
“Kenapa bahagia juga sesakit ini? Aku sedang merasa sangat bahagia, tapi sekadar berucap saja aku tak bisa.”
Bab 65 : Pertemuan Tak Terduga
*****
Yang membuat Kainya bingung, mengapa pria di sebelahnya dan mengenalkan diri sebagai Ben, justru mengemudi ke arah rumahnya? Kainya bisa memastikan jalan yang Ben pilih memang menuju rumahnya. Atau jangan-jangan, telepon masuk di ponsel Ben dan belum lama diakhiri oleh pria itu juga bagian dari alasan Ben membawanya pulang? Lantas, apakah apa yang tengah terjadi akan menjadi angin segar untuk Kainya? Atau, malapetaka yang bahkan belum pernah ada dalam bayangannya dan justru akan menghancurkan Kainya?
Kainya semakin gelisah. Ia terus berpikir keras untuk mengakhiri semua kegilaan Ben. Kalau bukan untuk maksud buruk, atas dasar apa Ben membawanya pulang? Bukankah belum ada sepuluh menit, pria itu berujar akan membawanya menemui orang tua Ben yang sedang liburan di Jakarta? Namun, kenapa Ben justru membawanya pulang? Atau ada hal yang harus Ben lakukan dan itu berhubungan dengan rumah Kainya? Tapi apa? Di rumah pun tidak ada siapa-siapa kecuali para pekerja? Bahkan Khatrin saja masih di mal Fahreza Grup dan Kainya takutkan justru sudah bertemu Keinya!
“Sial! Pertemuan tak terdugaku dengan Ben, benar-benar malapetaka!” umpat Kainya dalam hatinya.
Kainya merasa sangat kesal dan ingin melenyapkan Ben yang kerap ia lirik tajam. “Aku berusaha menjebak Keinya, tapi justru aku yang terjebak!” umpatnya lagi masih sibuk meracau dalam hati.
“Ben, mari kita buat kesepakatan!” ujar Kainya ketika Ben menepikan mobil di depan gerbang megah rumah orang tua Kainya.
Ben mematikan mesin mobil kemudian menoleh dan menatap Kainya. “Apa?”
“Aku akan melakukan apa pun, asal kamu melepaskanku!” Kainya menatap Ben penuh keyakinan. Berharap, pria di hadapannya mau menerima tawarannya.
Ben menelan salivanya kemudian mengangguk. “Setelah orang tua kita bertemu.”
Kainya mengernyit. “Orang tuamu akan ke sini?” Keinya memastikan. “Kenapa begitu cepat? Kenapa harus secepat ini?!” batinnya ketar-ketir.
Ben mengangguk santai sambil tetap menatap Kainya.
“Sekarang?” sergah Kainya ketar-ketir.
Ben kembali mengangguk sambil mendekati Kainya tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari kedua mata Kainya, hingga wanita itu ditawan ketegangan luar biasa.
“A-apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kainya sambil terus menghindar. Jarak wajah mereka tak kurang dari setengah jengkal. Benar-benar dekat, sampai-sampai, Kainya bisa merasakan hangatnya napas Ben yang bermuara di wajahnya.
Ben tersenyum lepas seiring bunyi “cekrek” tanda terlepasnya kaitan sabuk pengaman Kainya yang ia lakukan menggunakan kedua tangannya.
“Kenapa kamu begitu takut kepadaku? Bukankah dari tadi kamu sibuk melawanku?” tanya Ben yang kemudian bergegas keluar dari mobil. Ia memutari bagian depan mobil dan berhenti di sisi pintu keberadaan Kainya yang langsung ia buka.
Kainya menatap bingung Ben. “Haruskah aku kabur? Tapi, sudah di rumah sendiri kenapa harus kabur?” pikirnya. Kemudian ia berdeham. “Papi dan mamiku enggak di rumah. Jadi kamu bilang ke orang tuamu jangan ke sini sekarang,” ucapnya dengan gaya elegan.
Kainya bergegas meninggalkan Ben melewati gerbang dan langsung disambut oleh satpam yang membukakan pintunya. Yang Kainya herankan, Ben juga tetap mengikutinya.
