
“Jalan tol yang bebas halangan saja kerap memakan korban. Apalagi hubungan percintaan yang sering banyak perbedaan?”
Bab 48 : Keluarga Yuan
****
Wanita bertinggi tubuh seratus tujuh puluh senti itu masih menatap Keinya dengan menelisik. Kenyataan yang teramat membuat Keinya tidak nyaman.
Di mata si wanita, Keinya dan Kainya tetap berbeda sekalipun ke duanya memiliki garis wajah sekaligus rupa sama. Keinya yang ada di hadapannya terlampau sederhana. Celana panjang bahan kain dan kemeja lengan panjang kedodoran yang dikenakan Keinya, membuat wanita itu begitu bersahaja.
Belum lagi, sorot mata lebarnya yang begitu sendu, menegaskan Keinya memiliki kepribadian lembut keibuan. Dan ketika ia meneliti jemari panjang Keinya, tak ada kuteks mencolok selain warna kuning kunyit yang menghiasi.
Bila demikian, sifat keibuan Keinya juga dibarengi dengan wanita itu yang tak segan memasak. Kontras dari Kainya yang begitu elegan dan menjaga penampilan dari ujung kepala hingga kaki. Tanpa terkecuali dengan wewangian yang begitu memikat. Sementara Keinya? Wanita di hadapannya benar-benar sederhana.
“Sepertinya Yuan Oppa akan memiliki kehidupan jauh lebih baik, jika Oppa menikah denganmu.” Yura—wanita di hadapan Keinya, bertutur dengan nada mencibir. Kemudian ia bersedekap sambil menatap sinis Keinya. “Jangan hanya diam dan menatapku seperti itu. Meski aku memang tidak mirip Yuan Oppa atau Mami dan Papi, biar bagaimanapun aku tetap anak kesayangan mereka.”
Senyum canggung merekah dari bibir mungil Keinya. Jadi, wanita di hadapannya yang begitu jutek ini calon adik iparnya? Namun, kenapa Yuan belum pernah cerita? Dan kenapa juga, Yura yang tampilannya tak beda dengan member girls band negeri Gingseng—rok mini dipadukan dengan kaus serta sepatu kets--mengecam dirinya sendiri, tidak mirip Yuan berikut orang tuanya?
Angela dan Kim Yeon Seok mengulas senyum bertepatan dengan Keinya yang kebetulan menatap ke arah mereka. Kemudian, Yura yang bergaya jutek itu berlalu dari hadapan Keinya, keluar dari ruang rawat Yuan.
Keinya yang melepas kepergian Yura merasa jika calon adik iparnya itu sedang tidak dalam keadaan suasana hati yang baik. Seperti ada hal yang mengganggu perasaan sekaligus hati Yura.
“Sudah jangan dipikirkan, Kei. Yura memang begitu kalau belum bertemu Kimo,” tegur Angela si wanita yang begitu lemah lembut. Bahkan Keinya sampai iri kenapa ada wanita selemah lembut Angela.
Keinya ingin bisa menjadi istri sekaligus mama yang lemah lembut layaknya Angela. Tapi omong-omong, kenapa Yura harus marah-marah kalau belum bertemu Kimo? Sebentar, Keinya juga menjadi ingat Rara, jika ia memikirkan Kimo. Karena entah atas dasar apa, kemarin Kimo meminta restu padanya untuk menjalin hubungan serius dengan Rara. Tapi kalau Yura terus marah-marah, sebelum calon iparnya itu bertemu Kimo, berarti ...?
“Kamu bawa banyak rantang?” ujar Kim Yeon Seok yang tengah menimang-nimang Pelangi. Tatapannya tercuri pada tiga rantang susun yang dibawa oleh kedua pria yang menjadi pengawal khusus Keinya dari Yuan, di meja.
Keinya tersipu. “Iya, Pi. Yuan bilang dia jadi gampang lapar tapi dia maunya makan masakan aku. Jadi aku sengaja masak banyak,” ucapnya sambil berjalan mendekat ke meja yang bersanding dengan k edua sofa panjang di seberang ranjang rawat Yuan.
“Aish! Jadi Papi rnggak dapat jatah? Sebanyak itu hanya untuk Yuan?” seloroh Kim Yeon Seok pura-pura marah. “Benar-benar keterlaluan!”
