Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 92 : Menaklukkan Masa Depan


__ADS_3

“Rasanya, ... ada yang kurang kalau satu hari saja, kamu enggak menggangguku. Dan mengenai cemburu ... aku memang merasakannya. Aku bahkan hampir gila karena memikirkannya.”


Bab 92 : Menaklukkan Masa Depan


Keinya menatap heran kehadiran Athan yang bahkan sampai mendekatinya. Karenanya, Keinya sampai mengesampingkan Kimi yang awalnya sedang mengajaknya mengobrol sambil sesekali bercanda dengan Pelangi.


“Apakah menurutmu, ... dia oke?” bisik Athan sambil melirik sekaligus melakukan gerak wajah ke arah Kimi yang ada di sebelahnya dan jaraknya sekitar tiga meter.


Keinya yang paham perihal maksud Athan menjadi bergidik ngeri. “Yang benar saja? Kita belum ada sepuluh menit membahasnya, kan? Secepat ini? Dan kenapa juga aku harus jadi makcomblangmu?” ucapnya dengan berbisik-bisik dan ada kalanya melirik Kimi. Kini, adik kandung Steven—calon kakak iparnya, berangsur duduk di kursi pelanggan tak jauh dari kebersamaannya dan Athan.


Kimi duduk santai dan mulai menilik buku menu yang sudah tersedia di meja. Gaya wanita muda itu memang teramat manis terlepas dari Kimi sendiri yang tampak begitu tenang. Terlebih ketika Pelangi yang turun dari gendongan Keinya juga sampai menghampiri Kimi. Wanita itu langsung menyambutnya dengan hangat sekaligus keibuan. Hal tersebut pula langsung membuat Athan semakin mantap menjadikan Kimi tujuan, sambil menatap Keinya dengan semringah.


Keinya yang masih mengamati Kimi yang bahkan sampai memangku Pelangi, mengajak anaknya ikut menilik buku menu, berangsur menghela napas pelan sambil bersedekap. “Kimi berasal dari keluarga baik-baik. Dia adik kandung calon suami Kainya, selain adik kesayangan Kimo.” Keinya benar-benar merenung, menimang kenyataan yang akan ia utarakan. Dan dengan kerasahan yang memuncak, ia menatap Athan. “Masalahnya, Kimi mau sama kamu, enggak? Bahkan, kamu juga sempat melamar Rara, kan?!” keluhnya masih dengan suara lirih sarat rahasia. “Kalau kenyataannya seperti itu, aku enggak yakin Kimo sama keluarga besarnya kasih kamu restu!”


Meski menjadi gugup, tetapi Athan tidak menampik balasan Keinya. Perihal dirinya yang pernah melamar Rara, tetapi ternyata saat itu Rara sudah menikah dengan Kimo. 


Kali ini, sambil menghela napas dan bersedekap, mengamati kebersamaan Kimi dan Pelangi layaknya apa yang Keinya lakukan, Athan berkata, “aku memilih Rara karena dia keibuan, selain Rara yang sudah sangat dekat dengan Pelangi.”


Athan meyakinkan Keinya melalui tatapannya.


“Tetapi setidaknya kamu memikirkan hubunganku dan Rara!” omel Keinya yang sampai mendelik pada Athan. Ia benar-benar geregetan pada Athan yang baginya sembrono tanpa memikirkan dampak dari setiap keputusan yang pria itu ambil.


Athan mendengkus pasrah menerima cibiran mantan istrinya. “Waktu itu aku hanya berpikir, daripada aku salah pilih wanita lagi, mending aku pilih Rara. Toh, kalau aku sampai salah untuk ke dua kalinya, Pelangi juga bisa kena dampaknya. Dan pastinya, urusannya akan panjang.”


“Aku cincang-cincang kamu, kalau sampai bikin dampak buruk sama Pelangi!” tahan Keinya terbawa emosi.


Sambil menghela napas pelan, Athan yang menunduk pasrah berangsur menarik sebelah tangannya untuk memukul-mukul pelan punggung Keinya. Ia sengaja melakukannya demi meredam emosi wanita itu.


Keinya yang untuk kesekian kalinya menghela napas pelan pun pasrah. “Baiklah. Serius, dan ... selamat berjuang! Kimi, ... oke, kok!” ucapnya sambil mengangguk-angguk setuju.


Mendapat lampu hijau dari Keinya, Athan menjadi kembali bersemangat. Ia menatap tak percaya Keinya sambil tersenyum lepas. Bahkan andai saja Keinya tidak menghindar, Athan nyaris memeluk mantan istrinya itu.


