?”


“Maaf, Ra. Aku enggak bermaksud,” bela Keinya merasa serba salah.


“Bahkan sepatuku sampai melayang ke kepala Athan!” sesal Rara yang kemudian menatap Pelangi. Walau Pelangi lebih mirip Keinya, tapi di wajah cantik bocah itu juga ada garis wajah Athan. Setidaknya, Rara merasa harus cukup menjaga hubungan dengan Athan karena biar bagaimanapun pria itu ayah Pelangi.


Cerita Rara membuat Keinya dan Kimo yang mendengarnya, terkejut.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Keinya terheran-heran. Karena biar bagaimanapun, Athan juga tidak tahu perihal Kainya. Benar-benar tidak ada yang tahu mengenai Kainya.


“Bayangkan saja, Kainya datang mengaku sebagai kamu, tapi dia tidak membawa Pelangi. Kainya yang terlihat begitu kebingungan mengatakan kalau Pelangi sedang bersama Athan. Jadi aku diam-diam mencari Athan dan memaksanya untuk mengaku. Tapi karena dia tetap tidak mau mengaku,” Rara tidak bisa melanjutkan ceritanya sebab rasa bersalah begitu menguasainya, jika ia mengingat apa yang ia lakukan pada Athan. 


Kemarin, Rara melepas sebelah sepatunya dan melemparkannya pada Athan. Parahnya, pria itu tak sempat menghindar hingga lemparan sepatunya mengenai kepala Athan yang seketika itu tersungkur kesakitan.


“Meski tampangmu manis, tapi kelakuanmu seperti preman, ya? Bahkan tanganmu kecil, tapi tenagamu kayak tenaga kuda!” cibir Kimo menertawakan Rara.


Keinya menekap mulutnya menggunakan kedua tangan demi menahan tawanya. Ia sungguh merasa terhibur dengan cerita Rara. Setidaknya, itu membuat luka lamanya karena Athan sedikit terbayar.


Semenjak Athan menceraikan Keinya, Athan selalu menjadi korban kemarahan Rara tanpa terkecuali mengenai hubungan Rara dengan Gio. Karenanya, Rara berniat meminta maaf pada Athan. “Tapi, pas aku balik ke apartemen, Kainya udah eggak ada. Kira-kira, dia ke mana lagi, ya?” ujar Rara yang menjadi mencemaskan Kainya. Apalagi ia masih belum bisa membedakan mana yang Kainya dan mana yang Keinya. 


Rara takut, Kainya kembali memanipulasi keadaan seperti yang Kimo ceritakan. Belum lagi, apa yang menimpa Kainya juga akan berpengaruh pada Keinya. Dan Rara tidak mau Keinya kembali bersedih apalagi sahabatnya itu baru saja mencicipi bahagia. Rara berharap Keinya fokus hidup bahagia bersama Yuan tanpa bayang-bayang apa pun termasuk Kainya.


Ketika semua ketakutan itu mencekam Rara, kedua matanya tak sengaja menangkap sosok yang sedang ia pikirkan tengah dirundung keluar dari ruang UGD. 


Namun, apa yang membuat Kainya harus menjalani penanganan intensif, bahkan dari UGD dengan banyak perban di kepala, tangan bahkan kaki?

__ADS_1


*****


__ADS_2