Angela terkikik terlebih Keinya juga menjadi kebingungan. Ia mengerti bagaimana perasaan Keinya saat ini. Bertemu dengan keluarga pria yang terus mengejarnya, sedangkan status Keinya berikut sifat wanita tersebut, pasti membuat Keinya berkecil hati.
“Enggak, kok, Pi. Aku juga masak buat Papi Mami.”
Kim Yeon Seok terbahak. “Papi cuma bercanda, Kei. Hahaha ....”
Tawa Kim Yeon Seok mengusik Yuan. Yuan terbangun dan menatap kebersamaan, dengan dahi berkerut. Dengan keadaannya yang masih sangat terbatas dalam bergerak, Yuan mendapati kebahagiaan yang begitu hangat menyelimuti kebersamaan orang tuanya. Juga, Keinya yang langsung tersenyum ke arahnya. Wajah Keinya begitu merona. Mata Keinya memang berkaca-kaca, tapi senyum di wajahnya menandakan, wanita kurus itu sangat bahagia. Belum pernah Yuan melihat Keinya sebahagia itu.
“Kamu sudah bangun?” ujar Kim Yeon Seok tatkala melihat tatapan Keinya tercuri ke arah Yuan.
Angela segera memastikan. Benar saja, Yuan mereka sudah bangun. Dengan suara sang suami yang begitu lantang dan memang sudah menjadi kodrat pria berambut tipis tersebut, istirahat Yuan memang akan mudah terganggu.
Yuan mengangguk pelan dan tampak pasrah tanpa bisa benar-benar merasa nyaman. Tatapannya kembali terfokus pada Keinya yang lagi-lagi membuatnya ingin bermanja.
“Ah ... sepertinya Yuan sudah tidak membutuhkan orang lain kecuali Keinya,” seloroh Angela sengaja menggoda.
Keinya tersipu dan segera menghampiri Yuan. Ia mengambil air mineral kemasan botol 1,5 liter yang tersedia di nakas dan membantu Yuan untuk meminumnya melalui sedotan. “Minum dulu, setelah ini baru makan.”
__ADS_1
“Kamu masak banyak?” ujar Yuan sesaat setelah minum. Ia mendapati tiga rantang susun di meja.
Keinya membalasnya dengan mengangguk cepat. Kemudian Keinya menaruh kembali air mineralnya di nakas.
Meski dalam satu ruangan, Kim Yeon Seok dan Angela sengaja membiarkan Keinya dan Yuan berdua, sedangkan mereka turut memomong Pelangi. Terlebih, ruang VIP keberadaan mereka terbilang luas tak beda dengan ruang pribadi di rumah, hingga mereka juga bisa leluasa dengan kesibukan masing-masing.
“Pantes lama. Jangan kecapaian, ya. Nanti ASi kamu enggak keluar lagi. Kasihan Ngie-ngie.”
“Enggak, kok, Yu. Justru pas masak tadi, ASI-ku banjir. Oh, iya. Aku siapkan makan dulu, ya? Kita makan bareng Papi Mami kamu?”
Yuan mengangguk lengkap dengan mengerjapkan sendu matanya yang masih sayu. Ia melepas Keinya yang langsung bergegas membongkar susunan rantang. Menyiapkan piring berikut makanan, sebelum meraih sendok berikut garpu.
Sesaat setelah semuanya siap di meja, Keinya bersiap memanggil orang tua Yuan yang tengah sibuk memomong Pelangi. Sepasang paruh baya yang masih terlihat harmonis sekaligus romantis itu membuat Keinya merasa iri sekaligus serba salah. Keinya iri kenapa di usia sudah nyaris senja, orang tua Yuan masih begitu romantis seperti pengantin baru yang sangat saling mencintai?
“Kei ...?” panggil Yuan lirih. Suaranya masih terbatas. Apalagi gips di lehernya juga sangat berpengaruh.
Keinya langsung balik badan, mengakhiri pengamatannya terhadap keromantisan orang tua Yuan. Keinya menatap Yuan dengan santai.
Seulas senyuman yang begitu memancarkan banyak ketenangan sekaligus kebahagiaan, Yuan dapatkan dari Keinya. Yuan begitu menikmati keadaan Keinya, di mana ia berharap, ketenangan yang Keinya rasakan terus berjalan bahkan bila bisa bertambah.
“Enggak usah sungkan sama mami papi. Biasakan saja.” Yuan mengatakan itu penuh pengertian.
Keinya tersenyum semringah. “Aku benar-benar gugup.”