“Kenapa kamu masih mengikutiku?” omel Kainya sesaat setelah balik badan dan membuatnya menghadap sekaligus menatap Ben.
Ben mengangkat ke dua lengan kekarnya. “Orang tuamu ingin bertemu denganku.”
“Kata siapa?” tanya Kainya cepat dan telanjur penasaran.
“Tadi Dady bilang begitu. Aku diminta bawa kamu pulang dulu.”
Kainya melirik tajam Ben kemudian meninggalkannya. “Selama si Ben atau orang-orangnya di rumah, aku enggak bakalan keluar dari kamar bahkan meski Papi sama Mami yang minta!” batin Kainya. Namun, apa daya ketika kedatangannya yang baru memasuki ruang tamu selaku ruang pertama setelah pintu masuk, sudah disambut oleh Philips.
__ADS_1
“Papi sudah pulang?” sapa Kainya bingung. Aneh sekali, Philips sudah pulang di jam yang seharusnya masih menjadi jam kerja. Masih jam dua siang sedangkan biasanya Philips selalu pulang malam, kecuali kalau ada urusan mendesak.
Jangan-jangan, orang tua Ben memang akan datang untuk membahas perjodohan? Sial! Rahang Kainya mengeras bersamaan dengan ke dua tangannya yang mengepal. Ben, hadirnya pria yang tengah ia lirik tajam, benar-benar kesialan untuk Kainya. Pria itu sukses menjungkir-balikkan kehidupan Kainya dalam sekejap.
“Mami sudah menunggumu, Kai. Temui mami di dalam, ya?” Philips menatap Kainya penuh pengertian. Namun tak seperti biasa, Kainya justru meliriknya tajam tanpa sopan santun terlebih kemanjaan layaknya biasa. Kainya terlihat sangat marah dan itu juga tertuju kepadanya.
Kainya berlalu dengan beribu rasa kesal yang mencoba memenjarakannya. Dapat ia dengar keakraban Ben dan Philips yang langsung mengobrol hangat membahas kabar keluarga berikut bisnis, sesaat setelah Philips membuka obrolan.
“Demi Tuhan, kalau sampai kamu membuat hidupku sulit, aku enggak akan pernah memaafkanmu, Ben!” Kainya menghela napas kemudian beranjak meninggalkan pintu ruang tamu keberadaan Ben dan Philips. Ia melangkah tegas atas kekesalan yang membuncah dan membuatnya sangat marah.
****
“Kai?” panggil Khatrin. Ia mengulas senyum sambil terus menatap Kainya.
Kainya tak memikirkan dan memang tak peduli bagaimana Khatrin yang seharusnya masih ada di mal Fahreza Grup—tempat parkir justru sudah ada di rumah dan kini berdiri di hadapannya? Yang Kainya herankan, kenapa Khatrin tega membiarkannya terjebak perjodohan jika maminya itu benar-benar menyayanginya? Wanita yang selalu memberinya kehangatan bak cahaya mentari di pagi hari, justru tak lagi berperan layaknya biasa.
“Kita mengobrol sebentar, ya?” Khatrin mengulas senyum. Ia mencoba menghampiri Kainya dan mencoba merangkul putrinya. Namun, Kainya langsung menepis, mengenyahkan tangannya kemudian menjauhinya. Kainya terlihat sangat marah sekaligus kecewa dan itu kepadanya.
“Mami jahat! Kenapa Mami membiarkanku terjebak dalam perjodohan? Aku enggak mau dijodohkan, Mi! Pria itu Ben yang ngelamar aku, kan?!”
Tak hanya Kainya yang menitikkan air mata, karena hal yang sama juga menimpa Khatrin. Khatrin bahkan sampai membekap mulutnya menggunakan kedua tangan demi mengendalikan tangisnya yang telanjur pecah tersedu-sedu.