“Bisa dapat somasi kamu, kalau macam-macam sama aku!” omel Keinya yang masih bersedekap. “Ingat. Hati-hati dalam bersikap karena Yuan punya banyak mata dan juga telinga!” Ia menatap serius Athan menegaskan peringatan yang baru saja ia katakan.


Atahan kembali mengangguk-angguk mengerti. Dan kini, giliran ia yang harus berjuang setelah menemukan wanita yang tepat. Namun, apakah Kimi mau menerimanya yang pernah sangat gagal di masa lalu? Dan bagaimana juga tanggapan Kimo yang selama ini sangat membencinya terlebih ia juga sempat mendekati Rara? 


Athan merasa jika mendekati Kimi merupakan awal perjuangannya untuk menaklukan masa depan. “Baiklah, mari berjuang! Daripada terus-menerus dikejar Ryunana ... bisa-bisa aku kena KDRT, Pelangi juga dianiaya kalau beneran aku terpaksa menikahi Ryunana!” batinnya menyemangati dirinya sendiri.


“Tetap semangat. Jika memang ketulusanmu diberikan kepada orang yang tepat, pasti semuanya akan berbuah manis. Percayalah ... usaha enggak pernah mengkhianati hasil.” Meski sama sekali tidak melirik mantan suaminya, tetapi maksud Keinya kali ini memang sengaja menyemangati pria itu.


Athan menatap Keinya sambil mengulas senyum yang lama-lama menjadi tersipu. Dan Athan yakin, kali ini pipinya sampai merona seiring rona hangat yang menyerang di sana.


“Kita bisa jadi teman baik, kan?” ujar Athan kemudian sambil mengangsurkan tangan kanannya kepada Keinya. Ia bermaksud menawarkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Keinya.


Keinya hanya melirik tangan kanan Athan dengan sinis. “Izin dulu sana sama Yuan!” tukasnya terdengar judul.


Bukannya tersinggung, tetapi untuk kali ini Athan menjadi terkikik dan kenyataan tersebut teramat menyebalkan untuk Keinya.

__ADS_1


“Jangan sebenci itu sama aku. Nanti, kalau anak kalian justru mirip aku, baru tahu rasa! Kamu lagi hamil lagi, kan?” Kali ini Athan sengaja menggoda.


Kecemasan benar-benar menikam Keinya yang langsung sibuk menggetok-getok pelan kepalanya sambil berkata, “amit-amit, ih!”


Athan terkikik menertawakan Keinya yang buru-buru beranjak pergi menghampiri kebersamaan Kimi dan Pelangi.


*** 


Matahari nyaris tenggelam ketika Ben memastikan melalui jendela kamarnya yang tertutup gorden tipis. Ben menyibak gorden tersebut sambil melongok suasana luar dari sana. Tampak semburat jingga terpampang nyata di ufuk barat sana di antara aroma aspal dan debu yang tercium sangat kuat. Dan bagi Ben, senja kali ini nyaris sempurna andai saja hatinya tak berselimut kerisauan.


Ben beranjak meninggalkan jendela dan kembali membiarkan gorden tipis menutupinya. Ia meraih ponselnya di meja kerja yang keberadaannya ada di sebelah jendela yang baru saja ia tinggalkan. Dan keadaan Ben menjadi semakin tidak baik-baik saja, lantaran ponselnya tidak mendapatkan pemberitahuan baru. Semuanya benar-benar masih sama. Itzy ... wanita itu masih mendiamkannya. 


Tak ada pesan berikut telepon masuk dari Itzy bahkan sekadar salah kirim atau telepon salah sambung layaknya biasa ketika wanita itu mencoba mendekati sekaligus mengelabuhinya. Karena biasanya, Itzy tak segan pura-pura salah mengirim pesan atau salah telepon, kemudian setelah meminta maaf dan menjelaskan perihal kesalahannya, wanita itu akan mengobrol panjang lebar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Karenanya, Ben yakin alasan Itzy mengirimkan pesan salah berikut pura-pura salah sambung, merupakan trik wanita itu dalam mendekatinya.


Ben menatap sedih layar ponselnya yang berangsur menggelap. “Ini malam minggu, lho ... masa iya, dia lupa sama janjinya buat menonton snow white? Atau ... sebenarnya Itzy hanya sedang mengujiku?” pikirnya. 


Sebenarnya, Ben ingin menghubungi Itzy. Sekadar mengirim pesan atau malah menemui wanita itu secara langsung, terlebih hari ini, Ben hanya kerja setengah hari. Akan tetapi, Ben masih merasa gengsi untuk memulainya. Pun meski saat di kantor tadi, Ben sempat bertemu Itzy. Keduanya tak ubahnya orang asing yang untuk saling tatap pun tidak mereka lakukan, meski mereka berpapasan bahkan berdiri bersebelahan dalam waktu cukup lama seperti saat  menunggu sekaligus di dalam lift.