Yuan tersipu sambil menggeleng. “Aku selalu bersamamu. Enggak apa-apa.”
Keinya mengangguk-angguk dan masih saja merasa tegang. “Tolong doakan aku!” Kemudian ia menghela napas panjang, menampung banyak keberanian di dadanya untuk menghadapi orang tua Yuan.
Keinya mengangguk mantap. Ia meninggalkan Yuan dengan ketegangan yang cukup bisa dikendalikan. Padahal, jaraknya dari orang tua Yuan tak kurang dari sepuluh meter. Tapi ia sempat-sempatnya meminta semangat dari Yuan yang juga mau-mau saja menyemangatinya.
*****
Kebersamaan sekarang, Keinya yang menyuapi Yuan sambil memakan makanannya yang berada di piring berbeda, sedangkan orang tua Yuan juga melakukan hal serupa—Angela menyuapi Kim Yeon Seok yang terus asyik memomong Pelangi, di sofa seberang ranjang rawat Yuan. Kebersamaan penuh kehangatan itu membuat Yuan ingin secepatnya menikahi Keinya. Termasuk dengan kedua orang tua Yuan yang menginginkan hal serupa. Tak ada hal lain yang perlu dipikirkan andai saja Keinya sudah selesai bercerai, apalagi jika melihat perjuangan Yuan mendapatkan cinta Keinya.
***
Di luar, Yura yang tengah mondar-mandir di depan ruang rawat Yuan sambil mencoba menghubungi nomor Kimo, dikejutkan oleh kehadiran Ryunana. Wanita elegan itu datang bersama seorang pria yang sepertinya pengawal pribadi Ryunana. Si pria yang mengenakan setelan panjang hitam menenteng parsel buah cukup besar, sedangkan Ryunana melangkah cantik sambil menenteng tas cokelat susu senada dengan gaun sabrina selutut berlengan panjang yang Ryunana kenakan.
“Aigo, siapa ini? Si cantik Yura?” Ryunana berseru kegirangan. Langkah cepatnya menjadi setengah berlari ketika ia mendapati wanita berkulit putih bersih di hadapannya.
Yura yang sempat bengong mengamati tampilan energik Ryunana, mengangguk sambil mengakhiri teleponnya pada Kimo yang belum mendapat balasan. Seperti biasa, lagi-lagi Kimo mengabaikannya meski pria itu sudah tidak terikat hubungan dengan wanita lain, terlepas dari Yura yang juga sudah terang-terangan mengakui perasaannya terhadap Kimo.
Ryunana langsung memeluk Ryunana dengan hangat. “Bagaimana keadaanmu? Betah di Jakarta?” Ia menatap hangat Yura, sesaat setelah melakukan cipika-cipiki layaknya biasa.
Yura mengangguk cuek. “Aku rasa pertanyaanmu berlebihan. Bukankah kemarin kita juga baru bertemu?”
Senyum Ryunana menjadi hambar atas balasan yang ia dapatkan dari Yura. “Dasar wanita angkuh! Menyebalkan! Kalau bukan karena kamu adik Yuan, huh!” rutuknya dalam hati yang sangat ingin mencabik-cabik Yura.
Yura menatap sinis Ryunana berikut parsel buah yang dibawa pengawal wanita tersebut dan disaksikan oleh yang bersangkutan. “Omong-omong, kenapa kamu kemari?” Ia sengaja melakukan gerakan wajah untuk menunjuk parsel buah Ryunana.
__ADS_1
Setelah sempat terdiam kesal, Ryunana kembali berpura-pura bersikap ramah lengkap memasang senyum. “Aku ingin menjenguk Yuan. Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku sangat terkejut saat tahu Yuan kecelakaan.”
Yura mengangguk-angguk. Menghargai kekhawatiran Ryunana. “Tapi sebaiknya kamu jangan masuk dulu karena kak Keinya ada di dalam.”
Mendengar nama Keinya disebut, emosi Ryunana langsung tersulut. Ia segera mencari cara agar reputasi Keinya menjadi buruk di mata Yura yang ia harapkan mau berpihak kepadanya.
“Yura, Yura ... aku sangat terkejut, lho, saat tahu kalau Keinya ternyata adik Kainya dan dia seorang janda.”
Yura mengerutkan dahi, menyimak cerita Ryunana yang tak beda dengan biang gosip. Wanita di hadapannya berbicara dengan berbisik-bisik.