Kesedihan seolah menghanyutkan Khatrin. Kainya yang melihatnya juga merasakannya. Khatrin terlihat sangat terluka bahkan berduka. Apakah Khatrin juga tidak mengharapkan perjodohan dan terpaksa melepasnya?—Kainya mulai bertanya-tanya. Biar bagaimanapun, Khatrin masih begitu sabar, bertutur pun dengan suara yang begitu lemah lembut kepadanya. Perhatian dan kasih sayang Khatrin sama sekali tak berkurang.
****
Yuan mengangguk sambil menatap Keinya penuh cinta. Tatapan cinta yang begitu sarat kesabaran sekaligus kepedulian. Kemudian, ia yang lebih dulu melepas sabuk pengamannya, membantu Keinya dan segera merapikan susunan rambut Keinya. Ia menyelinapkan anak rambut Keinya yang keluar dari ikatan, ke belakang telinga wanita itu.
“Yu ...? Kok kamu kelihatan sedih begitu?” tanya Keinya heran sekaligus hati-hati lantaran selain terlihat begitu sedih, Yuan juga sampai membingkai wajahnya menggunakan kedua tangan.
Yuan menggeleng sambil tersenyum kemudian melayangkan ciuman dalam di kening Keinya, cukup lama. Kenyataan yang sungguh membuat hati Keinya risau lantaran tak biasanya Yuan begitu. Kalaupun sedang bersama dan dalam situasi romantis, Yuan tak sampai sesedih sekarang.
Yuan turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Keinya. Ia mengulurkan tangan kanannya dan diterima dengan hangat oleh Keinya yang merasa menjelma menjadi bocah lantaran Yuan makin memanjakannya.
Keinya mengamati suasana tempat kunjungannya. Sebuah rumah megah di kawasan perumahan elite dan di depan gerbangnya yang kokoh terbuat dari besi tua bercat hitam, sudah terparkir sebuah mobil. Pantas saja Yuan mengajak Keinya, karena klien yang dimaksud dan memaksa Yuan untuk menikahi putrinya rupanya orang kaya raya, meski Keinya baru melihat dari rumah klien Yuan. Anehnya, kenapa satpam yang membukakan pintu untuk mereka justru kebingungan sambil terus menatapnya?
“Yu, satpamnya kok kebingungan begitu? Memangnya ada yang salah, ya, dengan penampilanku?” bisik Keinya sambil mendekap lengan Yuan yang sudah menggandeng sebelah tangannya.
Kainya sampai bergelendotan pada bahu Yuan saking bingungnya mendapat perhatian aneh dari si satpam. Di mana ketika Kainya menoleh untuk memastikan, si satpam benar-benar masih menatapnya bingung, meski Keinya dan Yuan sudah akan memasuki pintu utama rumah tersebut, sedangkan si satpam masih berdiri di depan gerbang.
Yuan menatap Keinya sambil tersenyum. “Mungkin satpamnya terpesona sama kamu,” balasnya sengaja menggoda.
Keinya mendengkus kemudian mengerucutkan bibir dengan manja. “Aneh, sebenarnya ada apa?” batinnya.
Yang semakin membuat Keinya bingung, kenapa Ben ada dalam pertemuan yang akan ia jalani bersama Yuan? “Yu, itu pria tadi!” bisik Keinya waswas.
Ben dan Philips menatap tak percaya sosok wanita yang mendekap sebelah lengan Yuan, selaku tamu yang mengetuk pintu. Kebetulan, pintu utama keberadaan mereka memang dibiarkan terbuka.
Baik Ben maupun Philips refleks berdiri, meninggalkan sofa yang awalnya mereka duduki sambil terus menatap sosok wanita yang tidak lain Keinya karena pandangan mereka memang langsung tercuri pada wanita itu.
__ADS_1
“Apa kabar, Om?” sapa Yuan sopan pada Philips.
Philips menatap tak percaya Yuan. Ia bahkan sampai melihat betapa lengketnya Yuan dan si wanita yang masih membuatnya menerka, Keinya atau Kainya?
Keinya yang menjadi fokus perhatian, memilih tetap mendekap lengan Yuan, kendati tangan Yuan yang menggandengnya tengah menjabat pria paruh baya yang Yuan sapa “Om”.