Ben menelan ludah, disusul menghela napas pelan seiring keputusan besar yang baru saja ia ambil. “Ya sudah. Aku siap-siap dan langsung ke tempat snow white saja. Siapa tahu Itzy memang sedang mengujiku dan menungguku di sana.”


Ben benar-benar dengan kenyakinannya. Pria itu segera memasuki kamar mandi yang keberadaannya masih satu ruangan dengan kamarnya. Namun, belum sempat masuk, tiba-tiba ia memiliki rencana lain. “Atau ... aku pura-pura antar rendang saja ke rumah Itzy seperti usul mom? Tapi ... terkesan modus, enggak, sih?” keluhnya. “Nanti, kesannya aku terlalu agresif bahkan enggak tahu malu, lagi ....”


*** 


Tepat pukul tujuh malam, Ben yang melakukan semuanya dengan buru-buru akhirnya ada di depan pintu rumah Itzy dan sampai sudah dibukakan pintu oleh salah seorang pekerja di sana.


“Non Itzynya di rumah?” tanya Ben terdengar hati-hati. Namun ia berharap, apa pun yang terjadi pada Itzy, wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Tak apa, sekalipun nantinya, Itzy kembali rese dan memporak-porandakan kehidupan Ben. Asal Itzy baik-baik saja, bagi Ben itu sudah lebih dari cukup.


“Lho, kenapa? Non Itzy sakit? Ada pesan sesuatu enggak?” ucap Ben tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya terlebih acara snow white yang seharusnya mereka tonton, tayang pukul tujuh lewat lebih seperempat. Dengan kata lain, seperempat jam dari sekarang, acara itu akan dimulai. Sedangkan perjalanan dari rumah Itzy ke lokasi memakan waktu sekitar tiga puluh menit, pun itu jika tidak macet. Lantas, apa maksud Itzy tidak memberinya kabar jika memang tidak jadi menonton snow white? Apakah Itzy lupa? Atau, ada hal mencemaskan yang menimpa wanita itu, hingga tak bisa menghubunginya? Itzy benar-benar sakit? Wanita seperti Itzy bisa sakit? Ben makin penasaran perihal apa yang sebenarnya menimpa Itzy.


Ben melangkah tergesa sambil memikirkan semua kemungkinan tersebut. Disambut mama Itzy yang kebetulan sedang menonton televisi sambil menikmati potongan buah pepaya. Seperti biasa, wanita cantik itu menyambut Ben dengan ramah berikut rendang yang Ben bawa.


“Kalian sudah janjian, kan? Coba cek langsung saja. Jangan-jangan malah ketiduran anaknya,” ujar Olivia.


“Iya, Tan.” Ben segera menaiki anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas selaku keberadaan kamar Itzy, layaknya titah Olivia.


Sepanjang perjalanan menuju kamar Itzy, dada Ben menjadi berdebar-debar. Entahlah, karena firasatnya menjadi cukup buruk. Pasalnya, genap tiga hari sudah, Itzy mendiamkannya tanpa kabar atau sekadar menyapa ketika bertatap muka.


Kali ini, Ben tak lantas mengetuk pintu kamar Itzy lantaran pintu kamar tujuannya itu dalam keadaan tidak tertutup rapat. Tak ada penerangan yang terpancar dari dalam kamar Itzy. Kamar tersebut benar-benar gelap. Ben yang semakin penasaran berangsur membukanya dengan hati-hati. Sungguh, kamar Itzy sangat gelap. Kendati demikian, Ben tak lantas menyalakan lampu di sana. Pria itu berjalan cepat memasuki kamar seiring kekhawatiran yang semakin berkembang dengan begitu cepat.


Embusan angin kencang cukup mengusik kehadiran Ben. Ben mengamati sumbernya dengan pandangan menyelidik. Ternyata, beberapa jendela kamar Itzy masih dalam keadaan terbuka, sedangkan tubub Itzy meringkuk di tengah-tengah kasur. Itzy terpejam damai. Dan kenyataan tersebut pula yang membuar Ben sampai menjadi ditikam ketakutan.


“Itzy, baik-baik saja, kan?” Ben berangsur meraih kening Itzy dan merabanya.


Bagi Ben, meski suhu tubuh Itzy hangat, tetapi itu terbilang normal. Dan lantaran Itzy tak kunjung bereaksi, Ben pun berangsur cukup menarik tubuh wanita tersebut melalui kedua ketiak Itzy.