“Dan yang lebih bikin aku terkejut lagi, Keinya belum resmi bercerai!” tambah Ryunana geregetan lantaran gemas, saking menjiwai cerita yang dikatakan.
Yura mundur dua langkah dari Ryunana. Ia menelan salivanya beberapa kali dengan raut wajah yang terlampau serius. “Memangnya, hubungan kak Kei, sama kamu apa?” Ia menatap bingung Ryunana.
Ryunana terdiam sejenak lantaran ia merasa ambigu dengan pertanyaan Yura. “Mm ... kami hanya bertemu beberapa kali,” ucapnya tidak begitu yakin lantaran ia sendiri belum paham dengan maksud dari pertanyaan Yura.
Yura menggeleng. “Bukan itu. Maksudku, hubungan kamu sama kak Keinya, apa? Kenapa kamu harus menceritakan tentang kak Keinya kepadaku sampai segitunya?
Ryunana menjadi gugup sekaligus tegang. Terpikir olehnya, apakah dia sudah salah jalan dan tak seharusnya berbicara tentang Keinya pada Yura? “Tentu karena aku ingin Yuan dapat istri yang baik. Dan melalui kamu, aku berharap kamu bisa menyadarkan Yuan, kalau Keinya bukan wanita baik-baik!”
“Karena kak Keinya janda yang masih harus menjalani proses perceraian?” sela Yura memotong penjelasan Ryunana.
Ryunana tak langsung menjawab. Namun, ia buru-buru mengangguk membenarkan anggapan Yura.
“Ternyata, meski kamu seorang penulis terkenal, kamu bukan orang yang peka dan bisa menghargai orang lain dengan lebih baik. Padahal riset membuktikan, seorang penulis biasanya akan jauh lebih hati-hati dalam memikirkan segala sesuatunya, apalagi dalam menilai orang lain.”
“Bahkan kamu menganggap rendah kaum kita, hanya karena dia seorang janda dan pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan?” Yura menatap Ryunana tak habis pikir sekaligus miris.
“Luar biasa. Jangan-jangan benar, kabar yang menyebutkan kalau sebenarnya kamu enggak bisa menulis cerita, kamu menyewa orang lain untuk menuliskannya?” cibir Yura.
Ryunana menggeragap dan terlihat sangat tidak nyaman atas penghakiman Yura.
“Y-Yura, sepertinya kamu salah paham dengan maksudku,” ujar Ryunana berusaha menyangkal. Ia tidak mau usahanya merebut perhatian Yura justru gagal.
Yura menggeleng sambil bersedekap. “Sekarang aku paham, kenapa dari dulu Yuan Oppa, enggak mau kasih kamu kesempatan.”
Ryunana kalah telak. “Hah? Apa maksudmu?”
Yura kembali menggeleng dan menepis tatapan Ryunana. “Bukan apa-apa. Lupakan saja. Tapi mengenai kak Keinya dan semua yang berhubungan dengan keluargaku tanpa terkecuali Yuan Oppa, kamu enggak usah repot-repot memikirkannya.”
“Karena selain kami sudah tahu semuanya, dalam waktu dekat setelah kak Kei resmi cerai, mereka akan menikah.”
“Malahan, baru lihat Kak Kei sama anaknya, mami sama papi sudah langsung minta tambahan cucu.”
Ryunana menggeragap. “Jalan tol yang bebas halangan saja kerap memakan korban. Apalagi hubungan percintaan yang sering banyak perbedaan?” ucapnya sambil menunduk.
Yura terkikik. “Duh, bahasamu. Sudahlah, cari pria lain saja. Yuan Oppa hanya mencintai kak Kei. Kalau tidak begitu, tentu Oppa enggak mungkin membatalkan pernikahannya dan Kainya. Logikanya begitu. Dan memang sesederhana itu.”
“Sudahlah. Perasaanku sedang kurang baik. Tapi kalau kamu mau masuk, silakan. Tapi aku enggak tanggung jawab, ya, kalau kamu tambah sakit hati lihat pemandangan di dalam.” Setelah mengatakan itu, Yura berlalu meninggalkan Ryunana menuju koridor di sebelah.
__ADS_1
“Kenapa sih, mereka enggak pernah sadar, aku jauh lebih baik buat Yuan?!” rutuk Ryunana dalam hatinya. Kedua tangan Ryunana mengepal kencang. Ryunana merasa frustrasi atas kenyataan cintanya kepada Yuan yang selalu bertepuk sebelah tangan.
*****