“Ini Keinya, Om,” sambung Yuan sesaat setelah melepas jabatan tangannya di mana ia juga sampai mencium punggung tangan Philips dengan takzim. “Sayang, sapa Papimu,” bisiknya kemudian tepat di sebelah telinga Keinya. “Ini Papi Philips, suami mamimu.”
Jantung Keinya seolah melesak tatkala panggilan yang Yuan tuntunkan kepadanya untuk pria di hadapan mereka. Sejauh ini, meski ia sudah mengetahui mengenai kabar Khatrin yang masih hidup dan sudah menikah lagi di mana Kainya juga sudah bergabung, tetapi Keinya belum pernah melihat wajah orang tuanya termasuk Khatrin meski hanya foto. Yuan hanya mengatakan bila Khatrin begitu mirip dengan Keinya—cantik. Selebihnya, benar-benar tidak ada hal lain yang Keinya ketahui. Jadi, ketika pria paruh baya bertubuh tinggi dan terbilang tegap di hadapannya sampai menatapnya sambil berlinang air mata, Keinya bisa merasakan ketulusan yang luar biasa dari sosok tersebut. Di man, dari cara Philips menatap yang terus menerka sambil berlinang air mata pula, pria tersebut terlihat jelas begitu peduli bahkan menyayanginya.
Sambil melangkah mendekati Keinya, tatapan Philips sama sekali tidak teralih dari wajah Keinya. Ia mengamati setiap inci wajah wanita muda yang begitu mirip dengan Khatrin bahkan dari cara Keinya menatap. Begitu banyak kelembutan berikut kesabaran yang menyertai Keinya—benar-benar seperti ketika ia melihat Khatrin.
Dekapan kedua tangan Keinya turun dengan sendirinya dari lengan Yuan. Tak hanya karena apa yang tengah ia hadapi begitu membuatnya terkejut, melainkan karena tubuhnya seolah kehilangan banyak tenaga. Bahkan Keinya merasa bila sebagian nyawanya sampai meninggalkan raganya. Sungguh, keadaan kini yang sama sekali tidak ada persiapan, membuat perasaannya campur aduk.
Ketika Philips sudah ada di hadapannya, dengan kedua tangan pria itu yang sampai meraba wajah Keinya sambil terus menatap tak percaya, tangis Keinya pecah. Hati Keinya terasa begitu sakit di mana dadanya juga terasa sangat sesak. Lidahnya juga ikut kelu tanpa sepatah kata pun mampu terucap, meski Keinya sangat ingin menyapa atau sekadar memanggil Philips.
“Papi!” Berkali-kali Keinya menjerit dalam hatinya. “Kenapa bahagia juga sesakit ini? Aku sedang merasa sangat bahagia, tapi sekadar berucap saja aku tak bisa.”
Philips merengkuh dan memeluk erat tubuh Keinya. “Kamu benar-benar masih hidup!” raung Philips tersedu-sedu.
Yuan yang memilih menunduk juga tak kuasa menahan air matanya apalagi sesak juga tiba-tiba saja memenuhi dadanya. Ia yang tidak mengalami apa yang Keinya dan Philips alami saja merasa begitu sakit, apalagi ke dua orang yang menjalaninya? Lantas, bagaimana jika Keinya sampai bertemu Khatrin? Sungguh, tangis bahagia setelah nyaris dua puluh tahun berlalu, dan seharusnya pertemuan mereka juga sudah terjadi dua puluh tahun yang lalu layaknya apa yang terjadi pada Kainya, tak beda dengan pertemuan dalam suasana duka—kematian. Tangis lepas dipenuhi rasa sakit, di mana mendengarnya saja, dada menjadi begitu sesak sekaligus sakit.