Ulah Ben sukses membuat Itzy terusik. Meski Itzy paham dengan aroma parfum yang ia kenali sebagai parfum Ben, tetapi Itzy sulit percaya jika yang tiba-tiba membangunkannya bahkan sampai menarik tubuhnya kemudian membantunya bersandar pada sandaran tempat tidur, memang Ben.

__ADS_1


Ben menatap cemas Itzy dengan jarak yang begitu dekat. Dan lantaran rambut Itzy yang terurai menutupi sebagian wajah wanita itu, Ben pun menyibaknya dengan buru-buru. Di mana, kecemasan Ben belum juga sirna kendati Itzy telah balas menatapnya.


“Kakak kenapa?” tanya Itzy yang masih belum semangat lantaran sebenarnya, ia masih setengah sadar lantaran dibangunkan paksa oleh Ben.


“Kamu lupa janjimu? Bahkan kamu sendiri yang mengatur jadwalnya?” balas Ben terdengar mengeluh.


“Janji apa?” balas Itzy sambil mengernyit bingung.


Merasa dingin atas embusan angin dari jendela yang begitu kencang, Itzy berangsur menarik selimut sisi seberang Ben, untuk menutupi tubuhnya.


“Kamu benar-benar lupa?” tanya Ben yang masih menatap serius Itzy.


Itzy berangsur menengadah dan membuatnya kembali menatap Ben. Ben buru-buru merogoh saku dalam jaketnya dan mengangsurkan dua helai kertas yang Itzy kenali sebagai tiket menonton snow white pemberiannya. Itzy memberikan kedua tiket tersebut di cokelat terakhir yang ia berikan kepada Ben. Lantas, apa maksud pria itu mengingatkannya perihal tiket, sedangkan selama tiga hari ini saja, Ben sama sekali tidak memberinya kabar?


Ben menghela napas dalam sembari duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur Itzy, persis di sebelah wanita itu. Selain itu, Ben juga sampai menyelonjorkan kedua kakinya di atas tempat tidur Itzy.


Menyadari hal tersebut, dengan hati yang menjadi terbesit, Itzy segera menarik tubuhnya dan bersandar pada tubuh Ben. “Aku enggak sedang bermimpi, kan?” batinnya.


Di antara remang suasana kamar yang hanya dihiasi cahaya lampu dari luar jendela berikut sepoi angin yang masih berembus kencang, Ben berangsur mendekap tubuh Itzy. Sesekali, pria itu juga menepuk pelan kepala berikut punggung Itzy.


“Tumben ...?” ucap Itzy sengaja menyindir. Sesekali, ia akan menengadah, memastikan perubahan ekspresi wajah Ben melalui lirikan.


Tatapan Ben masih lurus ke depan. Namun karena pertanyaan Itzy, Ben berangsur menundukan wajahnya untuk menatap Itzy. “Kamu yang tumben. Kenapa enggak jadi biang kerok lagi?”


Itzy tersipu. “Kangen, ya?” godanya


Ben berdeham. Pria itu memang tidak menjawab bahkan menepis tatapan Itzy. Namun, dekapannya terhadap Itzy semakin erat.


“Seharusnya yang gengsi itu aku! Kalau Kakak tetap gengsi, nanti aku dambil pria lain, lho!” lanjut Itzy masih menggoda.


Ben menatap sebal Itzy. “Jadi, benar, ... kamu ada hubungan terselubung dengan Daniel?!” tudingnya.


Dan bukannya menjawab, Itzy justru tergelak kemudian mencium gemaa sebelah pipi Ben.


“Aku tanya serius, kamu malah tertawa seperti itu?” tegur Ben terheran-heran.


Itzy yang tidak bisa mengakhiri tawanya pun berkata, “Kakak cemburu?”


Ben langsung salah tingkah bahkan menggeragap tanpa berani menatap Itzy. “Rasanya, ... ada yang kurang kalau satu hari saja, kamu enggak menggangguku. Dan mengenai cemburu ... aku memang merasakannya. Aku bahkan hampir gila karena memikirkannya.”


Pengakuan Ben sukses membuat Itzy berlinang air mata saking bahagianya. Bersama Ben, Itzy seperti berdiri di bawah guyuran salju. Karena meski akan membuat Itzy kedinginan, tetapi pria itu juga selalu bisa membuatnya bahagia. Terlebih, ketika Ben mulai berani mencium bibir Itzy. Itzy yang langsung membalasnya menjadi berpikir, apakah sikap manis Ben, menjadi awal hubungan mereka menuju masa depan?


Bersambung ....


Yeeyyy. Bentar lagi tamat 😍😍😍


Terus ikuti dan dukung kisah mereka sampai Tamat, yaaa.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi


__ADS_2