Ben yang masih belum mengerti mengenai apa yang sebenarnya terjadi, kian ditikam keresahan. Entah sudah berapa kali ia menghela napas sembari terus mencoba mencerna pemandangan yang ada. Keinya dan Kainya ... sepertinya, fakta bila keduanya kembar memang benar adanya. Wanita yang ia tahan dan bersikeras mengaku sebagai Kainya baru saja masuk, tapi sudah datang lagi wanita yang dipanggil Keinya. Parahnya, ia lebih tertarik pada wanita yang dipanggil Keinya, tapi Keinya yang ia yakini sebagai wanita yang membuatnya jatuh cinta justru menggandeng seorang pria yang memanggil Keinya dengan sebutan “Sayang”.
Philips mengakhiri dekapannya, tetapi kedua tangannya tak lantas melepaskan Keinya. Ke dua tangannya membingkai wajah Keinya dan mengelap setiap linangan air mata di sana. “Ini Papi,” ujarnya berusaha menuntun Keinya dengan dada yang masih terasa sangat sesak.
Tangis Keinya menjadi makin pecah. Hatinya terenyuh atas ketulusan yang begitu besar dari pria paruh baya di hadapannya. Pria bule yang dalam berucap bahasa Indonesia saja masih terdengar kaku.
“Mmm ....” Keinya mengangguk-angguk sambil menunduk. Lidahnya masih saja kelu walau ia juga sangat ingin memanggil Philips dengan sebutan “Papi” seperti yang pria itu tuntunkan.
Kemudian, fokus Philips teralih pada Yuan. Pria bermata biru itu sibuk menyeka air mata sambil terus menunduk. “Mami sudah menunggu kalian, masuklah.”
Ketika Philips melepaskan Keinya, Yuan segera mengambil alih. Yuan merangkul kemudian menuntun Keinya memasuki rumah bernuansa putih, sambil terus menyeka air mata Keinya.
Keinya menatap Yuan. “Kenapa kamu enggak cerita dari awal?” keluhnya yang sampai sesenggukan.
Yuan menggeleng. “Demi Tuhan, aku juga enggak tahu kalau ini akan terjadi. Tadi tiba-tiba mamimu telepon aku,” balasnya meyakinkan.
Tadi, ketika akan memasuki restoran yang Yuan hadiahkan untuknya sebagai lamaran, Yuan memang mendapat telepon dan membuat pria itu terlihat begitu serius bahkan meninggalkan Keinya dalam menjawabnya. Mungkin telepon itu yang Yuan maksud dari Khatrin. Di mana tak lama setelah itu, Yuan yang kembali juga tiba-tiba saja menuntun Keinya ke tempat parkir hingga mereka justru ada di sini.
Keinya yang masih merasa kacau dan benar-benar belum siap bertemu Khatrin, menghentikan langkahnya kemudian mendekap tubuh Yuan seiring tangisnya yang kembali pecah. Ben yang masih bisa melihatnya karena posisi Keinya dan Yuan tak jauh dari pintu ruang keberadaannya yang tak tertutup rapat, bisa melihat begitu Keinya sudah sangat bergantung pada Yuan. Lebih tepatnya, Ben melihat dan mau tak mau harus mengakui Keinya dan Yuan memang sangat saling mencintai.
“Semuanya akan baik-baik saja, Kei ....”
***
Setelah harus dihadapkan pada perjodohan yang tak pernah ia harapkan, Kainya juga dikejutkan oleh kehadiran Yuan yang justru menggenggam tangan Keinya sangat erat. Atas dasar apa ke dua orang yang selama ini selalu ia pisahkan justru ada di hadapannya bahkan ... Khatrin?
Jauh di lubuk hatinya, Kainya tak hentinya menjerit. Tangannya mengepal kencang tak hentinya menekan sofa tempatnya duduk. Kainya benar-benar benci pemandangan kali ini. Dan kenapa juga ia sampai kecolongan? Lihatlah, Khatrin yang duduk di sebelahnya sampai bangkit menatap tak percaya Keinya sambil berlinang air mata. Dan ketika maminya itu justru beranjak meninggalkannya menghampiri Keinya, ingin rasanya Kainya menahan. Namun apa daya, posisinya saat ini benar-benar sulit. Semua kebohongannya pasti akan terbongkar. Lantas, apa yang harus ia lakukan sedangkan lari pun sudah tak bisa ia lakukan lagi?
__ADS_1